
"Renata ayo main basket." Reyhaan mengalihkan pembicaraan nya agar tak berlanjut karena dia yakin Papinya jika membahas otomatis tidur di luar kalau tidak di kamarnya.
"Ayo..." Renata semangat anak anak pun bermain basker seharian, Renata berhasil mengalahkan Vano walau tinggi badan berbeda.
"Hah... hah capek..." Renata mengelap keringatnya lalu dia melihat seseorang gerak gerik cukup mencurigakan, Renata melihat dia memegang sniper dan dia menunjuk jalur sniper yang akan di tembakkan adalah...
Dor...
"PAPI...." Renata yang menyadari jalurnya ke arah Papinya segera berlari dan memeluk Atha, Peluru pun tepat tembus di punggung Renata sehingga Renata muntah darah dan ambruk.
"Renata anak mami bangun nak..." Rheva yang melihat antara panik dan sedih dia memeluk erat tubuh Renata, dari punggung terlihat banyak Darah yang keluar.
"TANGKAP DIA JANGAN SAMPAI LOLOS." Kakek Andara yang baru tiba dari luar kota melihat cucu perempuan nya tertembak seakan marah, Tiffany berusaha mereda takut nya terkena serangan jantung dadakan.
"Hah... hah Pa... Papi.." Renata yang masih setengah sadar merasa dadanya sesak, Reyhaan dengan cepat menggendong adiknya ini dan berlari menuju mobil.
Mobil Reyhaan, dan yang lain melaju tersisa 3 orang lelaki yang masih mencari keberadaan orang tadi.
Rumah sakit.
__ADS_1
Renata di larikan ke Ruang operasi untuk mengambil peluru yang masih ada di dalam tubuhnya, Rheva duduk masih dengan ke khawatir dia.
Rheva menangis dan Tiffany memeluk agar Rheva tenang.
2 jam berlalu, Operasi masih terus berlanjut hingga... Ceklek....
Pintu terbuka tampak seorang suster terburu buru keluar mengambil sesuatu,
"Suster bagaimana keadaan anak saya?" tanya Rheva khawatir.
"Pasien butuh darah, saya akan ke bank darah." ujer suster itu mempercepat langkahnya, Rheva masih dengan kekhawatiran nya.
Pelaku sudah tertangkap kini ia di hadapan Atha, Daffa, Ehsan, dan para orangtua lainnya.
"Katakan siapa yang menyuruh mu?" kini Atha berubah menjadi dingin, orang itu bungkam tak mau bicara hingga akhirnya ia berbicara setelah di ancam akan membunuh seluruh keluarga nya.
"Ca... Carlise...." orang itu berucap gemetar, kini Andara paham penyebabnya adalah mantan istri keduanya dia mengepalkan tangan kuat.
"Bawa ini kepadanya, jika dia mengancam mu kami menjamin keselamatan mu dan keluarga mu juga." ujar Fares angkat bicara, Orang itu segera pergi dengan di kawal dua bodyguard bertubuh besar dan kekar.
__ADS_1
"Pa kami ke rumah sakit dulu." pamit Atha dan yang lain, setelah itu mereka pun langsung menuju rumah sakit.
Kembali ke rumah sakit.
Di kabarkan Renata mengalami kritis, Rheva terus berdoa agar putrinya selamat.
"Bagaimana Renata?" tanya Atha yang baru tiba, Rheva memeluk Atha dan terisak di pelukannya ia mengatakan bahwa Renata kritis.
"Maaf Rheva...." Atha merasa bersalah karena ia lengah dan menyebabkan anaknya tertembak, sedangkan Rendra pingsan dan merasakan dadanya begitu sesak hingga di larikan ke UGD dengan di temani Reyhaan dan Vano.
"Rendra mana?" tanya Atha lagi.
"Rendra sempat pingsan dan sesak." jelas Deana mengingat berapa kali Rendra menahan sesak selama perjalanan kerumah sakit.
Atha menghela nafasnya nasib anak anaknya bagaimana, kenapa musuh musuh lama mereka datang kembali kini musuh Rheva mulai bangkit dan sasaran nya adalah sikembar.
"Permisi...." seorang berjas hitam terlihat berwibawa namun sudah berusia lanjut menghampiri mereka.
"Benar dengan Nyonya Rheva dan Tuan Atha?" tanya Orang itu, sang pemilik nama mengangguk dan orang itu mengulas senyuman.
__ADS_1
Bersambung.