
"Apa aku boleh denger semua ceritanya?" pinta Berliana dengan hati hati, dia sebenarnya takut menyinggung perasaan Radja saat ini, namun saat melihat Radja menoleh sembari tersenyum tipis padanya, rasa khawatirnya menguap seketika.
"Nanti aku bakalan cerita setelah kita sampai ditempat tujuan oke!" Ujar Radja lembut, satu tangannya meraih kepala Berliana dan mengecupnya lembut penuh perasaan.
Berliana memejamkan kedua matanya saat bibir Radja mengecup lembut ubun ubunnya, bahkan tanpa ragu Berliana menggeser sedikit tubuhnya agar bisa memeluk Radja dari samping. Sepanjang perjalanan tangan keduanya saling bertautan. Bahkan sesekali Radja mengecup punggung tangan Berliana tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Begitu pula dengan Berliana, wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Radja, walaupun hanya menggunakan sebelah tangannya.
Tidak lama akhirnya mereka berdua tiba disebuah tempat yang begitu luas, mirip lapangan golf namun rumputnya terlihat lebih tinggi. Ada sebuah danau kecil ditengah tengahnya, bahkan Berliana bisa melihat begitu banyak unggas air didanau itu.
Perlahan Berliana menegakan tubuhnya, dia melepaskan pelukannya dari tubuh Radja. Kedua matanya berbinar saat melihat begitu banyak burung merpati putih yang berterbangan. Senyuman Berliana kembali mengembang kala melihat begitu banyak pasang Angsa putih yang tengah berjemur.
"Ini dimana?" belum sempat Berliana mendapatkan jawabannya, Radja sudah terlebih dahulu turun dari mobil. Pria itu terlihat berlari cepat menuju pintu mobil yang akan dibuka oleh kekasihnya.
__ADS_1
"Ayo turun Queen!" Radja mengulurkan tangannya pada Berliana, pria itu seolah tengah menyambut seorang ratu yang akan keluar dari kereta kudanya.
Tanpa menunggu lama, Berliana segera meraih tangan Radja. Senyumannya terus saja mengembang kala melihat burung burung merpati putih terbang serentak saat dia dan Radja mendekati mereka.
"Kita kesana, ayo!" Radja segera menarik tangan Berliana dan membawanya kesebuah pondok kecil terbuka yang ada ditepi danau.
"Ini dimana, tempat siapa ini?" pertanyaan itu kembali Berliana ucapkan, dia benar benar penasaran kenapa Radja bisa tahu tempat indah ini.
"Tempatku untuk merenung, baru kamu yang aku bawa kesini, bahkan Lora saja belum pernah aku bawa kesini." Radja mengumbarkan senyumannya pada Berliana yang tengah menatap padanya.
Keduanya sudah sampai dipondok, Berliana mendudukan dirinya diatas balai balai tanpa risih sedikit pun, padahal wanita itu duduk tanpa dialasi apa pun.
"Mau bercerita sekarang?" Berliana yang tidak sabaran segera menuntut Radja untuk segera bercerita setelah pria itu mendudukan diri disisinya.
__ADS_1
"Aku dan Disha dijodohkan oleh Kakek, awalnya aku menolak. Namun saat Ayah bilang, kalau aku bisa dekat dengan Kakek setelah perjodohan ini, aku menyetujinya. Saat itu aku masih haus akan perhatian Kakek yang tidak pernah dia berikan padaku dan Ambar. Kakek hanya memperhatikan Arjuna, maka dari itu aku pikir dengan menerima perjodohan ini Kakek akan dekat denganku, tapi nyatanya tidak!" Radja berucap lirih, senyuman miris terukir dikedua sudut bibirnya.
Pandanganya menerawang kosong kedepan, menatap sekumpulan unggas air yang tengah berenang diatas danau.
"Kakek hanya memanfaatkanku demi saham MALIK GROUP. Ada perjanjian kerja sama yang sudah disetujui kedua belah pihak sebelum aku menikah dengan Disha, aku maupun Ayah bahkan tidak mengetahuinya." Radja mengalihkan pandangannya kearah Berliana yang terlihat tengah menatapnya tanpa berkedip.
Tangan Berliana terulur untuk mengusap lembut lengan Radja, Berliana tahu kalau saat ini Radja tengah berusaha untuk menahan emosinya.
"Kalau kamu gak kuat, gak usah diterusin." Ujar Berliana ambigu
Radja menunduk untuk menatap Berliana yang tengah menatapnya sendu, tangannya terulur untuk meraih pundak wanita itu dan memeluknya dari samping.
"Aku masih kuat, kamu tenang saja." ujar Radja pelan
__ADS_1
"Oh ya udah, tapi pelan pelan aja jangan terburu buru." Berliana ikut menimpali, entah apa yang tengah mereka bahas, tapi yang pastinya maksud Berliana kekasihnya itu harus pelan pelan berceritanya, jangan terburu buru. Kalau memang sudah tidak kuat bercerita, ya berhenti saja. Oke please jangan sampai otak suci kita traveling tanpa pasport.