
Pulang sekolah.
Mereka semua menunggu di jemput orang tua mereka masing masing,
"Haish ayah lama sekali.. " Gumam vano memutar bola mata malasnya.
"Vano... " Panggil seseorang membuat pemilik nama berbalik ternyata seorang pria paruh baya mengenakan jas hitam berjalan ke arahnya, "Maaf lama tadi macet. " ucap Ehsan.
Vano mengangguk lalu mereka masuk ke dalam mobil, Ehsan melajukan mobil menuju rumah mereka tapi diperjalanan...
"BERHENTI KALIAN.. "2 mobil hitam mengepung mobil Ehsan, Vano menoleh sana sini "Ayah siapa mereka? " tanya Vano.
"Vano kamu menunduklah dan pegangan kuat. " ucap Ehsan, Vano menuruti dengan kecepatan tinggi Ehsan melajukan mobilnya membuat 2 mobil itu tertinggal namun...
Dor....dor....
Tembakan kedua dari mobil itu mengenai ban mobil Ehsan membuat hampir tidak terkendali, sedangkan yang di dalam Vano gemetaran mendengar tembakan itu apalagi Ban mobil mereka meletus.
"Vano... " Ehsan melepas silbet milik Vano dan memeluk anaknya dan...
Brak.. Brak... Brak... Duar....
__ADS_1
Mobil menghantam sebuah batu besar dan meledak sedangkan pengemudinya tadi berhasil keluar saat mobil mulai hilang kendali.
Ehsan dengan cepat berlari ke sebuah rumah gubuk kosong dan masuk,
"A... ayah...ta.. takut..."Vano gemetaran melihat itu semua apalagi ledakan mobil mereka tadi.
"Gpp sekarang kita aman sementara kita di sini.. " ucap Ehsan menenangkan anaknya tidak tahu apa putranya sangat takut melihat hal seperti ini lagi walau trauma dulu sudah hilang.
"Sekarang Vano tutup mata, bayangkan ada bunda aline yang meluk Vano. " Ehsan selalu berkata seperti itu karena ia tahu pelukan seorang ibu dapat menenangkan hati.
Vano menurut pada akhirnya dia tertidur pulas di pelukan Ehsan.
Pukul 17.00
"Huh... untung... " Ehsan berjalan kaki Rumah mereka tidak terlalu jauh jadi ehsan memilih berjalan sambil mengendong Vano.
"Bunda..." Vano mengingo di saat tidurnya tentu itu di dengar Ehsan, Ehsan hanya tersenyum kecil mendengar ginggoan anaknya.
"Anda bundamu selamat pasti Vano senang. " Gumam Ehsan tanpa sadar menjatuhkan airmata nya mengingat kenangan ia dan Aline bersama menanti kelahiran Vano kecil..
"Andai bunda mu tak terjatuh waktu itu, dia pasti bersama kita. " ucap Ehsan memandang Vano.
__ADS_1
Sampai rumah ternyata ada Atha dan keluarga maupun yang lain menanti Ehsan dan Vano.
"Lu dari mana kita dah nungguin 3 jam? " tanya Atha, Rheva menggendong Vano dan masuk kedalam Sedangkan Ehsan dan yang lain .
Ehsan menceritakan awalmula kenapa dia pulang terlambat.
"Gw gk tahu siapa tapi dari dulu mereka mengincar Vano... " ucap Ehsan menghela nafas masih ingat dia waktu Vano umur 5 tahun dia mengalami kecelakaan tepat di hadapan Vano sendiri hingga itu membuat Vano trauma kaget.
"Apa keluarga Anindhya? " tanya Atha selama ini musuh aline hanya itu kalau Ehsan tak ada musuh,
"Bisa jadi orangtua Angkat Aline kan di tahan kecuali Anaknya. " kata Daffa karena Alia tidak pernah muncul semenjak orangtuanya menghilang.
Ehsan berfikir lalu...
"Ayah..." seseorang memanggilnya dan berlari memeluknya, "Ayah aku sama yang lain mau ke makam Bunda boleh yah? " tanya Vano penuh harap.
Ehsan mengijinkan dan Rheva menyuruh 4 bodyguard mengawal anak anak sampai ke makam.
Di pemakaman.
Vano membawa bunga Mawar putih kesukaan Bundanya sampai tepat di makam bundnya dia meletakkan itu,
__ADS_1
"Bunda apa kabar? " Vano berbincang dengan riang maupun yang lain.
Bersambung.