
...----------------...
"Kalau begitu kami permisi dulu tan, makasih banyak sudah mau nampung El" Alena sedikit membungkuk hormat kearah tante Sonia.
"El yakin nggak jadi nginap disini?" Tante Sonia menatap kearah El yang sejak tadi hanya diam dengan kepala tertunduk. Wanita dipenghujung 50 tahun itu merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Karena keinginannya yang tidak bisa ditolak gadis itu, dia harus mengalami hal yang pasti sangat membekas juga menyakitkan.
Gadis itu mendongak, tatapannya terperangkap dengan tatapan tante Sonia. "Mungkin lain kali, tan" jawabnya sambil tersenyum.
"Jangan balik ke apartemen kamu kalo begitu, udah nggak aman. Apalagi kamu tinggalnya sendiri" ucap tante Sonia, benar-benar khawatir.
El mengangguk mengiyakan.
"Tante tenang aja, nggak usah khawatir. Pihak agensi sudah menyediakan bodyguard untuk El" Alena mewakili El menjelaskan.
"Ya udah hati-hati yah kalau begitu, jangan sungkan datang kesini yah? Tante udah nggak banyak kegiatan karena udah pensiun. Si Leo juga sebentar lagi mau balik ke Melbourne untuk lanjut kuliah, si om pulangnya masih lama. Tante nggak ada temannya"
El mengangguk, berjalan mendekat ke arah tante Sonia. Sangat berbeda dengan sang mama kandung yang sekalipun tidak pernah memintanya pulang kerumah atau menginap, wanita yang bahkan tidak ada aliran darah dengannya ini memperlakukannya seperti seorang anak. Memberikan perhatian selayaknya seorang ibu.
Gadis ini menggenggam tangan wanita cantik didepannya ini. Tanda penuaan mungkin sudah mengganti kulit kencang masa muda tante Sonia, tapi kecantikan itu tetaplah abadi di raga itu meski penuh kerutan sekalipun. Wanita akhir 50an itu tersenyum penuh ketulusan, membuat rasa bersalah tapi juga tidak mau kehilangan sosok ini bercampur aduk.
"Aku pasti datang lagi tan, aku janji" gadis itu tersentak saat tante Sonia memeluknya. Mengusap punggungnya lembut kemudian melepaskan pelukan itu dengan senyuman.
Tuhan pasti sedang berbaik hati padanya sekarang, Tuhan memberinya kesempatan mendapatkan perhatian dan kelemah lembutan seorang malaikat yang di sebut mama oleh Lana dan Leo. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan sejak terlahir kedunia ini.
...----------------...
Kayden menatap sosok yang berjalan menduduk dengan scraf yang menutup rambutnya dari balkon lantai dua rumah Lana. Pria ini jadi teringat sesuatu, saat di halaman belakang gadis itu untuk pertama kalinya tidak memakai pakaian yang menutup area leher. En bahkan bisa melihat dengan jelas leher putih gadis itu yang terekpose karena model gaun baby doll milik Lana memang memiliki bentuk kerah sweetheart neck.
__ADS_1
Pria itu berdehem, tiba-tiba mulai merasa gerah saat ingatannya malah traveling pada insiden itu.
"Sialan merah" ucapnya sambil meninju dinding di sampingnya. Berharap dengan melakukan hal ini, ingatan tentang kejadian tadi bisa dia lupakan. Kayden sama sekali tidak peduli, dengan keadaan tangan yang bahkan masih di perban karena aksi gilanya beberapa hari yang lalu di rumah sakit.
Kayden baru berhenti memukul dinding saat suara deheman yang sangat dia kenal terdengar. Dia membalikkan tubuh dan mendapati wanita setengah abad yang dia sayangi sedang menatapnya, sebuah tatapan yang jujur saja sulit diterka oleh pria ini. Di mata itu ada amarah, ada iba ada banyak emosi disana.
"Mama nggak akan menyinggung tentang emosi kamu yang keterlaluan tadi, jadi tolong berhenti nyakikitin diri sendiri. Kamu nggak sayang apa sama tubuh kamu sendiri?"
Wanita itu membuang muka memilih menatap tanaman di pot besar tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia tidak mau menatap lama takut akan terbawa emosi juga, karena anak laki-laki didepannya ini ternyata masih menderita sendiri. Disaat dia dan keluarganya sudah mulai sembuh dari luka atas kepergian Lana, Kayden masih di tempat yang sama dengan hati yang sama.
Lihat saja, dia bahkan melakukan sesuatu yang jelas menunjukkan betapa pria itu belum bisa melupakan Lana sedikitpun.
"Sebenarnya mama yang minta El pake gaun itu, El ada masalah di apartemennya. Makanya dia kesini buru-buru masih dengan piyama yang dari rumah sakit. Pas udah make baju Lana, dia katanya nggak mau diam aja makanya ikut jemur pakaian juga"
"Masalah?"
"Apartemennya dimasuki orang asing, mama nggak tahu detailnya gimana tapi intinya pas dia masuk rumah, ada orang lain juga disana"
Kayden tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Saat mendengar hal itu dia sama sekali tidak bisa menahan langkah kakinya untuk berjalan cepat, untuk keluar. Sebelum pergi dia menyempatkan diri memeluk wanita yang sudah dianggap mamanya sendiri kemudian buru-buru berpamitan lalu segera berlari turun menuju mobilnya untuk pulang. Seketika melupakan tujuan awalnya kesini, melupakan fakta kalau dia sengaja meluangkan waktu untuk berkunjung kerumah ini.
...----------------...
"Maaf Na, gue nggak tahu mau kemana lagi. Waktu itu cuma rumah Lana yang ada di pikiran gue" El berdehen pelan kemudian membuang muka, memilih menatap kearah jendela mobil. "Maaf juga udah pulang dari rumah sakit nggak bilang-bilang" akunya dengan nada penuh penyesalan. Semakin merasa menyesal karena harus merahasiakan kejadian dirumah Lana dari Alena dan siapapun juga, El tidak ingin memperpanjang masalah. Untunglah tante Sonia dan Leo juga mau mengabulkan permintaan itu.
Dan gadis ini berharap, semoga kejadian tadi tidak akan pernah diungkit lagi.
Alena melirik El, tangan gadis itu sibuk memelintir ujung kemeja yang dia pakai.
__ADS_1
untunglah dalam mobil ini selalu ada cadangan baju ganti, sehingga El bisa berpakaian normal tanpa perlu memakai seragam pasien rumah sakit seperti saat dia sampai kerumah Lana tadi.
Sang manajer kembali fokus pada jalan didepannya. Hari ini dia mendapat kejutan berkali-kali, dimulai dari El yang kabur dari rumah sakit tanpa pamit mengecoh sang bodyguard dengan menyuruh pria itu membeli makanan di kafetaria, lalu telpon dari mamanya Lana kalau El di rumah mereka karena apartemennya dimasuki orang yang justru yang bersangkutan tidak memberikan kabar apapun padanya.
Dan terakhir yang tidak kalah dalam membuat Alena pusing adalah masalah Eduard, gosip pisah rumah dengan sang istri mulai terdengar di rumah sakit. Bahkan para suster mulai berteori kalau dokter Ed mungkin akan bercerai karena terlihatnya seorang pengacara yang beberapa kali mengunjungi sang dokter di ruangannya saat sedang bukan jam bertugas.
"Aku udah lapor dipihak manajemen apartemen, udah ngecek CCTV juga dan memang iya semalam ada orang yang masuk kesana. Cuma masih nggak jelas siapa" Alena berdehem sebelum melanjutkan "Ed nggak mungkin, karena sosok itu nggak terlalu tinggi"
"Ed juga nggak tinggi-tinggi amat kok" El bersuara.
"Lha terus kenapa kamu kabur kalo itu memang Ed?" Alena bertanya, jujur karena penasaran.
"Ya... karena Auranya beda. Gue tahu itu bukan Ed" jawab El yakin.
Alena juga bisa merasa kalau itu bukanlah sosok Ed, dari cara berjalannya, bahkan matanya tidak terlihat seperti Eduard. Alena saja bisa menyimpulkan seperti itu, apalagi seorang Eleasha yang sudah seperti kembarannya.
"Dia pake masker, topi sama jaket, terlihat sudah hafal betul dengan setiap titik CCTV disana. Dan untuk sekarang masih belum bisa diketahui identitasnya."
Alena menghela nafas kemudian segera menghembuskannya "jadi sekarang kamu mau kemana?"
...----------------...
Terima kasih sudah menjadi bagian dari Universenya El.
Terima kasih sudah menungguđź’›
.......
__ADS_1