Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Merajuk


__ADS_3

Braak!


Berliana membanting pintu mobil dengan  kencang, dia segera berlari kecil menuju rumah setelah Berliana membuka heelsnya terlebih dahulu.


Bahkan panggilan sang Papa diabaikan olehnya, saat ini otaknya hanya tertuju pada Radja. Entah apa yang sudah Papanya lakukan pada duda gondrongnya tadi, apakah kedua orang tuanya akan menyetujui perasaannya pada Radja, kalau nanti dia terpaksa harus jujur pada mereka.


Bruuk!


Berliana melempar heels mahalnya dibawah tangga, wanita cantik itu segera berlari menaiki anak tangga.


"Bell, dengerin Papa dulu!" Bara berusaha mengejar anak gadisnya, namun Berliana memilih untuk menghindar dari pada nantinya harus beradu kata dengan sang Papa. kata Mamanya itu tidak baik, nanti dia bisa dosa.


"Mas udah, biar nanti aku yang bicara sama Berlian. Ayo kamu mandi, udah gitu ganti baju!" Agatha menarik lengan Bara agar suaminya itu berhenti mengejar Berlian mereka yang terlihat merajuk.


"Ayo!" Bara merangkul pinggang Agatha, mereka menaiki satu persatu anak tangga, menuju kamar yang ada dilantai atas.


💝

__ADS_1


💝


💝


Brraak!


Berliana menutup pintu kamarnya dengan kencang, bahkan dia tidak lupa menguncinya dan melemparkan kuncinya keatas tempat tidur.  Wanita bergaun putih itu terlihat bersandar dipintu, kedua matanya terpejam erat. Ingatan saat Bara Papanya saat menampar Radja didepan muka umum, masih terekam jelas didalam otaknya.


Oke ini semua salahnya, kalau saja dia  tidak reflek memeluk tubuh Radja saat insiden lampu mati, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi bukan.


Berliana mendudukkan dirinya dilantai, rasa bersalah tiba tiba menyelingkupi hatinya saat ini. Radja pasti akan menjadi perbincangan khalayak disana gara gara ulahnya.


Bahkan saat Bara menegur atau pun memarahinya, Berliana akan lebih memilih untuk mengurung diri dikamar sembari menonton film hindi. Tapi entah kenapa jika berhubungan dengan Radja hatinya begitu murahan dan terkesan lemah, bahkan sampai menangis seperti ini.


"Apa aku udah on the way gila ya, masa kayak gini aja make acara nangis segala. Tapi beneran sesek, gak bisa ditahan lagi."  Berliana segera bangkit dari duduknya dan berlari menuju tempat tidur bermotifkan pisang.


Berliana menenggelamkan wajahnya pada Kevin, Wanita itu menumpahkan tangisannya disana. Menangis tanpa suara membuatnya bertambah sesak, bahkan dengan gemas Berliana mengigit Kevin. Kalau saja boneka itu bisa bicara, mungkin si Kevin sudah menjerit histeris dibuatnya.

__ADS_1


Sedangkan di luar kamar Berliana, Bik Sari terlihat berjalan tergesa gesa menuju kamar Agatha dan Bara.


Tok Tok Tok


"Permisi Bu," Bik Sari terus saja mengetuk pintu kamar Agatha dan Bara.


Tidak lama pintu terbuka, ternyata Agatha lah yang membuka pintu.


"Ada apa Bik?" Tanya Agatha


"  Maaf Bu, dibawah ada orang yang nyariin Bapak." Terang Bik Sari


"Siapa?" Tanya Agatha kembali


" Gak tau Bu, tapi dia laki laki. Ganteng lagi Bu, aduh kalau saya masih muda saya juga mau." Bik Sari menggaruk pipinya yang tidak gatal, Sedangkan Agatha hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar penuturan ARTnya.


"Ya sudah Bibi buatin minum aja buat dia, saya mau kasih tau Mas Bara dulu."

__ADS_1


Bik Sari menganggukkan kepalanya pelan, setelah Agatha masuk kembali kedalam kamar Bik Sari pun segera kembali turun kelantai bawah.



__ADS_2