
"Bagaimana saya bisa percaya pada orang yang dulu hampir membunuh El dengan cara mencekiknya dan membencinya sepenuh hati ini telah berubah?"
Kayden menelan ludah dengan sudah payah, kilasan kejadian itu muncul lagi diingatannya membuat dia selalu mengutuk dirinya sendiri karena hal itu.
Tapi saat ini dia ingin menebus semua itu bukan karena rasa bersalah atau sebuah tanggung jawab, tapi karena dia tidak bisa hidup jika tidak ada Eleasha.
Pria ini sudah pernah mencobanya, tapi berakhir pada dirinya yang akan selalu membuat alibi untuk bisa bertemu atau sekedar melihat gadis itu dari jauh.
"Saya seorang pengusaha, saya sama sekali tidak akan mau mengambil resiko jika hal itu tidak akan mungkin. Tapi untuk dia meski tidak mungkin saya tetap jatuh cinta, lalu mau mengambil resiko besar dengan memaafkan masa lalu kami berdua dan meskipun saya tahu akan terluka saya tidak akan berhenti untuk jatuh cinta....."
Alena menatap pria di depannya, penampilan seorang Kayden Abraham saat ini jelas sudah mewakilkan perasaan pria itu. Pak direktur yang biasanya tampil sempurna dengan rambut tertata rapih dan gel di setiap kesempatan kali ini tampak berantakan, meski tetap saja tampan.
Gadis mungil itu mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam passport "sebaiknya anda menyampaikan kata-kata itu langsung kepada El, bukan pada saya"
Kayden menatap passport yang disodorkan padanya kemudian kembali menatap Alena.
"El sedang dalam perjalanan ke bandara,"
Pria itu perlahan tersenyum dan segera mengambil passport di tangan Alena "terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan" ucapnya kemudian segera berlari keluar apartemen.
"Tolong buat dia bahagia pak, karena dia berhak untuk itu"
...****************...
"Alena lo gila yah? Gimana bisa lo kasih passport gue ke dia?" El memijit kepalanya yang berdenyut saat mendengar informasi yang baru saja dia dengar dari sang manajer.
"Dia punya sesuatu yang ingin dia katakan sama kamu..."
"Tapi gue kan....."
"Anggap aja ini permohonan aku ke kamu, El. Sekali aja tolong kasih pak Kayden kesempatan bicara sama kamu, pokoknya setelah ini aku nggak akan ikut campur lagi"
El melepas headseat di telinganya, membuangnya asal ke jok mobil disampingnya. Gadis itu mencekram setir mobilnya, tiba-tiba langsung di kuasai kebimbangan hebat.
__ADS_1
Percuma tadi dia melarikan diri dari Eduard yang dia rasa mulai menunjukan gerak-gerik mencurigakan dengan berpura-pura mengulur waktu supaya dia terlambat ke bandara kalau pada akhirnya Alena juga berkhianat dengan membuka jalan untuk Kayden Abraham.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kayden berjalan cepat kearah terminal penerbangan luar negeri, berlari kesana kemari berusaha untuk menemukan sosok Eleasha.
Handphonnya tiba-tiba berbunyi dan langsung dia angkat tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Mending langsung ke ruang cctvnya deh, kalo lo carinya kayak gitu susah buat ketemunya"
Suara Jerome terdengar, memberikan solusi.
"Kebetulan kepala keamanannya masih kenalan gue, udah gue udah hubungin dia barusan. Lo tinggal kesana aja buat cari Eleasha"
Hening...
"Sama-sama lo nggak usah berterima kasih"
Kayden merotasikan mata "tolong gue nggak ngomong apa-apa yah"
"Najissss!!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Eleasha menepihkan mobilnya di daerah yang tidak dia kenal. Sudah sejak tadi dia membawa mobilnya menelusuri jalan tanpa tujuan sama sekali. Langit sudah berganti malam, dan dia sudah lumayan lelah untuk melanjutkan perjalanan yang terasa tidak ada akhirnya ini.
Gadis ini meletakan kepalanya diatas setir mobil, kemana lagi dia harus pergi? selain tidak memiliki tujuan, dia juga tidak membawa apapun selain dompet karena semua barang bawaannya sebenarnya akan diantar Alena ke bandara saat dia mampir untuk pamit ke makam mama, kakek dan neneknya.
Eleasha melihat ke sekeliling, hanya ada pepohonan disekitarnya dan tidak terlihat satupun penerangan yang menunjukkan sebuah pemukiman. Entah ini sudah di kilometer yang keberapa, dan sudah di daerah mana gadis ini sama sekali tidak tahu.
Gadis itu mengecek handphone untuk melihat posisinya saat ini lewat GPS, tapi notifikasi pesan suara yang masuk malah menarik perhatiannya, sambil menelan ludah yang terasa seperti batu dan dengan tangan yang bergetar menyentuh ikon yang tersedia untuk membuka pesan suara tersebut.
...****************...
__ADS_1
Kayden menginjak rem kuat, membuat ban mobilnya berdecit hebat memekakan telinga. Pria itu kemudian memukul setir dan semua yang bisa tangannya jangkau.
Dia baru berhenti melakukannya saat benar-benar kelelahan dan tanpa sadar sudah meneteskan air mata, ini adalah kali kedua gadis itu membuatnya menangis, dan ini yang paling perih dibandingkan sebelumnya.
Yang pertama pada malam itu saat Kayden dengan brengseknya merebut sesuatu yang berharga dari Eleasha dan malam ini, saat gadis itu pergi bersama dengan sebagian dirinya yang hidup dalam tubuh Eleasha.
"Kenapa? Kenapa kamu lakuin ini?" Kayden menutup wajahnya dengan punggung tangan, bahunya mulai bergetar, air matanya jatuh semakin banyak dan tolong jangan ditanya seberapa menyakitkan hal ini untuknya.
...****************...
"Bukannya kita berdua sudah cukup banyak menderita? Bisakah kita berhenti berbohong pada diri kita sendiri? Untuk apa kita menyakiti diri sendiri? Nggak ada yang akan terluka karena kita Ly, tolong jangan lari dari aku, "
El mencengkram kuat handphone ditangannya saat suara yang sangat dia kenali itu terdengar, gadis itu menutup mata, dadanya bergemuruh hebat hanya karena mendengar suara itu.
"Kamu pernah bilang kalau kita sudah tidak saling berhutang satu sama lain kan? Tapi kenapa kamu lari dari aku? Bisakah kita melupakan masa lalu? Aku sudah belajar kalo aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Ly."
Eleasha mengigit bibir kuat, sedikit merasa ada yang hilang saat tidak ada lagi suara yang terdengar.
"Aku nggak pengen apapun lagi dalam hidup ini, kecuali kamu"
Sekarang Eleasha sudah menangis, pernyataan itu memberi debaran dan juga luka untuk hatinya, apakah dia memang pantas diinginkan oleh pria itu? Terlepas dari masa lalu mereka berdua?
"Aku mohon jangan tinggalin aku, aku mohon sama kamu, Ly"
Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan, dia mulai terisak hebat dengan air mata yang semakin banyak membasahi pipi.
Sebuah cahaya terang dari arah belakang mobilnya membuat gadis ini refleks menatap kearah spion tengah, dan saat cahaya itu semakin mendekat dia memutar tubuh untuk melihat ke arah belakang.
Sebuah mobil terpakir tepat di belakang mobilnya, gadis ini kesulitan melihat karena matanya buram dengan air mata. Seseorang turun dari mobil itu berjalan dengan langkah cepat kearah mobilnya dan tanpa peringatan segera membuka pintu mobil yang tidak terbuka karena Eleasha dengan cepat menutup aksesnya.
"Buka pintunya, ini aku"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jujur masih binggung sama Endingnya mau di gimanain🙄
Ada ide nggak gaiss?😁