Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Bercerita 3


__ADS_3

"Serius masih kuat?" Berliana kembali bertanya dan masih berada didalam dekapan Radja.


"Hm, masih mau dengar?" Radja menimpalinya tanpa beban, senyumannya terukir saat Berliana menganggukan kepalanya.


"Pernikahan kami terlaksana, aku berusaha menjadi suami yang baik untuk Disha. Namun selama seminggu pernikahan kami Disha tidak pernah mau seranjang denganku, kami tidur satu kamar tapi dilain tempat. Disha diatas tempat tidur, dan aku tidur dilantai beralaskan selimut tebal yang ada disana." Radja terdengar menceritakannya dengan tenang, namun dahi Berliana berkerut saat mendengar cerita Radja kali ini.


Wanita itu melepaskan pelukan kekasihnya, Berliana menatap penuh selidik pada duda gondrong yang sudah memenuhi hati serta otaknya.


"Kalian tidak satu ranjang? jadi tidak pernah tidur bersama?" Entah kenapa Berliana lebih tertarik membahas hal itu.


"Ya!" Radja mengiyakan semua pertanyaan Berliana.


"Kalau kalian tidak pernah tidur bersama, lalu Lora datang dari mana? tidak mungkin kan kalau Lora hadir tanpa Ibu, keluarnya dari mana coba, aku...," Astaga Berliana bahkan terbata saat bertanya tentang hal yang begitu intim antara Disha dan Radja dulu. Tidak Berliana tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia masih terlalu polos.

__ADS_1


"Boleh aku lanjut ceritanya?" Radja menahan senyumannya saat melihat Berliana mengangguk patah patah. Kedua pipi wanitanya itu merona, ingin rasanya Radja mengecup kedua pipi itu gemas.


"Satu minggu setelah pernikahan kami, Ibu mendapati Disha tidak sadarkan diri didalam kamar mandi. Ibu panik, dia pun menghubungi dokter yang biasa bekerja dikeluarga Malik. Saat itu aku sedang bekerja bersama Ayah, Ibu menghubungiku agar aku secepatnya pulang kerumah. Sesampainya dirumah, aku melihat Disha tengah menangis dan Ibu terlihat tengah menatapnya kecewa dan sendu." Radja menghirup napasnya perlahan sebelum dia melanjutkan ceritanya


"Aku pun sedikit terkejut saat Ibu tiba tiba saja memelukku, Ibu menangis. Bahkan dokter yang masih ada dikamar itu pun terlihat mengalihkan pandangannya kearah lain saat aku menatapnya. Aku bertanya pada Ibu, ada apa? kenapa mereka menangis? Ibu masih diam, hingga aku begitu terkejut dan menertawakan nasibku sendiri saat aku mendengar ucapan dokter yang mengatakan kalau Disha tengah mengandung, dan usia kandungannya saat itu sudah memasuki usia dua bulan." Napas Radja tercekat saat harus menceritakan rahasia keluarganya pada Berliana.


Tapi menurutnya ini sudah benar, cepat atau lambat kekasihnya ini harus tahu bukan? mereka sudah sangat serius dengan hubungan ini, jadi Radja akan memceritakan semua yang ada dihidupnya pada calon istrinya ini.


"Ja-jadi Lora...," Berliana tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya sendiri, wanita itu menggigit bibirnya sendiri saat mengetahui semua rahasia keluarga Radja yang selama ini belum pernah dia ketahui.


"Hei kamu kenapa hm?" Radja segera meraih wajah Berliana lalu mengusap lembut cairan bening yang meleleh dipipinya.


"Lanjutin!" Bukannya menjawab Berliana malah memeluk tubuh Radja dengan erat

__ADS_1


"Sampai akhir hayatnya pun Disha tidak pernah memberitahukan siapa Ayah biologis Lora pada kami, dan mungkin itu adalah yang terbaik, karena walaupun aku tahu, aku tidak akan pernah mempertemukan Lora dengan dia, apa lagi memberikannya! tidak akan pernah!" Radja mengepalkan kedua tangannya saat teringat dengan sang putri. Walaupun Lora bukan darah dagingnya, tapi Radja tidak pernah mempermasalahkannya.


"Apa setelah kamu tau kalau Disha hamil, kalian menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Tidur satu ranjang contoh kecilnya." Entah kenapa rasa penasaran tentang hal itu begitu kuat, Berliana hanya ingin memastikan sesuatu yang belum pasti saja.


Radja mengulum senyumannya saat melihat Berliana menundukan kepalanya sembari memainkan jari jari lentiknya.


"Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untuk Disha,Queen. Aku hanya memberikan 'itu' karena kewajibanku sebagai seorang suami. Aku pikir setelah masalahnya selesai kehidupan kami akan lebih baik lagi, nyatanya tidak. Disha meninggalkan begitu banyak rahasia untuk ku dan yang lainnya setelah dia tiada." Radja menggengam kedua tangan Berliana dengan erat.


"Apa kamu berpikir kalau aku ini masih perjaka hm?" Radja tersenyum jahil pada Berliana yang langsung membelalakan kedua netra hitam beningnya pada Radja.


Radja terkekeh kecil saat Berliana melepaskan genggaman tangan mereka dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Itulah kecacatanku Queen, kamu bukan yang pertama untuk aku. Sedangkan kamu, kamu masih su...," Ucapan Radja terputus saat Berliana menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya sendiri.

__ADS_1


"Ssstt udah diem jangan ngomongin itu lagi, gak ada yang cacat dari kamu oke! ini adalah tantangan serta resiko seorang perawan yang mencintai seorang Duku Mateng! dan satu lagi mau Lora itu anak kandung kamu atau bukan aku gak peduli, aku udah sayang sama dia. Aku bahkan merasa kamu terlalu baik buat aku yang.., ya tau sendiri kan gimana sikap aku, galak, ceplas ceplos, masih banyak lagi kebiasaan buruk akunya yang belum kamu tau." Berliana berucap sebisanya disela sela salah tingkah yang saat ini sedang menyerangnya.



__ADS_2