EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Terekam dalam ingatan


__ADS_3

Enjoy💛


...----------------...


El membuka mata dan langsung meringis saat rasa perih ditubuhnya berhasil mengirim sinyal ke otak. Alasannya tadi menciptakan jarak dengan pria itu di karenakan juga hal ini.


El memutar kepala kearah kanan tempat pria itu duduk, dia mengernyit binggung karena tidak mendapati pria itu disana.


Gadis itu memutuskan untuk berdiri dan mencari dimana keberadaan pria itu.


Tuhan sangat baik pada mereka berdua, cuaca malam ini begitu cerah dengan cahaya bulan yang terang.


El mengabaikan rasa sakit dari bagian kaki yang sepertinya sudah terluka karena sejak tadi dia berjalan tanpa menggunakan alas. Sendal andalannya hilang entah kemana, mungkin saja sedang bersama sling **bag**nya.


Setelah beberapa menit berjalan mencari, El akhirnya bisa menemukannya. Gadis itu bernafas lega kemudian memutuskan berjalan mendekati pria itu yang sedang termenung menatap satu titik didepannya.


...----------------...


Sosok itu tersenyum manis padanya, senyum yang selalu menjadi favorit dan akan terus menjadi kesukaannya. Sosok yang tidak berubah dengan yang tersimpan dalam ingatan.


"Sayang, kamu mau kemana?" En bertanya pada sosok itu yang masih tersenyum sambil menatapnya.


"Lana" Dia mengumamkan nama itu "Jangan pergi" mohonnya kemudian. Dia sangat merindukan gadis itu lebih dari apapun.


Seperti terhipnotis, kaki En terus melangkah dengan titik pandang pada sosok yang terus menerus menjauh dia tidak lagi peduli dengan apa yang ada di sekitarnya, fokusnya hanya satu, hanya pada sosok itu. Lananya, kekasihnya.


Sementara itu, El mulai mendapati keganjilan disini, pria itu tidak menyadari kehadirannya. Pria itu juga tidak mengindahkan panggilannya. Pandangan itu hanya fokus pada satu titik yang entah apa.


Gadis itu mempertajam tatapannya, hasilnya tetap saja nihil. tidak ada apapun selain pepohonan dan kegelapan.


"LANA!!!!"


El refleks menutup mulutnya dengan tangan, menatap pria yang baru saja berteriak dengan nada frustasi dan raut sarat kesedihan. Dadanya terasa sesak melihat pria itu sekarang, hatinya seperti ikut teriris melihat keputusasaan pria didepannya.


"Kembali please..... balik sama aku, kita pulang" pria itu mengulurkan tangan dan kembali melangkah maju.


El menatap pria itu, kemudian menatap titik pandangan pria itu yang tidak ada apapun disana, Gadis itu kemudian menyadari sesuatu, sepuluh langkah didepan pria itu ada jurang yang kemungkinan jauh lebih dalam dari tempat mereka berdiri.

__ADS_1


Tanpa menunggu sampai hitungan ketiga El segera berlari menuju pria itu, melingkarkan tangan, memeluk En dari belakang, sama sekali lupa dengan luka di kaki, tangan dan juga hatinya.


"Saya mohon berhenti" El berucap mencoba menahan isak. "Jangan kesana, anda harus tetap disini" lanjutnya dengan air mata.


...----------------...


Ed mati-matian menahan amarah yang langsung mengalir dalam setiap pembuluh darahnya, dia mengepalkan tangan kuat-kuat sampai buku tangannya memutih. Pria ini lebih marah pada dirinya sendiri karena tidak tahu peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa Eleasha.


Membayangkan El harus melewati semua itu sendiri, membuatnya semakin sakit hati dan merasa menjadi pencundang sejati.


Gadis itu bahkan masih menyempatkan diri untuk menghadiri Talkshow setelah berada di persimpangan antara hidup mati.


"Kenapa kalian nggak kabarin gue saat itu, Na?" Tanya Ed dengan raut wajah dan juga nada yang penuh kekecewaan.


"Waktu itu kita nggak punya pilihan selain diam. Kamu paling tahu posisi El dimana, kita nggak bisa milih selain menghadapinya sendiri"


"Kalau saat itu El sampai kenapa-napa gimana?"


Alena membalas tatapan Ed "Tapi untungnya nggak kan? Memang semua jadi nggak sama kayak dulu" sang manajer memilih untuk menghadap ke arah lain, dia tidak sanggup menatap Ed lebih lama.


"El menjadi gampang panik setelah kejadian itu, dia nggak mau melihat lehernya sendiri karena memar cekikan itu begitu mengerikan sebelum menghilang"


"Satu hal terlambat gue sadari, dan gue menyesal karena itu." Alena memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya "El takut bertemu dengan pak presdir, apalagi dengan jarak yang dekat dia bilang dia tidak bisa bernafas"


Ed menutup mata, memukul sandaran sofa yang dia duduki. Fakta kalau saat ini ada kemungkinan Eleasha sedang bersama Kayden membuatnya semakin merasa bersalah, itu artinya sama saja membiarkan El dalam bahaya bukan?


Pintu ruangan itu menjeblak terbuka sosok tinggi dengan kacamata itu masuk, dia menatap dua orang itu binggung karena dari mata keduanya terlihat kesedihan yang begitu kentara.


"Apa mungkin gue masuknya entar aja?" Tanya pria itu merasa tidak enak.


Alena menggeleng kemudian memasang senyum setelah menghapus jejak air di ujung matanya "Nggak pembicaraan kami juga sudah selesai, lagipula yang terpenting sekarang adalah menemukan dimana El berada"


...----------------...


El menatap khawatir pada pada pria yang


Sekarang sedang duduk di tanah dengan tangan memeluk lutut. Pria itu menunduk begitu dalam semakin membuat rasa bersalah gadis itu juga semakin dalam.

__ADS_1


El sempat tidak percaya pria akan bisa terpuruk sampai seperti ini, karena di matanya pria akan tetap bisa pergi dan melanjutkan hidup meski kenangan sudah tercipta selama puluhan tahun sekalipun, dia adalah saksi hidup dari hal itu. Dia adalah bukti bahwa pria bisa langsung lupa dengan kenangan maupun perasaan mereka.


El tadinya sempat meragukan cinta sejati itu ada untuk setiap orang. Lahir tanpa pernah mengenal sosok ayah, ditinggalkan sang mantan tunangan setelah bersama selama sepuluh tahun, cukup membuatnya untuk tidak percaya cinta sejati.


Baginya mungkin ada beberapa yang bisa bertemu dengan seseorang yang mencintai sampai sedalam itu, dia bisa melihat hal itu pada oma dan opanya tapi untuk dunia sekarang? Dia begitu sangsi, sebelum melihat pria ini.


El mensejajarkan tubuhnya dengan En, dia berlutut didepan pria itu, tangannya terulur untuk menyentuh tangan yang terkepal diatas lutut. Berharap sentuhannya bisa memberi pria itu kekuatan.


Pria itu menepis sentuhannya, kepala itu mendongak. Dan untuk pertama kali bagi El bisa melihat wajah itu dari jarak yang sedekat ini dan dengan hati yang setenang tapi juga seberantakan ini. Sungguh terlalu sulit mendekripsikannya.


...----------------...


Mata itu jelas monolid tapi entah kenapa terlihat besar dengan bulu mata yang panjang, hidung mancung yang terlihat sempurna diwajah tampan itu dan bibir yang membuat siapa saja bisa menelan ludah saat melihatnya.


El menelan ludah tanpa sadar, gadis itu dengan gerakkan cepat segera berdiri sama sekali tidak mau ketahuan telah mengangumi wajah itu walau hanya dalam durasi yang sangat singkat.


El menepuk-nepuk celananya, berusaha menyingkirkan dedaunan kering dan juga debu yang menempel karena tadi berlutut.


Hal itu menyebabkan debu berterbangan di udara, dan ada yang masuk kedalam mata En membuat pria itu langsung mengeluh sambil memegang matanya.


Melihat hal itu El kembali berjongkok, matanya meneliti wajah Kayden, El mulai panik saat pria itu mulai meringis bahkan mengadu dengan partikel asing yang masuk kedalam mata.


Tangan El maju mundur di udara sama seperti hatinya yang juga ragu dengan hal yang ingin dia lakukan, yaitu ingin meniup mata monolid yang langkah itu supaya bisa terbebas dari debu atau semacamnya.


Setelah menghabiskan waktu selama bermenit-menit dengan pertentangan batin, akhirnya El memilih untuk masa bodoh dengan reaksi dari En nanti, hal terpenting saat ini adalah membebaskan mata itu dari rasa tidak nyaman dan sakit.


Tangan El terulur untuk mengangkat rambut pria itu yang menutupi dahi, pria itu terlihat kaget dan langsung menepis tapi El yang sudah menyiapkan hati dan pikiran, lebih cepat untuk mengulurkan tangannya yang lain dan memegang wajah itu supaya tetap diam.


"Tolong tenang, ini nggak akan lama. Saya Jamin" ucap El kemudian mulai bergerak maju, mendekat kearah pria itu.


Kayden mengepalkan tangannya kuat, seluruh tubuhnya entah kenapa menjadi begitu patuh. Dia sudah selayaknya patung saat gadis itu perlahan mendekat. Tangan kanan El mengangkat rambutnya yang menutupi dahi, sedangkan tangan kirinya berada didekat mata sebelah kanan, sedikit membuka kelopak mata En sebelum menghembuskan nafas lembut di mata itu.


Dan seperti seorang pecandu, entah kenapa dia menikmatinya. Menikmati nafas gadis itu yang menyentuh matanya, menikmati wajah kecil itu yang sedang fokus pada matanya --walau tidak terlalu terlihat jelas karena hanya diterangi cahaya bulan--, menikmati moment yang terekam ini dalam ingatannya.


Mata El bergerak mengamati pria itu yang sekarang sedang menatapnya, dia baru menyadarinya sekarang kalau posisi mereka saat ini sangat bahkan teramat dekat.


dia berlutut diantara kaki pria itu, tangannya berada di wajah pria itu dan tangan pria itu entah sejak kapan berada telah berada di pinggangnya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2