EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Kini bisa saling melepaskan


__ADS_3

...****************...


"Makan yang banyak"


"Iya bawel, kayak lo yang masak aja" El menyuap makanan favoritnya. Dan selalu berdecak senang setiap kali lidahnya berbenturan dengan makanan didalam mulutnya.


"Enak?"


El mengangguk dengan mulut penuh


"Makan banyak kalo gitu, nggak usah mikirin diet untuk hari ini. Makan apapun tanpa mikirin kalori"


El berdecak, menatap Ed senewen. Inilah salah satu alasan kenapa mereka tidak berjodoh, pria ini terlalu memanjakannya. Sampai-sampai bisa membahayakan karirnya "lo itu dokter bukan sih? Kok bisa-bisanya nyaranin gue sesuatu yang nggak sehat?"


Ed menghembuskan nafas, pria manapun pasti akan melupakan hal apapun untuk orang yang dia sayangi kan?


"Sesekali boleh lah, ada pepatah yang bilang hidup itu jangan terlalu lurus. Lo harus belok-belok dikit supaya lebih seru"


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Lo mau gantiin Pak Mario Teguh?"


Ed mencibir, pria itu menghembuskan nafas menimbang apakah dia harus menceritakan urusan rumah tangganya pada El, tapi mereka tidak pernah menutupi apapun satu sama lain. Lagipula dia perlu mengeluarkan hal yang menyesakkan ini, dia tidak mau menyimpannya sendiri. Tapi apa tidak apa-apa menceritakannya pada El yang juga sedang dalam masalah?


"Lisa nggak mau rujuk" Ed akhirnya bersuara pelan.


"Usaha lo kurang kali, istri lo ngangepnya lo milih dia karena wajah kami itu mirip. Padahal kan memang karena lo jatuh cinta sama dia kan? Lo pernah bilang ke gue kalo lo nggak akan menikah kalo bukan Elisa orangnya kan?"


Ed terdiam, terlihat sedang bepikir. Matanya menatap wajah El, membandingkan dengan wajah Elisa. Pria itu merutuki diri saat menyadari kalau wajah mereka berdua memang mirip, walau tidak 100%.


"Gue mau jujur sama lo, tapi gue mohon lo jangan marah"


El melirik Ed sekilas " ya.... tergantung sama apa yang bakalan lo omongin"


Ed terlihat menelan ludah sebelum bersuara "gue sayang lo, El"


El mematung sejenak, otaknya meloading perkataan Eduard. Gadis itu kemudian mengangguk paham "iya kan emang, lo sayang gue begitupun sebaliknya. Kita kan udah kayak keluarga"


Eduard menggeleng "bukan, bukan sayang yang seperti itu....tapi sayang antara lawan jenis" pria itu membuang muka tidak berani menatap mata El secara langsung "gue nggak bisa memungkiri, kalau alasan gue memilih nikah dengan Elisa mungkin juga karena kemiripan wajah kalian, tapi sumpah bukan karena gue sengaja, secara nggak sadar gue...akh... gue memang brengsek!"


El tidak bisa menahan mulutnya untuk menganga, dia sama sekali tidak pernah membayangkan akan berada disituasi dimana seorang Eduard Erasmus Santoso, yang tumbuh besar bersamanya ini akan mengatakan hal yang seharusnya tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka berdua


Atau apakah dia terlalu naif? Selama ini tidak menyadari hal itu?

__ADS_1


"Sejak kapan Ed?"


"Sudah sejak lama, sejak ulang tahun kita yang ke 12 tahun. Lo cinta pertama gue, lo selalu jadi yang pertama buat gue. Akh..... andai aja gue lebih berani sedikit aja, apa sekarang kita sudah menikah? Punya anak dan....." Ed tidak dapat melanjutkan ucapannya, karena untuk pertama kalinya El menamparnya.


Pria itu memegang bekas tamparan El, dia tersenyun miris "maaf sudah egois El, seharusnya gue simpan ini sampe mati. Tapi gimana bisa gue maju kalau ada yang belum beres di masa lalu? Lisa benar, Kayden benar, Jerome juga benar. Gue memang yang jadi masalahnya"


"Bisa-bisanya lo bersikap seperti nggak ada apa-apa selama ini, bisa-bisanya lo pendam hal itu sendiri, seret orang yang nggak bersalah dalam hidup lo."


Gadis itu merasa kasihan dan benci disaat yang sama. Kasihan saat membayangkan Eduard menutupi serapat mungkin perasaannya selama ini, benci karena Ed melibatkan orang lain yang tidak tahu apapun, yang seharusnya tidak berhak menerima luka karena sebuah kisah yang belum tuntas di masa lalu.


Tapi El juga tidak mau menampik, memang ada masa-masa dalam hidupnya dia berharap ingin berakhir bersama pria itu. Karena faktanya tidak ada yang mengenalnya sebaik seorang Eduard, tidak ada yang mengerti dirinya seperti seorang Eduard meski dalam keadaan hening sekalipun.


Kalau dipikir lagi, dulu El juga egois karena sebuah ketakutan tidak ingin kehilangan seorang Ed, dia malah menyeret pria lain masuk dalam hidupnya, yang pada akhirnya berhasil membuat dia jatuh cinta dan akhirnya malah mengkhianatinya.


El tersenyum miris, kalau begitu apa bedanya dia dan Ed? Mereka berdua sama-sama manusia egois yang menutupi cinta pertama mereka dengan orang lain. Dengan alasan klise Karena tidak mau kehilangan kan?


"Kita mengerikan ternyata, gue kayaknya sekarang lagi menerima karma karena dulu menarik Marco untuk masuk dihidup gue, karena nggak mau kehilangan lo sebagai orang terdekat. Waktu itu gue takut kalau kita bersama lebih dari seorang sahabat, kita bisa aja pisah. Hubungan kita bisa jadi dingin dan jauh. Makanya gue milih pacaran sama Marco, tutup telinga sama semua protes dari lo dan opa"


Ed balas menatap El, ada bagian dalam hatinya yang bersyukur karena cintanya sejak kecil ternyata tidak hanya sepihak. Ini memang masalah waktu, kesempatan dan juga takdir. Lihatlah mereka berdua sudah sedekat itu, tapi tidak juga berakhir satu.


"Awalnya Pura-pura cinta, tapi malah jatuh cinta beneran dan akhirnya..... dipatahin beneran juga" El mendongak dengan mata basah "Makanya Ed, jangan berakhir kayak gue yah? Lo masih bisa perbaikin kok, masih belum terlambat untuk pernikahan lo"


Ed mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sekarang siap melangkah maju. Mereka berdua memang sejak awal tidak ditakdirkan bersama, ikatan yang mengikat mereka hanya ikatan seorang sahabat dan juga saudara. Iya saudara . Walau bukan dari rahim yang sama.


"Makasih udah jadi cinta pertama gue Ed, makasih untuk semua hal selama ini. Gue harap kita berdua bisa punya ending yang indah nanti yah? Lo sama Elisa dan gue... sama orang yang bisa menerima semua masa lalu dan kekurangan gue tapi semoga nggak mirip lo yah?" El menyeka ujung matanya sambil tersenyum. Sekarang dia benar-benar sudah bisa melepaskan sosok ini untuk bahagia. Mereka berdua kini bisa saling melepaskan sekarang.


El mengangguk, menepuk bahu Ed agak keras "So? apa rencana lo kedepannya bareng bini Lo? ayolah...kasih gue ponakan."


Saat Ed ingin membuka mulutnya untuk membalas ucapan El, bel apartemen gadis itu berbunyi.


"Siapa yang tau alamat ini?" Ed bertanya dengan kening berkerut.


El terlihat berpikir "cuma lo dan Alena"


"Lha terus?" Eduard menunjuk pintu dengan dagu.


El mengangkat bahu, kemudian segera berdiri berjalan menuju pintu.


"Liat monitor dulu kali" Ed mengingatkan


"Kagak perlu. Palingan juga ojol. Anterin pesanan gue"


Gadis itu mempercepat langkahnya untuk membukakan pintu, sedangkan Ed juga berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak hanya beberapa meter dari pintu masuk


"Gue numpang mandi yah? Barang-barang gue masih ada kan? Lo nggak niat jual lagi kan?"

__ADS_1


Pria itu kembali melangkah keluar, karena perkataannya tidak mendapatkan respon dari gadis yang seharusnya meneriakinya dengan kata-kata "dihhh siapa juga yang mau beli barang elo? Situ artis?"


Langkah Eduard langsung terhenti saat matanya bertemu dengan tatapan tajam milik sosok yang berdiri didepan pintu yang terbuka. Pria itu meremas tangannya berupaya tenang, berusaha tidak terpancing dengan apapun, dia harus memikirkan posisi Eleasha juga yang masih dalam kondisi yang tidak baik secara fisik maupun perasaan.


"Jadi kalian menipu banyak orang dengan status sahabat kalian itu?" Kayden tidak bisa menahan mulutnya untuk mulai menghakimi dua orang ini.


Awalnya dia merasa lega karena gadis itu terlihat baik-baik saja walau dengan mata sembab, tapi perasaan lega itu tidak bertahan lama saat mendengar suara pria yang begitu familiar ditelinganya, dan sesaat kemudian sosok yang sudah bisa dia tebak itu menampakkan dirinya, keluar dari kamar mandi. Ada yang terbakar dalam diri Kayden saat melihat hal yang tersaji didepannya saat ini.


"Ini nggak seperti yang lo bayangin" Ed maju perlahan mendekati El yang sudah menunduk dengan raut wajah lelah. Eduard terlalu mengenal gadis ini, sehingga dia tahu El sedang tidak ingin menanggapi apalagi untuk sesuatu yang tidak benar.


"Sudah kesekian kali gue memergoki kalian seperti ini dan lo masih bilang ini bukan seperti yang gue bayangkan? Memangnya apa yang gue bayangkan dari dua manusia, berbeda jenis kelamin berada di satu apartemen yang wanita dengan gaun tidur dan si pria......" ada jeda sebelum suara itu kembali terdengar "Dengan kaos tipis dan keluar dari kamar mandi?"


Ed mengeraskan rahang, dia amat sangat ingin meneriaki sosok tidak diundang itu kalau dia baru saja pulang joging dan mampir kesini, makanya dia memakai kaos tipis karena jaketnya tersampir di kursi makan saat dia menyiapkan makanan untuk El.


Dia ingin menumpang mandi seperti yang sudah-sudah sebelum berangkat ke rumah sakit untuk bekerja. Tapi semua yang ingin dia semburkan tertahan di tenggorokkan saat sebuah tinju melayang dengan cepat dan mendarat tepat dirahang kanannya, membuatnya terhuyung dengan rasa sakit luar biasa, Eduard sempat berpikir rahangnya pasti tergeser.


Suara jeritan El kembali menyadarkannya. Pria itu mencoba tetap berdiri dengan berpegangan didinding. Ini merupakan kali kedua Kayden brengsek ini meninju rahangnya.


"El i'ts okey. I'm good. Jangan takut, jangan panik please..."


"Pikirkan perasaan Elisa juga bangsat! Lo pikir lo pantas mainin hati sepupu gue? Hubungan persahabatan builshit kalian ini amat sangat menjijikkan" ucap En dengan nada benci yang sangat kentara.


"Cukup pak, anda sudah keterlaluan" El akhirnya bersuara. Dia sama sekali tidak rela persahabatannya dengan En dihina, apalagi oleh pria ini.


"Kamu yang sudah keterlaluan. Kamu kok bisa tenang-tenang aja bersama suami orang? Jangan-jangan memang benar Kamu sengaja biarin dia nikah sama orang lain supaya hubungan kalian tidak terendus orang, begitu?"


Gosip yang dia dengar saat berada di Bali kembali terlintas di otaknya, dan langsung menjelma menjadi rentetan kalimat untuk El.


El memutar bola mata. Kepalanya mendadak jadi pening. Kenapa dia tidak diijinkan memiliki satu hari yang tenang dan damai dalam hidupnya?


"Pak tolong keluar sekarang" El berucap dengan nada memohon.


Kayden meremas tangannya kuat. Emosinya semakin tersulut " keluar supaya kalian bisa berduaan?"


"Kayden!!" Suara Ed kali ini yang terdengar.


"Ed lo juga keluar" El kali ini menatap Ed yang terlihat terkejut dengan perkataannya. Tapi sedetik kemudian pria itu menghembuskan nafas, dia terlalu mengenal sekaligus menyayangi gadis itu.


"Ok, tapi makanannya dihabisin jangan disisa yah? Gue pergi dulu. Telpon gue kalo ada apa-apa"


El mengangguk sambil berusaha menampilkan senyum, dia ingin segera berbaring. Karena kepalanya seperti akan pecah sekarang.


Ed berjalan kearah dapur, menarik jaket olahraganya dan tas kemudian berjalan keluar dari apartemen ini, tapi pria itu berhenti tepat didepan Kayden.


"Tunggu apa lagi? Kita berdua udah diusir. Pintu keluarnya ada tepat dibelakang lo" tunjuk Ed dengan dagu.

__ADS_1


...****************...


Happy Sunday gaisss...


__ADS_2