
Satu tahun kemudian.
Renata tengah hamil 8 bulan tinggal menunggu beberapa minggu lagi ia melahirkan anak dalam kandungan nya ini.
Lisa udah 3 tahun, Rendi 2 tahun, Darel dan Nara 1 tahun.
Nara kalian tahu dia punya sikap dingin dan cerewet banget.
Darel ia menjadi sosok anak yang paling perhatian dan sangat penyayang terhadap kakak dan adeknya.
Rendi ia punya jiwa cukup tegas dan tegar kuat.
Lisa ia belum tahu siapa orangtua kandungnya, dan ia mempunyai sifat ceria tapi kalau marah dah lah ngalahin Nara dia yang bakal maju siapa pun yang bully adek adeknya.
Dan kita masih menunggu kelahiran Dede berikutnya seperti apa yah anak dari Vano Dan Renata.
Taman.
Kini mereka di mansion bukan Rumah cadangan.
"Darel.." Nara berucap dingin hiks bocil dah jadi dingin pula nih ponakan entah keberapa nih punya Author,
"Ndak ucah dingin amat." ucap Darel memberingkan sepiring semangka dan blueberry kepada Nara.
Disisi yang lainnya.
__ADS_1
"Kayaknya lu salah ngidam deh Nata, anak lo kok bisa bisanya jadi kyk begono?" ucap Vano gimana bisa maknya cerewet bapaknya lumayan bar bar lah kok jadi kulkas berjalan anaknya.
"Gtw." ucap Nata memperhatikan Nata,
Cap...
Rendi main tembak tembakan sama Darel tapi yah tanpa sengaja terkena bagian bawah Rendi.
"Emh hiks ca.. cakit." Rendi berusaha tegar walau itu menyakitkan, Darel segera menghampiri kakaknya ini dan melepas lalu memeluknya.
"Maap Tata Dalel ndak cenyaja." ucap Darel memeluk.
Di sisi lain.
"Kalau yang ini mah sifat Bang Raden." ucap Renata sosok Darel yang menyayangi orang sekitar nya.
Biasalah Nara dan Vano ini sangat kemusuhan banget.
"Tante Nala boleh nyentuh elus dede?" tanya Nara, Renata mengangguk lalu ia menatap om nya yang santuy makan cemilan.
"Tante aja boleh yang amil kan tante kok om yang cewot." ucap Nara datar dan mengelus elus adeknya.
Rendra terkekeh bahkan terpingkal pingkal ia yang memang tak berani kepada Vano dulu malah anaknya kebalikannya,
"Bwahhaha mampus lu kak." ucap Rendra tertawa tawa.
__ADS_1
"Nih ponakan gw yah..." Vano mulai mengepalkan tangan geram, Nara bodo amat bahkan mengajak ngobrol dengan adeknya ini.
Vano berjalan ke arah dengan ancang ancang Nara langsung kabur tamengnya adalah Ayahnya kalau gak Bundanya.
"buna Om Vano Nakal..." adu Nara berhamburan ke pelukan Bundanya,
"Ngadu ngadu kgk berani ngadu ke bunda ayahnya." ucap Vano memasang wajah menantang.
Nara yang tak terima mulai tersulut tantangan om nya ini.
"Nala ndak takut ama om, Om itu yang cuka ucik Nala Nala lo anak baik." ucap Nara membela diri,
"Mazak..." terjadilah percecokkan yang tidak seimbang.
Yang satu Anak kecil umur setahun dan yang satu udah dewasa bentar lagi jadi seorang ayah, keduanya terus adu mulut tak mau kalah dan...
"CETOP..." Darel lah penengah jalan terang kedua orang ini Darel maju dan mulai mengomel menasehati tanpa henti.
"Maap Tata." - Nara
"Maap.." -Vano
Semua terkekeh hanya Darel lah penengah mereka jika bertengkar.
"Nala ndak baik gitu Om lebih tua, Om juga ndak boleh gitu om udah dewaca." nasehat Darel, dan hanya di jawab iya satu kata ini kadang membuat Darel strees jawaban nya "IYA." Tapi di ulangi terus.
__ADS_1
Bersambung.