
...----------------...
Kayden memakai sealtbeltnya dengan tergesa, menyalahkan mobil dan segera memakai fitur voice command untuk menelpon Jerome.
"Itu si El katanya apartnya ada yang masuk diam-diam, kamu tahu? Terus Jordan dimana? Dia nggak jagain El?"
"El?"
Kayden menepuk jidat dengan kepalan tangan dia lupa kalau ada dua El sekarang dalam hidupnya, "Eleasha"
"Nggak tuh, nggak ada informasi soal itu. Dan Jordan kan dirumah sakit sama Eleasha, akh...... apa jangan-jangan...."
Kayden mematikan panggilan, tidak menunggu Jerome selesai dengan ucapannya. Dia segera tancap gas dan menuju suatu tempat yang ada dipikirannya saat ini.
...----------------...
"Kamu yakin mau tinggal disini?" Tanya Alena untuk kesekian kalinya.
El mengangguk "bagus kok, suasananya juga"
"Tapi kan......"
"Nggak ada yg tau tempat ini hanya lo sama Ed. Lebih aman dari pada rumah di Kemang atau apartemen sebelumnya kan?"
Alena menghembuskan nafas, apartemen ini dibeli El pertama kali saat sukses dengan debut filmnya. Tidak ada yang tahu tempat ini selain kakek, nenek, Ed dan mereka berdua. Untunglah El juga merahasiakan tempat ini dari Marco meskipun saat bersama pria itu, El sedang bucin akut.
Apartemen ini tidak banyak yang dirubah, masih seperti Desain saat pertama kali di beli sekitar 10 tahun yang lalu. Tidak banyak dilakukan perombakkan karena El membelinya hanya sebagai cindera mata untuk keberhasilan debutnya sebagai aktris.
Waktu itu juga masih di cicil dulu, sampai akhirnya dia bisa melunasi biaya atas kepemilikan 1 unit apartemen.
Dan setelah kejadian hari ini, dia sangat bersyukur karena dulu sudah mengambil keputusan yang tepat.
"Barang-barang yang di apartemen itu gimana?"
El merebahkan tubuh diatas sofa di ruang tamu "biar aja disana, dan ini juga biar aja begini dulu. Aku suka nggak banyak barangnya"
"Terus kaki kamu?"
El mengangkat kakinya yang meski masih dilapisi dengan perban tapi sudah tidak setebal dulu. Saat berjalan juga tidak terasa sakit, belum tau saat lari atau lompat tapi sejauh ini semuanya baik-baik saja.
"Terima kasih banyak untuk dr.Ed yang nggak pernah gagal dalam setiap treatmennya ke semua luka maupun sakit yang gue punya"
"Udahan ngambeknya? Kalian udah baikkan?" Tanya Alena penasaran.
El menatap Alena " Siapa yang berantem?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
Alena tertawa miris "kayak aku baru kenal kalian aja. Aku tahu lho, kalian walaupun mencoba profesional tetap aja kalo marahan terlihat ada jaraknya" Alena mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat Ed sedang membersihkan luka di kaki El, keduanya sama sekali tidak bicara sepatah katapun. Dan hal itu merupakan sebuah kejanggalan, mereka berdua bukanlah tipe manusia yang akan membiarkan keheningan mendominasi suasana ketika mereka bersama.
"Karena kalian sudah baikkan, sekarang kita harus mikirin solusi gimana supaya pernikahan Ed sama Elisa terselamatkan"
El tiba-tiba bangkit dari acara berbaringnya, dia menatap Alena dengan rambut kusut karena sudah hampir sebulan belum treatmen di salon langganannnya.
"Maksudnya gimana Na? Bukannya si Ed udah jemput Elisa pulang kerumahnya? Bukannya mereka udah baikkan?"
Alena menggaruk kening yang sama sekali tidak gatal, sepertinya dia sudah terlalu gegabah dalam berucap. El yang ternyata tidak tahu tentang masalah perceraian Ed, menjadi tahu sekarang. Berkat dirinya.
"Kamu tenang dulu, El" Alena mengingatkan gadis itu saat melihat El sudah berancang-ancang berdiri.
"Tenang gimana? Dia begitu karena gue, Istrinya merasa diduakan karena gue,Na. Ed itu gimana sih, bukannya baikkan kok malah mau cerai? Dia pikir pernikahan mainan apa?" El mondar mandir seperti setrikaan, mendadak melupakan kejadian dirumah Lana yang tadi sempat menyedot semua perhatian bahkan juga energi gadis ini, sempat membuat semangatnya seakan hilang dari tubuh.
"Gue harus ketemu sama Elisa" putus El akhirnya.
Alena ingin menanggapi lebih jauh tapi handphone berbunyi membuat gadis itu mengurungkan niatnya, dia memilih mengangkat telpon sambil berjalan kearah pantry.
__ADS_1
beberapa saat kemudian sang manajer kembali keruang tamu tapi langsung menyambar tasnya yang diletakkan diatas meja kecil di dekat sofa.
"Agensi panggil aku, ada meeting mendadak. Kamu sebaiknya istirahat, kalau perlu apa-apa telpon aku yah?" Ucap Alena terlihat buru-buru "akh... kalau lapar atau pengen makan sesuatu pake jasa online food aja, nggak usah keluar dulu. Takutnya kamu ini lagi di incar seseorang"
El hanya mengangguk mengantar Alena sampai didepan pintu, dengan pikiran yang masih tertuju pada Ed dan Elisa. Dia tidak mungkin berdiam diri sementara pernikahan sahabatnya sedang di ujung tanduk kan? Apalagi hal itu disebabkan oleh dirinya.
"Jangan egois El, kamu harus melakukan sesuatu...."gumamnya pelan.
...----------------...
"Jadi kasus ini lagi kita kembangkan Pak, kita pasti usut tuntas karena ini juga berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan mitra kami"
Kayden memperhatikan Jerome dan kepala keamanan apartemen yang sedang berbincang-bincang. Untuk apartemen sekelas ini, rasanya begitu ganjil kalau sampai ada kecolongan seperti masuknya penguntit di salah satu unit yang berada dilantai atas.
"Kami juga sudah berkerja sama dengan pihak polisi untuk kasus ini, saya harap anda bisa menunggu proses investigasinya"
Kayden ikut berdiri, saat Jerome berdiri karena kepala keamanan apartemen mewah ini undur diri. Dia tidak banyak bicara karena mungkin bisa saja dia menggunakan emosi.
"Harus banget yah lo sampe ikut kesini?" Jerome buka suara saat pihak dari apartemen sudah pergi. Meninggalkan mereka berdua di unit milik El, yang sekerang penghuninya entah berada dimana. Mereka diijinkan masuk karena mengaku sebagai penanggung jawab dari El.
Kayden yang sedang memperhatikan setiap sudut apartemen ini berhenti dari kegiatannya kemudian menatap Jerome yang memang sedang menunggu perhatian darinya.
"Mereka sampe natap kita nggak percaya lho. Harus banget gitu lo sampe turun tangan langsung?"
"Ya baguskan? Bisa aja gue tertarik buat kerja sama nanti. Who knows?" Jawab En cuek. "By the way kemana pemilik apartemen ini?" Tanyanya sambil pasang wajah tidak peduli, seakan-akan pertanyaannya yang terakhir itu hanya sebuah basa basi tidak penting dan tidak ada maksud apapun.
Jerome memutar bola mata, justru ekspresi tidak peduli yang coba Kayden tunjukkan malah menunjukkan maksud yang sebenarnya.
"Siapa juga yang mau diam disini kalau melihat penguntit didalam rumah?"
Kayden mengangguk "pihak pengembang nggak tahu?" Tanyanya lagi, mencoba memancing jawaban.
Jerome hanya bisa mendengus melihat kelakuan sepupunya ini "mereka nggak punya hak untuk tahu kemana perginya pemilik unit, yang mereka perlu tahu hanya mengenai pembayarannya" jawab Jerome kalem.
"Terus Jordan?"
"Sialan!"
...----------------...
"Jadi yang tahu pasword pintu rumah El itu cuma kalian bertiga? Kamu sebagai manajer, Eleasha sama Eduard?"
Alena menatap pria jangkung didepannya ini dengan kening berkerut binggung. Sejak tadi Jerome mengulang pertanyaan yang sama, dan dengan alaynya mengulang jawaban yang keluar dari mulut Alena dengan nada yang keras sambil sesekali menghadap dinding kaca di samping mereka.
"Dan pagi ini Eleasha menyuruh Jordan untuk membeli minuman di kafetaria rumah sakit, tapi setelah kembali ke ruangan VVIP tempat Eleasha dirawat, yang bersangkutan menghilang?"
Jordan sang bodyguard mengangguk sambil berucap "iya, pak!" Dengan penuh ketegasan.
Alena merasa sedang menonton adegan drama detektif.
Beberapa menit kemudian Jordan akhirnya pamit pulang karena sudah beberapa hari mengikuti instruksi pak direktur untuk stand by dengan Eleasha, dia butuh pulang kerumah untuk setidaknya melihat istri dan bayinya.
"Lalu dimana Eleasha sekarang?" Pertanyaan Jerome kembali pada Alena saat Jordan sudah tidak ada diruangan ini.
Alena berdehem "Saya jemput dia dirumah tante Sonia, kemudian nganter El dirumahnya di Kemang"
Jerome mengangguk kemudian dengan lantang berkata "Puas?!" Lagi-lagi Kearah dinding kaca.
Alena menatap binggung "maksudnya?"
"Hah?" Fokus Jerome kembali pada Alena, pria itu langsung tersenyum kemudian menggeleng "puas, maksudnya saya puas sama jawaban kamu"
Alena bangkit berdiri "kalau begitu saya pamit dulu" ucap gadis mungil itu, mendadak takut dengan kelakuan Jerome kali ini.
__ADS_1
"Lanjut ke ruang HRD yah Len, ada yang mereka mau bicarakan tentang perpanjangan kontrak eksklusif Eleasha"
Alena mengepalkan tangan, untuk sesaat dia melupakan hal itu. Padahal masalah ini adalah topik yang selalu dia bahas dengan El akhir-akhir ini. Dan berdasarkan pembicaraan terakhir mereka, untuk kali ini El tidak akan lagi memperpanjang kontrak dengan pihak agensi.
......................
"Lo dengar kan? Eleasha kabur dari rumah sakit setelah mengelabui Jordan, dia pulang ke apartemennya tapi malah menemukan orang asing disana. Kemudian dia lari kerumah tante Sonia setelah menelpon Alena di perjalanan."
Jerome tiba-tiba mendorong salah satu bagian dinding kaca yang ternyata adalah pintu yang menghubungkan ruangan tempat Jerome mengintrogasi Alena dan Jordan dengan ruangan kecil yang ternyata ada Kayden disana sejak tadi.
"Alena langsung ke apart dan melaporkan kejadian itu ke divisi keamanan, lo tau pihak apartemen ngapain aja kan? Kita udah dengar penjelasannya tadi disana"
Kayden mencoba memahami informasi yang baru dia dapatkan. Mengetahui Eduard adalah salah satu yang memiliki akses masuk ke rumah gadis itu, entah kenapa semakin menambah pikirannya.
Pria ini menepis saat hatinya mengatakan dia tidak suka akan hal itu untuk dirinya sendiri, dia tidak suka karena Eduard adalah suami Elisa, itu pointnya.
"Dan setelah selesai dengan pihak apartemen dia jemput El di rumah tante Sonia, untuk diantar dirumahnya di Kemang" Jerome menutup laporannya kali ini menatap Kayden yang terlihat sedang berpikir keras.
"Rumah di kemang itu rumah pribadi Eleasha, terdaftar dengan namanya dan juga menjadi alamat resminya, bisa ditemukan dengan gampang di google" Jerome dengan sukarela memberi informasi.
"Kalau begitu suruh Jordan buat stand by disana"
"Ya nggak bisa gitulah, si Jordan udah nikah. Biar gimanapun dia juga perlu pulang buat ketemu keluarganya"
Kayden menghembuskan nafas, terlihat jelas sedang banyak yang dia pikirkan membuat Jerome sama sekali tidak tega.
"Gue masih belum tutup seleksi pencarian bodyguard. Kita tunggu 1-2 hari ini kepastiannya" Jerome lagi-lagi memberikan solusi.
Pikiran Kayden kini mengembara pada rasa bersalah karena apa yang dia lakukan pada gadis itu dirumah Lana.
Andai saja dia tidak membiarkan emosi menguasainya, dia mungkin tidak akan pernah merasa kacau seperti ini.
"Gue mau kerumah El" pria itu berdiri berancang-ancang keluar dari ruangan itu.
"Di Kemang?" Tanya Jerome sebelum En mencapai pintu.
"El...Elisa adik kita EL-ISA" tegasnya kesal kemudian membuka pintu dengan tenaga super.
Jerome tersenyum "makanya jelasin dong, kan sekarang di hidup lo udah ada dua nama El"
...----------------...
Eleasha menghembuskan nafas sambil menyakinkan hati dan jiwanya. Dia harus melakukannya, demi Ed dia rela melakukan apapun termasuk datang langsung ke kediaman orangtua Elisa. Tempat yang sama sekali tidak pernah dia kunjungi selama ini.
"Sekalian silahturahmi kan? Karena keluarga Ed, keluarga gue juga" El bergumam sambil memastikan penampilannya di spion depan mobil, rambut cokelat tua yang belum sempat dikeramas karena terburu-buru hanya diikat longgar. Gadis itu kemudian memutuskan keluar dari mobil beberapa menit kemudian.
Dia menggenggam buket bunga yang direkomendasikan oleh toko bunga langganannya, memasang senyum paling manis yang dia punya dengan hati yang berdebar kencang.
Eleasha baru saja ingin menekan bel rumah yang tersedia saat pintu utama rumah itu terbuka.
Sosok cantik dengan wajah khas oriental itu muncul dari balik pintu, tatapan mereka bertemu dan keduanya menyadari satu hal kalau ternyata wajah mereka memang memiliki kesamaan.
.........
TBC
haiii...hai.... ini part ke-3 yang saya upload dalam minggu ini.
semalam sudah di Up 2 chapter.
Saya udah mutusin akan upload 3 chapter dalam seminggu, secara Random.
__ADS_1
alias nggak akan ada jadwal pastinya... mau di up hari apa, jam berapa. Tapi yang pasti dalam seminggu itu akan tetap up 3 chapter.
so? sampai jumpa minggu depan Readers terlove....