
"Kau yakin?" kata Ehsan mengeluarkan smriknya, ia mulai menggores seluruh tubuh Alia begitu dendam ia dengannya bagaimana tidak dia penyebab Aline tiada meninggalkan ia dan Vano.
"Akh..." Alia hanya menjerit kesakitan dia tidak bisa melawan lantaran tangan dan kakinya telah di ikat kuat oleh Vano, setelah puas membuat lukisan dengan kuatnya Ehsan merobek seluruh pakaiannya Alia hingga tersisa dalamnya saja.
Prok
Prok..
"Siap Tuan." 2 orang suruhan Ehsan telah datang,
"Kalian nikmati saja dia." kata Ehsan datar kedua orang itu menurut Ehsan tak peduli dengan Alia.
"Kenapa Ayah menyiksa nya sih kan Vano mau.." kata Vano datar,
"Setelah dia menikmati surgawi baru kau boleh menyiksa sepuasnya." kata Ehsan tersenyum tipis.
Sedangkan keluarga Atha, mereka habis habisan menyiksa dia dengan keji tak mengenal kata ampun lantaran dia sudah berbuat keterlaluan.
"Bagaimana? kau masih ingin.." kata Rheva ketiga anaknya telah puas menyiksa dan dia sudah terlihat banyak luka sana sini.
"Kau juga penyebab Putri ku tiada." ucap Rissa penuh penekanan tapi Rheva tak peduli karena kelakuan mereka keterlaluan terhadapa mereka.
"Ada kata terakhir Rissa?" kata Rheva menodongkan Tembak ke kepala Rissa namun seseorang berlari dan memeluk dia,
__ADS_1
"Tante ku mohon jangan bunuh nenek ku." kata anak itu yang 2 tahun lebih tua dari sikembar.
"Apa jangan pernah memohon pada pembunuh, Ingat ibu mu di bunuh mereka." kata Rissa mencengkram lengan anak itu,
"Nenek salah, kita yang salah aku mengerti semuanya Raden tahu yang mana salah atau pun yang benar." kata Raden dan ternyata ia anak luar nikah dari Riana.
"RADEN DIA MEMBUNUH IBUMU." Kata Rissa meninggikan suaranya mencengkam lengan cucunya semakin kuat hingga terlihat merah, Rheva sempat tak tega sempat ia lihat beberapa luka lebam di bagian sudut bibir dan merah seperti goresan pada leher bagian samping.
"Tapi ibu dan Nenek salah menghancurkan keluarga orang lain itu salah maka dari itu mereka membalasnya." kata Raden berusaha sabar menghadapi neneknya.
"Dasar ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG..." Rissa menampar kuat pipi Raden hingga ia meringis semua hanya terkejut dan diam.
"Nenek..."
Sreet...
Rheva mencengrkam pergelangan Rissa, Tiffany berjalan dan hendak membawa Raden pergi tapi Raden menolak nya dengan halus.
"MATI KAU ANAK SIAL....KAU SEPERTI AYAHMU YG BAJINGAN ITU."
Jleb...
Satu kata membuat Raden sedih mendengar ucapan sang nenek dan tanpa sadar air mata nya mengalir, ia tak menyangka ia pikir neneknya akan berubah dari kejadian ini tapi...
__ADS_1
Plak...
Krek...
Rheva menampar dan menginjak kaki Rissa kuat, "Tante jangan nenek kesakitan." Raden berusaha tegar ia menghapus air matanya hendak menolong neneknya tapi malah di tepis dan belati itu menggores pipi Raden.
"APA KAU TAK PUNYA HATI HAH KAU SEORANG IBU, KAU MALAH MENYIKSA CUCU MU SENDIRI." Kini Rheva meninggikan suaranya kesabarannya benar benar habis dan....
Dor...
Satu peluru menembus jantung Rissa dan Raden ia luruh dan menangis, ia tak punya siapa siapa ayahnya saja tak mengakuinya neneknya selalu menyiksanya ibunya tentu sudah tiada saat umur ia 2 tahun.
"Hiks kenapa tante bunuh nenek, Raden tak punya siapa siapa." ucap Raden menangis melihat neneknya tiada, walau sering di siksa ia juga menyayangi neneknya entah dari didikan ibu panti dulu ia kecil atau turunan sifat ayah nya dia menjadi cukup sabar.
Rheva berjalan lalu memeluk Raden,
"Raden ikut Tante saja ok." kata Rheva, Raden membelalak kaget mendengar kata Rheva
"Tante serius?" tanya Raden.
"Iya dan mulai sekarang panggil tante Mami." kata Rheva membuat senyuman lembut dan mengecup kening Raden.
Bersambung.
__ADS_1