EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Emosi telah menghancurkan semua


__ADS_3

...****************...


Elisa menatap layar handpone yang sedang menyala, menampilkan wallpaper yang dia set sejak resmi menjadi nyonya Santoso. Fotonya bersama pria itu, salah satu hasil dari foto prewedding mereka yang diambil di Bali.


Jemari Elisa mengelus perlahan wajah Eduard dilayar, mendadak terserang rasa rindu saat melihat wajah pria itu meski hanya dalam tangkapan layar sekalipun.



Elisa semakin merindu karena kenyataannya, tanggal ini merupakan hari anniversarry pernikahan mereka. Tapi apakah masih bisa dirayakan meski sudah resmi bercerai? Sebuah pemikiran yang konyol.


"Papa kamu....apa ingat hari ini juga?"


...****************...


Eduard mencengkram kuat setir mobil, matanya menatap nanar kearah rumah besar tepat didepan mobilnya berhenti. Alam bawah sadar ternyata membawanya kesini tanpa dia sadari.


Pria itu menatap buket bunga yang juga entah kenapa dia beli, Ed tersenyum miris untuk apa dirayakan kalau status mereka sudah berpisah? Dia segera menstater mobil, membawa kendaraan itu pergi menjauh sebelum dia melakukan hal bodoh yang mungkin akan dia sesali nanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...----------------...


Sebut saja dia laki-laki brengsek sialan dan akan dia terima dengan hati lapang, karena memang itulah kenyataannya.


Pria itu sendiri bahkan kesulitan mencari tahu kemana arah hatinya. Dia membenci gadis ini tapi di sisi lain dia amat sangat menginginkan Eleasha bahkan merasa akan menjadi gila kalau tidak melihat gadis itu dalam waktu yang lama.


Kayden binggung apakah ini hanya sebuah obsesi semata karena secara tidak langsung dia terikat dengan gadis itu karena Lana, dan ikatan itu kemudian menjadi semakin kuat membelenggu karena Kayden-lah pria pertama untuk Eleasha.


...****************...


Eduard berlari kecil menghampiri Alena yang baru saja keluar dari mobil, tangannya menenteng tas berisi bahan makanan dan makanan ringan untuk mengisi kekosongan dapur Eleasha yang selalu kosong melompong seperti dapur anak kosan jika sudah tanggal tua.


Malah mungkin dapur anak kos masih bisa ditemukan beberapa bahan makanan dibandingkan dapur seorang Eleasha yang notabenenya adalah seorang aktris terkenal.


"Kenapa Na? Lo cari apa?"


Alena yang sedang sibuk melihat isi tasnya sambil berjalan pelan menjauh dari mobil yang dia parkir, mendongak menatap Eduard "Aku kayaknya lupa naro kartu akses buat buka pintu rumah El yang baru, soalnya di tas nggak ada di mobil juga."


Ed mengangguk "Ketinggalan di apart kali"


"Makanya mau mastiin, si El juga kebiasaan Handphonenya nggak aktif. Pasti lupa di chars lagi"


Sebuah hal baru dari seorang Eleasha yang mereka kenal, El sekarang mulai jarang menggunakan handphone.


"Ya udah bareng aja keatas, gue juga kebetulan bawa amunisi buat isi dapur"


Alena menatap tas di tangan Ed kemudian meringgis "Aku rencana mau belanja juga tadi, tapi nggak sempat karena mikirin kartunya. Takut banget kalo jatoh di sekitar apart dan ditemuin sama orang asing yang......." ucapan Alena terhenti, gadis itu dengan cepat berjalan mendekati mobil yang terasa familiar terpakir didekat mereka berdiri.


"Ya Tuhan.....Ed!!!"


Eduard mengikuti arah pandang Alena pria itu kemudian mengeram kesal saat tau mobil siapa yang terpakir di sana.

__ADS_1


"Brengsek!!!! Gue akan bunuh kalau sampe dia nyakitin El" Geramnya kemudian segera berlari masuk kedalam gedung apartemen, disusul Alena yang sudah mulai panik.


...****************...


El membuka mata perlahan, matanya langsung terperangkap pada kedalaman sepasang mata monolid didepannya. Gadis itu mendadak terserang rasa canggung, binggung harus berkata apa atau melakukan apa sekarang.


Kayden menghela nafas kemudian segera menghembuskannya pelan


"Ayo mulai lagi dari awal Ly, kita perbaiki semua yang terlanjur salah selama ini"


El tahu seharusnya dia menolak , tapi disisi lain entah kenapa hal yang diucapkan pria itu terdengar begitu manis sehingga membuatnya tergiur untuk mengangguk mengiyakan tanpa perlu berpikir dulu.


Senyuman di wajah Kayden merekah, tangannya terulur untuk membingkai wajah mungil gadis didepannya. Ia lalu maju untuk mengecup lembut kening gadis itu, kemudian kecupan itu turun perlahan ke mata dan berhenti di ujung bibir El. Berhenti lama disana menikmati permukaan bibirnya menempel di sudut bibir tanpa ada gerakan apapun.


Sampai suara door lock berbunyi, pintu menjeblak terbuka. Semua terjadi begitu cepat tanpa bisa dicerna.


Tubuh Kayden tiba-tiba ditarik menjauh dari El.


Eduard dengan napas tersengal dan tatapan tajam sudah berdiri didepan Kayden sambil mendorong tubuhnya ke arah tembok. Ed menekan kuat dada pria itu sampai membuatnya meringgis.


"Brengsekkk!!!"


Sebuah tinju di mendarat tepat di wajah Kayden, diiringi dengan suara jeritan El.


"Stop Ed" cegah gadis itu sambil berusaha menarik Eduard menjauh dari Kayden yang terlihat kesakitan karena dadanya kembali ditekan oleh Eduard setelah mendapat pukulan di wajah.


"Lo kesini untuk ngancam El kan? Lo nggak puas nyakitin dia dengan perkataan sekarang lo make tindakan pelecehan?!"


El masih menarik sekuat tenaga tubuh Ed, tapi percuma tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria itu. Ditambah lagi Eduard sedang marah, hal itu jelas menambah kekuatan bagi pria itu.


"Ed, dia sama sekali nggak maksa!!" bela El.


Membuat tatapan tajam Eduard tertuju pada gadis itu.


"Dia nggak salah, jangan salahin dia" El berucap lagi, dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.


Hal itu membuat tangan Eduard yang sejak tadi menekan dada Kayden terlepas. El mengambil kesempatan itu untuk langsung mendorong pelan tubuh Ed menjauh dari Kayden.


Alena muncul beberapa detik kemudian, menatap binggung dengan situasi yang terjadi. Tadinya dia memang sudah menduga dengan kehadiran bapak CEO mereka ini, tapi tetap saja saat realita tersaji didepan mata, semuanya menjadi diluar kata.


Eduard menatap El yang sedang berdiri didepannya sambil mencengkram lengannya dengan tangan gemetar. "Tapi lo nggak undang dia kesini kan? Si brengsek ini pasti masuk kesini tanpa ijin dengan menggunakan kartu akses milik Alena yang jatuh."


El lupa dengan fakta kalau mereka berdua punya kontak batin yang sangat kuat satu sama lain. Mereka berdua bahkan bisa saling paham meski tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing.


"Lo bukan manusia, En. lo binatang!!"


Kayden menyeringai. Mendadak menjadi emosi melihat dan mendengar apa yang dilakukan oleh mantan sepupu iparnya itu. Bagaimana Elisa tidak akan sakit hati dengan kelakuan Eduard yang amat sangat jelas lebih condong kesiapa, meskipun sudah diberitahu kalau dia adalah calon ayah dari bayi yang sedang di kandung Elisa.


Sampai detik ini pun Eduard sama sekali tidak tergerak untuk menemui ibu dan calon bayinya dan malah rutin berkunjung kerumah Eleasha yang bukan siapa-siapa untuknya.


Pria itu mengeraskan rahang saat melihat betapa Eleasha nyaman bergelayut di lengan Eduard sejak tadi. Bagaimana bisa hanya dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca gadis itu, mampu meruntuhkan emosi dan kekuatan seorang Eduard yang tadi terlihat ingin sekali membunuhnya.

__ADS_1


"Lo bisa bangun sekarang, bisa buka mata lo dan lihat kalau lo sama sekali bukan satu- satunya untuk gadis ini. Elisa jauh lebih baik dari wanita yang dengan gampangnya disentuh tanpa perlu buang banyak tenaga"


"Pak direktur, kali ini anda benar-benar sudah sangat keterlaluan" Alena buka suara setelah sejak tadi hanya menjadi penonton.


Eduard menatap El yang terlihat syok dengan ucapan Kayden. Ed sangat tahu arti tatapan gadis itu sekarang, Eleasha sedang terluka parah.


Pria itu mengelus pelan punggung El, mencoba memberi gadis itu dukungan tanpa kata, seperti kebiasaan mereka selama ini sejak kecil.


"Semakin lo begini, gue lebih semakin merasa bertanggung jawab untuk hidup El." kata Ed kemudian.


Kayden mengepalkan tangan, semakin emosi.


"Jadi ceritanya lo mau ngelindungin satu wanita tapi malah hancurin hati wanita yang lain?" tanya Ed berang, tanpa diduga pria itu melesak maju mendekati Kayden dan sekali lagi melayangkan tinju pada pria itu.


El menjerit lagi, meminta Eduard untuk berhenti memukul Kayden yang sama sekali tidak membalas atau setidaknya menghindar dari setiap pukulan yang dilayangkan Eduard padanya.


Gadis itu merasa putus asa karena usahanya tidak berhasil juga, Ed pasti sudah terlalu emosi sampai tidak lagi mau peduli.


Karenanya dengan cepat El maju mendekati Mereka berdua, melingkarkan tangannya untuk memeluk Eduard dari belakang dan bermohon dengan suara cukup lantang "Eduard Erasmus Santoso, please stop it"


Seperti tersadar dari sebuah hipnotis yang menguasai, pukulan Ed terhenti di udara. Pelukan erat di pingggangnya membuat dia segera tersadar dari pengaruh emosi.


Kayden tercengang. Matanya tidak lepas dari tangan yang melingkar di pinggang Eduard. Perasaannya kemudian langsung berubah menjadi amburadul saat suara gadis itu terdengar serak dari arah punggung Eduard. "Tunggu apa lagi? Anda sebaiknya segera keluar"


Ed lalu menatap Kayden dengan tajam "Lo dengar itu kan? Sekarang keluar dari sini" ulangnya dengan tegas dan tatapan tajam.


Kayden membuang muka, menekan semua emosi yang berkecamuk didalam dada. Rasa bersalah dan rasa menolak berbelas kasih saling berperang dalam batin, melukainya disaat yang sama.


Pria itu kemudian menatap tangan yang masih memeluk kuat pinggang Eduard dari belakang, sangat berharap bisa melihat wajah gadis itu yang pasti saat ini sedang menangis karena perbuatannya lagi dan lagi.


Bajingan sialan. Dia bahkan langsung menyakiti Eleasha setelah beberapa saat yang lalu mencumbu dan meminta awal yang baru untuk hubungan mereka.


"Jangan pernah menginjakkan kaki kesini lagi, gue akan awasi lo setiap saat. Dan kalo sampe lo kesini lagi gue nggak akan segan buat bunuh lo" ancam Ed penuh keseriusan dalam setiap kata.


Dengan langkah berat Kayden berjalan keluar, saat dia akan melewati Eleasha dia menyempatkan diri untuk sekedar melirik gadis yang masih memeluk Eduard dan menyembunyikan wajahnya di punggung pria itu. Hal itu lantas semakin mengusik rasa bersalah Kayden, emosinya telah mengacaukan semua yang coba dia perbaiki.


"Jangan hanya keluar dari tempat ini, tapi keluar juga dari hidup saya. Selamanya. Saya mohon sama anda"


Perkataan gadis itu menusuk hatinya sangat dalam, isakan yang lolos dari antara permohonan itu mengoyak, memberi luka mengangga yang mungkin tidak akan segera sembuh dalam waktu dekat.


Dengan berat hati Kayden kembali melangkah keluar, dia kalah bahkan sebelum memulai. Saat akan mencapai pintu kaki pria itu kembali terhenti, sepasang monolid itu melebar secara refleks dia berbalik menatap El dan Ed yang masih belum beranjak dari posisi mereka yang membelakangi pintu masuk, tatapannya kemudian kembali pada gadis yang berdiri tepat di ambang pintu, yang menatap nanar kearah punggung dua orang yang sama sekali belum mengetahui kehadirannya sejak tadi.


"El...lisa.."


...****************...


Yuk tulis di komen pesan dan kesan buat para castnya.😁


Maaf karena saya nggak bisa balas satu persatu komen yang ada. Tapi kalian harus tahu, saya senang sekali membaca komen dari kalian. Hal itu menambah semangat untuk menyelesaikan kisah ini.


Makasih semua, sampai jumpa di next chapter yah?

__ADS_1


bye.


(Bdw mau bilang makasih juga buat yang edit foto prewedding Ed dan Elisa yang saya dapat lewat pinterest.)💛


__ADS_2