
Kayden menatap kotak martabak di tangannya, dia kemudian menatap pintu ruang rawat Eleasha. Pria itu menghembuskan nafas berat kemudian berjalan masuk kedalam ruangan.
lagipula Eleasha tidak bisa dibiarkan seorang diri dalam keadaan 'gila' seperti itu.
......................
Eleasha menatap pantulan dirinya di cermin, dia baru selesai mandi untuk meminimalisir rasa gerah yang memenuhi tubuhnya. Gadis itu beberapa kali menarik dan menghembuskan nafas untuk kembali membuat jantungnya berdetak normal.
Sepertinya, untuk kali ini dia tidak akan memakai apapun untuk menutup leher.
Masih kebingungan dengan kondisi tubuhnya yang tidak seperti biasanya, El memutuskan untuk kembali ke ranjang dan mencoba tidur, siapa tahu bangun dari tidur kondisi tubuhnya bisa kembali normal.
Langkah kaki El terhenti, saat pintu ruang rawatnya ini terbuka dan sosok pria itu muncul lagi. Dan terkutuklah dia karena sama sekali tidak bisa menahan langkah kakinya untuk mendekati pria itu.
"Stop! Jangan mendekat" Kayden mengancam, telunjuknya tertuju pada El yang sedang menatapnya dengan tatapan lapar.
Pria itu menghembuskan nafas lega, saat melihat gadis itu mengikuti arahannya.
"Alena titip ini buat kamu, akan aku taruh di meja. Kamu diam disitu jangan bergerak seinchipun" ucapnya lagi dan segera menuju meja kecil di tengah ruangan untuk meletakkan kotak martabak manis itu.
"sekarang boleh aku makan?" tanya El saat Kayden sudah kembali di posisinya didekat pintu masuk. Membuat jarak diantara mereka berdua.
Kayden berdehem, "Iya silahkan, tapi jangan terlalu banyak nanti kamu malah sakit perut" Ia mengingatkan.
"Kok jadi mirip bapak-bapak kamu sekarang" Goda El sambil membuka kotak martabak dan hampir meneteskan air liur saat wangi makanan itu mengusik indra penciumannya. Dalam sekejab dia lupa dengan hasrat memeluk Kayden yang sejak tadi meronta-ronta.
Cacing-cacing dalam perutnya berdisko, meminta jatah makanan. El segera mengambil sepotong martabak dan langsung melahapnya dengan rakus. Tidak peduli dengan cokelat keju yang menjadi toping makanan itu mengotori tangan dan sekitar mulutnya.
Sepotong, dua potong Kayden melongo saat martabak berukuran jumbo itu hanya tinggal beberapa potong saja sekarang. Perut kecil gadis itu menampung sangat banyak, diluar perkiraannya.
"Stop, cukup! Kamu bisa sakit kalau makan berlebih!" Kayden mendekati El, meraih tangan gadis itu yang sudah terulur untuk mengambil satu dari tiga potong yang tersisa di dalam kotak.
Hal itu membuat tangannya ikut belepotan dengan toping martabak.
Tapi diluar dugaan, bukannya kesal dengan hal itu Kayden justru mengulurkan tangannya yang bersih untuk menyeka bibir El yang penuh cokelat.
Dan diluar dugaan juga. Eleasha membuka mulut menghisap jari Kayden yang berada di bibirnya. Bermaksud membersihkan dengan cara yang sensual.
Kayden sempat terbelalak. Tapi persetan dengan hal apapun, pria itu dengan cepat langsung memutuskan jarak mereka. Mendadak menjadi lupa dengan background hubungan mereka, sudah cukup dia bertahan dari provokasi gadis itu sejak tadi.
__ADS_1
Kayden menempelkan bibirnya diatas bibir gadis itu untuk beberapa detik, kemudian berubah menjadi kecupan dan berakhir menjadi pangutan mesra.
Ciuman panas itu berlangsung cukup lama, tangan El sudah bergerak di kancing kemeja Kayden membuka dengan tidak sabar. Ia menunggu pria itu melakukan hal yang sama padanya, tapi meski Bibir Kayden bermain dengan sangat panas, tangan pria itu sama sekali tidak berpindah dari wajahnya. Tangan itu masih saja bersikap sopan, meski El sudah melancarkan banyak godaan.
Merasa frustasi, El akhirnya yang berinsiatif sendiri untuk membuka kancing kemeja seragam pasien yang sedang dia kenakan. Saat tangannya sudah sampai di kancing ke 4, tangan Kayden menggenggam tangan itu membuat pergerakkan tangan El terhenti.
"Stop...." Ucap Kayden dengan nafas terengah, dia menyandarkan dagunya dipuncak kepala El. Menutup mata kuat, berusaha menormalkan jantung dan juga hasratnya yang tiba-tiba menggebu karena aktifitas terakhir mereka.
"Kamu akan menyesal kalau hal ini berlanjut" Kata Kayden lagi, dia juga akan menyesal nanti karena sudah melewati batas saat gadis itu sedang dalam pengaruh obat dan bukan karena keinginan sendiri.
"Aku nggak peduli"
El masih keras kepala, melupakan segalanya. Hasrat gadis itu semakin tinggi dia maju mencium leher Kayden, mengecup beberapa kali dan bahkan menggigit untuk meninggalkan jejak disana.
Kayden mengeram frustasi, berusaha untuk tidak terpancing dengan semua godaan Eleasha. Memperingatkan otaknya untuk tetap sadar, untuk jangan melewati batas. Karena hal ini adalah kesalahan, karena gadis itu sedang 'gila' karena pengaruh obat, karena El tidak benar-benar menginginkannya.
"Tapi aku peduli" Kayden mendorong pelan tubuh El, membuat gadis itu menghentikan aksi 'gila'nya.
"Ayo tidur, kamu butuh tidur"
Kepala El mengangguk dengan cepat sambil tersenyum penuh kemenangan juga bercampur sensual.
Gadis itu mencebik. Membuat Kayden jadi ingin mengecup bibir itu karena terlihat begitu menggemaskan. Pria itu mengalihkan pandangan dari bibir El dan sialnya matanya malah beralih ke bagian dada El yang sudah terbuka sampai kancing ke empat, memperlihatkan dada El yang lagi-lagi tertutup Bra merah.
"oh ****!! Red again?!"
"You said Red? Red for Red room Christian Grey? jadiin aja ini red room kalo begitu".
"Jangan mancing-mancing yah" Kayden memperingatan.
"Aku pengen banget bang Kai, come on." rengek gadis itu sambil membuat putaran lembut di area dada Kayden, hampir membuat pria itu mendesah karena perbuatan El.
Kayden menatap mata Eleasha, tidak ada ketakukan, tidak ada rasa bersalah, tidak ada benci atau amarah. Mata itu memancarkan hasrat menggebu yang Kayden sangat tahu karena pengaruh obat semata. Pria ini entah harus bersyukur atau benci dengan situasi ini. Di satu sisi dia bersyukur karena El berubah menjadi 'gila' saat ada dengannya dan di sisi lain dia juga benci karena gadis itu menjadi 'gila' seperti ini tapi karena di recoki obat.
"Makanya saat aku ajak nikah, langsung bilang iya bukannya nolak"
"Sekarang aja kalau gitu, down payment aja dulu " El masih ngotot
Kayden membalas dengan sebuah gelengan "Nggak, nggak sekarang kita pasti akan menikah secepatnya. Tapi sekarang aku tandai kamu dulu, supaya kamu ingat kejadian ini besok dan nggak pura-pura lupa saat ketemu aku lagi"
__ADS_1
Pria itu merengkuh pinggang El, tangannya yang lain terulur untuk melebarkan kemeja gadis itu yang sudah tidak terkancing. Kayden kemudian membungkuk untuk memberikan kecupan dan juga meninggalkan jejak merah yang panas di area dada gadis itu.
...****************...
2 Hari kemudian.
@Apartemen debut
No: 3031
Eleasha menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya terulur menyentuh bekas merah di bagian dadanya. Dia mengingat secara samar, tapi gadis ini berharap kejadian itu hanyalah sebuah mimpi buruk saja.
"Iya, ini hanya mimpi. Dan ini...." dia menunjuk bekas merah itu "Hanya bekas cubitan tangan gue sendiri." Gadis itu mengangguk-angguk mencoba merasa tenang dengan skenario yang baru saja dia buat.
Ting tong....
El beranjak dari sesi merenungi nasibnya, dia segera memakai kaos oversize hitam, melilitkan scarf brand GUCCI kemudian segera beranjak dari kamar mandi.
Gadis itu membuka pintu utama, dan langsung terkejut saat melihat banyak bingkisan yang diletakkan di depan pintu apartemennya ini. Dia menegok ke kanan dan kekiri tapi tidak menemukan satu manusia pun untuk dia tanyai tentang hal ini.
Dengan langkah gontai, El memilih untuk segera memasukan bingkisan-bingkisan misterius ini kedalam.
El mengambil salah satu dan membukanya, dia sedikit terkejut saat melihat label Victoria Secret tertera dalam kotaknya. El seketika merasa tidak enak.
Saat kotak itu dibuka, seperti dugaannya sepasang underwear berwarna nude langsung nampak, seperti kesetanan El membongkar paket yang lain dan lagi-lagi seperti dugaannya sepasang underwear dengan beraneka warna tapi sama sekali tidak ada warna merah diantara semua paket yang ada.
"Maksudnya apa sih ini? Psikopat siapa yang kirim ini sih?" Sunggut El kesal.
Saat dia sedang kebingungan dengan kiriman misterius ini, handphone gadis ini berdering El segera memeriksa sebuah pesan yang masuk di telpon pintarnya itu, dan di detik berikutnya wajah El langsung berubah merah saat membaca pesan yang baru saja masuk.
from : Pak Ceo
Aku kasih kamu underwear dengan semua warna yang ada di dunia, kecuali warna merah. Karena kamu sudah punya warna merah terlalu banyak.
El menatap nanar semua bingkisan yang berserakan di depannya, gadis itu mengacak rambutnya kemudian berteriak histeris sambil membenamkan wajahnya di bantal sofa.
...****************...
I hope you enjoy gaisss....π π€£π
__ADS_1