EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Can't believe


__ADS_3

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kayden menatap dari kejauhan sosok yang sedang berdiri kaku dalam rangkulan Eduard, yang sesekali menyeka pipinya dan pria itu sangat tahu pasti karena dia sedang menangis.


Kacamata hitam menutupi dengan sangat baik, tapi aura kesedihan itu jelas terlihat bahkan dalam jaraknya saat ini yang lumayan jauh dari tempat gadis itu.


"Gue dapet informasi yang lo nggak perlu tahu dari mana sumbernya" Bisik Jerome sambil memperhatikan kaki Kayden yang seperti mendapat mujizat luar biasa, pria itu sekarang bisa berjalan meski masih menggunakan tongkat siku terhitung sejak dia melihat berita tentang mama Eleasha di tv kemarin.


"Iya, gue tahu sumbernya itu Alena"


Jerome melotot dengan kening yang berkerut bagaimana bisa pria itu tahu? Apa di wajahnya tertulis nama Alena?


"Apa? Cepat bilang" Desak Kayden tidak sabar, tapi pandangannya masih belum teralihkan dari sosok Eleasha yang ada di depan sana.


Jerome berdehem "Kemarin Eleasha menjalani operasi darurat.....wow tenang, itu cuma semacam tindakan ringan pada luka sobek yang tidak terlalu dalam"


Mata Elang Kayden seperti sedang memindai tubuh Eleasha dari kepala sampai kaki "luka sobek?"


"ekhm.... apa yah penyebutan yang paling pas, luka tusukan?"


Kepala Kayden dengan cepat berputar kearah Jerome, persis boneka squid game yang sedang viral itu "TUSUKAN?!"


Jerome yang sempat syok karena suara Kayden yang mengelegar segera memposisikan tubuhnya didepan pria itu, sengaja menghalangi Kayden dari pusat perhatian. Posisi mereka kini saling berhadapan sekarang.


"Kecilin suaranya Kayden Abraham, jangan buat kita jadi pusat perhatian disini" Bisiknya sambil menepuk-nepuk pundak Kayden agak keras lalu segera membuang senyum kepada orang-orang yang melihat ke arah mereka.


"Tusukan gimana? Tapi kan dia lagi hamil" Kayden bertanya dengan tidak sabar, setelah fokus orang-orang sekitar tidak lagi pada mereka.


"Bayinya selamat"


Tanpa sadar rahang pria itu sudah menggeras, tangannya mencekram pegangan pada tongkat. Ada dua sisi dalam dirinya yang berbenturan, sisi yang merasa lega karena bayi itu selamat dan sisi yang kecewa karena itu bayi orang lain.


"Dia ambil resiko besar untuk bayinya. Luka tusukannya saat di bersihkan dan dijahit tanpa obat bius" Jerome menggeleng- gelengkan kepalanya "Salut sih gue, keren banget dia. Gue jadi ngefans"


Kayden mendelik ke arah Jerome, menarik wajah pria itu yang sedang menatap Eleasha "Lo fokus aja sama Alena," kemudian mengarahkannya pada Alena yang berdiri tidak jauh dari Eleasha.


Senyuman Jerome seketika mengembang "Ya....Alena masih nomor satu dong"


Kayden berdecih melihat kelakuan Jerome, padangannya kini kembali pada Eleasha yang sekarang sedang dipeluk erat oleh Eduard yang segera membuat suasana hatinya seketika berubah buruk.


"lo nggak penasaran dia dapet luka itu darimana?"


Kayden kini menatap Jerome "Jangan bilang..."


"Lo bener, Marco. Dia diselamatkan mamanya. Dan sialnya ternyata Marco masih hidup dan masih mampu nusuk mama Eleasha"


Tragis.


Kayden dengan cepat menduduk saat sadar matanya sudah mengeluarkan air mata tanda peringatan sebelumnya. Jika hidupnya setragis itu sampai detik ini, apa diujung jalan nanti gadis itu akan mendapatkan kebahagiaannya? Kayden penasaran dengan hal itu.


Apa dia tidak bisa menjadi kebahagiaan untuk gadis itu? Pria itu kemudian tersenyum miris bukankah selama ini dirinya adalah salah satu sumber kesakitan untuk Eleasha? Bukankah dulu dia sangat menginginkan rentetan luka untuk gadis itu?

__ADS_1


Lantas kenapa dia sekarang sesedih ini, saat melihat gadis itu menderita?


......................


Eduard merangkul Eleasha yang hanya mematung didepan makam sang mama, makam yang masih basah bertabur kelopak bunga yang masih segar.


Luka jahitannya saja masih belum sembuh dan hari ini dia harus memiliki luka baru di hatinya.


Banyak orang datang menghantarkan sang mama ke tempat peristirahatan terakhir, dan tidak sedikit juga yang mengiba pada Eleasha karena dalam sekejab kehilangan orang terkasihnya.


Belum lagi yang datang hanya untuk bergosip, membicarakan tentang karma baik dan buruk. Membicarakan cara almarhumah meninggal yang terbunuh----atau lebih tepatnya saling membunuh satu sama lain---


Gadis itu mengeratkan genggamannya pada tangan Eduard, dia memutar tubuhnya menyembunyikan wajah di dalam pelukan Eduard karena sepertinya kacamata hitam yang dia pakai tidak bisa lagi menahan air mata yang semakin banyak keluar.


Eduard mengelus belakang kepala El, mengecup rambut gadis itu lembut. Kini dia sudah siap menjadi satu-satunya pegangan atau harapan bagi gadis itu.


Karena hanya dia satu-satunya yang tersisa dari masa kecil seorang Eleasha Halim.


"Ada gue, Ada gue disini buat lo"


...****************...


Beberapa hari kemudian


"Kasusnya sudah di tutup, dan semua aset atas nama mereka jatuh ke tangan kamu"


Eleasha mendongak menatap Jerome yang menyodorkan berkas di depannya. Gadis itu menerima dengan ragu dan tangan yang gemetar. Pria itu masih bersedia menjadi kuasa hukumnya meski dia sudah bukan lagi bagian dari management.


"Marco sudah menulis surat wasiat, kalau semua aset atas namanya dia wariskan padamu dan keturunanmu, sedangkan mamamu juga melakukan perubahan beberapa bulan yang lalu yang kurang lebih isi warisannya seperti itu" Jelas pria itu panjang lebar.


Eleasha tidak tahu bagaimana mamanya bisa berakhir meninggal, karena saat dia tinggalkan sang mama masih dalama kondisi baik-baik saja. Tapi hasil otopsi yang memberitahukan kalau ada luka tusukan di beberapa bagian vital, membuat dia sadar Marco pasti yang melakukannya dan hal itu terbukti dari hasil otopsi pria itu yang diperkirakan meninggal karena kehabisan darah.


Dokter menjelaskan memang ada bekas tembakan di tubuh Marco tapi letaknya jauh dari area vital, sangat besar kemungkinan saat itu Marco hanya pingsan sebentar.


Dan karena kejadian itu pula ada banyak kejahatan Marco yang terungkap diantaranya pemalsuan dokumen, kepemilikan senjata api ilegal dan obat-obat terlarang.


El tersenyum getir, meremas berkas yang dia pegang "Gue kaya raya dong sekarang" ujarnya sarkas, meski banjir air mata.


Jerome hanya bisa memghembuskan nafas berat, menatap Eleasha yang sudah menangis pijar tidak peduli kalau mereka masih di kawasan ruang terbuka, meski tidak ada yang mendekat baik wartawan maupun rakyat sipil,


---karena tim keamanan milik Kay Group--- Tapi kejadian ini jelas tetap diabadikan oleh banyak bidikan kamera.


"Saya hanya akan mengambil berkas milik rumah keluarga Lana, sisanya tolong disumbangkan saja. saya tahu di Kay Group memiliki banyak yayasan yang membantu banyak orang kan? Tolong sekiranya diatur dengan sebaik-baiknya."


Jerome mengangguk, mengiringi kepergian Eleasha sampai gadis itu masuk dengan selamat kedalam mobil.


Pria itu kemudian menatap surat putusan ditangannya "Ini asetnya banyak banget lho, dia yakin mau hibahin semua? Wah...makin ngefans nih gue sama si El"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Eleasha memaksa menyungingkan senyuman, dia kemudian menyodorkan sebuah map kepada tante Sonia yang masih menatapnya tanpa berpaling sama sekali.

__ADS_1


"Tante ini janji aku, ini akta rumah ini aku kembalikan lagi ke tante"


Sonia menggeleng "Tante nggak bisa terima ini El, keluarga tante yang jual akta ini mendapat bayaran banyak sekali. Tante nggak mampu membayar ini kembali"


"Kata siapa tante harus membayar? Semua terjadi karena aku sudah mengambil Lana dari tante, semua kejadian berawal dari dosa saat itu"


"Nggak El, tante tahu kamu nggak sepenuhnya salah"


El tersenyum dengan menggengam tangan yang sudah mulai keriput milik Sonia, tangan yang memberinya rasa hangat dan nyaman beberapa waktu terakhir.


"Aku hanya melakukan tugas seorang anak untuk orang tuanya, karena Lana pasti akan melakukan hal yang sama." genggaman itu mengerat "tante nggak perlu pindah, tante bisa tinggal dengan nyaman di rumah tante sendiri"


"Tapi tetap saja ini terlalu...."


"Banyak kenangan dirumah itu"El memotong ucapan Sonia.


Wanita tua itu tersenyum "Tante sudah putuskan untuk terbang ke Aussie, disana Leo punya apartemen dan dia juga sudah bekerja meski sambil kuliah.


Dia bilang dia bisa membiayai hidup kami berdua disana"


Genggaman tangan El mengendur, tubuh gadis itu tertarik mundur kebelakang. Akhir-akhir ini banyak yang pergi dari hidupnya saat dia mulai beradaptasi dengan semua itu.


"Tapi karena ada seseorang yang tadi bilang hanya melakukan sebuah tugas seorang anak kepada orang tuanya, tante sepertinya akan membatalkan rencana ke Aussie "


Pupil mata Eleasha bergerak kekiri dan kekanan, dengan wajah bingung gadis itu mencoba membaca ekspresi wanita didepannya berharap akan menemukan kebohongan disana, tapi hal itu tidak juga dia temukan.


"Kamu bilang ingin menebus kesalahan untuk Lana kan? Itu artinya kamu harus menjadi putri tante"


Eleasha menatap wanita itu dengan penuh keraguan, untuk kali ini dia sangat berharap pendengarannya salah. Tidak mungkin wanita itu mengharapkan pembunuh anaknya menggantikan posisi anaknya yang sudah di rampas kan?


Tidak ada hati manusia yang sebaik ini, pasti tidak akan ada.


"Tante nggak benci saya ka....."


"Kita berdua sama-sama kehilangan, malah kamu yang lebih banyak. Tante kesepian karena kepergian Lana, kamu juga pasti kesepian kan sekarang, nak?"


Eleasha membasahi bibirnya, menyeka air mata yang tiba-tiba saja jatuh setelah mendengar ucapan dari tante Sonia.


"El mau kan jadi putri tante?" tanya Sonia lembut sambil menyeka air mata yang terus mengalir dan membasahi pipi Eleasha.


"Apa boleh?" Tanya gadis itu ragu-ragu. Jantungnya berdegup kencang.


"Tentu saja, kata siapa tidak boleh?"


...****************...


Cerita sedikit tentang karakter tante Sonia, saya sampe searching banyak tempat bahkan nanya2 di orang2 sekitar saya.


Dan memang orang-orang yang bisa memaafkan dan mengampuni ternyata masih banyak di dunia ini.


Ada banyak contoh, bahkan di negara kita sendiri juga banyak😇

__ADS_1


Dan hal itu pasti bukan sebuah keputusan mudah, tapi merupakan sebuah kebesaran hati yang nggak akan pernah bisa diterima akal sehat apalagi logika manusia.


Salut


__ADS_2