
Elizabeth merasa akan segera gila kalau dia terus menerus berdiam di ruang kerja ini. Sudah seminggu menghindari Marco dengan pura-pura sibuk di dalam ruang kerjanya, bahkan sampai tidur pun dia disini.
Pria yang masih berstatus sebagai suami sahnya itu memang seringkali berkunjung ke ruangan ini, tapi dia bisa berpura-pura sibuk dan mengacuhkan Marco sampai pria itu merasa bosan menunggu dan akhirnya izin untuk pergi dari sini.
Tapi alasan sibuk tentu saja tidak bisa dia pakai lebih lama, karena nyatanya dia memang tidak sesibuk itu. Dan Marco bisa lebih curiga lagi jika dia memakai alasan sibuk ini terus.
Elizabeth akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Eleasha hari ini, sesuatu yang diluar kebiasaannya memang. Tapi lebih baik kesana dari pada berdiam lebih lama di rumah ini.
Lagipula Eleasha tidak lagi sibuk akhir-akhir ini. Putri semata wayangnya itu lebih banyak berdiam dirumah sekarang, karena selain ingin menenangkan diri dari semua yang terjadi, El memang sudah mulai sepi Job secara online. Tapi bukan berarti tidak ada job sama sekali, karena tentu dia tetap masih diinginkan rakyat Indonesia untuk muncul di TV meski tidak sesering dulu.
Wanita itu memutuskan untuk memakai jasa online, karena untuk sekarang akan lebih aman jika yang membawanya berkendara itu orang asing, ketimbang sopir pribadi atau karyawan kepercayaannya sekalipun.
Lingkungan sekitar wanita itu tidak lagi aman untuk nyawanya. Elizabeth keluar dari rumah sebesar istana peninggalan mantan suaminya, banyak karyawan yang memberi hormat padanya tapi pasti dalam hati mereka penasaran dengan kemana tujuannya saat ini.
Mereka pasti sedang merekam baik-baik semua gerak-gerik sekecil apapun itu. Elizabeth tersenyum miris, tidak ada yang bisa dia percayai di rumah ini dan sayangnya hal itu baru dia sadari sekarang disaat orang-orang disekitarnya hanya berpura-pura baik tapi mungkin dalam hati dan pikiran sedang merencanakan sebuah kecelakaan untuknya.
Taxi online yang dia pesan tiba beberapa menit kemudian, setelah melewati pemeriksaan di gerbang depan. Tidak menunggu lama Elizabeth segera masuk kedalam mobil dan mengokohkan diri disana, menyandarkan punggungnya di jok mobil dan untuk pertama kalinya merasa aman setelah melewati satu minggu yang sulit ini.
"Sesuai aplikasi yah bu?"
Wanita itu mengangguk dibalik kacamata hitamnya.
Elizabeth tidak lagi memperhatikan gerak-gerik karyawan yang mulai mengeluarkan handphone dan melaporkan kegiatannya kepada seseorang yang memberi perintah.
...****************...
Bak dektektif profesional Kayden sudah stand by didekat kediaman orang tua El, tentu saja setelah berhasil mengelabui Jerome. Perasaannya menjadi tidak enak sejak mendapat surat berisi ungkapan hati sekaligus permohonan, dari seseorang yang tidak pernah dia sangkah akan melakukan hal seperti itu.
Mobil Avanza berwarna putih tiba-tiba keluar dari gerbang, membuat Kayden segera menghidupkan kembali mesin mobil. Sembari mengikuti mobil didepannya, perhatian Kayden tertujuh pada para security yang bertugas di pos jaga, salah satu dari pihak keamanan itu terlihat menelpon seseorang, sambil sesekali membaca secarik kertas ditangannya.
Kayden kemudian tidak bisa lagi mengamati karena selain mobilnya sudah melewati gerbang rumah besar itu, seorang satpam juga sudah menarik pagar untuk menutup gerbang kembali.
Ada sesuatu yang tidak beres, dia yakin sekali dengan firasatnya kali ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Eleasha sedang membantu mpok Ratih melakukan kegiatan bersih-bersih rumah yang sudah lama dia tinggalkan. Rumah masa kecilnya, sekaligus rumah tempat kenangan-kenangan yang ingin dia simpan juga lupakan tercipta.
Sebenarnya rumah ini tidak begitu kotor karena mpok Ratih dan anak-anaknya tinggal di sini, El hanya perlu banyak bergerak karena takut akan mati kebosanan jika hanya berbaring terus.
Gadis itu juga bisa melihat lewat jendela kaca besar dari tempatnya berdiri, bodyguard yang mulai hari ini bertugas menjaganya sedang membantu pak Udin menyiram tanaman.
Mulai hari ini Arya akan ikut tinggal bersama El, pak Udin, mpok Ratih dan anak-anaknya di rumah ini.
__ADS_1
Arya juga akan menggantikan posisi Alena yang kosong, meski bukan untuk urusan job dan lain-lain.
El sangat bersyukur karena ada beberapa kerjaan yang masih di handle oleh Alena meski gadis itu bukan manajer resminya lagi.
Menurut Alena, pihak manajemen terlihat tidak peduli dengan apa yang dia lakukan.
Semenjak El keluar dari agensi, Alena dibiarkan berlaku sesuka hati. Mulai dari jam masuk dan pulang kantor, absensi, bahkan Alena sama sekali dibiarkan kosong tanpa ada artis yang harus dia tangani, tapi lucunya tiap akhir bulan tetap menerima gaji.
Entah hal itu harus di disesali atau di syukuri.
Anak sulung mpok Ratih terlihat sedang menyodorkan minuman dingin untuk Arya dan pak Udin. Gadis itu tersipu malu saat pria itu bicara yang bisa di perkirakan El sebagai ucapan terima kasih.
Dalam hati El bertanya, apakah dia juga akan seperti itu dengan orang yang dia sukai? bebas tersipu dengan rona merah di pipi dan gemuruh jantung di dada yang serasa akan lepas dari tempatnya.
Gadis itu beranjak dari tempatnya berdiri tapi kakinya malah terantuk meja kecil didekatnya, menyebabkan foto sang mama jatuh dan berakhir pecah diatas lantai.
Mpok Ratih menghampiri El dan bertanya apa ada yang luka? Gadis itu hanya bisa menggeleng pelan, karena suaranya mendadak hilang saat perasaannya berubah menjadi kelabu waktu melihat foto mamanya yang jatuh tanpa di sengaja.
Semoga saja tidak ada hal yang buruk terjadi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kayden semakin curiga dengan mobil yang sedang dia ikuti, ini sama sekali bukan arah ke apartemen atau rumah di Kemang. Mobil berwarna putih itu justru mengarah ke arah luar kota.
Saat mobil melaju di daerah yang mulai sepi jauh dari pemukiman dan lalulintas yang padat, Kayden memutuskan untuk menghadang mobil itu. Dia akan mengambil resiko apapun, termasuk malu kalau nanti didalam mobil itu bukan seseorang yang dia kira.
Setelah berhasil menghalangi, Kayden keluar dari mobilnya sendiri lalu berjalan ke arah Avanza putih, mengetuk kaca bagian pengemudi dengan ucapan yang masih terdengar bersahabat.
Pintu di belakang pengemudi terbuka, sosok yang dia kenal keluar dari sana dengan wajah panik dan terselip ketakutan.
Tanpa banyak bicara Kayden segera mempersilahkan wanita itu untuk masuk kedalam mobilnya, dia kemudian kembali mengetuk kaca bagian pengemudi.
Kaca riben itu turun perlahan, sosok pria tua dengan raut wajah ketakutan muncul sama sekali tidak seperti yang Kayden perkirakan sebelumnya.
"Maaf tuan, saya hanya disuruh. Saya sama sekali nggak berniat jahat."
"Disuruh siapa?"
"Saya nggak tahu siapa sosok aslinya, saya hanya di telpon suruh jemput seseorang di rumah gedong itu dan bawa ke luar kota dan tinggalin aja di pinggir jalan di tempat sepi"
Kening Kayden berkerut "Hanya begitu?"
Pria tua itu mengangguk.
__ADS_1
"Dibayar berapa?"
Dengan takut-takut pria itu mengangkat tangan menunjukan lima jarinya "Saya langsung di transfer begitu telpon berakhir"
Kayden mengangguk, meminta pria itu menunjukan bukti transfer. Setelah mengambil beberapa bukti dia kembali ke mobilnya sendiri dan segera tancap gas dari sana berniat memutar arah untuk kembali pulang.
Semua terjadi begitu cepat, tanpa diduga sebuah truk konteiner melaju kencang dari arah sebelumnya. Mobil Kayden yang sedang berada tepat di tengah jalan tidak bisa menghindar, tabrakan terjadi Truk konteiner itu menghantam mobil yang di kendarai Kayden, mendorong sampai menabrak pembatas jalan lalu membuat mobil itu jatuh kedalam jurang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Eleasha berusaha membuat perasaannya kembali tenang dengan cara menonton kartun favorit di TV, hal itu lumayan memperbaiki suasana hati yang tadi begitu kelabu.
Selain martabak, menonton kartun adalah hal favoritnya yang bisa membantu mengembalikan mood yang berantakan dengan cepat.
Gadis ini memang sedikit aneh mengenai masalah selera.
Anak bungsu mpok Ratih yang bernama Yasmin, gadis kecil berusia 5 tahun datang dengan sepiring pisang goreng. Meletakan piring itu diatas meja sambil menyengir lebar, menunjukan gigi ompongnya yang membuat dia semakin menggemaskan.
El tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Suasana hatinya kembali membaik dengan pisang goreng dan senyuman menggemaskan Yasmin.
Tapi itu jelas tidak bertahan lama karena saat sebuah breaking news muncul di layar TV, gadis itu tidak bisa menahan air matanya untuk jatuh membasahi pipi.
Hatinya kembali menjadi kelabu dalam sekejab karena meski belum dikonfirmasi, tapi El sangat tahu mobil siapa yang diberitakan mengalami kecelakaan di jalan menuju puncak itu.
El mencengkram sandaran sofa saat dia baru saja mencoba berjalan beberapa langkah, kepalanya serasa berputar, hanya dalam sekejab kegelapan sudah memeluknya erat.
Yasmin menjerit, membuat orang-orang rumah berdatangan. Arya yang sempat terkejut melihat tubuh El yang tergeletak di lantai langsung berinisiatif mengangkat tubuh itu dan meletakannya diatas sofa.
Mpok Ratih sudah kembali setelah tadi sempat datang, kali ini membawa kotak obat. Mengeluarkan minyak kayu putih dan mendekatkan di dekat hidung Eleasha, sambil memanjatkan doa supaya kesadaran majikan cantiknya ini segera kembali.
Alena muncul beberapa saat kemudian dengan wajah pucat, dan langsung mendekati El yang belum juga sadar.
"El udah tahu?" Tanya Alena pada orang-orang di ruangan itu.
"Tahu apa mbak?" tanya balik pak Udin.
"Mamanya kecelakaan, dan sampai saat ini belum di temukan"
"Yah..Allah, kok bisa mbak?" Mpok Ratih tampak syok.
Alena menggeleng pelan "Aku juga nggak tahu detailnya, tapi semoga aja tante Elizabeth segera ditemukan dengan selamat"
Ucapan Alena langsung diaminkan semua yang ada di ruangan itu. Rapalan doa segera dinaikan untuk keselamatan Elizabeth maupum Eleasha yang belum juga sadarkan diri.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...