
"Mau mampir?" Berliana menyempatkan diri untuk bertanya pada Radja sebelum dia membuka pintu mobil.
Namun ternyata pria itu menggelengkan kepalanya pelan, sembari melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kayaknya gak dulu, sudah malam aku takutnya Lora nyariin." Berliana menganggukkan kepalanya paham, dia bingung harus melakukan apa lagi setelah ini. Haruskah Berliana menahan Radja agar bisa lebih lama lagi dengannya, tapi saat dia mengingat Lora si balita cantik itu pasti sudah menunggu Papanya di rumah.
Berliana menghela nafasnya pelan lalu tersenyum, dan segera meraih handle pintu mobil. Namun belum sempat dia meraihnya lengannya ditahan oleh Radja.
"Selamat malam Queen," Berliana membantu ditempat, bahkan tangannya yang melayang di udara itu, langsung terjatuh mendengar ucapan selamat malam dari Radja. Hatinya terlalu cepat terbawa perasaan, kalau sudah berurusan dengan Radja. Hati Berliana tidak bisa diajak kompromi untuk di mahalkan sedikit, si hati memilih untuk memurahkan perasaannya demi kenyamanan dan kebahagiaan tuannya.
"Queen?" Radja kembali menepuk pundak Berliana saat wanita itu masih terdiam.
"A-ah, i-ya se-selamat malam." Setelah membalas ucapan selamat malam Radja, Berliana segera keluar dari dalam mobil itu dengan terburu buru. Bukan apa apa, dia hanya tidak ingin dirinya tidak sadarkan diri didalam mobil Radja saat ini juga.
__ADS_1
Berliana melambaikan tangannya kaku pada Radja, yang sudah melajukan mobilnya saat dia sudah berdiri didepan pintu gerbang rumahnya.
" Selamat malam My King." Berliana menepuk dahi sembari tergelak sendiri, saat mengucapkan ucapan selamat malam untuk Radja yang kedua kalinya.
Wanita itu menatap layar yang ada didepan pintu gerbang, dan tidak lama gerbang tinggi menjulang itu terbuka sendiri secara otomatis. Berliana bersenandung pelan, sembari melompat lompat kecil layaknya seorang bocah yang baru saja pulang bermain. Bahkan dengan gilanya dia berputar putar sendiri dihalaman luas rumah mewah tiga lantai itu.
Tanpa Berliana sadari, setiap gerak geriknya tengah diawasi oleh Bara dari arah pintu masuk rumah mereka.
"Baru pulang?" Gerakan memutar Berliana terhenti, saat mendengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya.
"Pulang sama siapa? mobil kamu dibawa sama Cia tadi kesini?" bukannya menjawab Berliana kembali tersenyum sembari berlari menuju Barata. Wanita itu memeluk tubuh Papanya dengan erat, senyuman di wajahnya tidak surut sedikit pun. Bara yang melihat kelakuan Berlian nya hanya bisa mengerenyitkan dahinya heran.
"Kamu pulang sama siapa sih? pulang pulang langsung aneh gini, Papa curiga loh!" Berliana melepaskan pelukannya, dia menatap pria yang selama 21 tahun ini selalu menjadi hero untuknya, Gavyndra serta sang Mama.
__ADS_1
"Sama duda!" Setelah mengatakan itu, Berliana segera berjalan menjauhi Barata, yang terlihat semakin mengerenyitkan dahinya mendengar ucapan Berliana.
"Sama duda? duda siapa Bell?" Bara kembali bertanya, dia benar benar tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh sang putri.
"Duku Mateng, Mujhe pyaar ho gaya hai, Paapa! dil hai tumhaara!" Pekikan Berliana semakin menjadi jadi, saat wanita itu sudah memasuki rumah. Bahkan Gavyn yang tengah bermain game diruang tengah bersama Agatha, bisa mendengar dengan jelas suara Berliana, padahal dia sedang memakai headphone.
"Kakak habis nonton, jadi agak gila ya Mam?" Agatha mengulum senyumnya mendengar ucapan pedas Putra bungsunya itu. Gavyn memang kalau bicara apa adanya, sesuai apa yang ada didalam hatinya.
"Hallo Mam, Gavyndra adiknya Berliana yang paling ganteng sekecamatan, Bell ke kamar dulu ya." Agatha dan Gavyn saling menatap saat Berliana mengecupi wajah mereka tanpa henti, dan setelah itu Berliana pergi menuju lantai atas dimana kamarnya berada.
"Dil hai tumhaara!"
Pekikan Berliana kembali terdengar dari pertengahan anak tangga, Agatha yang mendengar itu hanya menghela nafasnya pelan. Kenapa putrinya terlihat aneh setelah pulang menonton dengan temannya, begitulah informasi yang diberikan oleh Cia dan Yasmine padanya dan Bara.
__ADS_1
"Berlianmu kenapa Mas?"