
Kayden menarik selimut menutupi tubuh gadis yang terbaring di ranjang milik wanitanya. Pria itu mengedarkan pandangan menjelajahi ruangan yang menjadi saksi Lana tumbuh. Semuanya masih sama seperti sebelum Lana pergi untuk selamanya, dia ingat pernah beberapa kali masuk kesini saat mengambil barang yang dilupakan sang pemilik. Semua dalam ruangan ini juga sangat bersih seperti sengaja tidak ingin membiarkan ada setitik debu disini.
Pandangan pria ini kembali tertuju pada gadis itu, wajah pucat, rambut kusut, terlihat jauh lebih kurus daripada sebelumnya, kantung mata yang kelihatan jelas dan mata yang memerah juga bengkak meski dalam keadaan tertutup sekalipun.
Dalam kondisi seperti ini pun dia masih terlihat cantik, walau tentu saja Lana jauh-jauh-jauh lebih cantik. Mata En mengerjab melihat turtleneck yang dipakai gadis itu di cuaca panas negeri ini. Meski tanpa lengan sekalipun, tetap saja hal itu membuat gerah bagi yang melihat.
En mendekat, menarik kain yang menutupi bagian leher gadis itu, pikirannya kembali terlintas kejadian beberapa waktu yang lalu saat tangannya mencengkram kuat leher itu, saat dia hampir saja menjadi seorang kriminal yang amat sangat di kecam Lana dengan dalih memberi pembalasan untuk Lana-nya.
"it's ok kalo memang lo pengen bales rasa kehilangan lo, tapi bukan jadi seorang kriminal. Jangan jadiin Lana sebagai alasan atas pembenaran yang sebenarnya salah"
ucapan sepupunya kembali tergiang. Jangankan Jerome, jika masih hidup Lana juga pasti akan mengatakan hal yang sama.
"Membenci seseorang tidak harus menjadikanmu seorang kriminal"
En mengingatnya. Itu adalah kata-kata yang Lana ucapkan saat sekilas berita yang memberitakan sebuah pembunuhan dengan modus balas dendam mucul saat mereka sedang menonton talkshow di tv.
pria itu tersenyum, menatap bagian leher gadis itu yang sudah tidak lagi tertutup kain. Pada kenyataannya hal itu sangatlah berat Lana, dia pernah hampir membunuh gadis ini dengan kedua tangannya, dia juga masih mencoba menghancurkan karir yang gadis ini bangun selama belasan tahun dan masih belum merasa cukup, kalau gadis ini belum kehilangan sebanyak yang dia rasakan.
Tangan En refleks menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir dari mata yang tertutup. Kening gadis itu berkerut, matanya terpejam kuat, membuat bagian ekor mata gadis itu juga ikut berkerut.
En menyentuh kerutan di pangkal hidung, mengelusnya pelan beberapa kali sampai kerutan itu menghilang, dan raut wajah gadis itu berubah normal.
Kini berganti kening Pria ini yang berkerut, En bisa mendengar sesuatu, dia mendekat mencoba mencari asal suara dengan mempersempit jaraknya, pria ini mendengus saat menyadari suara itu ada dengkuran halus, El rupanya lanjut tidur mungkin hal itu yang menyebabkan dia belum juga sadar sampai saat ini. En menatap wajah gadis itu yang berada dalam jarak yang begitu dekat dengan wajahnya sekarang.
Dengan jarak ini, En bisa melihat sebuah tahi lalat kecil di dekat bibir gadis itu, jidat lebar gadis itu yang selama ini tertutup poni, pori-pori halus di pipi gadis itu dan juga keseluruhan wajah polos tanpa make up seorang Eleasha Halim yang adalah aktris dengan nama besar di negeri ini.
En tidak mau munafik dan memungkiri kecantikkan natural itu, tidak heran banyak yang menggilai gadis ini. Tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya berdebar atau hal apapun yang bisa dirasakan pria normal saat melihat hal sebanyak ini. Tidak mungkin hatinya berdebar untuk wanita yang sudah membunuh wanitanya bukan? hatinya tidak semurahan itu.
En berniat kembali ke lantai bawah dan menemui mama Lana, banyak hal yang ingin dia dengar dari wanita yang sampai saat ini masih terikat dengannya meski takdir sudah memutuskan ikatan yang belum sepenuhnya terikat kuat antara dia dan keluarga ini, tapi En sama sekali tidak berniat memutuskan ikatan yang sudah ada antara dia dan keluarga Lana.
Walaupun satu-satunya penghubung itu sudah tidak lagi berada diantara mereka, dia tidak akan pernah melepaskan atau mencoba memutuskannya.
Tubuh pria itu oleng, dia kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh diatas tubuh El. Pria itu tidak tahu bagaimana cara takdir bekerja, bagaimana cara takdir mempermainkan kehidupan seseorang atau bagaimana dia membuat orang saling terikat. Pria ini sama sekali tidak tahu.
En menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangan, agar gadis kurus itu tidak gepeng atau semakin kurus karena tertindih olehnya. Pria itu membuka mata perlahan dan langsung menjauh didetik berikutnya. En berdiri dengan cepat walau masih agak goyah, dia memegang bibirnya yang terasa hangat karena tadi tanpa sengaja menyentuh bibir gadis itu.
__ADS_1
Pria itu mengigit bibirnya kuat sampai terasa nyeri "brengsekkkk!!!" ucapnya kesal, menatap tubuh yang terbaring didepannya yang sama sekali tidak bergeming, malah suara dengkuran itu terdengar semakin keras. Tenyata dia hanya berdebar sendiri, secara sepihak saja.
En menatap sekeliling ruangan kamar ini, tiba-tiba terserang perasaan bersalah karena 'kecelakaan' itu terjadi di tempat yang tidak seharusnya. Semua karena Eleasha Halim.
.........
Leo memperhatikan pria tinggi yang meskipun hanya memakai kemeja dengan dua kancing atas terbuka dan lengan yang digulung asal sampai siku masih saja terlihat tampan dari sisi manapun.
Pria yang rambutnya berantakan saja tapi masih tetap terlihat seperti sebuah mahakarya.
Pria itu terlihat kesal, dan anehnya terus menerus memegang bibirnya. Sesekali tampak menyeka bibir dengan kasar. Mulutnya terus menggerutu sambil menuruni tangga. En terlihat berhenti didapan fotonya dan Lana, tersenyum hangat kearah Lana sambil menyentuh gambar yang tidak bergerak itu.
Leo menghembuskan nafas, pria itu ternyata masih menggilai kakaknya sama seperti dulu.
...----------------...
Ed meletakkan tas yang sering dia pakai saat dinas di rumah sakit, dia lupa kapan tepatnya dia pulang kerumah besar ini. Mungkin sudah hampir sebulan dia tidur di kamar khusus dokter yang disediakan pihak rumah sakit.
Banyak operasi yang harus dia tangani, ditambah lagi masalah El yang tidak bisa dia sampingkan, dia benar- benar tidak punya waktu untuk pulang kerumah. Dokter tampan itu mengedarkan pandangan, mencari sosok lain yang juga menempati rumah ini bersama dirinya.
Elisa Jemima Pratanto yang satu setengah tahun yang lalu dia sematkan dengan bangga marga Santoso di belakang nama gadis itu.
Elisa yang cantik khas wanita asia. Wajah orientalnya mampu membuat kaum pria pangling. Elisa bisa membuat setiap orang menatapnya dua kali saat berpapasan. Elisanya yang hampir sekilas mirip dengan Eleasha(nya).
"Mau kemana, Lisa?" Ed bertanya pada istrinya saat gadis itu sudah berdiri tepat didepannya.
Elisa tersenyum sinis, membalas tatapan pria yang sampai detik ini pun masih membuatnya berdebar dengan tidak wajar. Pria yang sudah menyia-nyiakan cintanya, dan memilih gadis teman masa kecilnya.
"Aku kira kamu nggak akan pernah perduli dengan hal apapun yang berhubungan tentang aku"
Ed menyipitkan matanya, mulai mencium ada yang tidak beres dari ucapan gadis itu. Apa yang diucapkan Elisa jelas bukan pertanyaan, itu sebuah pernyataan.
"Apa maksud kamu? terus kenapa dengan koper ini?" Ed menunjuk koper kuning kesayangan Elisa.
"Aku mau pulang kerumah papa,"
__ADS_1
"Apa? tapi kenapa Lisa?"
Elisa mendengus, menatap pria ini dengan tatapan tidak percaya. "kamu tanya kenapa? kamu yang seharusnya punya jawaban itu Eduard. Karena kamu penyebabnya!" Elisa mulai tidak bisa menahan emosinya sekarang. bisa-bisanya pria ini pura-pura tidak tahu.
"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan El" Ed sangat berharap tebakkannya salah.
"Kalau kamu masih menganggap pernikahan ini penting, kalau kamu masih menganggap aku ini penting buat kamu, kamu tahu cari aku dimana." ucap Elisa dengan nada yang bergetar. Dia menarik kopernya menjauh dari laki-laki itu, berjalan keluar dari rumah ini.
Eduard langsung berlari mengejar gadis itu, memegang lengan istrinya erat.
"Please.... jangan begini Lisa, kita bisa bicara baik-baik. Kita nggak harus saling pergi seperti ini"
Elisa menengadah, air matanya sudah di pelupuk mata. Dia juga tidak ingin pergi, dia masih ingin disamping pria ini apapun yang terjadi. Tapi saat ini dia tidak punya pilihan selain pergi, untuk mengetahui seberapa penting arti dirinya bagi pria ini.
"Kamu yang duluan, kamu yang ninggalin aku duluan" Elisa menarik lengannya dari cengkraman pria itu yang terasa longgar saat dia selesai mengucapkan kata-kata tadi.
"Kenapa kamu nggak kasih aku kesempatan?"
"Justru aku pergi supaya kamu punya kesempatan untuk mikirin semuanya. Aku kasih kamu kesempatan untuk pernikahan kita"
Elisa menahan keinginannya untuk berbalik menatap pria itu, dia tidak ingin tekadnya akan luluh hanya dengan melihat bola mata favoritnya itu. Pria itu masih menjadi kelemahan terbesarnya.
"Aku masih menunggu kamu untuk prioritaskan aku Ed. Aku akan tunggu kamu, karena itu tolong kasih aku jawaban yang paling terbaik untuk kita''
Ed menatap punggung istrinya yang berjalan menjauh. Pria ini menutup mata, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia mencintai Elisa dengan segenap hatinya, tapi dia juga menyayangi Eleasha dengan hati yang sama.
Tentu keduanya adalah hal yang berbeda, meskipun terlihat mirip, kenyataannya mereka adalah dua karakter yang berbeda dan juga bertolak belakang.
Lagipula dia tidak bisa menjauhi El disaat-saat seperti ini. Sekarang Eleasha sangat membutuhkannya, kalau bukan dia siapa lagi yang akan berada di sisi gadis itu sekarang?
Eduard mengigit bibirnya menjadi begitu dilema.
...----------------...
Dukung Author dengan komen dan likenya gaisss....ππ
__ADS_1