EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Lupa dengan alarm tanda bahaya


__ADS_3

En mengedarkan pandangan keseluruh area gedung, kakinya yang tadi berlari karena mengejar gadis itu kini berganti dengan langkah-langkah kecil.


Pria ini bisa menebak, kalau gedung yang dia masuki saat ini adalah columbarium bisa dilihat dari lorong-lorong yang ada, dan petak-petak tempat menyimpan abu kremasi.


Gedung dengan desain semi outdoor ini tidak menjadi terlalu menakutkan karena bangunannya sama sekali tidak memiliki dinding, hanya banyak pilar besar yang menopang atap gedung tapi masuk kesini untuk pertama kali bisa saja tersesat karena ada banyak lorong-lorong yang dibuat untuk tempat abu.


Dan pria ini sekarang mengalaminya, En tidak bisa menemukan tempat dia masuk pertama kali, lalu keberadaan gadis itu juga tidak terlihat. Apa mungkin tadi dia keliru mengira kalau gadis itu masuk ke sini?


Bunyi derap langkah kembali terdengar, para pemburu berita itu pasti sudah berhasil menyusul kesini. Mereka memang selalu terdepan jika ada sesuatu yang menggiurkan.


En sudah bersiap untuk menyambut para wartawan itu, dia tidak peduli jika nanti perkataan yang keluar dari mulutnya bisa menimbulkan masalah nanti. Setidaknya hadapi saja dulu, yang lain itu urusan nanti. Ada Jerome yang pasti bisa menyelesaikan setiap masalahnya, jadi untuk apa khawatir berlebihan.


Pria ini menghitung dalam hati, memperhitungkan langkah-langkah kaki yang semakin terdengar dekat dan jelas. Pada hitungan ke empat, sebuah tangan tiba-tiba menariknya ke sudut lorong, mendorong tubuhnya sampai menempel dengan salah satu bagian penyimpanan abu yang terletak di bagian paling ujung gedung, yang tertutupi dengan pohon- pohon pinus dari bagian luar sehingga menjadi tempat aman untuk bersembunyi.


Tangan itu membekap mulutnya, jarak mereka begitu dekat, tidak sangat amat dekat. Pria ini tiba-tiba jadi teringat dengan kejadian di kamar Lana, hal itu langsung membuat jantungnya berdebar keras sampai mungkin akan bisa terdengar oleh gadis itu.


En mencoba menjauh dari tubuh El, tapi gadis itu malah semakin menempelkan tubuhnya kepada En dan dengan telunjuk di bibirnya, gadis itu mencoba memberi isyarat agar tetap diam.


"lo yakin nggak kalo itu El?"


"Y**akinlah, memangnya artis mana yang suka pake **turtleneck kayak gitu? Gaya fashion nya berubah terhitung sejak dia tampil live, di acaranya si Desta sama Vincent. Syuting dipedalaman aja make turtleneck lho"


"I**tu juga yang pengen gue tanyain alasannya, kenapa bisa gitu lho. dia debut pas 15 tahun jarang banget pake begituan tapi beberapa bulan belakangan dia nggak pernah terlihat nggak pake sesuatu yang menutup leher. Aneh nggak sih**?"


Suara-suara dari orang-orang yang berbeda-beda terdengar dari tempat En dan El bersembunyi. Percakapan itu membuat El mundur menjauh dari tubuh En. Gadis itu bahkan menurunkan tangannya yang sejak tadi membekab mulut pria yang sekarang sedang menunduk dan menatapnya.


En merasa sedikit kecewa saat tubuh itu menjauh, menciptakan jarak diantara mereka. Dia menunduk untuk bisa melihat wajah pucat yang sekarang memilih menatap kearah lain, dari pada menatapnya.


"sialan" pria itu menggumam pelan. Amat


menyayangkan, padahal baru beberapa detik yang lalu mereka berdua saling bertatapan dengan jarak yang bahkan tidak ada.

__ADS_1


Tapi setelah mendengar percakapan wartawan-wartawan itu, gadis didepannya ini kembali membuat jarak diantara mereka.


"P**adahal udah dapat akses masuk kesini, tapi sampe sekarang nggak berhasil juga wawancara si El secara langsung**"


"B**apak tirinya baik banget yah? Kita yang pake name tag pers diijinin masuk ngeliput langsung disini sampe sekarang**"


"canda bapak tiri"


Mereka tertawa.


"Ada yang kasih info ke kantor gue, kalau stand by dipemakaman ini supaya bisa wawancara si El, kan El menghilang sejak momen dibandara? gue sih curiga si bapak tiri yang jadi informannya"


En bisa melihat ekspresi wajah itu berubah. Gadis ini terlalu banyak menunjukkan sisi-sisi yang lain padanya. Dan hal itu jelas merupakan sesuatu yang tidak baik.


Sekarang pria ini jadi tahu kalau dibalik ekspresi datar yang sekarang El tampilkan ada rasa marah tersimpan didalam sana.


"Nyokabnya jadi makin kaya raya pas jadi janda, pemakaman elit ini milik mantan suaminya yang sudah meninggal. Katanya mantan suaminya itu nggak punya keluarga makanya semua harta jatuh ke mamanya si El"


"kayak si El mau aja? nohh...antri ada banyak yang udah mendaftar duluan"


"I**ye keder gue, fanboynya cakep-cakep. Dua yang paling berat si aktor Thailand yang gosipnya udah pacaran sama dia pasca batal tunangan, trus sahabatnya si dokter cakep yang kayak pacarnya itu, yang suka bikin salah paham karena mereka dekat banget**"


"T**api udah nikah kan si dokter**?"


"iya udah nikah, tapi sadar nggak sih istrinya si dokter kalau dilihat-lihat mirip sama El?"


En mengamati wajah itu, mencoba membandingkan dengan wajah Elisa dan gotcha, para wartawan itu berkata benar. Ada beberapa sisi yang memang terlihat mirip.


Mata kayden melihat mata besar tanpa lipatan dan agak sipit dibagian ujung, kemudian turun ke hidung yang walau tidak begitu mancung tapi terlihat sangat pas dengan wajah mungilnya dan bibir yang berbentuk love itu.


Kayden membuang muka kearah lain, tangan kanannya naik menarik dasi yang bertengker rapi dileher dengan asal, kemudian membuka dua kancing kemeja bagian atas. Entah kenapa, dia tiba-tiba merasa kepanasan.

__ADS_1


"Jangan- jangan si dokter nikahin istrinya karena mirip sama El? Pas dia nikah si El kan tunangan? Dia curi start duluan tuh karena si El pacaran sama mantannya itu juga lama. sepuluh tahunan ada kali yah?"


"Termasuk setia lho dia, gosipnya El yang biayain mantannya kuliah di luar negeri. Beliin macem-macem buat si mantan yang terakhir katanya rumah sebelum kabar mantannya itu nikah sama......"


Percakapan para wartawan itu terhenti saat terdengar suara pecah dari arah utara diujung lorong-lorong yang terbuat dari tempat penyimpanan abu.


Suasana kembali hening, sekitar 6 sampai 7 orang yang berprofesi sebagai wartawan itu saling bertatapan, mereka saling memberikan kode untuk segera lari meninggalkan tempat ini.


Seindah dan seestetik apapun tempat ini, fakta kalau ini adalah kuburan tetap saja menyeramkan.


"Lo pada sih, ghibahin orang di kuburan. Noh.. ada yang mau gabung kan jadinya?" ujar salah satu dari wartawan itu sambil berlari meninggalkan gedung yang terletak di bagian belakang pemakaman elit ini.


...----------------...


El menatap pria yang saat ini sudah mengubah posisi mereka.


kali ini El yang bersandar di dinding tempat abu dan pria itu berdiri didepannya dengan jarak yang begitu dekat.


Pria itu menahannya saat El berniat keluar dari tempat persembunyian mereka, hal itu mengakibatkan sebuah vas yang menjadi dekorasi rumah abu ini jatuh dan pecah.


Syukurlah rasa takut para wartawan itu lebih besar dari rasa penasaran mereka, sehingga El dan En bisa bernafas lega karena terbebas dari para pemburu berita.


Entah harus merasa senang atau sedih dengan fakta itu, tapi jika mereka tertangkap basah sedang bersama di tempat ini, pasti akan muncul scandal baru dan akan semakin memojokkan gadis itu.


El lupa dengan alarm tanda bahaya yang selalu berbunyi memperingatkannya tentang kejadian dirumah Lana, gadis ini seketika melupakan traumanya pada pria ini.


Fakta kalau dia hampir mati di tangan pria ini tidak lagi membuatnya takut.


Yang memenuhi isi kepalanya adalah pria yang berstatus sebagai mantan tunangannya yang sekarang sudah berganti status sebagai ayah tirinya. Kenapa pria yang sudah bersamanya selama 10 tahun, bisa berbuat hal setega itu padanya?


Keduanya diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing

__ADS_1


...........


__ADS_2