EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Keputusan


__ADS_3

...****************...


"Lo ini sebenarnya maunya apa sih Kayden Abraham? Lo sadar nggak perbuatan lo itu udah buat...."


Kayden hanya mendesah menatap Jerome dengan tatapan malas "kan ada lo? Lo kan ahlinya Jerome"


"Ya... tapi nggak gini juga kali? Sampe make otoritas lo di youtube, harus banget yah lo kayak gitu?"


Kayden meresapi pertanyaan Jerome, harus banget yah kayak gitu? Kalau di pikir-pikir iya juga, kenapa dia sampe bisa berbuat sejauh itu, untuk seorang Eleasha? Tapi anggap saja ini balasan yang setimpal, karena setelah membuat Kayden pusing keliling Jakarta mencari keberadaannya, bisa-bisanya pagi ini En disuguhkan dengan adegan mesra gadis itu dalam music video yang baru dirilis.


"MVnya nggak ngerugiin siapa-siapa yah? Itu kerja keras orang tau, lo kira gampang buat MV?" Jerome masih semangat mengomeli Kayden, ya meskipun dari pihak mereka sudah ganti rugi dengan nominal yang setimpal dan sudah ada kata deal dari kedua belah pihak, tetap saja dia masih gondok maksimal dengan kelakuan En.


"Nggak ngerugiin gimana? Jelas-jelas ada adegan kissing nya, kalo di tonton sama under age gimana? Agensi kita bisa kena imbas, lagipula si El itu mulai ngelunjak, masa dia terima Job ini tanpa ada konfirmasi langsung ke Agensi?"


Jerome mencibir, kagak usah sok-sok-an bawa nama agensi. Udah kelihatan banget lo ngelakuin ini atas nama pribadi. Ucap


Jerome beraninya dalam hati doang. Lagian adengan kissing yang dimaksud En tidak sepenuhnya bisa disebut adengan kissing, ciuman gimana, scenenya langsung berganti saat wajah kedua tokoh masih 1 jengkal tangan.


"Mana bajunya terbuka banget disitu, banyak skinship juga. Si El itu benar-benar yah....."


"El?" Jerome bertanya pura-pura bego.


Kayden menatapnya sewot "Eleasha!" Serunya ketus


Jerome mengangguk sambil menahan tawa "oh kirain Elisa sepupu kita"


"Telpon manajernya, suruh kesini secepatnya" perintah Kayden penuh emosi


"Siapa? Manajernya si Alena?"


"Eleasha!!!!"


"Ok bos siap" Jerome pamit sambil mengutak-atik handphone, tersenyum puas karena berhasil menggoda Kayden sampai emosi.


Kayden menatap tajam kearah Jerome, berharap tatapannya bisa melobangi kepala pria itu, dia kemudian mengalihkan pandangan ke layar monitor komputer didepannya, ketika tidak bisa lagi melihat Jerome karena sudah menghilang dibalik pintu.


Kini tatapan tajam itu ingin sekali melobangi kepala pria yang sedang mesra-mesraan bersama Eleasha di video berdurasi 3 menit itu.


...****************...


"Di hadepin aja El, jangan takut" Alena menyenggol gadis yang sejak perjalanan menuju ke tempat ini hanya diam, banyak merenung.


El tersentak "kenapa sih, Na?"

__ADS_1


Alena menghembuskan nafas "tuh... kan kamu nggak dengar aku ngomong. Mikirin apa sih? Nggak usah takut, aku bakalan stand bye sama kamu. Pokoknya tenang aja"


El tidak merespon perkataan manajernya, dia menatap Floor Designator yang menunjukkan keterangan lantai di dalam lift ini. Dalam hati gadis ini berharap semoga lift ini berhenti bergerak dan mereka tidak sampai di lantai tujuan. Sebuah pemikiran yang ekstreme memang, tapi jujur saja lebih baik terkurung disini daripada harus berhadapan dengan pria itu.


"Aku mau ke toilet dulu yah sebelum ketemu direktur" setidaknya El butuh persiapan yang lebih untuk bertemu dengan seorang Kayden Abraham.


"Ya udah aku nunggu kamu di....."


TING!


Pintu lift terbuka, Alena tidak dapat melanjutkan ucapannya saat melihat sosok tinggi itu berdiri tepat didepan mereka.


"Ngapain? Kalian nggak mau keluar?" Tanya pria itu dengan suara berat khasnya.


Alena segera tersadar dan buru-buru melangkah keluar, dia menegok ke arah El yang masih belum bergerak dari tempatnya, sang manajer lalu memberi kode pada El untuk mengikutinya keluar dari benda kotak itu.


Tapi El terlalu syok sampai tangannya malah dengan refleks menekan tombol untuk menutup pintu. Organ tubuhnya mendadak tidak sinkron dengan otak saat tiba-tiba melihat pria itu didepan mereka.


Pintu lift bergerak menutup, sosok tinggi itu melesat cepat masuk diantara celah pintu yang mulai tertutup rapat, mengokohkan tubuhnya di samping El dan tersenyum puas karena berhasil masuk dari sepersekian detik kecepatan pintu lift ini bergerak menutup.


Sosok itu menekan tombol angka paling akhir yang ada di panel, dia kemudian kembali lagi ke posisinya berdiri tegak di sebelah El.


Keheningan mendominasi, Kayden berdehem melirik gadis itu lewat ekor mata.


"Kamu lagi nggak ngambek sama saya kan?" Tanya Kayden akhirnya, usahanya berdehem sampai tenggorokkannya sakit tidak juga di respon oleh gadis itu.


"Memangnya saya berhak yah?"


Pria itu mengepalkan tangan saat mendengar jawaban Eleasha. Gadis ini sejak kapan jadi bar-bar begini padanya? Biasanya juga gemetar ketakutan kalau berada didekatnya.


"Kamu marah aku biarin pergi waktu itu?... nggak menyus....."


El berbalik menatap Kayden tepat di manik mata, normalnya dia seharusnya takut pria itu akan melakukan hal yang seperti dirumah Lana, tapi entah mendapat kekuatan dari mana untuk kali ini El mau melawan.


"Maaf harus buat bapak CEO yang terhormat ini kecewa, saya nggak marah, sama sekali nggak." El menghembuskan nafas kemudian melanjutkan ucapannya "karena kejadian itu saya jadi bisa bertemu seseorang yang tulus kepada saya"


"Eduard?" Tanya Kayden dengan mata berkilat.


El mendengus " memangnya cuma Ed doang yang bisa tulus sama saya yah?"


Suara familiar terdengar, pintu lift ini akhirnya kembali terbuka . El dengan cepat berjalan keluar masa bodoh dengan hal apapun, walaupun belum semua unek-uneknya keluar, tapi setidaknya dia sudah sedikit merasa lega sekarang.


Kayden masih mencerna perkataan-perkataan gadis itu, saat ini ada sesuatu dihatinya yang terasa terbakar sehingga membuat tidak nyaman sama seperti saat dia melihat MV yang baru saja dia take down tadi. Pintu lift yang bergerak menutup membuat pria itu tersadar, dengan langkah panjang En berjalan keluar menyusul Eleasha.

__ADS_1


Punggung munggil gadis itu seperti meminta untuk dilindungi, hari ini dia tampak dewasa dengan celana kulot kain berwarna hitam dipadukan dengan kemeja berbahan linen yang berwarna coklat muda. Rambutnya disanggul asal, tidak rapi tapi justru malah menambah kadar kecantikan gadis itu.


Kayden menampar wajahnya sendiri, sejak kapan dia menjadi pemerhati fashion seseorang?


"Mau kemana kamu? Kita perlu bicara"


Langkah kaki El terhenti " Saya menolak kalau pembicaraan itu bukan tentang pekerjaan" El menjawab masih dengan posisi yang sama, tanpa berbalik sedikitpun.


Kayden mengepalkan tangan menahan rasa kesal melihat tanggapan gadis itu,


"ini masalah pekerjaan, tentang kamu yang seenaknya mengambil projek tanpa sepengetahuan agensi"


Langkah El terhenti, Kayden menghembuskan nafas, menyembunyikan senyumannya.


El kini berbalik menatap pria itu, yang sekarang terlihat amat sangat menyebalkan dimatanya " CEO terdahulu nggak pernah permasalahkan hal ini selagi itu masih positif buat karir saya"


En mendengus, pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku "positif dengan adegan yang tidak mendidik seperti itu? Dengan pakaian yang terlalu terbuka begitu? Ingat yah kamu itu masih punya fans anak-anak, kalau mereka niruin kamu gimana?"


"Mereka mau meniru bagaimana, videonya bahkan nggak sampai 10 menit di youtube. Dan anda bilang apa? Pakaian saya di video itu terlalu terbuka? Anda bahkan pernah melihat lebih dari itu, saya rasa pakaian saya di MV itu masih termasuk wajar"


Kayden merasa tertampar, dia mendadak teringat dengan warna merah yang sempat mengganggu kinerja otaknya beberapa saat yang lalu, yang sampai detik ini masih suka membuatnya blank jika mengingat hal itu, tapi bukan seorang En namanya kalau dia tidak cepat pulih dari keadaan.


"Jadi menurut kamu wajar tubuh kamu dilihat banyak orang? Wajar kamu expose badan di media? Biar apa? Supaya di cap sexy? Bom sex abad ini?"


Suasana semakin tegang, karena ini adalah lantai paling atas menuju rooftrop jelas tidak ada karywan di lantai ini. Kedua orang yang hanya berbeda jarak beberapa meter itu saling menatap penuh emosi, jika ada orang yang tidak mengenal mereka melihat keadaaan saat ini orang itu pasti akan langsung menyimpulkan kalau ini adalah pertengkaran rumah tangga, tentang suami yang over posesif dan istri yang terlalu idealis.


"Masalah pakaian saya itu jadi urusan saya, saya punya fashion stylish pribadi, dan tubuh saya juga jadi hak mutlak saya. Anda sama sekali nggak berhak mengatur"


"Saya CEO agensi kamu, kalau kamu lupa"


Kayden mati-matian menahan kakinya untuk tidak mendekati gadis itu. mati-matian menyuruh otaknya untuk tidak memikirkan bagaimana cara memerangkap tubuh mungil itu kedalam kungkungannya.


"Yang anda lakukan hari ini benar-benar keterlaluan, pak CEO. Anda pikir syuting itu gampang? Anda pikir nulis lagu, take vocal, dan lain-lain itu hanya becandaan? Pikirin timnya juga, keluarga mereka? Fans yang nunggu MV itu rilis" El berhenti berucap untuk menarik nafas sebentar, dadanya naik turun menahan rasa kesal yang menumpuk untuk pria didepannya. Mumpung kali ini dia punya kesempatan menyalurkan rasa kesal itu, harus dia pergunakan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa sebebas ini mengeluarkan semua unek-unek yang menumpuk?


"Saya jadi pensaran apa semua talent yang ada di bawah naungan anda juga diperhatikan sampai hal seperti itu dari seorang CEO seperti anda?"


Kayden tidak mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaan gadis itu, pintu lift tiba-tiba terbuka suara Jerome dan Alena terdengar dengan langkah kaki yang terburu-buru mendekat kearah mereka.


Alena menghampiri El menanyakan keadaan gadis itu, sedangkan Jerome menepuk pundak En kemudian meremasnya pelan. Berharap hal itu bisa menjadi pengingat kepada En kalau-kalau dia mau lepas kendali, walaupun Jerome sangat yakin kalau saat ini Kayden tidak akan mungkin menyakiti El secara fisik.


"Na, tolong bilang ke pihak agensi, kebetulan pak CEOnya ada disini. Kasih tau mereka tentang keputusan kalau aku nggak akan memperbaharui kontrak eklusif dengan pihak agensi"


...****************...

__ADS_1


TBC


__ADS_2