
"Kenapa kamu suruh El pergi?"
Kayden menatap mama Sonia yang saat ini terlihat kesal padanya, meski nada yang wanita itu keluarkan sama sekali tidak ada amarah disana.
"Aku nggak ingin dia ganggu kita lagi, dan sesuai yang dia mau supaya semua ini bisa berakhir"
"Tapi menurut mama kamu satu-satunya yang tidak ingin semua ini berakhir"
Sonia meletakan handphonenya, menujukkan pemberitaan tentang kematian orang tua Eleasha dan penyebab saling bunuh orang tua gadis itu karena disebabkan oleh El sendiri.
Masa lalunya kembali di korek, dan muncullah pemberitaan tentang Marco yang adalah mantan kekasih dari Eleasha, sehingga muncul banyak spekulasi di media.
"Setelah ini mama nggak yakin dia mau bertahan di enterteiment, banyak yang suruh dia berhenti." Sonia menatap Kayden "mama berharap ini bukan dari kamu"
Kayden menggeleng "Aku bahkan menyuruh Jerome untuk membantu pihak polisi, dengan memberikan semua bukti yang kami punya tentang Marco. Aku nggak tahu ini sama sekali, ma"
Kayden menatap berkas yang baru saja diletakan mama Sonia diatas meja, kemudian menatap wanita itu dengan kening berkerut.
"Kamu tahu keluarga om Burhan? Adik kandung papa?"
Kayden mengangguk, tentu saja dia kenal karena om Burhan adalah satu-satunya adik kandung dari papa Lana dan Leo, pria itu juga ditunjuk sebagai pengganti papa saat dia akan melangsungkan pernikahan dengan Vio Lana Wijaya.
"Om Burhan mencuri surat rumah ini dan menjual dengan harga yang sangat tinggi pada ayah tiri Eleasha"
Mata monolid itu membulat "Marco?"
"El mengembalikan ini pada mama, tanpa meminta satu peserpun. Dia bilang hanya melakukan tugas yang ditinggalkan oleh Lana. Eleasha selalu mencoba membantu mama dengan segala cara,"
"Tapi aku nggak pernah tahu tentang ini"
"Kamu sedang kritis saat itu, Jerome juga sibuk dengan kasus itu dan mengurus kamu yang harus di operasi. Saat itu Eleasha adalah penyelamat mama"
Sonia mendekat "dan rahasia ini seharusnya tidak mama ceritakan pada siapapun, mama seharusnya membawa ini sampai mati. Tapi mama nggak bisa diam aja melihat kamu yang terus menyalahkan Eleasha atas semua ini,"
"Mama El sebenarnya baik-baik saja, dia memang banyak terluka saat kecelakaan tapi tidak sampai mengharuskannya operasi besar, seperti selama ini kita tahu.
Elizabeth memang berencana menjebak Marco untuk mengungkapkan sisi jahat pria itu. Dia yang merencanakan semua karena dia tahu nyawanya dan El sedang dalam bahaya"
Mengalirlah cerita dari mulut mama Sonia tentang Elizabeth yang membayar pihak dokter untuk melakukan operasi yang tidak pernah ada, Elizabeth hanya diobati untuk luka yang tidak terlalu berat.
Elizabeth yang berpura-pura tidak bisa merespon apapun, membohongi semua termasuk Eleasha. Tapi di kecualikan orang-orang yang akan dia ajak bekerja sama.
"Saat kejadian itu Eleasha disana, dia tertusuk tapi mampu melarikan diri karena sang mama yang sudah bekerja sama dengan Alena dan Eduard"
Kayden terdiam, mencerna semua yang diucapkan mama Sonia.
"Sebenarnya Elizabeth tidak ingin ada korban, tapi dia pasti terpaksa melakukannya karena nyawa El pasti dalam bahaya, itu insting seorang ibu"
Sonia menatap pria yang terlihat begitu syok didepannya, sama dia pun dulu begitu saat Elizabeth mengajaknya bicara dirumah mereka waktu itu Eleasha sedang tidak ada dan wanita cantik itu mengungkapkan semua rencananya.
Termasuk tentang obat tidur yang digunakan Marco sehingga kecelakaan yang merebut nyawa Lana terjadi.
__ADS_1
Dan selain meminta untuk dirahasiakan, Elizabeth juga meminta untuk menjaga El kalau sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya.
"El selalu membantu mama bahkan tanpa harus meminta, dia bilang dia harus memenuhi tugas ini untuk Lana."
Kayden menutup mata menahan semua gejolak perasaan yang campur aduk saat mendengar penuturan dari mama Sonia.
"Yang menderita disini bukan hanya kita saja En, tapi El juga. Karena itu tolong sudahi perang ini disini"
...****************...
Kayden melangkah secepat yang dia bisa, terlihat kesulitan karena dia memang belum bisa berjalan dengan sempurna. Tongkat siku ini masih menjadi bantuan untuk kedua kakinya yang masih dalam proses peyembuhan.
Tujuannya saat ini adalah rumah nenek Puji yang seharusnya tidak jauh dari rumah mama Sonia, tapi karena kondisinya sekarang jarak yang harus dia tempuh terasa berkali-kali lipat lebih jauh lagi.
Dengan nafas yang memburu pria itu menatap rumah nenek Puji yang sudah terlihat, dia hanya perlu menyeberang dan sampai disana.
Kayden melangkah cepat tapi langkahnya mendadak terhenti saat melihat gadis itu keluar dari rumah tidak hanya seorang diri tapi bersama Eduard, sedang bicara begitu serius sambil menunjuk sesuatu di buku yang ada di tangan mereka.
Pengangan Kayden pada tongkatnya menggendur, membuat 'kaki' tambahannya jatuh. Pria itu membalikan badan dengan susah payah tapi sama sekali tidak berniat mengambil kembali tongkat yang tergeletak di tanah.
Kayden melangkah pelan meski tertatih, dia memilih mundur meski hanya untuk sehari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next day
"Yasmin kamu tunggu disini yah? Kak El nggak akan lama"
Hanya saja dia tetap merasa bersalah kalau tidak berpamitan dengan tante Sonia, dan juga ada beberapa barang penting miliknya yang tertinggal membuat dia tidak punya pilihan selain datang kesini dan melanggar janjinya pada Kayden.
Gadis itu menghembuskan nafas, sebelum masuk kedalam rumah sambil berharap semoga pria itu sedang tidak ada disini.
Setelah mengelilingi rumah dan tidak menemukan keberadaan tante Sonia, El memutuskan mengambil barang-barangnya tapi saat gadis itu melewati dapur, aroma kue brownis menggoda indera penciumannya. El menelan ludah menatap sekeliling dan berakhir mencomot sepotong kue dan memakannya dengan lahap.
Kayden yang datang dari pintu utama berhenti cukup jauh dari Eleasha yang sedang asyik melahap potongan brownis dengan rakus dan tidak menyadari kedatangannya.
Pria itu tersenyum, melihat Eleasha yang begitu lucu karena seperti anak kecil yang diam-diam memakan kue yang dilarang di sentuh.
Kayden bersyukur karena tidak menolak tawaran mama Sonia membuatkan lagi bronis legendaris keluarga Wijaya, setelah mendengar dari wanita itu kalau El sangat suka dengan brownis buatan mama Sonia itu.
"Om? Kenapa senyum-senyum sambil ngeliatin kak El? Om naksir yah? Lagi memata-matai kak El yah?"
Fokus Kayden otomatis beralih pada gadis kecil berambut Dora yang tadi dia lewati begitu saja saat gadis itu duduk di teras rumah tanpa membalas senyuman si Dora yang memperlihatkan gigi depannya yang ompong.
Sementara El saat mendengar suara langsung berhenti mengunyah, dia mengangkat wajahnya yang sedari tadi membungkuk karena diam-diam memakan brownis tanpa izin dan langsung terpaku pada tatapan Kayden yang berdiri beberapa meter tidak jauh dari tempatnya.
"Iya saya memang memata-matai El" jawab Kayden dengan tatapan yang masih tertuju pada gadis itu.
Eleasha membuang muka, jadi serba salah.
Kayden maju perlahan masih dengan menggunakan tongkat untuk berjalan "karena saya sudah berlaku tidak baik, karena itu saya takut berada didekat dia,"
__ADS_1
"Takut? Takut kenapa sih om? Kak El nggak gigit kok"
Kayden masih menatap Eleasha yang tidak mau manatapnya.
"Saya takut bisa nyakitin dia lebih banyak, saya takut dia nggak bisa maafin saya karena itu."
Eleasha terlihat menghembuskan nafas, gadis itu kemudian berjalan mendekati Kayden dan Yasmin. "Yas, pulang yuk. Tante Sonia kayaknya lagi nggak dirumah"
"Mama lagi ke supermarket, bentar lagi pasti balik" Kayden memberi informasi tanpa di minta, berusaha mengambil perhatian gadis itu.
"Yas ayo, kak Arya udah nunggu didepan pasti" Eleasha tidak mempedulikan ucapan Kayden, dia mengulurkan tangan untuk meraih tangan gadis kecil yang berdiri tepat di samping pria itu.
Tapi sebelum tangannya mencapai tangan kecil Yasmin, Kayden sudah bergerak menghalangi tangan Eleasha dengan berdiri menjulangkan tubuhnya di depan bocil berambut Dora dengan nama Yasmin itu.
"Hei bocah, kamu panggil saya om dan si Arya itu kamu panggil kakak? Asal kamu tahu, Arya itu lebih tua dari saya"
Yasmin terlihat sedang menimbang-nimbang "masa sih om?"
Eleasha segera menghampiri Yasmin, dan menyembunyikan gadis cilik itu di belakang punggungnya. Sesuatu yang ingin dia hindari sejak tadi terjadi, yaitu harus menatap mata monolid itu dan juga harus berada dalam jarak yang dekat dengan sosok itu, yang tentu berpengaruh buruk untuk kondisi jantungnya.
"Maaf karena saya tidak menepati janji saya untuk tidak datang kesini, saya kesini hanya ingin berpamitan dengan tante Sonia, sekaligu....ss...."
"Mama ingin kamu tetap disini" Kayden memotong ucapan Eleasha. "kalau ada yang membuat suasana disini jadi tidak nyaman, itu bukan kamu tapi aku"
Yasmin tiba-tiba muncul dari punggung Eleasha "om baru sadar sekarang?"
"Yas, nggak boleh gitu sama orang yang lebih tua"
Kayden yang tidak peduli hal lain selain Eleasha, terus memasang senyum sejak tadi berharap gadis itu akan menotice senyumannnya. Tapi El tidak mau melihat kearahnya selain hanya sekedar melirik.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu." pamit El, sambil membawa Yasmin bersamanya.
"Kamu nggak mau minta di salama'in buat mama?"
Tidak ada respon, Kayden dengan cepat memutar otak supaya bisa menahan gadis itu lebih lama disini, "brownisnya, kamu nggak mau bawa? Bawa aja itu nggak ada pemiliknya!"
Blam...
Pintu di tututup.
Kayden menghembuskan nafas, sepertinya dia membutuhkan banyak waktu untuk bisa mendapatkan maaf dari gadis itu.
Mata monolid pria itu tiba-tiba tertujuh pada brownis diatas meja, dia tersenyum dengan ide yang baru saja muncul di kepalanya.
...****************...
Next chapternya menyusul dengan cepat🤗
Saya nggak tahu dimana yg eror tapi chapter ini sudah saya upload sejak tanggal 7 pagi, dan sampe sekarang belum lulus review juga. Padahal nggak ada unsur 18+ lho ini kok lama yah?
Stay healthy, stay safe ****kalian******🙏**
__ADS_1