
"Ya ampun dicariin dari tadi ternyata ngumpet disini, kalian emang kam...," ucapan Berliana terhenti saat menyadari kalau saat ini ada anak dibawah umur yang akan mendengar umpatan kasarnya.
Wanita itu menghela napas kasar, kemudian mengangkat kedua sudut bibirnya sembari menatap wajah Lora yang saat ini tengah menatap kearahnya dengan aneh.
"Anak cantik, sini cium dulu." ucap Berliana sembari memberikan banyak kecupan di wajah Lora.
"Astaga dragon ball, kembaran aku ikut, Lora cantik kayak Kak Yasmine Alora sini sini gendong sama Kakak." Yasmine memekik heboh kala melihat Lora berjingkrak didalam gendongan Berliana yang ala kanguru.
"Kenapa gak nelpon sih, apa gunanya punya ponsel mahal, heran deh?!" gerutu Cia kala Berliana sudah mendudukan dirinya di kursi yang sudah disediakan.
"Gak kepikiran, aduh pundak kayaknya encok. Pegel banget, Lora makin hari makin naik berat badannya, sekarang aja udah 17 kilo. Berasa lagi bawa beras satu karung." kekeh Berliana diakhir kalimatnya.
"Halah, gendong Bapaknya aja gak ngeluh sakit encok, masa gendong anaknya udah encok." cibir Cia lagi
"Ya kalau Bapaknya bedalah, gak kuat juga dikuat kuatin." celetuk Berliana santai, Cia tertawa kecil mendengar ucapan kakak sepupunya.
__ADS_1
Sedangkan Elira, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua saudaranya mulai berperang kalimat, dan kalimat mereka sangat sangat terdengar ambigu dikedua telinganya.
"Ayo Kak Bell pesan, kita udah pesan tadi." Cia menyerahkan buku menu pada Berliana saat melihat seorang pramusaji mendatangi meja mereka.
"Saya pesan, tiramisu cake 1, tempura udang sama chiken cheese 2 , terus minumannya teh hijau hangat, air putih satu, udah itu saja Mas." Berliana menyebutkan makanan yang dia inginkan pada sang pramusaji.
"Oke kak ditunggu ya!" sahut sang pramusaji ramah.
Berliana hanya tersenyum tipis menanggapinya, obrolan ketiga wanita itu pun berlanjut. Sedangkan Yasmine, gadis itu membawa Lora menuju taman kecil yang tidak jauh dari meja mereka.
"Aduh, kayaknya kamu terlalu gembul deh, makanya susah buat melangkah menuju masa depan. Lora harus diet biar gak keberatan pant*at, jadi gak duduk mulu pas mau jalan." Yasmine terus saja mengoceh sembari kembali menggendong tubuh Lora.
Kedua mata bulat Lora menatap Yasmine heran kala melihat gadis remaja itu berhenti mengoceh dan menatap kearah seseorang. Tanpa bicara, Yasmine segera pergi membawa Lora dari taman, kembali menuju meja dimana Berliana dan yang lainnya duduk.
"Loh udah mainnya, ya ampun sampai keringatan gini." Berliana segera meraih Lora dari gendongan Yasmine, balita cantik itu tertawa kecil kala Berliana menyeka keringatnya.
__ADS_1
"Kak Bell?" panggil Yasmine
"Apa Yas?" jawab Berliana seadanya, tangannya masih sibuk menyeka keringat Lora menggunakan tissue.
"Dari tadi, cowok yang duduk di meja 27, diseberang kaca ini lihatin Kak Bell terus," ujar Yasmine sedikit berbisik, salah satu sudut mata gadis itu masih melirik pada pria berkemeja abu abu yang terlihat mencuri pandang kearah mereka.
Dahi Berliana berkerut, tak urung perkataan Yasmine itu membuatnya penasaran. Berliana pun diam diam melirik lewat sudut matanya kearah dimana pria itu berada.
Dahinya semakin berkerut kala melihat siapa si pria, setelah cukupĀ Berliana kembali memfokuskan dirinya pada Lora.
'Dia kan pria yang tadi, kenapa ngelihatin kesini terus sih?' ada rasa tidak nyaman didalam hati berliana saat ini, mungkin kalau dia ditatap lama oleh Radja, Berliana akan senang hati menerimanya. Tapi ini pria asing, yang sekali pun Berliana tidak pernah melihat apa lagi bertemu dengannya.
Pria asing yang memiliki tatapan dingin serta tajam, seolah sedang menginginkan sesuatu darinya.
"Udah biarin! kita cuekin aja!" Berliana memperingati para saudaranya agar tidak mencuri lirik lagi pada si pria asing.
__ADS_1