EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Salah


__ADS_3

Hai.... Lama yah nggak ketemu, maaf lagi-lagi sudah buat menunggu.


untuk Chapter ini kayaknya lebih dapet feelnya kalau dengerin lagunya Mahalini yang melawan restu. apalagi pas part terakhir😁😅.


ok


Enjoy!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kriuuuukk......


El membelalak kemudian refleks menarik kepalanya menjauh, mengakhiri ciuman panas mereka. Rasanya ingin sekali menghilang dari hadapan pria ini, bagaimana bisa cacing-cacing dalam perutnya berdisko di saat seperti ini? Ini namanya pengkhianatan besar.


Gadis itu menutup mata sejenak, merutuki diri sebelum berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Kebelet.." ucap El sebelum pintu tertutup.


Senyuman Kayden merekah, pria itu menatap pintu kamar mandi di apartemen ini beberapa saat, kemudian segera beranjak ke meja makan untuk mempersiapkan martabak yang tadi dia bawa untuk menjadi Appetizer sementara dia memesan *Ma*in course untuk mereka berdua nanti.


Pria itu mengutak-atik telepon pintarnya sambil sesekali melirik pintu yang masih tertutup, senyuman masih setia menghiasi wajah tampannya.


Setelah selesai memilih menu dan memastikan martabak sudah siap, Kayden berjalan mendekati pintu kemudian mengulurkan tangan untuk mengetuknya pelan.


"Nggak usah buang-buang waktu untuk meratapi, keluar dulu makan martabaknya buat ganjel perut. Kamu nggak kasian sama cacing-cacing di perut kamu yang sudah demo minta makan?"


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


El menatap pantulan dirinya di cermin, raut wajahnya sangat memprihatinkan sama seperti nasibnya sekarang yang entah harus bersikap apa di depan Kayden nanti.


Malu? Tentu saja. Dengan bibir mencebik gadis itu memukul perutnya, menatap tajam seakan bisa menembus sampai ke dalam organ tubuhnya untuk membuat warga cacing dalam perutnya sadar akan kesalahan yang mereka perbuat.


Menit demi menit berlalu, El akhirnya memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya karena gadis ini tahu pria itu bukanlah makhluk baik hati yang akan membiarkan kejadian memalukan ini lewat begitu saja.


El membuka pintu kamar mandi, dan senyuman pria itu langsung menyambutnya. Gadis itu berdecih, untung dia ganteng.


"Tutup mulut cacing-cacing peliharaan kamu pake martabak, makanan utamanya lagi on the way kesini"


El menarik kursi makan yang terletak tepat diseberang Kayden. Sambil memasang wajah datar, gadis itu mengambil sepotong martabak yang sudah di tata diatas piring berusaha untuk tidak peduli dengan tatapan pria itu plus dengan senyuman yang sejak tadi tidak juga hilang dari wajah tampan itu.


Satu menit.....


Dua menit.....


Gadis itu menutup mata sambil menghembuskan nafas, dia sudah tidak tahan lagi. Meski dengan wajah merona merah yang lagi-lagi mengkhianatinya, gadis itu membalas tatapan Kayden yang senyumannya semakin lebar bahkan pria itu tidak segan tertawa kali ini.


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?"


Kayden memiringkan wajah, terlihat seperti sedang menimbang-nimbang "ekhm.... nggak juga sih" Jawab pria itu santai, kemudian tiba-tiba memajukan badannya mendekat kearah El "itu yang di bibir mau saya bersih'in atau....."


El buru-buru meraih tisu yang terletak didekatnya kemudian segera melap mulutnya sendiri "nggak usah, saya bisa sendiri" ucapnya di sela-sela menyeka mulut.


Kayden menahan senyum, sambil mengangguk "tapi jangan sungkan, saya pasti dengan senang hati mau membantu" ucapnya dengan nada santai.


El langsung membeku. Sejak kapan pria itu berubah mesum?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


@Eduard House


Jakarta pusat.


Ed mendengarkan dengan seksama penjelasan dari pengacaranya, dia memang meminta supaya proses perceraiannya bisa cepat selesai. Karenanya saat ini dia sedang meminta saran dan juga petunjuk untuk hal-hal yang harus dia lakukan, supaya keinginanya itu bisa tercapai.


"Kamu kalau sudah begitu yakin dengan perceraian ini, saya nggak bisa bilang apa-apa lagi. "


Ed mengangguk "Nggak ada yang bisa saya pertahankan lagi dari hubungan ini"


"Kalau begitu, serahkan semuanya sama saya dan tim. Kamu tinggal terima keputusannya di sidang terakhir. Selama prosesnya mulai dari mediasi sebaiknya kamu tidak hadir"


Eduard kembali mengangguk, walau sebenarnya hati dan pikirannya sedang berperang antara mau maju atau tetap bertahan.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


@Apartemen Debut


No : 3091

__ADS_1


El menatap langit-langit kamarnya, dia sama sekali tidak bisa memejamkan mata malam ini. Bagaimana bisa terlelap jika perkataan pria itu tadi siang masih terngiang-ngiang begitu jelas di kepalanya.


"Satu minggu"


El mengernyit menatap pria itu, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kayden.


"Kasih aku waktu selama satu minggu, Kalau memang setelah selesai seminggu dan kita memang tidak bisa bertambah dekat. Hubungan ini tidak akan berlanjut, kamu boleh pergi tidak akan aku tahan"


Hembusan nafas berat lolos dari mulut gadis itu. Semenjak Kayden mulai mengambil langkah untuk mendekat kearahnya, entah kenapa peperangan di batin El terus terjadi. Selalu berhasil mengusik, apalagi di keheningan seperti ini.


Eleasha seperti kembali diingatkan kalau hubungan antara dirinya dan Kayden Abraham adalah sebuah kesalahan besar, kalau hubungan diantara mereka diawali dengan luka yang pada akhirnya akan berakhir duka.


Tapi El tidak bisa lagi memungkiri, kalau dia menyukai debaran jantungnya yang akan berdetak kencang didekat pria itu, atau saat rona merah yang akan selalu berkhianat saat pria itu menyentuh wajahnya dan kepakan ribuan sayap kupu-kupu di perutnya saat melihat sepasang mata monilid itu menatapnya dengan hangat.


Gadis ini tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti kalau dia kehilangan akses untuk merasakan semua hal itu.


Karenanya meski masih saja berperang dengan batinnya, El memutuskan untuk membuka pintu semakin lebar dan melangkah maju menuju kearah Kayden.


Memang mungkin akan ada banyak rintangan yang akan muncul nanti, tapi jika bersama pria itu Eleasha yakin pasti bisa melaluinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Next Day


@Apartemen Debut


No: 3091


Kayden menekan bel, dia memang tau kode password apartemen ini tapi dia ingin gadis itu membukakan pintu untuknya.


Pintu Apartemen terbuka di bel yang ke 6, menampilkan wajah tanpa make up Eleasha yang segar karena baru selesai mandi.


"Kan bisa langsung masuk, kenapa sok-sok jadi orang asing sih?" Sunggut El sambil menyisir rambut dengan menggunakan jemarinya, Gadis itu segera berlari masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.


El keluar beberapa menit kemudian tampak lebih cerah dan lebih cantik dengan bibir yang lebih merona dan make up tipis.


"Aku nggak make up lho, ini bare face aku" infonya tanpa diminta


Kayden tersenyum, sambil mengangguk. Merasa gemas dan ingin sekali mencubit pipi itu tapi justru yang dia lakukan adalah mendekap El dalam kehangatan pelukannya. Berharap bisa memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama gadis ini.


Mengenal dan memahami lebih jauh lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


@Apartemen Debut


No : 3091


Kayden menatap gadis itu, kemudian menatap Eduard yang juga sedang menatapnya. Semua rencananya hancur total saat datang dengan hati gembira ke apartemen debut gadis itu.


Genggaman Kayden pada kantong berisi martabak menggeras, rasanya ingin sekali melempar makanan itu pada wajah Eduard dan memastikan pria itu terluka dengan lemparannya.


"Apa yang lo lakuin disini?"


Ed tersenyum setengah, membalas tatapan En "Itu seharusnya jadi pertanyaan gue, Ngapain lo kesini dengan makanan kesukaan El?"


"Gue sering kesini, Kita berdua kebutulan punya selera yang sama" Ucapnya santai dan juga dengan maksud untuk pamer.


Kening Eduard terangkat sebelah "Oya? Sejak kapan El? " Tanya Eduard sambil membalikan badan menghadap El yang sedang menunduk.


Tatapan Kayden tertuju pada Eleasha, ingin rasanya mendekat dan mendekap gadis itu yang sekarang terlihat tertekan sangat berbeda dengan Eleasha yang kemarin menghabiskan waktu dengannya. Si brengsek ini pasti sudah berbuat sesuatu yang membuat gadis itu berubah hanya dalam waktu semalam.


"Gue nanya El, sejak kapan orang ini punya akses membuka pintu rumah lo? Sejak kapan lo ganti password tanpa kasih tau gue? Alena tau hal ini?" tanya Ed sambil menghadap ke arah El. Sama sekali tidak peduli dengan sosok En yang juga berada di ruangan yang sama dengan mereka. Dia butuh penjelasan dari gadis ini sekarang.


"Kamu nggak perlu jawab kalau memang nggak mau" Suara Kayden terdengar, dan itu jelas ditujukan untuk Eleasha.


Ed mendengus tidak percaya. "Kamu?" Tanyanya tidak percaya. Sebenarnya sudah seberapa jauh dia tertinggal?


Sudah berapa banyak yang telah berubah selama dia pergi? Sejak kapan kedua orang ini menjadi lebih dekat dengan mulai menggunakan 'kamu' dalam percakapan mereka.


"El? Tolong jawab El!" Suara Ed mulai meninggi. Dia kembali fokus ke Eleasha.


Kayden merasa harus turun tangan sekarang "Ily nggak punya kewajiban untuk menjawab" katanya sambil mengambil posisi di samping Eleasha.


"ILY?"


Kayden menyeringai "Ily. Ai El Wai. I love you"

__ADS_1


"GILA!" sembur Ed marah


"Untuk Eleasha, bukan buat lo" Ralat Kayden kemudian berjalan kearah meja, meletakan martabak yang dia bawah itu disana.


"Bisa-bisanya... Eleasha Jemira Halim dimana otak lo hah?" Tanya Ed kesal, dia sama sekali tidak menyangka akan mendapati hal ini. Eduard menjadi semakin kesal karena Eleasha sedari tadi memilih untuk tetap tutup mulut.


"Dan lo En, lo dekatin El untuk balas dendam atas kehilangan Lana kan? Lo mau El semenderita apa hah?"


Kayden mengepalkan tangan, mati-matian menahan emosi "Gue rasa elo nggak sepantasnya disini, lo juga nggak sepantasnya mengkhawatirkan wanita yang nggak ada ikatan apapun sama lo. ingat Lo itu masih punya istri"


Eduard mendengus "Gue sedang dalam proses cerai"


Kayden terbelalak mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut seorang Eduard "Apa lo bilang? Cerai?"


El yang sejak tadi menduduk langsung mendongkak, menatap Ed dengan tatapan tidak percaya "Eduard Erasmus Santoso!!!!"


Ed tersenyum miris menatap kearah El yang baru saja menyerukan nama lengkapnya, yang artinya hal itu sebuah Warning. Diantara mereka berdua jika sudah di tahap sampai menyebutkan nama lengkap, itu artinya tidak lagi sedang bercanda.


"Sorry to say, tapi Lisa bekerja sama dengan Marco dalam insiden penculikan itu. Lisa juga punya andil saat insiden lo jatuh di jurang tempo hari" ucap Ed sambil menatap El dengan tatapan bersalah bercampur penyesalan


Kayden menggeleng tidak percaya "Nggak mungkin...."


Kali ini Eduard menatap Kayden yang terlihat sangat syok dengan fakta yang baru saja dia ucapkan "Nggak usah pura-pura En. Gue tahu lo juga pasti terlibat dengan mereka!!!"


"Maksud lo apa?" Tanya Kayden sedikit binggung. Dia masih tidak percaya dengan Fakta kalau sepupu kesayangannya bisa terlibat dengan kejadian-kejadian itu. Walau memang saat tahu lokasi penculikan Eleasha adalah projek dari perusahaan milik pamannya yang tidak lain adalah ayah dari Elisa tapi Kayden sama sekali tidak terpikir Kalau Elisa juga bergabung dengan kejahatan itu.


Tatapan Eduard kembali pada El, sepasang mata gadis itu terlihat terluka sekarang. "El... lo tau kan selama ini, seumur hidup, gue nggak pernah bohongin lo? lo inget nggak apartemen lo yang di Thamrin? yang pernah dimasuki orang asing?"


El menggingit bibir dalamnya, dia mendadak mengepalkan kedua tangannya kuat. Merasa tidak siap dengan apa yang akan disampaikan Ed.


"Gue udah selidikin, dan lo tau orang asing itu siapa? Armon Wicaksono, lo pasti nggak asing dengan nama itu kan?"


Mata El berkaca-kaca, perasaan takut dan ngeri bercampur luka seketika meliputinya. El menjerit di detik berikutnya saat kilasan demi kilasan tentang memory menyakitkan itu muncul di kepalanya.


Tubuh El langsung merosot, dia jatuh terduduk dilantai kali ini sudah menangis histeris.


Dengan cepat Kayden beranjak untuk mencapai El tapi tubuh Eduard lebih cepat menghadangnya.


"Minggir" Desisnya dengan tatapan paling tajam yang dia punya.


"Lo yang minggir, pergi. Karena sampai kapan pun gue nggak akan biarin El disakiti siapapun termasuk Lo"


Kayden tidak mengacuhkan perkataan Eduard. Dia tetap mencoba mencapai El tapi tangan Eduard lagi-lagi mencegah usahanya


"Tangan yang pernah lo pake buat mencekik, mendorong bahkan mungkin tangan ini turut andil dalam pemberitaan negative tentang El" Eduard tersenyum miris "Atau juga tangan ini yang menyebabkan kecelakaan opa, mengingat lo yang mengirim El ke pelosok untuk syuting acara itu"


Eduard menepis kasar tangan Kayden menjauh "Jangan pernah sentuh El lagi dengan tangan kotor itu."


Suara tangisan El terhenti, gadis itu mendongkak menatap Kayden dengan mata basah.


Kayden menggeleng, berusaha memberitahu gadis itu lewat tatapannya kalau apa yang dikatakan Eduard adalah omong kosong dan bukan sebuah kebenaran.


"Armon mendapat jaminan penangguhan penahanan dan juga bisa membayar denda yang dijatuhkan karena mendapat full cover dari firma hukum yang bermitra dengan Kay Group. okh iya, Kay Group juga yang mengakusisi agensi yang menaungi lo, El." Suara Eduard kembali terdengar. Selama ini dalam diam dia sudah berusaha menyelidiki tentang kejanggalan-kejanggalan yang menimpa El yang tidak memberi satu hari yang tenang untuk gadis itu. Dan dalam proses itu dia menemukan fakta menyakitkan tidak hanya untuk El tapi juga untuknya.


"Pihak mereka menjamin Armon yang terobsesi sama lo itu keluar dari penjara lebih cepat, pasti ingin buat bocah maniak itu gangguin lo lagi. See? dia bahkan berani masuk apart lo yang penjagaanya canggih. Dia pasti punya backing'an kuat sampai seperti itu"


Eduard kali ini berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan El " Lo yakin pria ini juga nggak terlibat? Nggak tahu apa-apa dan mencoba mendekat ke elo tanpa niat apapun?"


El membeku. Kepakan sayap ribuan kupu-kupu yang selalu dia rasakan saat berada didekat Kayden mendadak hilang berganti rasa perih yang amat sangat di relung hati.


Peperangan batinnya selesai, dengan El sebagai pihak yang kalah.


"Pergi dan jangan datang lagi"


Kayden terhenyak. Dia tidak tahu kenapa bagian hatinya bisa sesakit ini saat mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut gadis itu. Kayden merasa ketidakadilan disini karena Eleasha sama sekali tidak mengizinkannya memberi pembelaan sama sekali. Gadis itu langsung mempercayai perkataan Eduard tanpa mau mendengar dari versinya.


Apakah ini adalah akhir dari kisah mereka yang bahkan belum resmi dimulai?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jadi...... Siapa yang pengen cubit Eduard kali ini? Ed menggemaskan bukan di chapter ini? atau sebelumnya juga?


hahahaha...


Sampai Jumpa dalam waktu dekat yah🤗


__ADS_1


Eduard Erasmus Santoso a.k.a dr. Ed


__ADS_2