
...****************...
Fokus Kayden sekarang terbagi dua antara jalanan didepannya dan gadis yang duduk disampingnya. Keheningan ini mendominasi sejak mobil mulai berjalan,
Gadis itu duduk menempel di pintu mobil sangat kentara membuat jarak dengannya.
Pria ini bisa melihat bekas merah akibat tamparan Elisa, adik sepupunya itu pasti melayangkan tamparan dengan segenap jiwa dan raga, sebuah akumulasi kemarahan yang dia pendam selama ini. Sudut bibir gadis itu seperti sobek, apa memang Eleasha serapuh ini? En kembali mengingat bahwa sejauh ini, El memang banyak kali terluka.
Kayden memutuskan menepi, dia menghentikan mobil yang baru satu minggu ini parkir di garasi rumahnya. Mobil keluaran terbaru yang dia beli saat pertama kali di launching di Indonesia.
Jika Lana masih hidup, dia pasti akan terus menerus di ceramahi tanpa henti.
Tunangannya yang cantik itu akan menasehatinya tentang berhemat, menghilangkan gaya hidup hedon dan tentang investasi.
Kayden membuka laci dasbor didepan El, mengeluarkan sebuah kotak dari sana. Dia bukanlah orang yang sangat perfeksionis sampai hal seperti ini sengaja dipersiapkan. Jerome adalah dalang dari semua hal yang sempurna ini, dan dia bersyukur untuk kehadiran saudaranya itu walau terkadang tidak juga.
Kayden mengeluarkan salep dari kotak kecil itu, menatap El yang hanya menunduk sejak tadi. Gadis ini pasti mengikuti kursus di bidang membuat orang lain kesal, karena dia ahlinya.
Melihat keadaan gadis itu sekarang membuat En berada di persimpangan antara kesal dan gemas. Kesal karena sejak tadi dia seperti tidak dianggap ada, gemas karena posisi duduk gadis itu yang menempel di pintu membuatnya terdesak diantara celah jok dan pintu. Pria itu menghembuskan nafas dalam hati bertanya apakah dia memang semenakutkan itu? Akh mengingat dia pernah hampir membunuh gadis itu, sudah sewajarnya dia terlihat menakutkan bukan?
Kayden menghembuskan nafas,
"Geser kesini" perintah En setelah beberapa menit mengamati El yang masih terus menunduk.
Tidak ada reaksi. Pria ini sudah bisa menduga tapi dia masih mau memberi El kesempatan "kemari sebentar Ilaisya"
Gadis itu mendongkak, terasa seperti Deja Vu, El seperti pernah merasakan situasi ini, tapi dia tidak ingat.
Tapi Eleasha tidak juga mau menatapnya atau mendengar apa yang dia katakan. Rasa kesal Kayden meningkat drastis tanpa pikir panjang dia menekan tombol untuk membuka pintu, tempat gadis itu bersandar sambil memasrahkan tubuhnya di sana.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka, tubuh El oleng mengikuti berat tubuhnya yang sepenuhnya bersadar dipintu. Karena tanpa ada peringatan dan persiapan Eleasha pasrah jika tubuhnya harus menghantam aspal jalan yang keras, tapi sebelum jatuh tangan itu menahannya, tangan itu menariknya mendekat membawa tubuh El masuk kedalam dekapan.
El tersadar beberapa detik kemudian, dia mundur membuat jarak. Merapatkan bibirnya kuat sambil terus menerus mengatakan pada diri sendiri untuk tetap tenang.
Kayden menyeringai ketika mendapati wajah panik itu, dia maju perlahan sehingga membuat El refleks bergerak mundur tiap kali pria itu bergerak maju sampai akhirnya El berada di tepi jok, disaat hanya terisa dua pilihan untuk gadis ini, yaitu: apakah keluar dari mobil dengan sukarela menggunakan kaki, atau memilih jatuh menghantam aspal.
Kayden dengan cepat menarik pintu mobil sampai tertutup, dia semakin maju membuat El mati-matian menempel ke pintu sekaligus memakai jurus mengecilkan badan.
Seringaian itu semakin lebar, entah kenapa dia begitu puas dengan suasana ini. Mengintimidasi gadis ini entah kenapa terasa begitu menyenangkan. En semakin maju, dengan sengaja menempelkan kedua tangannya di kaca jendela, menerangkap gadis itu dibawah kungkungannya.
El mengingit bibir, memilih menduduk daripada membalas tatapan pria itu. Setelah kejadian dress Lana kemarin, entah kenapa gadis ini tidak lagi punya nyali untuk mengangkat wajahnya didepan pria ini. Dia terlalu malu, juga terlalu takut.
El tersentak saat tangan pria itu tiba-tiba memegang rahangnya, dengan gerakkan lembut mengangkat wajah El untuk mendongkak. Gadis itu merasa akan kehabisan nafas saat Kayden meneliti kedua belah pipinya dan terakhir sudut bibirnya.
Pria itu membebaskan tangannya dari wajah El, membuka salep yang sejak tadi dia genggam, mengeluarkan sedikit isinya di jari telunjuk kemudian dengan lembut mengoleskannya disudut bibir gadis itu yang terluka.
El menutup mata, menahan gejolak aneh yang muncul saat hembusan nafas pria itu mengenai kulitnya. Kayden meniup pelan luka disudut bibir El yang baru saja dia oleskan salep, sebenarnya hal itu tidak ada gunanya karena salep itu tidak menyebabkan perih tapi dia tetap melakukannya karena dia menyukai reaksi gadis itu pada setiap hal yang dia lakukan.
El menyingkirkan tangan Kayden, walau sebenarnya tidak rela kehilangan rasa nyaman dari tangan itu. Tapi dia harus tahu diri bukan?
"Saya... akan turun disini" El memperbaiki cara duduknya dengan kembali menghadap ke depan, mengambil nafas sebelum membuka pintu dan keluar dari mobil, menyeberang jalan dan menghilang dibelokkan.
Kayden termenung, dia masih pada posisinya semula yang menghadap kearah gadis itu. Gadis yang sudah pergi membuatnya merasa tertolak. En tersenyum miris, dia sepertinya sudah mulai gila. Dia menyukai sengatan listrik dalam volt rendah yang akan terasa saat menyentuh gadis itu, dia menyukai tekstur kulit dan respon gadis itu saat menerima setiap sentuhannya.
Kayden tersadar dan segera mengedarkan pandangan mencari jejak gadis itu, saat dia akan keluar dari mobil untuk menyusul El, matanya menangkap sesuatu di jari manisnya. Pria itu menutup mata, bagaimana dia bisa lupa? En mendadak kehilangan kemampuan untuk bergerak setelah tersadar dengan fakta kalau Lana masih nomor satu dihatinya, itu sebabnya dia tetap bertahan dengan cincin tunangan di jarinya.
...****************...
El berjalan pelan menyusuri jalanan yang sepi, ini pasti masih di dalam kompleks elit perumahan rumah orangtua Elisa. Gadis itu sesekali menengok kebelakang setengah berharap sosok yang sudah membuat kerja jantungnya bertambah akhir-akhir ini menyusulnya.
__ADS_1
Tapi meskipun dia sudah berjalan melambat sekalipun, mobil ataupun sosok itu tidak juga kelihatan. El menepuk pipinya menyuruh dirinya untuk sadar dan bangun dari mimpi yang tidak akan mungkin jadi kenyataan.
"Apa yang lo harap sih El? Bego" runtuk gadis itu.
El meraba kantong celana yang dia pakai, berharap menemukan dompet atau handphone dari sana tapi gadis itu langsung teringat kalau dia meninggalkan tas dan handphonenya di mobil, dan mobil itu masih dipekarangan rumah Elisa.
Masa iya dia harus balik kerumah itu lagi? Gadis itu menggeleng, menepis ide itu.
Jadi? Apa yang harus dia lakukan sekarang? Tanpa uang, tanpa handphone, tanpa tau posisinya sekarang. Sempurna.
...****************...
"Dia belum juga pulang, Na? Udah jam segini?"
Alena menatap Eduard, gadis itu menghembuskan nafas "Ed aku tahu, aku nggak berhak ngomong ini ke kamu. Tapi berhubung kita udah kenal lama, aku mau bilang bukan sebagai teman aja tapi juga sebagai kakak. Tolong fokus ke pernikahan kamu dulu, El masih ada management, dia nggak sendri"
Eduard mengangguk kemudian mengambil posisi duduk disofa apartemen Eleasha. Pria itu mengusap wajahnya berkali-kali sangat terlihat frustasi.
"Kalo dulu gue nembak El duluan apa menurut lo, cerita hari ini apa bisa berbeda?"
...****************...
Chapter 2 dari 3 chapter di minggu ini๐
By the way, kalau seandainya kalian jadi Mbak Manajer a.k.a mbak Alena Laurel kalian mau jawab apa nih dengan pertanyaan si dokter ganteng ini?
aku tunggu jawabannya di kolom komentarnya yah....
Makasih sudah menunggu
__ADS_1
CU gaisss....๐๐
Stay Safe, Stay Healthy semua.....