
...----------------...
"Kamu kayaknya harus say thank you ke Arthur"
El yang sedang bersiap mengigit sandwich kembali menutup mulutnya. Dia menatap Alena yang juga sedang menatapnya.
"Kamu dapat banyak tawaran kerjaan, banyak yang hubungin aku untuk kerja sama sekarang, " Alena menatap El serius "Apa kita putus kontrak aja dengan agensi? kita bisa handle ini sendiri El. Lagian kamu liat kan? Sampai detik ini agensi nggak hubungin kita tentang masalah kerjaan. Mereka lepas tangan begitu aja sama kamu"
El meletakkan sandwich yang dia pegang kembali ke piring " gue takut, Na. Gue takut pergerakkan gue malah jadi senjata yang nyerang gue nanti." gadis itu menggeleng.
Membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika dirinya memutuskan kontrak dengan pihak agensi sudah membuat dirinya merinding. Bukan pada banyaknya biaya pinalti yang harus dia bayar, tapi ketakutannya lebih kepada tuduhan orang-orang nanti tentang dia yang begini dan begitu.
El sama sekali tidak siap di bully satu Indonesia lagi, setidaknya tidak untuk sekarang disaat dia mulai menata hidupnya lagi.
"Gue sampai detik ini aja masih belum bisa ziarah ke makam oma sama opa, karena belum siap menghadapi wartawan, belum siap tampil secara langsung di publik"
Alena menghembuskan nafas "jangan pesimis dulu dong. Lihat sekarang? Banyak yang sayang kamu terlepas dari banyak juga yang hate kamu." sang manajer ingin sekali bertanya kemana perginya El yang berani itu? Tapi Alena tidak berani mewujudkannya menjadi kata-kata, setelah semua yang terjadi dia tidak pantas mempertanyakan kemana keberanian, ketegasan dan blak-blakannya El yang dulu.
"Kita bahas ini nanti deh, Na. kalo tentang Arthur, gue udah follow back dia semalam"
"Oh ya?"
El mengangguk "Apa gue harus DM juga? minta maaf secara langsung tentang hal itu?" tanyanya lagi.
Alena terlihat berpikir "Ekhm... soal itu apa aku lupa bilang sama kamu, kalau pihak agensi katanya mau somasi si Arthur karena pencemaran nama baik"
"Hah?"
"Iya aku di telpon sama si Jerome, katanya mereka sudah mendaftarkan tuntutan kemarin"
"Gila yah? kan tinggal dilurusin. Kenapa pake dilaporin segala sih?"
Alena menjentikkan jari "makanya. Berlebihan kan? Aku kemarin juga emosi pas tahu, aku langsung bilang ke mereka kalo kamu nggak akan keluarin statemen apa-apa"
El memijit kepalanya yang mendadak berdenyut hebat "Padahal aku mau nyelesain masalahnya Ed hari ini. Tapi kayaknya harus di tunda lagi" El bergumam pelan untuk dirinya sendiri.
...----------------...
"Kali ini apalagi?" Kayden menatap gedung agensi yang sudah hampir setahun berpindah tangan menjadi miliknya, Hanya karena dorongan emosi sesaatnya waktu itu.
"Gue belum update berita terbaru, lo tau gue sibuk persiapin proyek di Kalimantan" Jerome berucap sambil membuka smartphone ditangannya. Pria itu meringgis sesaat kemudian.
Pandangan En beralih pada Jerome dari kesibukkannya menatap lobby gedung agensi yang hampir penuh dengan pemburu berita. Mobil mereka hanya berhenti di seberang jalan dan tidak jadi masuk kedalam sana.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Eleasha di gosipkan dating "
Mata En berkilat "dating?" tanyanya sedikit berharap pendengarannya salah.
"Semalam Eleasha memfollow back akun IG Arthur Xavier, Lo liat aja sendiri deh. Tapi sebaiknya jangan terlalu percaya, soalnya itu hanya theory buatan para fans doang"
Smartphone Jerome berpindah ke tangan En, pria itu terlihat begitu fokus memperhatikan video berdurasi 8 menit dilayar persegi panjang itu. Yang menampilkan kebetulan-kebetulan yang sama antara dua sosok itu. Mulai dari pakaian, aksesoris yang sama, gaya yang sama bahkan ada perkataan yang hampir sama persis yang mereka berdua ucapkan meski bukan di tempat dan waktu yang sama.
Belum lagi dengan postingan keduanya di sosial media mereka, yang kebanyakan di upload dalam waktu yang hampir bersamaan dan caption yang juga hampir berhubungan.
"Gue akan telpon managernya, kalau nggak benar kita bisa langsung bantah" kata Jerome.
En menatap kembali gedung agensinya yang hari ini terlihat ramai karena di penuhi dengan wartawan lengkap dengan senjata kebanggaan mereka.
Jadwalnya untuk berkunjung kesana sepertinya harus ditunda sampai keadaan jadi lebih kondusif
Pria itu entah harus senang atau sedih dengan berita ini. Normalnya dia harus senang karena dengan gosip dating ini, otomatis menjadi konfirmasi kalau hubungan El dan Ed memang murni sebatas sahabat. Dengan begitu Elisa mereka bisa merasa tenang.
Tapi, dia tidak bisa memungkiri ada bagian yang tidak suka di bagian paling dalam hatinya. Dan pria ini berdalih perasaan ambigu itu karena dia sama sekali tidak ingin gadis itu bahagia setelah merebut kebahagiaan Lana. Mr. Tukul says 'Back to the Laptop'
...----------------...
"Maaf yah sudah melibatkan kamu dan juga aku mau bilang terima kasih banyak" El tersenyum kearah layar handphonenya yang sedang tersambung dalam panggilan Video dengan pria yang bisa dibilang sudah menyelamatkan karirnya di dunia entertein ini.
Ternyata rumor itu benar, Pria itu sangat fasih berbahasa Indonesia. Padahal El sudah mempersiapkan diri untuk bicara menggunakan bahasa Inggris, dan sedikit membaca sapaan atau pembicaraan ringan dalam bahasa Thailand.
"Aku senang kalau bisa membantu. Fighting!!!" Pria dalam layar itu mengepalkan tangan diudara.
Senyum El semakin lebar dia kemudian melakukan Thai greetings sambil mengangguk mengiyakan.
"Kapan-kapan kita colab yah? Inisiatif aja nggak perlu libatin pihak manapun"
El bisa menangkap maksud ucapan pria itu. Dan dia mengerti. Karenanya tidak ada yang bisa dia katakan selain "Ok" dengan nada yang meyakinkan.
"Aku siap bantu apapun, terserah mau jadi apa aja. fiktif atau fakta, Main cast atau support cast buat kamu, aku siap."
El tertegun.
...----------------...
El menatap bingung kearah bucket bunga lily yang diletakkan diatas pusara opa dan omanya, bunga itu masih terlihat segar seperti baru saja diletakkan. Keadaan di pemakaman sore ini sepi, karena sudah hampir sebulan, para pemburu berita yang selalu siaga di pemakaman ini tidak lagi terlihat.
Gadis itu mengedarkan pandangan keseluruh penjuru pemakaman dan pandangannya terhenti pada tatapan pria yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Pria yang entah sejak kapan alarm tanda bahaya yang selalu aktif saat berada dalam jarak dekat dengan pria itu tidak lagi berbunyi kencang sampai membuat telinganya berdenging, membuat jantungnya berdebar sampai terasa nyeri atau kakinya yang tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh.
__ADS_1
Rasa takut itu memang tidak sepenuhnya hilang, dia hanya berkurang banyak.
"Sudah saya duga, itu pasti kamu" Pria itu bersuara, membuat kening gadis ini berkerut.
"Bunga Lily dimakam Lana, itu dari kamu kan?" lanjutnya menjelaskan.
El tidak bisa mengeluarkan suara untuk menjawab, dia ragu pada jawaban yang akan keluar dari mulutnya nanti bisa membuat pria itu terluka atau mungkin tersinggung. Walau dia tidak punya maksud begitu sekalipun.
"Bunga lily adalah bunga favorite Lana setelah mawar. Kesukaannya pada bunga itu tidak banyak yang tahu"
El menggigit bibir dalamnya, faktanya dia juga tidak tahu akan hal itu sebelum mendengarnya dari pria ini.
"Saya juga lupa dengan hal itu" En tersenyum miris menatap buket bunga lily diatas pusara dua makam yang punya arti penting untuk gadis itu, sama halnya dengan arti Lana untuknya.
Pria ini menahan mulutnya untuk memberitahu gadis itu dari mana dia bisa tahu bahwa El yang sudah meletakkan bunga lily diatas makam Lana beberapa saat yang lalu, saat dia berkunjung kesana waktu itu.
Gadis itu meninggalkan jejak di makam Lana, bukti yang langsung bisa di ketahui saat pria ini menggendongnya yang pingsan ke kamar Lana.
"Anda...."
Kayden melangkah maju secara perlahan, dia siap berhenti jika gadis itu mengambil langkah mundur.
Tapi di langkah ke enam ini, gadis itu tidak juga bereaksi seperti waktu di lokasi syuting atau di ruangan VVIP rumah sakit. Pria ini memutuskan untuk terus melangkah dengan pandangan yang menatap lurus ke mata cokelat gadis itu, mata yang agak sipit dibagian ujungnya.
Dan untuk kali ini El tidak membuang muka atau menghindari tatapannya. Gadis itu membalas tatapannya seperti di awal-awal pertemuan mereka. Apa ini artinya dia sudah tidak lagi takut padanya? Apa trauma gadis itu padanya sudah menghilang?
En mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, saat dia sudah berdiri dalam jarak dua langkah didepan gadis itu. "kau meninggalkan jejak ini di makam Lana"
Pandangan El turun ke tangan En, telapak tangan yang mengepal perlahan terbuka dan bandul Kalung itu berada disana.
Gadis itu refleks mengecek bagian lehernya yang masih setia tertutup dengan turtleneck, dia tidak bisa menyentuh keberadaan liontin disana, hanya tersisa kalung yang melingkar di lehernya, Bagaimana bisa dia bahkan tidak menyadari hal itu?
Bandul kalung bertuliskan nama panggilannya diapit dengan dua bunga lily kecil berada di telapak tangan pria itu.
El mendongak, menatap pria itu yang juga sedang menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Saat tangan El terulur untuk mengambil bandul itu, samar-samar dari jauh terdengar suara orang yang bercakap-cakap dengan langkah yang terdengar bukan hanya milik satu atau dua orang.
El panik, kakinya melangkah mundur saat matanya bisa menangkap beberapa wartawan menuju kearah mereka.
En membalikkan badannya, melihat apa yang juga dilihat gadis itu. badannya kembali ke posisi awal dan mendapati gadis itu yang sudah menjauh.
Kayden seperti tersihir, dia melangkah dengan langkah cepat menyusul El dengan tangan yang kembali menggenggam Liontin dengan inisial nama gadis itu.
...----------------...
__ADS_1
Thankyou, Next