
1 Bulan kemudian
Sebulan sudah berlalu Rina tidak satu kampus lagi dengan Rheva dia dipindahkan di California, sementara itu juga Papa Andara sudah mulai membaik pada tulang tulang nya juga.
Hari minggu yang cerah.
Kamar Papa.
"Selamat pagi Pa. " Kata Rheva dengan senyuman hangat seperti dulu, dia meletakkan semangkok bubur beberapa Vitamin buah dan air putih.
"Papa makan dulu setelah itu kita pergi ke taman belakang, berjemur diri. " kata Rheva mengambil mangkok dan mulai menyuapi Papanya, "Hah.... kapan papa bisa sembuh total, Papa bosan makan vitamin terus. " kata Papa mulai.
"Jika papa rajin maka Papa cepet sembuh. " kata Rheva, Papa tersenyum menerima suapan putrinya.
Setelah makan Papa minum Vitamin dan makan buah, "Ayo katanya ke taman... " kata Papa Rheva mengangguk dia membantu Papanya berdiri lalu mereka keluar ke taman belakang.
Disana juga terlihat Aline dan Tiffany sedang Ribut masalah bunga di hadapan mereka,
"Gw bilang ini tuh bunga kamboja cocok buat ramuan racun gw. " kata Tiffany ngeyel.
"Bukan Tifa, ini itu melati. " kata Aline juga ngeyel.
Papa dan Rheva berjalan ke arah mereka lalu, "Ini bukan bunga ini itu daun kayu putih memang sih bentuknya seperti ini. "kata Papa menyela mengambil sehelai daun itu.
__ADS_1
Seketika keduanya pun diam,
"jadi... " mereka berucap bareng
"Kalian sama sama salah... " kata Rheva datang.
"Oh ya Tiffany gimana tentang orang itu, sekarang dia dan keluarga nya Papa dengar liburan ke Paris. " kata Papa duduk menyeruput tehnya.
"Masih masa Awasi Pa. " kata Tiffany duduk berhadapan.
"Kalau Aline, kudengar yah wajah mu memang memiliki kemiripan Nyonya Alin bahkan kalian hampir sama nama bahkan dulu bukannya kalian pakai topeng dan ketahuan. " kata Papa lagi.
Aline tertegun mendengar itu
Tapi Wajah Tuan Faresta dan Nyonya Alin yang selalu muncul.
"Sepertinya ia Line, kalian punya kemiripan lu gk suka Sushi tuan Faresta pun tidak, kau pintar Bidang penjualan persenjataan paling sukses Tuan Faresta juga sama. " jelas Rheva yang sudah dari awal mulai curiga.
"Aku masih ingat saat kamu Aline pakai bandana kelinci, nyonya Aline waktu kecil paling sering pakai. dan saat Papa lihat itu kau sangat mirip" kata Papa karena Alin, bunda Rosa dan Rheva maupun tuan Faresta bersahabat sejak kecil.
"Apa itu mungkin.? " Tanya Aline hatinya mengatakan iya tapi entah apa ia agak ragu karena takut salah, dari dulu ia ingin tahu ortu kandungnya.
"Coba lakukan tes DNA aja. " usul Tiffany semua memandang nya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Bagus itu idenya, masalah Alin dan Fares biar Papa aja. " kata Papa semua setuju.
Mereka pun lanjut mengobrol hingga bibi datang membawa 2 orang tamu,
"Nona ini ada Tuan Fares dan istrinya. " kata Bibi semua menoleh dan tersenyum Aline berdiri dan memeluk mereka.
"Eh... " Aline menyadari kelakuannya dan melepas tapi dia sangat suka pelukan mereka, "Silahkan duduk kalian berdiri bae jadi patung lu pada... " dah Papa mulai pake bahasa gaul padahal dah tua.
Papa bicara dengan Tuan Fares sedangkan itu para ciwi sendiri juga, Aline suka tiduran di pangkuan Nyonya Alin.
Pembicaraan Papa.
"Ku serius dra? " Tanya Faresta tak yakin tapi rasa sayang nya untuk aline benar benar ia berikan sepenuhnya kepada Aline,
"Lu gk yakin, lu sendiri tadi gimana rasa pelukan Aline kemiripan lu dan dia ada.
cobalah dulu bukannya lu juga berharap anak perempuan kecil mu kembali. " kata Papa menyakinkan.
Muncul ulasan senyuman di Faresta,
"Baiklah, " kata Faresta.
Bersambung
__ADS_1