
Cia terus saja mengemut permen lolipopnya tanpa henti, walaupun usianya hampir genap 20 tahun, Cia tetap saja Cia yang terlihat seperti anak kecil kala memakan makanan manis itu.
Kedua matanya terus saja memperhatikan para pedangan makanan yang berjejer disepanjang jalan. Cia terlihat memarkirkan mobil Jazz merahnya di bahu jalan, kala melihat salah satu stand makanan yang menggugah seleranya.
Senyumnya mengembang saat Cia baru saja keluar dari dalam mobil, saat ini Cia hanya menggunakan kaos putih kebesaran hinga melorot di bahu mulusnya, dan celana jeans pudar diatas lutut, masih terlihat sopan serta pantas untuk dipakai saat diluar rumah.
"Mang, sempol ayamnya 20 ribu ya," ujar Cia saat dia sudah sampai disalah satu stand makanan kesukannya.
"Siap Neng!" ucap kang sempol bersemangat
Disaat kang sempol menyiapkan semua pesanannya, Cia memutuskan duduk disalah satu kursi yang sudah disediakan disana. Awalnya Cia merasa bosan, karena hari ini dia harus jajan sendirian, karena Yasmine yang biasa menemaninya tengah sibuk menyelesaikan ulangan kelulusannya.
Jadi gadis itu saat ini tengah sibuk sibuknya belajar, sedangkan Berliana bisa Cia pastikan tidak akan ada waktu untuk menemaninya. Begitu pun dengan Elira, apa lagi saat ini Elira tengah berada di Bengkulu bersama Raga Omnya, Papi serta sang Mami bahkan Mace dan Pacenya.
Cia mengalihkan pandangannya kearah lain untuk menghalau rasa bosan, kali ini Cia merindukan Melody yang selalum mengikutinya kemana pun. Namun karena sang Grandpa memerintahkan Melody untuk pergi ke Spanyol kemarin, wanita kaku itu tidak mengikuti Cia lagi saat ini. Bahkan Galaska pun terlihat sibuk dibengkelnya, sang Abang tidak akan pernah bisa diganggu saat ini.
Cia memutar kedua bola matanya menuju jalanan yang cukup ramai sore ini, dahinya berkerut kala melihat sebuah sepeda motor trail berhenti tepat didepan gerobak kang sempol.
Kedua mata Cia tidak lepas dari orang yang tengah turun dari motor, kedua matanya semakin membulat kala melihat si pengendara membuka helm full face yang dia pakai.
'Pak penghulu?' panggil Cia di dalam hati, karena Cia yakin kalau dirinya belum segila itu, untuk memanggil pria yang selalu mengacaukan tidur serta konsenterasinya selama ini.
__ADS_1
Napas Cia semakin terasa sesak kala penghulu tampan pujaannya menatap padanya secara tidak sengaja. Bahkan Bapak Penghulu berlesung pipi itu tersenyum tipis pada Cia, membuat wanita itu semakin panas dingin dibuatnya.
"Kang, sempolnya seratus ribu ya," ujar si Bapak Penghulu gateng itu pada penjual sempol.
"Siap Mas, ditunggu ya! soalnya si Neng duluan yang pesan tadi." sang kang sempol meminta untuk bersabar
"Santai aja Kang, kayak sama siapa saja," ujar pak penghulu ganteng biasa saja
Cia menggeser sedikit tubuhnya kala melihat pria yang membuat hatinya cenat cenut itu hendak mendudukan diri didekatnya.
'Tolong jangan pingsan disini Grecia!' jerit hati Cia kala Bapak Penghulu berhasil duduk didekatnya, dengan lancar dan aman. Namun sangat tidak aman untuk hati serta jantung Cia saat ini.
"Please, jangan senyum," ujar Cia pelan, kala pria itu tersenyum lagi pada kang Sempol yang tengah mengajak bicara.
Saling menyuapi sempol satu sama lain, bahkan Cia membayangkan kalau Bapak Penghulu gantengnya itu, tengah menyeka sisa saos disudut bibirnya dengan lembut, sembari berkata...
'Makannya, pelan pelan sayang,'
Cia tersenyum sendiri membayangkannya, bahkan suara panggilan kang sempol tidak kunjung membuatnya tersadar.
"Neng, ini sempolnya udah jadi." ucap kang sempol lagi
__ADS_1
Namun Cia malah terlihat semakin mengembangkan senyum manis pada pria yang ada disisinya, sayang si pria tidak tahu karena dia tengah memainkan ponsel.
"Neng!" seru keras kang Sempol yang akhirnya bisa menyadarkan kegilaan Cia.
"I-iya Kang?" jawab Cia terbata karena terkejut.
"Sempolnya udah jadi, ini!" kang sempol menyerahkan satu bungkus sempol pesanan pelanggan cantiknya.
"Terimakasih." ucap Cia sopan
"Sami sami Neng, semoga besok jajan lagi ya," rayu kang sempol dan diangguki oleh Cia
'Kalau bisa ketemu sama Bapak Penghulu tiap hari, aku rela kok kalau harus makan sempol ini tiap hari.' bisik hati Cia
Senyumnya terus saja mengembang, walaupun Si Bapak Penghulu tidak menganggapnya ada, namun Cia sangat bahagia bisa kembali melihat Penghulu sang pujaan hatinya.
BERWAJAH TAMPAN DAN MANIS SERTA BERKUMIS TIPIS, SIAPA YANG KAGAK MAU
__ADS_1
INI MUNGKIN PART CIA MA BAPAK PENGHULU YANG TERAKHIR DI SINI YA, KARENA MAU KITA BIKIN CERITA TERPISAH JADI NANTI JANGAN DITANYAIN LAGI,,KEMANA CIA ILANG OKE