
"Jadi kau yang akhirnya dipilih oleh cucuku? padahal dulu Opa pernah menawarkan yang seperti ini sama kamu kan Sayang, tapi kenapa kamu tolak?" ucapan Damar membuat Berliana mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Ya kali Opa ngasih aki aki buat Kak Bell, kalo dudesnya modelan Hritik Roshan mah ya gak apa apa aki aki juga, Yas juga mau gak bakalan nolak." Yasmine ikut angkat bicara saat Pace nya membahas kejadian dulu yang membuat dia dan Cia berguling karena tertawa.
"Yasmine?" Tiur memperingati putrinya untuk diam, sedangkan Gentala hanya bisa menepuk keningnya mendengar ucapan sang putri. Apa ini karma untuknya karena sudah mendoktrin Berliana selama ini menjadikan Yasmine penggemar duda juga.
"Opa tau sendirikan jawaban Bell apa, dan kenapa Bell nolak?" Berliana melemparkan pertanyaan kembali pada sang Opa, Berliana yakin kalau Opa nya akan paham.
"Hm ya Opa paham. Sekarang saya mau tanya sama kamu, kenapa kamu bisa suka sama cucu saya?" Damar memajukan sedikit tubuhnya, pria paruh baya yang masih sangat bugar diusianya yang tidak muda lagi itu menopang dagunya diatas lutut.
Radja dan Damar saling bertatapan, kedua mata hitam legam dan hazel itu saling mengikat satu sama lain. Tidak ada keraguan dari sorot mata Radja saat menatap kedua netra hitam legam itu. Mata yang sama seperti calon Papa mertuanya.
"Karena saya mencintainya!" Cukup singkat dan jelas jawaban yang diberikan oleh Radja.
__ADS_1
"Hanya itu? tidak ada yang lain? kau tidak sedang memanfaatkan cucuku kan?" Kalimat itu keluar dari mulut Damar begitu saja, pria terlewat dewasa itu menyunggingkan senyuman tipisnya saat melihat wajah tenang Radja.
Sedangkan Berliana menatap tidak percaya pada sang Opa, begitu pun Anin. Wanita itu menatap suaminya dengan rasa tidak percaya, kenapa Damar bisa berbicara seperti itu.
"Maaf Pak Damarta, sedikit pun saya tidak berniat untuk memanfaatkan siapa pun disini. Saya mencintai Queenza dengan tulus, bahkan sebelum saya tahu kalau Queenza adalah cucu kesayangan anda. Bahkan saya merasa tidak pantas saat saya tahu kalau wanita yang saya cintai ini adalah berlian keluarga Prayoga. Anda mungkin sudah tahu status yang saya sandang saat ini, maaf kalau saya begitu banyak kekurangan dimata anda dan mungkin kurang pantas untuk mendampingi Que...," ucapan Radja terpotong
"Apa kau benar benar mencintai Berliana?" Damar menyela ucapan Radja dengan cepat.
Damar menaikan sebelah alisnya sembari mengangkat salah satu sudut bibirnya. Pria itu lalu bersandar santai disandaran sofa.
"Kenapa kau lebih memilih memanggil Berlian dengan panggilan Queenza? bukan Bell atau Berlian seperti kami?" Damar kembali memberikan pertanyaan yang membuat Anin dan Berliana mengusap wajah mereka frustasi. Pria yang menyandang status Opa, Ayah dan Suami itu terlihat santai sembari menyeruput teh hijau buatan Agatha.
"Karena cucu anda yang akan menjadi ratu dihidup saya, Queen adalah panggilan yang sangat pantas saya sematkan untuk kekasih saya." Radja sedikit melirik pada Berliana yang tengah mengalihkan pandangannya kearah lain, bahkan wanita itu sekuat tenaga untuk menahan senyuman diwajahnya saat ini.
__ADS_1
"Oke baiklah, tapi saya cuma mau berpesan sama kamu putra Rajasa, jangan pernah sakiti Berlian, kalau seumpamnya kau sudah tidak mengiginkan cucuku, kembalikan dia pada keluarga Prayoga. Kami bukan keluarga kolot kau tenang saja, status mu itu bukan masalah untuk keluarga kami. Kalau kalian memang serius, menikahlah! itu akan lebih baik bukan?" Damar menepuk pundak Radja lumayan keras, pria terlewat dewasa itu terkekeh kecil lalu bangkit dari duduknya.
"Oh ya satu lagi, Saya sarankan kalau nanti kau menikahi cucuku tidak perlu mahar yang aneh aneh. Cukup berikan Berliana kami 100 hektar perkebunan pisang Raja, ingat pisang Raja bukan yang lain, itu sudah cukup buat dia." Damar terkekeh melihat wajah terkejut Berliana, kedua matanya membelalak ngeri padanya.
Sedangkan Radja terlihat mengerenyitkan dahinya mendengar ucapan Damar, kenapa harus perkebunan pisang? pisang Raja lagi? kenapa harus pisang Raja? kenapa bukan ambon atau yang lainnya
Berliana semakin menutupi wajahnya dengan bantal sofa saat melihat Radja termenung, entah apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu tentangnya saat ini.
'Opa kenapa bahas pisang Raja lagi sih.' jeritan hati Berliana
YASMINE ALORA PRAYOGA
__ADS_1