
Satu bulan kemudian.
Rendra sudah sembuh namun ia lebih murung karena melihat adek kembarnya koma, sedangkan Renata masih belum kunjung bangun membuat semua sedih.
Suatu Pagi.
"Mami Papi bang Rey, Rendra berangkat." ucap Rendra datar mengecup pipi semua orang lalu ia berangkat menggunakan sepeda motornya.
Sekolah.
Rendra telah sampai tapi tetap ia masih sedih terasa kurang karena tidak adanya Renata bersamanya, Rendra berjalan dan masuk ke kelas terdapat anak pembully yang sedang mencoret bangku Renata.
BRAK....
Rendra yang melihat itu ia emosi dan marah ia menggebrak meja keras hingga membuat satu kelas menoleh, Para pembully pun rada gemetar melihat Rendra.
"APA APAAN LO SEMUA CORET CORET DI BANGKU KEMBARAN GW, HAPUS!!" Rendra meninggikan suaranya penuh amarah, para pembully langsung membersihkan setelah itu pergi.
20 menit setelah Para pembully pergi beberapa siswa mendekati Rendra.
"Sabar bro, pasti Renata bangun lagi lo harus kuat kalau lu ketahuan lemah kyk begini di tonjok kembaran lo entar." nasehat salah satu teman sekelas, Rendra mengangguk lalu ia menungkelupkan wajahnya.
Jam istirahat.
Rendra memilih ke Rooftop ia ingin merasakan ketenangan sejenak.
Rooftop.
__ADS_1
Rendra merebahkan dirinya sambil menatap langit yang lumayan ada beberapa awan putih.
"Renata gw kangen, kapan lo bangun." gumam Rendra menutup matanya, hingga seseorang seakan ada yang hadir dan bertatap tepat di wajahnya.
Karena terkejut Rendra reflek akan bangun namun siapa sangka malah ia tak sengaja menyentuh bibir orang iti dengan bibirnya.
"Ka.... kak Deana." Hati dan jantung Rendra berdegup kencang kala kedua mata mereka bersitatap.
15 menit kemudian.
Keduanya langsung tersadar dan berusaha bersikap baik dan cool, "Ada apa kak Deana kesini?" tanya Rendra walau dirinya agak canggung namun ia tak bisa menunjukkannya.
"Ga... gak kok, kakak lihat kamu sendiri disini." kata Deana juga menutupi rasa gugupnya, kedua nya pun diam sesaat dan...
"Kak, Ren." keduanya tak sengaja berbicara barengan dan membuag ini semakain canggung.
Rendra menghela nafas dan...
"Maaf kak rebut Fristkiss kakak." kata Rendra padahal ia pun sama, Deana paham
"Kaka juga minta maaf." ucap Deana keduanya tersenyum bersama lalu mengobrol ringan.
Tak terasa Bell kembali berbunyi mereka kembali dan melanjutkan pelajaran mereka masing masing.
Pulang.
"Kak Linda Deana, tolong bilang kalau Rendra di cariin bilang Rendra kerumah sakit." kata Rendra di jawab keanggukan mereka, Motor Rendra berjalan keluar area persekolahan.
__ADS_1
Rumah sakit.
Rendra berjalan melewati lorong rumah sakit dan sampailah di sebuah ruangan dimana seorang gadis yang seumuran hanya beda beberapa menit dengan nya terbaring lemah, dengan alat bantu.
Ceklek..
Rendra masuk, dan langsung duduk di dekat Renata ia juga memegang tangan Renata.
"Renata cepet bangun dong, gw kangen..." kata Rendra mengecup tangan Renata tanpa sadar airmatanya menetes,
"Maaf gw gagal jaga lo sebagai kakak." kata Rendra merasa bersalah dadanya jugaa terasa sesak.
Hingga.....
Jari Renata mulai bergerak namun tidak di sadari oleh Rendra karena sibuk menangis,
"Re.... Rendra..." suara lirih dan lemah mampu membuat Rendra tersadar dan menatap Renata yang sudah membuka matanya sedikit.
"Ren....Renata kamu sadar.." Rendra girang hingga memencet tombol dan langsung dokter datang, ia memeriksa Renata.
"Syukurlah nona sudah sadar dan kondisi mulai membaik, terus banyak istirahat nona agar lekas sembuh." ucap Dokter.
Rendra yang sedari tadi senang langsung mengecup pipi dan kening adek kembarnya,
Renata hanya tersenyum kecil melihat tingkah Rendra seperti ini.
Bersambung.
__ADS_1