EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Kekacauan


__ADS_3

...****************...


El tersenyum, dia yang pertama kali sadar dari keterpanaan. Gadis itu menyodorkan buket bunga kepada gadis didepannya sambil mengucapkan salam.


Elisa mendengus dia tersenyum kecut menatap buket bunga cantik yang disodorkan padanya. Tatapannya kemudian kembali pada wajah kecil itu, mata besar itu, dan bibir berbentuk hati milik gadis didepannya. Seketika Elisa menjadi begitu benci dengan apa yang dia miliki, kenapa harus semirip ini?


Dia banyak kali melihat sosok ini dilayar tv, ataupun media sosial tapi dia tidak pernah sekalipun menyangka pada kenyataannya wajah mereka hampir sama.


Eduard tentu sangat puas dengan apa yang dia lakukan, bagaimana tidak? dia telah berhasil mendapatkan gadis yang hampir sama walau dengan kepribadian yang berbeda jauh.


"Brengsek" maki Elisa


El terpanah, tangannya refleks mencengkram kuat buket ditangannya yang tidak kunjung di sambut.


"Maaf mungkin aku ganggu kamu, tapi apa bisa kita bicara sebentar?" El bersuara, mencoba memulai apa yang menjadi tujuannya ke sini.


"Aku janji nggak akan lama, aku hanya mau menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi selama ini diantara kita"


Elisa menyeringai menatap tajam gadis didepannya ini. Apa mereka memang sekejam ini? Menjelaskan apa? Semuanya sudah terlalu jelas sekarang, kalau selama ini mereka hanya menjadikannya sebagai ban serep. Tidak ada yang namanya persahabatan diantara Laki-laki dan perempuan, akan tetap ada muncul rasa sekecil apapun itu.


"Aku dan Ed murni hanya sebatas bersahabat. Kami sudah seperti saudara, jadi kamu nggak perlu khawatir dengan......."


El tidak dapat melanjutkan ucapannya, pipi kanannya terasa panas dan rasa sakit itu mulai menyebar disana. El memegang bekas tamparan Elisa, dia menggigit bibir menahan diri untuk tidak terpancing, karena bagaimanapun dia memang dianggap orang yang bersalah oleh Elisa sekarang.


"Kamu menyarankan untuk tidak khawatir?" Suara Elisa akhirnya terdengar, setelah sejak tadi dia hanya diam. "Bagaimana bisa aku nggak khawatir dengan kemiripan wajah ini? Sekarang aku merasa tiap dia melihat aku, dia pasti mikirin kamu!!" Elisa berteriak sudah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Bak sebuah bendungan yang tidak bisa menahan lebih lama apa yang dia tahan selama ini akhirnya tumpah keluar.


"Dia pasti milih aku karena mirip dengan kamu, iya kan? Dan kamu pasti tahu hal itu!" tuduh Elisa.


El menggeleng, buket ditangannya jatuh kelantai. Sekarang bukan hanya pipinya yang terasa sakit tapi hatinya juga. Dia sama sekali tidak pernah menyangka akan berada di posisi ini, dianugerahi wajah ini apa itu salahnya?


"Aku benci kalian, aku benci kemiripan ini!!!!"


Elisa meraih vas kaca diatas meja kecil dekat dengan tempatnya berdiri kemudian meleparkannya ke arah El, gadis itu berharap bisa melukai wajah yang mirip dengannya itu. Siapa tau dengan luka yang lahir karena vas ini bisa memberi sebuah perbedaan pada wajah mereka. Pikir Elisa.


Sebuah tubuh tiba-tiba muncul, vas kaca itu membentur punggung lebar yang menghalangi tugas vas yang seharusnya mengenai wajah atau mungkin tubuh Eleasha. Setidaknya gadis itu harus merasakan luka, meski hanya setitik saja.

__ADS_1


Itu jelas tujuan utama Elisa berani melempar benda itu, dia siap dengan segala konsekuensinya.


"Lo nggak apa-apa?"


El membuka mata dan terbelalak saat menyadari siapa yang saat ini sedang berdiri dihadapannya, yang sudah menyelamatkannya dari vas kaca.


Belum sempat El menjawab, tubuh itu sudah berbalik menghadap kearah Elisa.


"Apa-apan ini Lisa? Kenapa harus sampai seperti ini?" Ed bertanya dengan nada bicara yang mati-matian dibuat senormal mungkin, karena demi apapun dia tidak ingin menyakiti Elisa. Saat ini Ed sedang gemetaran, sangat khawatir. Terlambat sedikit saja pasti akan ada yang terluka.


Dan dia sama sekali tidak menginginkan hal itu.


Elisa tersenyum sinis, sekarang sudah tidak lagi kaget dengan apa yang dilakukan pria itu. Bukan baru sekali ini pria itu berlaku tidak adil padanya


"Kamu yang paling tahu jawabannya Eduard, karena kamu awal dari segalanya!"


"Tapi bukan dengan cara melem....."


Bug..


"Sekali lagi lo bicara gue nggak akan segan buat buat lo kehilangan kemampuan untuk itu" Sebuah ancaman keluar dari mulut pria yang baru saja bergabung. Dia yang pertama datang, tapi memilih tetap di dalam mobil saat melihat kedatangan Eleasha.


Dia melihat bagaimana Elisa menampar gadis itu, dia melihat bagaimana gadis itu hanya diam menerima makian dan teriakkan Elisa, tapi dia tetap bertahan didalam mobil karena entah kenapa dia tidak bisa memilih untuk berpihak pada siapa.


Sampai saat Elisa mulai melakukan hal yang tidak pernah disangka, tangan pria ini sudah bergerak membuka pintu mobil tapi kakinya berhenti bergerak untuk keluar karena sekali lagi sosok Eduard sudah lebih dulu berlari ke arah gadis itu. Melindungi dari benda keras yang akan menyakitinya.


Kayden masih menahan diri berdiam didalam mobil, tapi saat melihat Ed terlihat tidak memihak istrinya amarah itu langsung muncul.


"Seharusnya lo bela istri lo, bukannya menyalahkan dia sepenuhnya padahal awal mula masalahnya ada di diri lo sendiri"


Ed balas menatap pria itu "lo nggak usah ikut campur, ini urusan rumah tangga gue" sanggahnya mulai terpancing amarah.


Kayden mengangguk "ok lo urus rumah tangga lo" pria itu menatap El yang hanya menunduk sejak tadi, dia berjalan cepat dengan langkah panjang mendekati gadis itu lalu menarik tangannya menjauh.


"Jangan coba-coba sakitin dia"

__ADS_1


Langkah Kayden terhenti, dia berbalik menatap pria yang mungkin hanya berbeda beberapa centi darinya. Ed tidak beranjak dari tempatnya, dia hanya memperingati tanpa bertindak. Apa karena mungkin ada Elisa? Kayden tersenyum sinis, setidaknya dia masih punya pikiran untuk tidak menyakiti Elisa dengan tindakan saat ini.


"Urus saja urusan lo sendiri, dia jadi urusan gue. Karena sejak awal dia nggak terikat apapun sama lo atau siapapun. Lo nggak usah sok ngatur"


Kayden menarik El menjauh, dia melepas cekalannya di pergelangan gadis itu dan gantinya merangkul El menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ.


Pria itu membuka pintu mobil, memastikan gadis itu duduk dengan aman dikursi penumpang, kemudian memutari mobil dengan cepat masuk di balik kemudi dan segera tancap gas keluar dari pekarangan rumah ini.


...****************...


Eduard menatap mobil yang baru diluncurkan minggu lalu, yang baru saja keluar dari pekarangan luas rumah ini.


Rasa khawatir untuk El membuatnya tidak tenang, tapi dia juga tahu posisinya saat ini. Dia seorang pria beristri, persis yang dikatakan Kayden kalau sejak awal dia dan El tidak terikat, akh...tidak...mereka pasti pernah terikat hanya saja simpul itu tidak kuat, lantas tidak membuatnya abadi.


Elisa menatap pria didepannya, tersenyum miris melihat kearah mana pandangan Ed. menyedihkan. Dia memang gadis yang menyedihkan. Bagaimana bisa dia bahkan buta dengan perasaan pria itu? Bagaimana bisa selama ini dia begitu percaya diri menganggap dirinya merupakan satu-satunya untuk pria ini.


"Aku tunggu surat cerai dari kamu, bagaimana bisa aku masih sempat berpikir untuk bertahan dengan laki-laki yang sekalipun nggak pernah ngeliat aku? Kamu benar-benar laki-laki brengsek yang menyedihkan"


Elisa berjalan masuk kedalam rumah, sebelum dia menghilang di balik pintu gadis itu kembali memutar tubuhnya untuk terakhir kali menatap Eduard.


"Aku mau kamu bisa ngerasain 1000 kali lebih banyak untuk rasa sakit ini, untuk setiap luka ini dan untuk perasaan menderita ini"


...****************...


Halllo gaisss....


ini chapter pertama dari 3 chapter di minggu ini.


Terima kasih sudah menunggu,


Stay safe,


Stay Healthy gaiss


💛

__ADS_1


__ADS_2