
"Makasih sudah datang, ma. Dan maaf sudah merepotkan"
Sonia tersenyum, mengelus lembut pipi tirus Kayden. Rambut halus di sekitar wajah pria itu mulai tumbuh, tapi sama sekali tidak melunturkan ketampanannya.
"Terima kasih karena sudah bertahan, En. Dan Terima kasih sudah bangun dari tidur panjang"
Kayden membalas senyuman itu.
"Mama tadi melihat El berdiri di depan pintu ruangan ini, dia juga memakai seragam pasien"
Jantung Kayden berdebar keras diiringi juga dengan rasa sakit disana, saat mendengar nama itu.
Pria itu terus mengerjab, sambil sesekali melirik kearah pintu ruangan ini.
"Bukan cuma hari ini, tapi sudah beberapa kali mama memergokinya seperti itu"
Kayden tanpa sadar sudah mengigit bibir dalamnya saat mengetahui fakta tentang gadis yang sejak dia bangun, setelah mendapat kesempatan kedua tidak pernah terlihat batang hidungnya meski sudah sangat dia rindukan.
Gadis yang sangat dia khawatirkan karena pasti banyak menangis dengan kecelakaan yang menimpah mamanya. Pria itu juga sedikit berharap akan ada air mata gadis itu yang akan terjatuh untuknya.
"Apa kamu masih mendendam pada El? Sudahi semuanya, karena setelah kejadian ini mama ingin kamu bisa memulai hidup yang baru En."
Kayden memaksa untuk menarik sebuah senyuman.
"El juga menderita, setiap kali melihatnya mama tahu dia selalu berusaha menebus apa yang sudah terjadi selama ini."
Sonia menggenggam tangan Kayden "Kalau kamu mau sedikit saja menurunkan ego, amarah dan rasa benci. kamu pasti akan melihat kalau El itu tidak jahat sama sekali"
"Mama sedang tidak memohon atas nama El, tapi mama hanya mau kamu membuka hati, dan memulai awal yang baru. Jangan terus menerus terjebak pada masa lalu,"
Kayden menatap wanita tua didepannya ini, dia sementara mencerna semuanya.
"Semakin tinggi kamu membangun tembok, akan semakin gelap hatimu. Karena itu Lepaskan. Dan mulai hidup baru, En"
Pria itu menelan ludah dengan susah payah, dia menatap tepat di manik mata wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya itu.
Tidak ada keraguan dalam mata itu, sepasang iris coklat mama Sonia memancarkan sebuah kejujuran yang mutlak.
...****************...
__ADS_1
Kayden tidak mendengar satupun ucapan Jerome yang sejak tadi mengoceh, lebih tepatnya sejak dia meminta sepupunya itu untuk membawanya mencari udara segar.
Sebenarnya ini hanyalah modus pria itu agar supaya bisa keluar dari ruang rawatnya. Selain sudah merasa bosan terus berada diruang yang sama dengan posisi yang sama -- karena dia tidak bisa menggerakan kakinya sama sekali--- Hal ini juga untuk menantang takdirnya dan gadis itu.
Kemungkinan Kayden akan bertemu dengan Eleasha di rumah sakit ini mungkin hanya 50 %.
Dia tidak tahu pasti, karena sampai detik ini dia sama sekali tidak tahu kabar apapun tentang Eleasha. Lebih tepatnya dia yang meminta hal itu pada orang-orang terdekat.
Hanya mama Sonia yang memberikannya sedikit informasi tentang gadis itu, dan selebihnya tidak ada.
Ada 50% kemungkinan tidak bertemu karena bisa saja Eleasha sudah keluar dari rumah sakit ini. Intinya tidak ada yang tahu pasti selain sang penulis takdir itu sendiri.
Jerome mendorong kursi roda yang di duduki Kayden sambil terus bercerita tentang perkembangan rumah sakit milik keluarga mereka ini, yang pada awal tahun terus membangun gedung baru dan juga berinovasi pada pelayanan.
Pria tinggi itu membawa Kayden ke halaman rumah sakit, tempat banyak pasien bisa sedikit menghilangkan rasa jenuh dan stres dengan berada di kawasan taman hijau yang di buat seperti hutan mini, yang tentu saja tanpa ada binatang buas didalamnya.
Hanya dalam sekali lihat dan dalam sepersekian detik saja Kayden bisa mengenali gadis itu.
Si cantik yang penuh luka. Panggilan mama Sonia pada gadis itu. Dan memang itulah kenyataannya. Lihat saja mata senduh yang akan langsung menghilang dalam sekejab saat berhadapan dengan orang lain.
Atau Ekspresi dingin dan jutek dari wajah itu yang akan menghilang saat dia tersenyum dan berganti dengan terciptanya eye smile yang cantik dari kedua mata itu.
"Ekhm..." Kayden berdehem sambil memegang tenggorokannya yang sebenarnya baik-baik saja.
"Gue haus banget Jer"
Jerome sedikit membungkuk untuk melihat keadaan Kayden "Kita balik aja gimana?"
Kayden menggeleng "Gue masih mau disini"
"Ya udah tunggu disini, gue ambil minum dulu"
Kayden mengangguk, sambil memastikan Jerome hilang di balik tanaman dan pohon rindang di taman ini.
Pria itu memaksa untuk berdiri, karena tanah dan rumput di taman ini membuat kursi rodanya sulit bergerak jika tanpa bantuan dorongan orang lain.
Dengan susah payah Kayden berusaha bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri sehabis kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya, dia memang sudah memiliki jadwal terapi dalam waktu dekat tapi sama sekali dia belum pernah mencoba memakai fungsi kakinya sejak hari naas itu.
Ini langkah pertamanya yang terasa sangat menyakitkan, demi mendekat ke arah Eleasha.
__ADS_1
Kayden meringis kesakitan disetiap usahanya untuk mendekati gadis itu, ada rentang jarak yang lumayan jauh dan terasa dua kali lipat lebih jauh lagi, karena kondisinya sekarang.
Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan tetap maju untuk mendekat kearah Eleasha.
Saat jaraknya sudah lumayan dekat, sosok yang tidak dia harapkan muncul secara tiba-tiba membuat Kayden menjatuhkan dirinya ke tanah, dan menyeret tubuhnya untuk bersembunyi di balik pohon di dekatnya.
Pria itu masih bisa melihat Eleasha dari tempat persebunyianya, dan meski bersandar di batang pohon tubuhnya masih bisa di putar sedikit untuk mengetahui gerakan sekecil apapun dari gadis itu.
Jantungnya seperti di remas dari dalam saat melihat El maju untuk memeluk Eduard, sosok yang tiba-tiba datang dan mengacaukan usahanya mendekat ke arah Eleasha.
Tangan Eduard kemudian naik untuk membalas pelukan Eleasha, membuat Kayden tanpa sadar mengepalkan tangan yang berada diatas rumput saat adegan seperti di film romantis itu berlangsung lumayan lama, di depan matanya.
Percakapan mereka tidak terdengar jelas dari tempat Kayden bersembunyi, tapi ada beberapa kata yang sampai dengan baik di telinganya dan dalam sekejab membuat amarah dan benci yang sempat mereda untuk gadis itu kembali meluap-luap.
"Lo .......adalah..... yang paling gue sayang"
"........jelas sebuah keputusan yang benar"
".......menghancurkan.....cinta"
"Elisa juga......"
"Gue senang.....cerai"
"Gue akan selalu kembali...... ke elo...."
"Percaya sama gue"
Kayden mengeraskan rahang, langsung di penuhi dengan amarah. Percakapan yang dia tangkap meski pun hanya sebagian saja sudah menjadi bukti kuat, kalau kecurigaan Elisa selama ini adalah sebuah kebenaran.
Eduard mengkhianati pernikahannya karena gadis itu, atau bisa saja pernikahan dengan Elisa hanyalah sebuah tameng untuk hubungan kedua orang itu.
Kayden terlalu tenggelam dalam rasa yang berkecamuk dalam dadanya, sampai ia bahkan tidak menyadari sosok Jerome yang berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Jerome bahkan harus mengguncang tubuhnya, sehingga membuatnya kembali kepada realita.
"En? En? Kaydem Abraham!!! Lo kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa lo bisa disini dan bukan di kursi roda hah?" Tanya Jerome panik.
*******
__ADS_1