EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Diantara kita


__ADS_3

"Alhamdulilah, ibu dan bayinya tidak kenapa-napa. Dan jika tidak ada keluhan lain sampai besok, Eleasha sudah boleh pulang"


Kayden mengangguk khidmat "terima kasih dok" ucapnya dengan senyum yang mengembang di wajah.


"Tapi tolong diingat, hal seperti ini mohon untuk tidak terjadi lagi. Kandungannya masih dalam trismester pertama, dia mungkin tidak akan seberuntung itu lain kali"


"Saya akan menjaga anak dan ibu dari anak saya dengan baik, dok. Tidak perlu khawatir"


Dokter itu pun pamit undur diri, meninggalkan Kayden dan Eleasha di ruangan VVIP rumah sakit ini.


Kayden tersenyum lagi sambil berjalan mendekat ke ranjang Eleasha. "ada keluhan nggak? Kamu bisa bilang sama...."


"Saya mau mengadakan konfrensi pers"


Senyum di wajah Kayden sedikit memudar " Alena dan Jerome akan mengurus hal itu, kamu nggak usah khawatir. Kalo pun kamu masih mau melakukan konfrensi pers kita sebaiknya tunggu kondisi kamu dan bayi kita membaik dan kita akan memberi pernyataan"


"Bayi kita?"


Kayden mengangguk "iya bayi kita" ulangnya dengan tegas.


"Siapa kita?"


Pria itu sedikit syok dengan ucapan Eleasha, tapi dengan cepat Kayden mengontrol situasi. Ia menggengam tangan Eleasha dan dengan cepat di tepis gadis itu.


"Kamu dan aku...." jawab Kayden pelan.


"Diantara anda dan saya tidak akan ada kita"


"Ly...."


Eleasha membuang muka "Saya ingin mengadakan konfrensi pers sendiri untuk memberitahu publik kalau apa yang anda katakan itu tidak benar"


Kayden mengepalkan tangan, dia jelas terluka dengan apa yang baru saja gadis itu katakan "Ly..."


Eleasha kembali menatap Kayden "Saya kasih anda dua pilihan, pertama saya akan membiarkan anda keluar dari hidup saya sekarang, atau saya akan memberitahu para wartawan kalau saya hamil karena diperkosa"


"Kamu tahu apa yang terjadi malam itu bukan seperti itu" Kayden menjulangkan tubuhnya di samping ranjang El, mencondongkan sedikit tubuhnya kearah gadis itu.


"Tapi itu terjadi karena saya di paksa untuk memberi konpensasi atas apa yang saya lakukan yaitu melakukan hubungan s*x tanpa persetujuan, kasih tahu saya apakah itu pemerkosaan atau bukan?"


Kayden kembali mencoba meraih tangan Eleasha, tapi gadis itu lagi-lagi menepisnya.


"Karena saya sudah meminta anda pergi baik-baik tapi anda tidak mau, maka saya harus menggunakan hukum untuk berurusan dengan anda"


Kayden terhenyak, dia menatap Eleasha tidak percaya.


"Anda harus ingat, anda punya hak untuk membalas dendam pada saya, tapi anda sama sekali tidak berhak melibatkan anak saya dalam balas dendam dan kebencian anda"


"Kamu kayaknya lagi salah paham sekarang, balas dendam aku sudah lama berakhir"


Eleasha menggeleng, itu tentu tidak mungkin. Pria ini ingin menghancurkannya itulah yang paling mungkin. Karena itu El sama sekali tidak ingin anak dalam kandungannya mendapatkan kehancuran yang sama.

__ADS_1


"Apa yang aku lakukan itu bukan karena balas dendam, aku melakukannya karena......"


"Apapun alasannya...." El memotong ucapan Kayden, "saya tidak ingin dengar hal apapun dari mulut anda, jadi silahkan keluar"


"Apa?"


"Siapapun yang ada diluar, tolong keluarkan orang ini dari sini!!!" El berteriak ke arah pintu sambil berusaha menepis tangan Kayden yang sejak tadi coba meraihnya.


Pada akhirnya gadis itu menjerit sangat kuat, sehingga pintu ruangan terbuka dan Eduard bersama Elisa muncul dari sana.


"El kenapa?" tanya Eduard saat sudah berdiri di dekat ranjang Eleasha.


"Bawa dia pergi Ed, gue nggak mau lihat dia"


Eduard menatap Kayden yang masih berusaha membuat El mendengarkannya, atau paling tidak melihat kearah pria itu.


"Ok kalau anda nggak mau pergi, biar saya saja yang pergi kalau begitu" Eleasha bangun dan berancang-ancang menarik jarum infus yang menancap ditangannya.


Kayden dengan cepat menahan tangan El, "jangan begini Ly, kamu harus dengerin aku...." pria itu tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena sedetik kemudian Eduard sudah menyeretnya untuk keluar dari ruangan.


"Lo keluar dulu En demi kebaikan Eleasha dan anak kalian" saran Elisa yang mengikuti dua pria itu keluar ruangan.


Blam...


Pintu tertutup di belakang Eduard. Mereka bertiga berdiri saling berhadapan, Kayden menatap Eduard tajam seperti ingin melobangi kepalanya dengan tatapan itu.


"Lo harus tenang, dan tunggu sampai El juga tenang dulu sampai kalian bisa bicara lagi"


Eduard menatap Kayden dengan kening berkerut "kenapa lo nyalahin gue?"


"Lo tahu dia hamil anak gue, kenapa lo nggak bilang?"


Eduard mendengus "sengaja"


Kayden sudah maju untuk mencekram kerah baju Eduard tapi Elisa tiba-tiba menghadang dengan cara berdiri didepan Eduard.


"Udahlah En, nggak usah lampiasin amarah lo ke Eduard" ucap Elisa pelan


Eduard menarik Elisa sedikit menjauh dari Kayden "Jangan dekat dia dulu, aku nggak mau anak kita kebagian darting dari dia"


Elisa melotot sedangkan Kayden berdecih kesal.


"Kalian saling melindungi sekarang? Ok kali ini ikat dia baik-baik El. Jangan buat dia mendekat ke El yang lain"


Gantian Eduard yang mendengus kesal, "Lo lagi posesif banget yah sekarang, padahal dulu lo coba bunuh dia dengan tangan lo sendiri kan? Gue setuju sih kalo lo di usir kayak tadi"


"Gue nggak peduli, gue mau rebut keluarga gue lagi" Kayden berjalan ke arah pintu yang langsung dengan cepat di hadang oleh Eduard.


"En, lo harus mengerti kalo nggak semua hal bisa langsung membaik hanya karena lo sudah ketemu dengan kebenarannya. Dan untuk semua yang lo lakuin ke El selama ini, meski lo berlutut pun belum tentu langsung ada kata maaf"


Raut wajah Kayden yang keras terlihat melunak, perkataan Eduard benar tapi dia sama sekali tidak ada niat untuk mundur. "gue tahu kalo gue salah, dengan begonya selama ini gue jadi buta karena dendam" pria itu menghembuskan nafas sambil menatap pintu ruang rawat Eleasha lagi "dan gue menyesal untuk semuanya, gue pengen menebus segalanya saat ini"

__ADS_1


Eduard menghembuskan nafas sambil menepuk pelan bahu Kayden "gue ada dipihak lo kali ini, En"


"Gue juga, akan selalu ada di pihak lo" Elisa menimpali.


Kayden tersenyum tipis sambil memandang pintu ruangan Eleasha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nggak usah capek-capek menghindar"


Eleasha yang baru saja ingin membelakangi Eduard yang baru masuk langsung berhenti bergerak, dia dengan cepat menyeka air mata yang membasahi pipi sambil berharap Ed tidak melihat hal itu.


Pria itu berjalan pelan, mendekati ranjang tempat gadis itu berada menatap Eleasha yang terlihat baru habis menangis "kenapa lo bohongin diri lo sendiri sih, El?"


"Sejak kapan gue bohongin diri sendiri?"


"Lo baru aja ngelakuin itu El" Ucap Eduard sambil duduk di pinggir ranjang "Kalo nggak kenapa lo nangis?"


"Ya... kan gue tadi tidurnya miring, air matanya jatuh aja tiba-tiba tanpa bisa di bendung"


Eduard tersenyum tipis, mengulurkan tangan untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi Eleasha.


"Tolong berhenti bersikap kekanak-kanakan El, karena bentar lagi lo akan jadi seorang ibu. Lo masih ingat impian lo waktu kecil kan?"


Eleasha hanya diam dan Eduard akan dengan senang hati mengingatkan gadis itu kembali.


"Lo sejak kecil pengen punya keluarga yang hangat dan manis kayak martabak, dan hari ini impian lo akan terwujud tapi kenapa lo buang kesempatan itu?"


"Gue pengen sebuah keluarga yang dibangun dari cinta, tapi hal itu nggak akan pernah terwujud diantara gue dan Kayden"


"Tapi El...."


Eleasha menutup wajahnya dengan tangan, kenapa sampai detik ini semuanya masih saja menyakitkan untuknya, "gue udah hancurin setengah dari kehidupan dia, gue nggak mau menggunakan anak gue untuk mengambil bagian lain dari hidup dia lagi"


Gadis itu terisak pelan, bahunya terguncang dan Eduard untuk pertama kalinya kebinggungan untuk memberikan respon pada kondisi Eleasha sekarang. Pria itu memilih diam, tapi membuka telinga lebar-lebar untuk mendengarkan.


"Untuk melihat wajah orang yang sudah membunuh kekasihnya setiap saat hanya karena dia harus bertanggung jawab untuk kami, Ed"


Eduard menarik pelan tangan gadis itu yang sejak tadi menutup wajah, Eduard kini membingkai wajah itu dengan kedua tangannya sambil menatap Eleasha lembut, "En nggak mungkin berpikir kayak gitu, dia kali ini....."


"Lo yang paling tahu kebencian macam apa yang dia punya buat gue Ed, lo yang tahu apa yang dia buat ke gue selama ini untuk membalas dendam demi Lana" Eleasha memotong ucapan pria itu.


"Tapi gue juga tahu gimana dia bergerak cepat untuk bisa menolong lo El,"


Eleasha menatap Eduard dengan mata basah "dia benci gue ed, dan nggak ada yang bisa merubah hal itu. Tanpa gue dan bayi ini dalam hidupnya, dia mungkin bisa bahagia lagi" ucap El final dengan hati yang patah.


...----------------...


Hai, semakin dekat dengan Ending mungkin 1 -2 chapter lagi.


Tetap sehat yah semua

__ADS_1


__ADS_2