Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)

Duku Mateng(Duda Kuat Mapan Dan Ganteng)
Makin Besar Makin Agresif


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Kandungan Berliana sudah menginjak 6 bulan, perutnya terlihat mulai membuncit. Aktifitas Berliana bahkan sudah sangat dibatasi oleh Radja, bahkan kamar tidur mereka sudah Radja pindahkan kelantai dasar.


Karena Berliana selalu terbangun ditengah malam, Radja khawatir kalau sang Ratu tergelincir dari tangga, karena kondisinya baru bangun tidur, jadi nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


"Ai?" panggil Berliana


Wanita hamil itu tengah sibuk bermain lego dan puzzle bersama Lora, sedangkan Radja sendiri tengah sibuk berlari diatas treadmil.


"Apa Queen?" sahut Radja, pria itu pun segera mengakhiri larinya.


Radja menyahut handuk kecil yang dia lampirkan didepan treadmil, sebelum Radja mendekat pada Berliana dan Lora.


Bahkan pria itu masih sempat mengecup bibir sang istri dan pucuk kepala Lora, kala Radja sudah berada diantara keduanya.


"Mau apa hm?" tanya Radja gemas, bahkan pria itu berkali kali mengecupi kedua pipi Berliana secara bergantian.

__ADS_1


Kedua pipi Berliana mulai berisi, bahkan bagian tubuhnya mulai berubah. Payu*dara mulai membesar dan berisi, pinggul yang membesar, bok*ongnya pun terlihat dua kali lebih besar.


Bahkan saat ini kedua kaki Berliana sedikit bengkak, karena terlalu banyak bergerak. Apa lagi saat bermain dengan Lora, mau tidak mau Berliana harus mengikuti setiap langkah balita cantik itu.


"Papa iat Ola, uatin gambal adet." ucap cadel Lora, bahkan balita cantik itu memberikan karyanya pada sang Papa.


"Wah, anak gadis Papa bikin gambar adek. Papa gambarin juga dong, masa adek aja yang digambar, Mommy sama Papa mana?" ucap Radja pura pura merajuk.


Alhasil, Lora bangkit dari duduknya, lalu memeluk tubuh lembab Radja tanpa ragu. Balita cantik itu memeluk erat tubuh sang Papa, bahkan kedua tangan kecilnya sudah bergelayut di leher Radja.


"Nati Ola uatin Papa cama Bell na Ola." rayu Lora, bahkan balita itu masih memanggil Berliana dengan panggilan Bellnya Lora.


"Bell na Ola, juga mau dipeluk juga." ucap Berliana, yang juga pura pura merajuk.


Lora melepaskan pelukannya dari Radja, dan terlihat menarik lengan sang Papa, lalu meletakannya di bahu Berliana, agar tangan besar berurat itu bisa merangkul pundak sang Mommy.


"Bell na Ola, pelut Papa ja." ucap cadel Lora.

__ADS_1


Bahkan balita cantik itu semakin melebarkan senyum pada Berliana, dan kembali memeluk tubuh Radja. Sedangkan Radja, pria itu dengan senang hati meraup tubuh Berliana kedalam dekapannya.


"Sebentar lagi si jagoan, akan menyusul. Aku sudah tidak sabar, melihat dia." gumam pelan Radja.


Bibirnya tidak mau diam, pucuk kepala Lora dan pelipis Berliana tidak lepas dari kecupannya. Bahkan Berliana tertawa geli, kala ciuman Radja sudah merambat kemana mana.


"Ai? ada Lora ih!" protes sembari menjauhkan wajah Radja dari leher serta pundak terbukanya.


Bukan karena Berliana tidak suka, namun karena ada Lora didekat mereka. Bahkan setiap detiknya, Berliana selalu merindukan sentuhan Radja, bahkan saat Radja sedang bekerja, Berliana merasa kehilangan. Entah kenapa, hormon kehamilannya semakin menjadi jadi. Semakin usia kandungannya bertambah, Berliana semakin manja dan bertambah agresif.


Bahkan Berliana pernah menyusul kekantor Radja, tanpa sepengetahuan Soraya dan Radja, sembari membawa Lora. Akibat rasa ingin bertemu dengan sang Radja begitu tinggi, Berliana tidak mengindahkan pesan suaminya.


Dan hasilnya, sang sopir kena omel Radja, karena sudah menurut pada sang Nyonya. Kenapa tidak bilang saja kalau ban mobilnya kempes, atau mati, yang penting Berliana tidak nekat.


Namun sepertinya Berliana kapok sekarang, setelah melihat amarah Radja pada sang sopir. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, akan menurut pada setiap ucapan sang Radja.


__ADS_1



SI BANANA QUEEN YANG LAGI MABOK PISANG RADJA


__ADS_2