Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Api Dalam Sekam


__ADS_3

Berliana menggeliat, salah satu tangan meraba tempat tidurnya saat ini. Keningnya berkerut kala merasakan tempat tidur ini begitu sempit, perlahan kedua netra bening itu terbuka.


Berliana menelisik seluruh sudut ruangan, beberapa detik kemudian dia teringat kalau saat ini tengah berada dikantor suaminya.


"Radja kemana?" Berliana menutup mulutnya kala menguap lebar, sudut matanya melirik jam dinding yang ada disana. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, Berliana memegangi kepala yang masih berdenyut walau tidak separah beberapa jam yang lalu.


"Apa aku cari diluar aja ya?" monolognya


Berliana bangkit, dia melepaskan blazer kuning yang dia pakai dan hanya menyisakan kemeja pendek. Bahkan Berliana tidak memakai alas kaki apa pun saat keluar dari ruang kerja suaminya.


"Maaf, Ibu Berliana mau kemana?" sekertaris Radja segera menahan istri sang boss saat melewati meja kerjanya.


"Kamu sekertaris suami saya?" bukannya menjawab Berliana malah balik bertanya.


Wanita yang berusia sekitar 35 tahun itu menganggukkan kepala. Keningnya berkerut kala melihat penampilan sang Nyonya Dewangga.


"Dimana suami saya?" Berliana to the poin, Kedua matanya terus saja menjelajah setiap sudut kantor ini.


"Pak Radja masih meeting di lantai dasar, apa Ibu mau kesana?" tawarnya


Berliana terlihat berpikir sejenak, lalu tidak lama dia menganggukkan kepalanya yakin.


"Kalau begitu mari saya antar, sepertinya meeting Pak Radja sudah selesai." ucap sang sekertaris, setelah mengatakan itu mereka berdua segera menuju lift untuk turun kelantai dasar.

__ADS_1


🍌


🍌


🍌


"Apa, Pak Radja bisa makan siang bersama saya?"  tanya Meera kala melihat Radja sudah bersiap untuk keluar dari ruang meeting.


Semua mata yang masih ada di rungan itu tertuju pada Meera dan Radja. Bukannya merasa tidak enak dengan para rekan klien lainnya, Meera justru merasa tertantang untuk lebih dekat lagi dengan suami Berliana ini.


Apa lagi saat melihat Radja begitu cuek dan tak acuh padanya, Meera semakin penasaran dibuatnya. Dia yakin kalau istri pria ini tidak ada sebanding dengannya yang nota bene putri keluarga Mehra. Keluarga konglomerat yang berasal dari Dubai, walaupun dia keturunan India, namun keluarganya menetap disana.


"Maaf Ibu Meera, saya tidak bisa." tolak Radja


"Apa anda mau makan siang bersama istri anda? kalau iya, boleh saya ikut? soalnya saya tidak punya teman untuk menemani saya." ucapnya pelan, kedua tangannya saling bertautan seolah tengah gugup.


Radja tidak akan pernah menyalakan api didalam sekam, karena walaupun api itu tidak menyala, tapi sang sekam pasti akan terbakar habis. Api di ibaratkan Meera sedangkan sekam adalah Berliana, Radja tidak akan membiarkan perasaan serta hati sang Ratu terbakar habis oleh sang api.


Radja segera meraih berkasnya, dan segera meninggalkan ruang meeting. Pria itu tidak ingin melihat lagi kebelakang dimana Meera masih berdiri ditempatnya dengan perasaan campur aduk, antara kesal malu dan tidak puas.


"Ck, apa sih lebihnya wanita itu?" tanyanya sendiri, kedua tangannya membereskan berkasnya yang ada diatas meja.


Sedangkan luar, Radja terlihat mengerenyitkan dahi saat melihat Berliana tengah berjalan kearahnya bersama Meggie. Dahi Radja semakin berkerut kala melihat kedua kaki telanjang sang Ratu, bahkan Berliana tidak peduli dengan tatapan orang-orang padanya.

__ADS_1


Wanita itu mengangkat wajahnya, seakan menunjukan kalau dia tidak peduli dengan tatapan meremehkan para wanita kearahnya hanya karena dia bertelanjang kaki saat ini.


"AI!" seruan kencang Berliana membuat orang-orang disana mengalihkan pandangannya kearah Radja.


Radja terlihat merentangkan kedua tangannya kala melihat Berliana tersenyum manis padanya, senyuman yang selalu Radja rindukan kala mereka tidak bersama.


"Sudah bangun hm? gimana kepala kamu, masih pusing?" tanya Radja kala Berliana sudah berada didalam dekapannya, Radja bahkan memberikan banyak kecupan dipucuk kepala sang Ratu, tanpa peduli tatapan manusia lainnya.


"Gak terlalu pusing kayak tadi, tapi sekarang aku lapar." rengek manja Berliana pada Radja, bukannya risih dengan sikap childish sang Ratu, Radja malah terkekeh sembari menarik hidung Berliana.


"Ayo, kamu mau makan sama apa?" Radja membawa Berliana dari tempat itu, dengan salah satu tangannya merangkul posesif pinggang istrinya.


"Aku mau ayam geprek yang ada didekat bengkel Bang Galak, dua porsi, sambelnya yang banyak, terus es jeruknya dua cup, jeruknya yang ijo jangan yang kuning." celoteh Berliana tanpa memberi kesempatan Radja untuk menyela.


"Tumben mau yang hijau, biasanya suka yang kuningkan?" bukannya mengiyakan ucapan sang Ratu, Radja malah balik bertanya.


"Yang kuning tuh buat pisang, kalau jeruk enaknya yang ijo biar ada asem manisnya." jelas Berliana membuat Radja mengangguk walaupun belum paham.


"Ya udah, ayo kita kesana!" ajak Radja membuat Berliana berbinar dan tersenyum lebar.


Sedangkan dibelakang tubuh mereka, Meera terlihat tidak suka melihat Berliana bergelayut manja dilengan kekar Radja.


"Aku yakin wanita itu hanya parasit dihidup Radja, lihat saja jam segini dia sudah mengganggunya. Ini akan lebih mudah bukan, tidak akan sulit untuk menyingkirkan parasit sepertinya." gumamnya pelan, salah satu sudut bibirnya terangkat menampilkan senyuman remeh pada Berliana.

__ADS_1



OM RAGA


__ADS_2