
@Apartemen Debut
The Boulevard. Tanah Abang.
No: 3091
El memijit kepalanya yang kembali terasa pening, hampir 1 jam lamanya dia berdiri didepan pintu apartemennya mencoba memecahkan kode password yang seharusnya sudah dia hapal diluar kepala.
"Ini kenapa sih? Kok nggak bisa dibuka?" Gumam El sambil terus mencoba memasukkan password tapi untuk kesekian kalinya penolakkan terdengar dari benda canggih itu. Gadis itu kemudian mencoba mencari kartu didalam tas kecilnya, dan dia baru teringat kalau kartu itu selalu berada di laci meja kamarnya karena El begitu percaya diri dengan ingatan yang dia punya -- menghafal nomor password--
"Telpon Alena aja" putusnya kemudian meraih handphone di dalam tas dan menekan dial 2 yang merupakan nomor panggilan cepat untuk Alena.
"Nggak diangkat, apa dia lagi istirahat kali yah?" El bergumam lagi sambil mengetuk- ngetukkan jari di handphone ditangannya.
Gadis itu baru saja ingin berjalan kembali ke parkiran saat sosok yang akhir-akhir ini sering muncul di kehidupannya tiba-tiba berjalan melewatinya dan segera menuju kearah pintu, menekan beberapa digit nomer di door lock dan segera masuk setelah pintu itu terbuka, meninggalkan El yang hanya bisa melongo di tempat.
"Ngapain berdiri disitu? Nggak mau masuk?" Kayden tiba-tiba muncul lagi, setengah badannya muncul dibalik pintu menatap El yang masih terlihat kebinggungan.
"Excuse me, sejak kapan a..."
"Masuk dulu, kamu mau kita berantem di depan pintu masuk berita?"
El mengedarkan pandangan, walau dengan hati kesal dia akhirnya memutuskan masuk sebelum apa yang dikatakan pria itu terjadi, sudah cukup scandal yang dia buat go public akhir-akhir ini. Dia ingin kembali hidup tenang dan damai seperti dulu. Tidak mau menambah urusan lagi.
...****************...
"Sekarang tolong jelaskan maksud dan tujuan anda mengganti kode door lock rumah saya" El segera to the point saat pintu apartemen itu sudah tertutup.
Dia menatap tajam kearah pria yang saat ini sudah melepas jasnya dan duduk begitu santai di sofa apartemennya ini. Jika ada orang yang baru melihat mereka sekarang, orang itu pasti akan mengira El-lah yang menjadi tamu disini, bukan si pria.
"Aku akan kasih tau kamu passwordnya dengan catatan password itu hanya kita berdua yang tau" pria itu membalas tatapan El "not Edward, no Alena, not for anyone"
El mendengus, ingin sekali menjambak habis rambut coklat pria itu yang di sisir klimis yang menambah kadar ketampanannya. "Nggak perlu karena saya akan segera mengganti passwordnya lagi" El berjalan kearah pintu
__ADS_1
"Kamu perlu password yang aktif sekarang sebelum mengganti password yang baru kamu nggak tahu? door lock kamu masih yang versi lama, bahkan belum bisa konek dengan smartphone"
Ucapan pria itu berhasil menghentikan langkah kaki El "saya akan telpon jasa perbaikannya kalau begitu" El merogoh tas mencari handphonenya berada, dia masih ingat pernah menyimpan nomor telpon dari penjual door lock itu dari Alena, yang menyarankan untuk mengupgrade door locknya menjadi versi yang paling baru.
"Supaya apa? Supaya orang-orang bisa tau tempat persembunyian kamu ini?"
El tersentak, "Terus mau anda ini apa sih sebenarnya? Sebentar lagi saya sudah bukan lagi talent dari agensi anda, jadi seharusnya kita tidak lagi terlibat satu sama lain. Apa anda juga seperti ini pada artis atau aktor yang lain?"
El menghembuskan nafas berat dengan wajah lelah, dia kemudian mengangguk sambil tersenyum getir "Lana... , apa kita jadi terikat karena Lana?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Kayden mengepalkan tangan, merasakan cincin di kedua jari manisnya bergesekkan dengan kulit saat mendengar El menyebut nama Lana, untuk pertama kalinya di hadapannya.
"Anda mau apa? Saya siap ikut anda sekarang juga, saya akan akui apa yang anda percaya walau itu bukan sepenuhnya kenyataan. Tapi apa bisa sehabis itu kita tidak lagi terlibat? Apa bisa ikatan itu terlepas?"
Pasti ada sesuatu di hatinya yang salah, kenapa sekarang dia tidak suka melihat gadis itu menangis ada apa dengannya?
"Tidak bisa"
"Apa?!"
El tersentak lagi, sesaat dia lupa dengan keluarga Lana. Mendadak gadis ini meragu, padahal tadi dia sudah siap mengakhiri segalanya. Tapi harus berpisah dengan tante Sonia, apakah dia siap?
"Kamu tidak ingin kita saling terlibat? Baiklah tapi saya juga ingin kamu tidak terlibat dengan Alena, dia bagian dari perusahaan saya"
Kayden menatap gadis itu, ada keraguan yang terpancar dari mata itu. Apakah rencananya telah berhasil? Atau dia harus menambah ancaman lain?
"Fyi, kecelakaan kalian berdua tempo hari membuat Alena harus bertanggung jawab dengan segala kerusakan dan juga korban yang terluka parah. Alena terancam masuk penjara, karena kelalaiannya saat berkendara"
"A..apa?" El langsung tergagap
"Saya kasih kamu pilihan, pertama tetap di agensi dan saya akan selesaikan masalah Alena sampai tuntas..."
Ada jeda saat Kayden kembali berucap
__ADS_1
"kedua, terus terlibat dengan saya sampai semua dendam terbayar lunas, kamu harus bayar apa yang sudah kamu mulai"
Kayden berdiri, berjalan perlahan mendekati El dengan mata yang tertuju tepat di iris coklat milik gadis itu "dan pilihan yang terakhir, kita akan menikah"
...****************...
"Lo gila yah? Bisa-bisanya begini Eleasha Jemira Halim"
El memijit keningnya yang berdenyut hebat saat mendengar Ed meneriakkan nama lengkapnya dari seberang telpon. Ini tidak lagi bercanda, pria itu akan menyebut nama lengkapnya saat dia sedang kesal dan marah dengan kelakuan El, Sahabatnya itu pasti sudah membaca artikel atau menonton berita tentang dia dan sang direktur agensinya yang ternyata merupakan salah satu pengusaha muda kaya raya di negara ini. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan tunangan korban meninggal yang dia tabrak beberapa waktu yang lalu. Miris memang.
"Dia ngancem loe kan? Kita tuntut aja, jangan takut. Gue pasti support lo apapun yang terjadi"
Ed masih menyerocos panjang lebar, meyakinkan El untuk tidak menikah atau menjalin hubungan dengan pria bernama Kayden Abraham itu.
"Gila dia yah, bisa-bisanya dia mau nikahin lo. Dasarnya apa? Mau buat lo menderita karena kepergian Lana? Nggak pokoknya lo harus lawan. Jangan takut pokoknya lawan. El, lo dengerin gue kan? El...."
El melepas headset di telinganya dia berjalan kearah jendela, menatap langit malam yang tidak dihiasi ribuan bintang, langit mendung seperti hatinya.
"Nggak usah berpikir keras untuk menolak karena memang kamu nggak punya pilihan lain. Karena dengan menikah, saya udah membuat kamu setidaknya bisa sedikit membayar semua perbuatan kamu. Dengan kita menikah, kamu terbebas dari cap pelakor dari hubungan Elisa dan Eduard, kamu terbebas dari bayang-bayang mantan tunangan yang sekarang statusnya sudah menjadi ayah tiri kamu, dengan menikah kamu menggantikan posisi yang ditinggalkan Lana" Pria itu tersenyum yang anehnya terasa begitu menyakitkan untuk El "tentu saja jika Lana akan saya limpahi dengan seluruh kasih sayang yang saya punya, kamu akan mendapatkan seluruh rasa benci yang saya punya. Tapi itu sepadan bukan? Karena kita tidak saling mencintai"
□□□□□□□□
Selamat hari selasa.....
Nih saya kasih Visualnya trio kwek kwek
En, El dan Ed (triple E)
Hahahaha
nggak pa-pa yah, masih keliatan di edit🙄😁😅
__ADS_1
stay safe, stay healthy gaeess.