
"Udah yuk masuk... gaisss" Alena menginterupsi dua sahabat yang masih berpelukkan di *b*asement parkiran apartemen tempat El tinggal.
Mereka baru saja selesai syuting untuk video klip single terbaru Agam.
Ini adalah bentuk rasa terima kasih El pada solois pria itu, karena Agam sangat membantu saat syuting di daerah pedalaman beberapa bulan yang lalu.
Ini juga adalah inisiatif El sendiri tanpa ada campur tangan pihak lain. Tadinya El sempat menolak karena takut imagenya yang dua bulan terakhir ini rusak parah akan ikut berdampak pada MV Agam nanti.
Tapi Agam meyakinkannya, kalau semua akan baik-baik saja, karir gadis itu memang sedikit meredup tapi nyala karirnya tidak benar-benar mati. El masih tetap dinantikan, mengingat 12 tahun karirnya di industri ini bukanlah waktu yang sebentar untuk membuatnya cepat dilupakan.
Proses syuting hanya memakan waktu 10 jam, suasana di lokasi juga sangat menyenangkan, para kru dan staf sangat welcome pada El.
Sangat diluar ekspektasi, padahal El sudah mempersiapkan diri jika memang dia akan dikucilkan dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya hal itu tidak terjadi sampai proses syuting selesai semua baik-baik saja.
Ternyata semua tidak seburuk yang gadis ini pikir.
Jam menunjukkan pukul 9 malam, saat dia sampai di basement parkiran apartemennya ini, dia duluan turun dari mobil sedangkan Alena masih menelpon didalam mobil. Langkah kakinya terhenti saat dia melihat sosok itu berdiri sambil menatap ke atas. Entah menatap apa.
Dan saat itu, tidak ada yang terlintas di pikiran El selain memeluk tubuh laki-laki yang berharga dalam hidupnya itu, laki-laki yang sudah seperti saudara kembarnya sendiri.
"Masuk yuk, kita makan dulu" Alena berucap saat sudah berada di dekat mereka, tanpa bertanya apapun.
Ikatan mereka juga sudah terlalu kuat tidak butuh penjelasan apa-apa untuk saling mengerti satu sama lain.
Alena sudah mengenal mereka berdua selama bertahun tahun, dan dia juga adalah salah satu saksi hidup betapa dua manusia ini begitu cocok satu sama lain.
Alena juga tahu dulu pernah ada rasa diantara keduanya, tapi garis pembatas bernama persahabatan itu membuat mereka selalu saja mengambil keputusan keliru.
Andai saja dulu mereka bisa saling jujur satu sana lain, bisa saja saat ini mereka sudah bersama.
El menggengam tangan Ed, berharap sentuhan itu bisa memberi kekuatan.
Gadis ini mengayunkan tangan mereka yang menyatu, seperti waktu mereka kecil dulu.
Mereka pun berjalan beriringan dengan posisi Alena didepan mereka menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat apartemen El berada.
...----------------...
"Tolong paman, Elisa selalu mendengar setiap kata-katamu. Siapa tahu kali ini dia mau mendengar kamu juga, En"
En menghembuskan nafas, tangannya terkepal didepan mulut, mempertimbangkan permohonan pamannya. Kenapa masalah demi masalah terus saja datang? Belum selesai masalah si Artur kali ini Eduard yang kembali berulah.
Ternyata adik sepupu kesayangannya sudah meninggalkan rumahnya bersama Eduard dan kembali kerumah orangtuanya.
Sudah berminggu-minggu dan si brengsek Eduard tidak juga datang menjemput Elisa.
Keterlaluan.
Dia bisa begitu memahami Eleasha tapi begitu bodoh dalam hal memahami Elisa. Apa susahnya datang menjemput istrinya? Apa dia masih saja berpikir keras untuk menemukan solusi?
Tidak akan ada solusi lain selain menjauhi Eleasha dan mengambil langkah untuk mendekat ke arah Elisa.
__ADS_1
"Si bodoh itu pasti berpikir kalau Elisa perlu waktu untuk sendiri, percuma lulusan terbaik tapi hal begini tidak bisa paham juga"
"Si bodoh siapa? Elo?" Jerome bertanya dengan wajah bingung, dia sedang menjelaskan tentang beberapa proyek di luar daerah pada laki-laki ini dan tanggapan yang dia dapat malah gumaman tidak jelas, yang hanya dapat dia dengar diawal saja yaitu 'si bodoh'.
En mendongak menatap Jerome "si bodoh sepupu ipar lo, siapa lagi" jawabnya ketus
"El belum di jemput juga emang?"
Mata sipit En berkilat "jadi lo tau? El pergi dari rumah elo tau dan sama sekali nggak kasih tau gue?"
Jerome berdehem, terlihat salah tingkah "itu.... bukan gue nggak mau bilang tapi waktu itu lo sibuk banget"
"Sibuk apaan?!"
"banyak." Jerome hampir berteriak saat menjawab pertanyaan pria didepannya ini " lo sibuk ngilang tau-tau nelpon minta cariin bodyguard.... , trus lo sibuk kesana kemari tau-tau nelpon minta dokter Liam datang ke rumah Lana buat memeriksa seseorang"
En membuang muka, hampir saja dia tersedak dengan liurnya sendiri saat mendengar jawaban Jerome. Sepupunya itu benar. Dia memang akhir-akhir ini sering sekali keluyuran di jam kantor, dengan alasan karangan bebasnya sendiri.
"Terus gimana? Apa perlu gue nemuin Eduard dan nyuruh dia jemput El?"
Kayden menggeleng "Kita tunggu sebentar lagi, kalau dia masih belum peka juga, masih belum bisa memilih juga, gue sendiri yang akan datangin dia langsung dan buat dia mengerti entah dengan kekerasan atau perkataan."
Jerome mengangguk khidmat "By the way. Mengenai somasi itu, apa masih perlu? Wawancara Arthur dengan majalah itu sudah lumayan lama. Tapi hebohnya karena masuk Lambe turah, kenapa nggak sekalian lo laporin Lamtur juga?"
"Laporin semuanya! Biar mereka tau akibat dari berani nyengol CEO bengis ini" Ucap En tegas.
Jerome mati-matian menahan tawa. Kayden ternyata tersinggung parah, lihat saja dia bahkan masih ingat dengan no 4 yang tranding di twitter kemarin.
...----------------...
Rambutnya yang biasanya di gel rapi, pagi ini terlihat lusuh dan berjatuhan menutupi jidat pria itu. Membuat Damagenya lain dari biasanya.
"Dia bilang perlu waktu, gue juga kayaknya perlu waktu" ucap pria itu pelan seperti bisikkan yang anehnya masih bisa dimengerti El.
El mendengus "perlu waktu buat apa sih, heran deh sama kalian berdua" di detik berikutnya mata gadis ini tiba-tiba melebar "jangan-jangan kalian bertengkar karena gue yah?" tebak El tepat sasaran.
Ed menelan ludah, sama sekali tidak menyangka kalau El akan sepintar ini dalam hal menyimpulkan.
"Karena lo diam, gue anggap itu sebagai jawaban." gadis berjalan ke arah Ed, kemudian mengokohkan dirinya tepat disamping pria itu. "gue nggak mau tahu, lo harus cerita semuanya tanpa terkecuali kalo memang lo masih ngangep gue sahabat lo"
Ed memutar kepala menatap El tepat di mata gadis itu, mencari apakah ada ragu disana. Mereka saling menatap sampai beberapa detik kemudian, dan berakhir dengan hembusan nafas panjang dari Ed pria itu akhirnya memutar tubuhnya menghadap El.
"gue akan mulai cerita"
El mengangguk "iya langsung aja" jawabnya tidak sabar.
"Tapi lo harus janji untuk nggak akan marah"
El terlihat sedang berpikir "ya.... tergantung....."
"nggak jadi deh..."
__ADS_1
El menjitak kepala Ed gemas "memang gue bisa apa marah sama lo? Kalaupun iya, paling lama itu sehari dua hari doang. Gue nggak akan bisalah diemin lo lama-lama"
El kemudian mendengus "memangnya elo, marah sama gue sampe berbulan-bulan." Lanjutnya dengan senyum mengejek.
"Dihh... kapan? Memang pernah sampe selama itu?" Ed memutar otak, mencari memori yang baru saja di katakan El.
"Lo lupa, lo diemin gue lama karena gue jadian sama Marco?"
Hening.
El menunduk memutar- mutar cincin di jari telunjuknya. Dalam hati menyesal kenapa malah mengatakan hal yang mati-matian ingin dia lupakan.
Ed mendesah, pria tampan itu tersenyum tipis. Dia tahu kalau sampai saat ini El masih berjuang untuk bisa melupakan pria itu. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa melupakan setiap kenangan yang tercipta.
Pria itu mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala gadis itu lembut "katanya mau dengar gue cerita? jadi gimana? masih mau dengar nggak nih?" tanyanya dengan nada lembut, nada yang sering dia gunakan jika El mulai ngambek atau seperti saat ini, saat gadis itu merasa sedang tidak baik-baik saja.
El mendongak, menatap Ed sambil mengangguk.
"Gue binggung mulai dari mana, tapi semua mungkin berawal dari kesalahan gue" Ed memulai ceritanya.
El menatapnya intens, seakan tidak ingin ada satupun yang terlewat dari perkataan pria didepannya ini.
...----------------...
"Jangan ngebadut yah, somasi apaan? hal kayak gitu udah biasa di dunia enterteiment" ucap Alena kesal, dia sedang sibuk di ruang kerjanya yang khusus disediakan El di apartemen gadis itu. Dan telpon dari agensi membuat moodnya langsung berantakan.
"Terserah. Kami dari pihak El nggak akan kasih statemen apapun. Bapak tahu pepatah Silent is Gold ? Itu yang sekarang sedang kami terapkan. Kalo kata mbak Desi Ratnasari 'no comment'" Ujar Alena mantap. Dia sampai menyebut aktris senior negeri ini yang beberapa tahun lalu sempat di kenal dengan statemen itu, dan mendapat julukan sebagai miss dari hal itu.
"Pokoknya lihat nanti deh Pak Jerome..."
Gadis mungil itu mengangguk-angguk saat protes dari seberang telpon itu terdengar "iya...iya pak Jerom bukan Jerome. Iya, maaf. Sudah dulu pak, saya sibuk" Alena menutup telpon tanpa mempedulikan suara Jerome yang masih protes karena gadis itu selalu menekankan kata Bapak atau Pak dalam setiap pembicaraan mereka.
"Apa salahnya sih dengan kata bapak, masa iya aku harus manggil dia sayang? kan nggak lucu" gumam gadis itu, kemudian tersenyum sendiri dengan perkataannya.
Alena beranjak dari duduknya di kursi kerjanya. Dia berjalan keluar dari ruangan ini, saat membuka pintu, gadis itu mengurungkan lagi niatnya untuk keluar atau membuka pintunya semakin lebar.
Alena memilih bersandar di dinding disamping pintu. Gadis itu menghembuskan nafas, melirik dua orang yang sedang duduk berhadapan saling menatap dan berbagi cerita.
Kali ini sepertinya fatal, ini pertama kalinya dia melihat Ed seperti ini, sejauh yang dia tahu Pria itu tidak pernah absen masuk kerja. Ed terlalu mencintai pekerjaannya sebagai dokter bedah profesional. Tapi lihat, entah sudah berapa hari dia mengambil cuti dan hanya bengong hampir seharian di depan TV.
Alena bisa melihat keputusasaan di wajah tampan itu, kali ini bisa dipastikan bukan hal yang bisa dia selesaikan dengan mudah.
Kali ini Alena melihat El maju memeluk Ed, gadis itu berlutut diatas sofa yang mereka duduki, Ed meletakkan kepalanya di bahu El, mereka hanya diam tanpa suara.
Terkadang memang sebuah pelukkan bisa menjadi jawaban yang dibutuhkan saat masalah terasa berat untuk dipikul seorang diri.
Pria ini memerlukan sebuah pelukan untuk jadi tempatnya bersandar sebentar, pelukan untuk membuatnya kembali kuat agar bisa menghadapi masalah itu nanti.
Alena tidak bisa memungkiri, selalu terbesit kata andai jika melihat kedua sahabat itu bersama. Andai dulu mereka tidak keliru membaca perasaan masing-masing, andai dulu salah satu dari mereka berani maju untuk meruntuhkan dinding pembatas bernama persahabtan itu, andai salah satu dari mereka bersikap egois sedikit saja. Masalah berat ini tidak akan pernah ada.
Kalaupun masalah berat itu datang, Alena sangat yakin mereka berdua bisa melewatinya dengan mudah. Mereka adalah definisi kekompakkan yang sangat nyata. Mereka adalah pasangan yang sempurna andai saja mereka bersama.
__ADS_1
...----------------...
Next chapter>>>>