
Berliana hanya menurut saat Radja membawa dia ke kantornya. Radja tidak mengizinkan Berliana untuk pergi ke DIAMOND QUEEN, dan saat ini mereka berdua tengah berada didalam ruang kerja Radja.
Tadi Galaska menyuruh Radja untuk membawa mobilnya, pria bermulut pedas itu menyarankan mereka berdua membawanya dari pada harus menaiki taksi.
Dan saat ini Radja dan Berliana tengah duduk di sofa, satu tangan Radja memeluk tubuh Berliana yang tengah terlelap didalam dekapannya.
Bahkan suara ketukan pintu tidak mampu membuat atensi Radja teralih dari wajah damai Sang Ratu. Barulah, setelah orang yang mengetuk pintu itu mulai bosan, Radja berseru tertahan mengizinkannya masuk.
"Masuk!" izin Radja
"Maaf Pak Radja, pertemuan antara Pak Ardian dan beberapa Klien lainnya sudah siap!" sekertaris Radja memberitahukan kalau meeting segera dimulai.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Aku minta tolong padamu, kalau istriku terbangun bilang saja aku sedang meeting," ujar Radja pelan, dan kini pria itu perlahan merebahkan tubuh Berliana diatas sofa.
"Baik Pak! kalau begitu saya permisi." pamit sang sekertaris
Sementara Radja masih asyik memandangi wajah cantik Berliana tanpa bosan. Wanita cerewet ini terlihat semakin anggun kala tertidur, kedua sudut bibir Radja perlahan terangkat. Satu tangannya dia ulurkan untuk menyentuh perban di dahi Berliana.
__ADS_1
Kedua mata hazel yang semula terlihat lembut, kini menjadi datar. Satu tangannya terkepal erat,setelah mendengar cerita Berliana tadi, Radja bisa menyimpulkan kalau saat ini ada yang mengincar dirinya namun Berliana yang terkena imbasnya.
"Aku akan mencari orang yang sudah membuat Berlianku tergores. Tidurlah My Queen, aku pergi sebentar." bisik Radja di depan bibir Berliana
Cup
Satu kecupan singkat Radja berikan dibibir Berliana sebelum dia bangkit, terlihat membenarkan penampilannya, lalu segera keluar dari ruangannya.
🍌
🍌
🍌
Wanita yang bernama Meera Mehra itu hanya menyunggingkan senyuman pada semua orang yang hadir dalam meeting, termasuk pada Radja yang tengah mengerenyitkan dahi melihat wanita yang pernah menabraknya dengan sepeda.
"Terimakasih semuanya, saya Meera Mehra. Perwakilan RM CORP, sepertinya saya belum mengenal anda semua disini, kecuali Pak Radja. Saya sudah mengenalnya beberapa hari yang lalu lewat sedikit insiden, ya kan Pak Radja?" ucap Meera dengan senyum menawannya.
__ADS_1
Radja yang ikut dibahas kali ini hanya menaikan sebelah alisnya, kedua mata hazel miliknya hanya menatap datar pada wanita yang tengah menatap penuh puja padanya.
"Ya, saat itu saya sedang berlari sore bersama Istri saya ditaman. Ibu Meera saat itu sepertinya sedang tidak fokus, akhirnya menabrak saya tanpa sengaja, bukan begitu Ibu Meera." Radja terdengar meluruskan ucapan Meera,dia tidak ingin para klien lain berpikiran yang aneh-aneh padanya.
Secara tidak langsung kalau Radja memberitahu mereka kalau pertemuan dia dan wanita ini tidak disengaja, dan kini Radja malah membalikan pertanyaan pada Meera.
"Ah iya, saat itu Pak Radja bersama sang istri. Padahal saya waktu itu tidak berniat apa-apa, hanya ingin memberikan air minum sebagai permintaan maaf . Tapi sepertinya istri Pak Radja agak sedikit cemburuan pada saya," ujar Meera lagi, wanita itu tersenyum menawan kala melihat para klien lain menatap secara bergantian padanya dan Radja.
"Bukannya wajar kalau seorang istri cemburu saat ada wanita lain yang begitu agresif menawarkan minum pada suaminya. Padahal wanita itu tahu kalau si pria sudah memiliki sumber air minumnya sendiri." cetus Radja tanpa basa basi, dia tidak suka Sang Ratu akan dipandang buruk oleh para kliennya.
"A-ah itu, i-itu karena sa...,"
"Sudahlah Ibu Meera, mari kita mulai pembahasannya. Saya ingin Meeting ini cepat selesai, karena saya yakin istri saya sudah bangun saat ini, dan saya tidak mau kalau istri saya harus menunggu lebih lama lagi." lanjut Radja memotong cepat ucapan Meera yang terbata.
Semua orang disana tersenyum tipis pada Radja, sedangkan Meera wanita itu mengulum senyuman kesal serta malu.
'Sialan! bisa bisanya seorang Meera diperlakukan seperti ini!' kesalnya dalam hati, kedua sudut matanya melirik tajam pada Radja yang mulai membuka pembahasannya.
__ADS_1