
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kayden meletakan bunga lily putih diatas pusara bertuliskan nama Vio Lana Wijaya dengan tinta berwarna emas.
Pria itu kemudian berjongkok dengan tangan yang berpegang pada nisan sambil menatap bingkai kecil dengan foto Lana yang tersenyum.
Lana yang cantik dan penuh kasih, gadis dengan hati putih yang pernah Kayden temui.
"Dia terlalu sempurna untuk di miliki manusia, karena itu Tuhan memanggil pulang lebih cepat dari yang diharapkan manusia"
Kayden mendongak, menatap pria berkulit putih yang sedang berjalan mendekat dengan pandangan yang tertuju pada foto Lana.
Pria itu kemudian meletakan bunga yang sama dengan yang dibawa Kayden diatas makam Lana, tersenyum sebelum menutup mata.
Kayden menyipitkan mata, merasa familiar dengan wajah pria itu.
"Saya Agus Gabriel. Saya mantan kekasih Lana sebelum dia bersama anda" pria itu membuka mata kemudian membalas tatapan Kayden.
"Dia cinta pertama saya, dan saya pun punya arti yang sama baginya" pria itu tersenyum tipis, membayangkan kembali memorinya bersama Lana.
"Lana pasti bahagia kalau anda juga bahagia, karena dulu dia pun begitu saat saya menemukan kebahagiaan saya meski harus melepas dia"
Agus tersenyum tipis kemudian pamit undur diri, baginya tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini termasuk bertemu Kayden saat mengunjungi makam Lana. "Pesan kamu sudah aku sampein, tinggal dia sekarang yang harus mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri" bisik pria itu sambil melangkah keluar dari area pemakaman.
Kayden kembali menatap kearah foto Lana saat pria bernama Agus itu sudah menghilang dari pandangannya.
Pria itu menghembuskan nafas sambil mengelus pelan nisan mantan tunangannya itu.
"Semua yang terjadi diantara aku dan Eleasha bukan karena keisengan, tapi murni sebuah ketulusan. Aku minta maaf karena pada akhirnya tidak mencintai kamu sampai akhir"
"Kamu tidak perlu meminta maaf, En"
Kayden mendongak lagi kali ini mendapati mama Sonia yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Mama sejak kapan datang?"
"Sejak tadi, sejak kamu sibuk dengan pikiran kamu sendiri sambil menatap foto Lana"
Kayden berdiri masih dengan tangan yang diletakan di pusara mantan kekasihnya itu "aku merasa seperti pengkhianat" bisiknya pelan.
Sonia maju, berdiri disamping Kayden dan mengusap punggung laki-laki itu pelan, "Lana pasti tahu bagaimana perjuangan kamu selama ini untuk dia, dan dia juga tahu seberapa menderitanya kamu karena hal itu. Sudah mama bilang, kamu tidak perlu meminta maaf"
Kayden mengeraskan rahang, menatap wanita itu dengan perasaan tidak menentu.
"Mama akan mewakili Lana untuk bilang hal ini ke kamu," Sonia memutar tubuhnya supaya bisa menghadap pria itu "Kayden Abraham, kami bahagia karena akhirnya bisa melihat kamu melupakan masa lalu, dan memulai kembali semua lagi"
"Aku...." suara Kayden tercekat di tenggorokan.
"Mama memang sudah tua, En." Sonia memotong ucapan Kayden "tapi mata mama tidak terlalu buruk untuk tidak bisa melihat bagaimana matamu saat melihat El, tatapan matamu itu mulai berbeda setelah insiden pencekikan dulu, dan itu sudah lumayan lama"
Wanita tua itu maju, memeluk Kayden sambil mengusap punggungnya lembut ini adalah cara Leo saat berusaha menenangkannya "kita manusia tidak punya waktu sebanyak yang kita pikirkan, berhenti membuang waktu untuk balas dendam yang tidak ada artinya. Karena saat kita mencintai seseorang, bisa saja waktu kita tidak lagi banyak untuk mencintai mereka"
__ADS_1
Sonia melepaskan pelukannya "jadikan Lana sebagai pengingat untuk kita yang masih hidup, bahwa kita dapat berpisah kapan saja dan juga setiap kata mungkin bisa jadi kata terakhir untuk kita ucapkan satu sama lain"
Kayden mengangguk pelan, dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi gunakan waktu yang kita miliki sekarang untuk hal-hal yang ingin kita lakukan dan memang harus dilakukan"
Pria itu menghembuskan nafas berat, "tapi dia sepertinya tidak ingin aku buru-buru padanya"
Sonia tersenyum "itu hal yang wajar, kamu jahat banget ke El dulu."
"Aku berusaha berubah, berusaha memperbaiki semua. Tapi El tidak mau memberikanku kesempatan, apa yang harus aku lakukan ma?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagi seorang wanita, meski mereka ingin anak mereka memiliki ayah, tapi kalau sang ayah datang tanpa adanya cinta mereka tidak akan lagi menginginkannya"
"Seorang wanita tidak ingin pria mengambil tanggung jawab untuk mereka tanpa didasari cinta"
Kayden menstater mobilnya keluar dari parkiran menuju rumah sakit tempat Eleasha dirawat, hatinya berdebar tidak lagi sabar bertemu gadis itu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Hallo? Jer bisa tolong beli'in gue bunga yang banyak? Boneka juga yang gede-gede.... akh.... nggak usah biar gue aja."
Setelah memutuskan panggilan Kayden kembali fokus menyetir, dalam perjalanan kesana dia akan singgah ke toko bunga untuk memesan bunga sebanyak-banyaknya dan mungkin boneka. Apa perlu juga cincin?
Drrrtttt.....Drtttt....
Handphone pria itu berbunyi, Kayden menekan layar head unit mobilnya dan langsung tersambung dengan si penelpon.
"Lagi dijalan mau kerumah sakit, lo kenapa kok suara lo kedengarannya aneh?"
"Jangan kerumah sakit, ke apartemen Eleasha aja, cegah dia kebandara"
Kayden hampir saja menginjak rem saat mendengar informasi yang baru saja dia dengar, pria itu dengan cepat menepih untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
"Bandara? Tapi bu...kannya..."
"Penjelasannya nanti aja, tapi yang jelas Eleasha akan pergi dan lo harus cegah dia. Cuma ini yang bisa gue bantu sekarang En"
Tanpa menunggu lagi, Kayden segera tancap gas memutar arah untuk menuju apartemen Eleasha.
Pria ini sangat berharap mimpi buruk ini segera berakhir.
...****************...
El meletakan buket bunga masing-masing pada tiga makam yang berdekatan, memasang senyum terbaiknya meski hatinya sedang hancur lebur.
"Lo lagi hamil El, tapi kenapa lo bertindak seakan-akan anak lo nggak punya bapak?"
Sambil mengelus pusara milik mamanya El berucap "lo harus tahu Ed, kalo gue yang menyerahkan diri pada Kayden waktu itu jadi gue nggak bisa memaksa anak gue untuk dia akui"
"Jangan keras kepala," saran Eduard.
__ADS_1
"Faktanya anak ini nggak hadir karena cinta dan tanggung jawab nggak akan bisa menggantikan cinta. Gue nggak bisa membuat dia bertanggung jawab atas anak gue, Ed"
"Dari mana lo tahu kalo En nggak bahagia mengambil tanggung jawab itu? Jangan suka menarik kesimpulan sendiri"
Eleasha berdiri memutar tubuh untuk menghadap Eduard "Kecelakaan itu membuat kami terus menerus saling memberi konpensasi, dan gue nggak akan biarin anak gue menjadi tali untuk mengikat dia selama sisa hidup dia lagi"
Eduard berdecak dengan betapa keras kepalanya Eleasha saat ini.
"Ed, lo nggak perlu khawatir mama bahkan bisa melewati semua sendiri padahal umurnya masih 15 tahun saat mengandung dan melahirkan gue. Gue pasti bisa lewatin masalah ini juga"
Pria itu merasa kesal tapi juga disaat yang sama tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Eleasha. Dia sangat mengenal El dan dia tahu jika sudah bertekad, gadis itu nggak akan bisa di goyahkan dengan apapun juga.
...****************...
Alena sedang mempersiapkan segala perlengkapan Eleasha untuk penerbangannya beberapa jam lagi saat pintu apartemen tiba-tiba terbuka dan sosok Kayden yang terlihat berantakan dan seperti kesetanan masuk dan langsung bertanya padanya.
"Alena dimana Ily? Ly? Ly? "pria itu tidak menunggu pertanyaannya di jawab, dia segera berjalan ke arah kamar tidak menemukan Eleasha disana, dia beranjak ke arah kamar mandi dan pada akhirnya tidak juga menemukan El di manapun di apartemen ini.
"Ly? Tolong keluar dan ayo kita bicara" ucap Kayden dengan lantang, sambil terus masuk keluar ruangan dalam apartemen ini.
"Dimana Ily?" Kayden akhirnya berhenti tepat didepan Alena, setelah memastikan di semua tempat kehadiran Eleasha tidak terdekteksi disini, matanya kemudian tanpa sengaja melihat koper besar di punggung Alena "dia mau melarikan diri?"
Alena melangkah mundur, otomatis membuat koper dan tas Eleasha juga terdorong mundur.
"Saya nggak akan biarin dia bawa anak saya kemana-mana, mereka harus tetap disini dengan saya"
"Apa yang buat anda yakin kalau saya akan mengatakan dimana El berada saat ini?"
Kayden memghembuskan nafas "karena kamu yang paling dekat dengannya, kamu juga pasti tahu kerinduan dia memiliki keluarga yang utuh, dan kamu pasti sangat tahu apa yang dibutuhkan seorang anak dan apa yang kurang dari sebuah keluarga"
"Jadi anda kesini untuk mencari El, hanya karena anda ingin bertanggung jawab atas anak anda? Hal itu tidak perlu, karena El tidak menginginkannya" jelas Alena.
"Tapi Alena...."
"Pak direktur, sebuah keluarga yang lengkap dengan kedua orang tua memang adalah hal yang baik, tapi jika sudah lengkap tapi tidak ada cinta didalamnya..... Saya rasa memutuskan hubungan dengan anak anda sebelum dia melihat anda adalah hal yang paling terbaik" Alena memutuskan pergi dengan membawa barang-barang Eleasha yang sudah dia siapkan tadi.
Kayden mengepalkan tangan, emosinya menjadi tak menentu sekarang. "kata siapa tidak ada cinta dalam tanggung jawab saya?" tanyanya hampir berteriak.
Langkah kaki Alena terhenti.
"Alasan saya ingin menemukan dia sekarang karena saya ingin mengatakan kalau saya mencintainya, bukan hanya karena sekedar rasa tanggung jawab saya untuk bayi dalam kandungannya"
Alena kini sudah berbalik untuk menghadap Kayden sang direktur yang saat ini sedang menatapnya juga dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa ada kebohongan sama sekali dalam sinar mata itu.
"Bagaimana saya bisa percaya pada orang yang dulu hampir membunuh El dengan cara mencekiknya dan membencinya sepenuh hati ini telah berubah?"
...****************...
Segini dulu buat hari ini, besok kita ketemu lagi untuk beberapa chapter terakhir.
SEE YA....
__ADS_1
Stay safe, stay healthy💛