
Elisa melangkah maju masuk kedalam apartemen rahasia sang aktris, tempat rahasia yang tidak diketahui orang banyak. Dia bahkan harus mengeluarkan segala macam cara untuk bisa membuka mulut Jerome dan mendapatkan alamat ini.
Orang-orang pasti tidak akan percaya kalau seorang Eleasha Halim, salah satu aktris papan atas di Indonesia tinggal di salah satu unit apartemen kecil begini. Untuk aktris sekelas Eleasha yang sudah puluhan tahun malang melintang di industri hiburan minimal sebuah hunian di salah satu apartemen elit atau rumah mewah di kawasan perumahan sultan adalah yang sepantasnya.
Sama. Elisa juga sempat tidak percaya saat Jerome memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumah rahasia sang aktris, tapi setelah melihat dan memastikannya sendiri dia akhirnya percaya.
Bukan hanya tentang tempat rahasia ini, tapi juga pengharapannya tentang masa depan hubungan dengan Eduard dan bayi mereka.
Pengharapan itu langsung lenyap tidak bersisa sama sekali saat dia mendengar bahkan melihat secara langsung bagaimana pria yang dia cintai juga adalah ayah dari janin yang ada dalam kandungannya itu membela Eleasha mati-matian.
Haruskah dia menyalahkan rasa rindunya untuk pria itu sehingga membuatnya nekat datang kesini? Dan meski sudah mempersiapkan hati untuk hal seperti ini tetap saja dia terluka saat menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
"Elisa, kenapa lo bisa....." Kayden tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sepupu kesayanganya itu melewatinya begitu saja.
Alena yang sempat syok dengan kedatangan Elisa langsung tersadar dan segera menghampiri El yang masih memeluk punggung Eduard untuk menarik gadis itu menjauh.
Tapi tangan Eduard dengan cepat menggenggam erat tangan Eleasha, membuat mereka tidak beranjak dari posisi itu.
"Elisa ada disini Ed, kamu jangan pake emosi untuk keadaan ini" bisik Alena pelan, saat menyaksikan upaya Ed saat dia menarik tubuh El untuk menjauh.
Tapi ucapan Alena tidak digubris sama sekali.
"Lepasin gue Ed, please"
Ed langsung bersikap kooperatif saat Eleasha bersuara. Bukan karena dia begitu dengar-dengaran hanya saja dia pikir posisi El yang memeluknya dari belakang pasti bukanlah posisi yang nyaman.
Pria itu memutuskan berbalik saat El sudah melepaskan diri darinya, tapi mata Eduard dengan tidak tahu diri langsung tertuju pada mata terluka gadis yang berdiri beberapa meter dari tempatnya.
Gadis itu berjalan mendekat, membuat seluruh organ tubuhnya waspada. Aroma parfume Elisa bahkan langsung membelai manja indera penciumannya. Eduard mati-matian bertahan untuk tidak maju seinchi pun dan meraih tubuh Elisa masuk kedapan pelukannya.
"Aku kesini untuk memastikan sendiri, kalau kisah kita memang sudah nggak punya masa depan, apalagi jalan untuk kembali." gadis itu berucap sambil tersenyum, yang anehnya tetap saja terlihat luka dalam senyuman itu.
"Pada akhirnya kamu tetap memilih dia" Elisa menujuk Eleasha dengan dagu, masih memasang senyuman palsu demi menjaga harga dirinya didepan mereka semua.
"Kita memang benar-benar selesai sekarang." Gadis itu melepas cincin pernikahan yang masih dia pakai meski sudah resmi bercerai dengan pria itu.
Menjatuhkan benda yang dulu pernah disematkan Eduard tepat pada hari ini, beberapa tahun yang lalu itu kelantai.
Melihat hal itu Kayden segera menghampiri Elisa, merangkul sepupunya itu yang dia tahu pasti sedang tidak baik-baik saja.
Elisa kini berpaling dari Eduard, dan menatap Eleasha yang juga sedang menatapnya. Aneh tatapan mereka memiliki kesamaan, yaitu tatapan penuh luka yang tidak bisa ditutupi dengan senyuman sekalipun.
"Kalo kamu begitu menginginkan bajingan ini, selamat karena kamu bisa memilikinya sekarang. Dan tolong bahagialah tanpa perlu melibatkan orang lain untuk menderita, korban dari hubungan kotor kalian cukup saya saja"
Setelah mengatakan hal itu dengan mata basah, Elisa memutar tubuh untuk keluar dari rumah yang tidak akan pernah dia datangi lagi seumur hidup.
Eleasha yang tersadar pertama kali langsung menghampiri Ed, menyuruh pria itu untuk mengejar Elisa dan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara mereka.
"Kejar Elisa, Ed. Lo harus jelasin salah paham kalian dan juga lo harus jujur tentang perasaan lo juga"
Eduard menggeleng lemah "nggak, lebih baik begini"
"Maksud lo apa sih?" El mulai kesal dengan sikap Ed sekarang, bagaimana bisa dia masih sok baik-baik saja sedangkan tatapan rindu, cinta bercampur luka saat melihat Elisa begitu jelas?
__ADS_1
"Ed ini kesempatan terakhir lo" kali ini yang Kayden bersuara.
Eduard membalas tatapan Kayden "lo jaga Lisa, dan gue yang akan jaga El. ini baru sempurna"
Kayden menggeleng, sangat kecewa dengan keputusan Eduard. "jangan sampe lo nyesal nanti, karena gue nggak akan maafin lo untuk ini"
Air mata Ed jatuh tanpa peringatan saat pintu itu tertutup dan sosok Kayden menghilang dibaliknya, pria itu menengadah untuk mencegah air mata semakin banyak. Hatinya terluka akibat perbuatannya sendiri.
"Lo bego, Ed"
Suara El terdengar setelah keheningan sesaat yang sempat mendominasi.
Eduard menatap El yang sedang berjalan tertatih dibantu Alena. Gadis itu kemudian mengulurkan tangan yang memegang cincin pernikahan milik Elisa. Entah sejak kapan gadis itu memunggutnya.
Ed menerima cincin itu dan menggenggamnya erat "Apapun yang Lisa dan keluarganya lakuin sama lo, akan gue tebus, El"
El menghembuskan nafas "gue udah bilang kalo nggak ada yang salah. Nggak ada yang perlu lo tebus" Gadis itu kemudian dengan langkah pincang akibat luka yang dia dapatkan tadi berlalu pergi.
"Apa lo suka sama En?"
Langkah kaki El terhenti, dia kembali membalikan badan kearah Eduard menatap pria yang tumbuh besar bersamanya itu "lo yang paling tahu Ed, kalau gue sama dia nggak boleh ada cinta. Karena gue yang bertanggung jawab atas kematian calon istrinya"
El meremas tangannya sebelum melanjutkan "selamanya di mata dia, gue hanyalah seorang pembunuh. Nggak akan pernah lebih dari itu"
Ed menatap pintu kamar El yang tertutup, pandangannya kemudian turun pada cincin di tangannya "lo suka dia El, mata itu nggak bisa bohong dari gue"
...****************...
Kesalahannya karena sejak kecil tidak punya imun pada aksi merenggek seorang Elisa.
"I'ts ok, El."
Elisa membenamkan wajahnya pada dada bidang Jerome, luruh disana dengan air mata dan semua rasa sakitnya.
"Ingat El lo lagi hamil, kasihan baby nya kalo lo begini" bisik Jerome sambil mengelus lembut punggung Elisa.
"Gue...benar-benar ditinggalin sekarang"
Jerome menambah erat dekapannya, dia memang tidak akan bisa merasakan secara detail seberapa sakit yang dirasakan Elisa, tapi dia setidaknya bisa memahami seberapa besar luka itu.
Kayden muncul beberapa saat kemudian dan langsung berhenti tepat didekat mereka, dia menghindari tatapan penuh tanya dari Jerome dengan menghadap ke samping sambil sesekali melirik Elisa
"Kenapa lo lepasin dia Elisa? Lo bisa tetap ikat dia dengan bayi didalam perut lo. Karena itu bayi si brengsek itu juga"
Jerome melotot kearah Kayden, bisa-bisanya dia bilang begitu disaat seperti ini. Dasar manusia nggak punya hati.
"Kalo dia tetap di samping gue karena alasan bayi ini, itu bukan cinta En. itu sebuah rasa tanggung jawab." Elisa terisak pelan "gue nggak mau ikat dia dengan alasan bayi ini, gue nggak mau hidup dengan laki-laki yang nggak cinta gue. Gue nggak bisa dengan tenang meluk dia sedangkan gue tahu, dia nggak cinta gue"
Jerome memaki Kayden tanpa suara, yang hanya di balas dengan suara deheman dari pria itu.
"Masih ada gue, sama En. Lo nggak sendiri El, nggak usah takut kita berdua yang akan jaga lo sebagai ganti Eduard"
"Si sialan" ralat Kayden.
__ADS_1
...****************...
"El tahu hal itu nggak mungkin, tapi dia tetap kasih hatinya buat En"
Alena menatap Eduard yang sejak tadi hanya fokus menatap cincin di tangannya. Dan sejak tadi pula Ed bergumam seakan untuk dirinya sendiri.
Gadis munggil ini tidak tahu dari mana awal kekacauan ini dimulai, apakah sejak kecelakaan itu? Ataukah sejak Eleasha resmi bertunangan dengan Marco yang hanya selang beberapa bulan kemudian Eduard menikahi gadis bernama Elisa yang baru dia kenal hanya dalam beberapa kali pertemuan.
Gadis yang punya kemiripan secara fisik dengan Eleasha. Jika ada orang yang tidak mengenal mereka mungkin akan berpendapat kalau Eleasha dan Elisa adalah anak kembar atau mungkin juga kakak beradik.
Hal itu mungkin lumrah di dunia ini, hanya saja itu menjadi sedikit janggal jika terjadi dalam satu circle kecil.
Alena tidak ingin beprasangka, hanya saja bukankah ini seperti sudah diatur oleh seseorang?
Atau mungkin inilah takdir? Tapi bukankah ini sudah begitu keterlaluan apalagi dari sisi Eleasha.
Tapi melihat keadaan Eduard saat ini, sepertinya tidak ada yang baik-baik saja sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jerome menyelimuti Elisa, mengelus rambut gadis itu sambil tersenyum lembut. Beberapa meter dari ranjang Kayden berdiri menatap mereka tanpa suara.
"Rom, menurut lo apa anak ini akan marah kalau nanti dia lahir dan memiliki status sebagai anak yatim?"
Pria berkaca mata itu menghembuskan nafas, sedikit syok dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan Elisa. Pria dengan kulit eksotis itu meraih tangan Elisa kemudian menggenggamnya erat sambil mengokohkan diri disamping ranjang "mana ada kayak gitu, justru banyak yang akan jealous sama dia karena dia punya dua uncle super tampan."
"Gue yang akan mastiin dia nggak akan kekurangan apapun, termasuk kasih sayang dari sosok papa" Kayden juga bersuara, membuat Elisa menatapnya sambil menyunggingkan senyum.
"Gue benci Eduard, tapi lucunya gue nggak bisa keluarin dia dari batok kepala gue" kata Elisa pelan.
Jerome mengeratkan genggaman tangannya "El, Terkadang kita memang membenci apa yang kita cintai, dan mencintai apa yang kita benci"
Perkataan Jerome seperti dua mata pisau yang sama tajam, tidak hanya mengenai Elisa tapi juga Kayden yang sejak tadi paling banyak diam.
...****************...
El merebahkan tubuhnya diatas ranjang, luka di kakinya berdenyut nyeri tapi yang lebih menyakitkan ada di bagian rongga dadanya.
Gadis itu bahkan sudah menangis meski tanpa suara, dia tidak sepenuhnya menyalahkan Kayden atas perlakuan pria itu tapi meski sudah berkali-kali memperingatkan diri sendiri untuk tidak terluka, tetap saja rasa sakit itu tetap menyebar di seluruh bagian hati.
Eleasha merasa semua orang telah meninggalkannya, dia terus menerus bertanya-tanya apakah ini semua adalah karma yang harus dia terima karena dulu sudah mengambil kehidupan Lana?
Tapi bukankah itu tidak sepenuhnya kesalahannya? Posisinya memang ada dibalik kemudi, tapi kalau saja saat itu tidak ada bocah bernama Armon dan rasa mengantuk parah yang dia rasakan akankah semua mimpi buruk ini tidak pernah ada? Akankah ada akhir yang bahagia untuknya juga?
...****************...
Enjoy
Saya tunggu tanggapan kalian untuk chapter kali ini di kolom komen yah?
Saya akan update next chapternya kalau jumlah likenya lewat 30? Bisa nggak yah? Harus bisa, saya maksa soalnya.
Hahahaha
__ADS_1