EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Pelangimu sudah datang


__ADS_3

Sebuah alamat yang tertempel di kotak berisi syal itu membawa Kayden pada sebuah Villa di area Bandung, tempat yang tersembunyi dan sulit ditemukan jika tidak ada niat yang benar-benar kuat untuk kesana.


Kayden bahkan beberapa kali salah tujuan, untunglah dia dibantu oleh warga dan berakhir di depan pintu utama Villa mewah milik pribadi ini.


Semua pertanyaan selama ini akhirnya terjawab, kenapa Eleasha tidak bisa terdeteksi dengan radarnya karena ternyata ada seseorang dibalik persembunyian gadis itu. Dan Kayden benar-benar amat sangat penasaran dengan seseorang itu sekarang, siapa sosok yang berani menyembunyikan Eleasha dan anak mereka darinya selama ini.


Pria itu mengulurkan tangan untuk menekan bel yang tersedia disana, beberapa kali dia menekan benda itu tapi tidak juga ada respon dari dalam sampai sosok wanita menyapa dari belakangnya membuat Kayden refleks berbalik.


"Punten, aa cari neng El? Tapi neng El-nya lagi nggak dirumah, kemarin di bawah ke rumah sakit karena muntah terus"


"Dirumah sakit mana teh kalo boleh tahu?" tanya Kayden berusaha untuk tetap tenang, meski perasaannya langsung amburadul mendengar keadaan gadis itu.


"Rumah sakit daerah didekat sini, bisa naik sapèdah.... ah maksudnya ojek cuma 5 menitan sampai Aa"


Setelah mengucapkan terima kasih dengan bahasa sunda, Kayden segera keluar dari pekarangan Villa dan mencari kendaraan untuk membawanya ke tempat gadis keras kepala yang sedang mengandung anaknya itu berada.


...****************...


El sedang bergumul dengan rasa nyeri di punggung, dia sudah minum obat yang di resepkan untuknya tapi rasa menyiksa itu tidak juga berkurang sejak kemarin.


Arthur bahkan sejak tadi sudah memintanya untuk ke rumah sakit besar supaya El bisa ditangani oleh dokter spesialis disana tapi gadis itu tentu menolak karena tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya jika sudah keluar dari desa ini.


"Aku akan lakuin segala cara supaya kamu nggak akan ketahuan El, tapi kita harus ke rumah sakit besar dulu aku benar-benar nggak bisa liat kamu tersiksa begini"


El mencoba tersenyum dengan bibir pucat "ini akan ilang kok"


"Kamu juga bilang begitu sejak kemarin, tapi kenyataannya rasa nyerinya nggak ilang kan?"


Gadis itu mengigit bibir dalamnya menahan rasa nyeri yang tidak lagi main-main sekarang, rasa menyiksa ini semakin hari semakin bertambah dan keadaan ini membuat semua semakin terasa berat untuknya.

__ADS_1


"Kamu kurusan El, ibu hamil seharusnya berat badannya naik kan? Apalagi usia kandungan kamu udah masuk 20 minggu." nada bicara Arthur penuh kekhawatiran, raut wajahnya juga.


Pria itu menggengam jemari tangan Eleasha yang terasa dingin dalam genggamannya "aku nggak bisa liat kamu begini"


Untuk pertama kalinya Arthur tidak bisa melakukan sesuatu untuk gadis ini setelah hampir tiga bulan lamanya melindungi El dengan sangat baik, kali ini pria itu tidak berdaya karena yang terjadi saat ini sungguh diluar kemampuannya.


El tidak mampu menjawab, dia hanya mencoba tersenyum tapi tidak juga berhasil karena rasa nyeri itu semakin menjadi- jadi. Ada kemungkinan dia bisa pingsan beberapa saat lagi.


Dan saat kesadarannya sudah berada di ujung batas kemampuannya untuk bertahan, sebuah sentuhan lembut diwajah mampu menghilangkan rasa nyeri yang dia rasakan sejak kemarin.


Semua rasa sakit seketika sirna tidak tersisa sama sekali. El berpikir apa mungkin dia sudah berada di alam lain? Apa dia pingsan? Atau mungkin meninggal? Lalu bayinya? Gadis itu membuka mata dengan cepat dan dalam sepersekian detik kemudian dia langsung terperangkap dalam kedalamam mata monolid itu.


"Akhirnya ketemu"suara bass itu berbisik pelan, dan anehnya langsung menggetarkan seluruh bagian hatinya.


...****************...


Kayden mengusap lembut punggung gadis yang sedang terlelap di atas ranjang rumah sakit, jangan tanya seberapa bahagianya dia saat ini karena tidak ada yang bisa menggambarkan hal itu dengan kata apalagi kadar rasa.


Pria itu sama sekali tidak merasakan keram dengan posisi dan dan gerakan yang sudah dia lakukan hampir satu jam lamanya itu, Kayden akan melakukan dan merelakan apapun demi momen ini.


"Ekhm..."


Momen bahagia seorang Kayden Abraham diinterupsi dengan sebuah deheman seseorang, ia yang sedari tadi sedang tersenyum sambil menatap wajah lelap Eleasha langsung mendongak dengan senyuman yang langsung luntur seketika, saat matanya bertemu dengan mata sipit seseorang yang seharusnya akan dia introgasi setelah ini.


"Saya ingin bicara"


Kayden tersenyum setengah "tapi saya tidak"


"ini tentang El..."

__ADS_1


"Mulai detik ini mereka tanggung jawab saya, akan selalu menjadi tanggung jawab saya" potong Kayden cepat, matanya menyipit menandakan betapa dia tidak suka nama El keluar dari mulut manusia didepannya.


Sosok itu menghembuskan nafas berat, pandangannya teralih pada wajah lelap Eleasha yang terlihat tengah pulas dalam mimpinya. Sesuatu yang tidak bisa dia berikan pada El selama mereka bersama.


Meski mencoba menyembunyikan hal itu, ia sangat tahu kalau betapa Eleasha tersiksa karena kesulitan tidur setiap malam belum lagi dengan gangguan mual dan muntah yang tidak bisa di tenangkan dengan resep dokter.


Dan sosok yang saat ini sedang menepuk lembut punggung Eleasha sejak tadi dengan mudahnya memberi kenyamanan untuk gadis itu, memberi lelap dalam mimpi indah yang selama bersamanya tidak pernah terjadi sekalipun.


"Saya tidak akan menyerah untuk El dan bayinya"


Kayden refleks mengepalkan tangannya yang bebas, dia ingin sekali menghajar pria asing itu saat ini, tapi kenyamanan untuk Eleasha jelas lebih dia utamakan.


"Saya juga tidak, mereka milik saya. Keduanya milik saya" tegas Kayden penuh penekanan dalam setiap kata.


"Saya tahu, dan saya mengerti karena itu saya memutuskan untuk mundur selangkah. Saya tidak akan menghalangi anda lebih lama sekarang, tapi saya tetap akan menunggu di tempat saya, selama apapun itu untuk El dan bayinya"


Sosok itu balik badan tanpa pamit, baginya cukup melihat wajah Eleasha yang tidak lagi menahan sakit. Lagipula mereka sudah cukup banyak memiliki kenangan bersama selama hampir 3 bulan ini, dan baginya itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan di masa penantiannya yang tidak memiliki waktu dan kepastian itu.


"Arthur Xavier...."


Langkah kaki pria Thailand itu terhenti.


"Terima kasih karena sudah menjaga mereka dengan baik, dan maaf karena sampai kapanpun kau menunggu, mereka tidak akan pernah aku lepaskan. Tidak akan pernah"


Athur kembali melangkah keluar ruangan tempat El dirawat tanpa berbalik lagi, sekarang tugasnya sudah selesai.


Peranku sebagai payung sudah selesai, badaimu telah usai, hujanmu mulai reda dan pelangimu telah datang__


unknown

__ADS_1


...****************...


__ADS_2