
"Siapa yang hari gini masih kirim surat?" Kayden membolak balikan surat ditangannya dengan raut wajah heran.
Jerome yang berdiri tidak jauh darinya merotasikan bola mata "lo lupa belum lama ini juga lo pernah kirim surat sama mamanya Eleasha?"
Kayden terlihat sedang berpikir, sebelum tangannya dengan cekatan membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas dari sana.
Berberapa saat kemudian tubuh pria itu menegang, Dia bahkan membaca ulang deretan tulisan tangan itu lagi untuk memastikan bahwa matanya tidak salah membaca.
"Siapa yang antar ini?" Tanyanya.
Jerome mengerutkan kening "tukang pos mungkin, gue nggak tahu. Tanya aja sama si Jola, emang dari siapa sih?"
Pegangannya mengerat pada kertas ditangannya "Mamanya El, mereka berdua dalam bahaya"
Kayden mendongkak "Gue nggak mau dia kenapa-napa" Lanjutnya dengan raut wajah khawatir.
"Tapi lo udah nggak diijinin dekatin dia lagi, dan lo juga nggak punya wewenang apa-apa lagi untuk Eleasha"
Perkataan Jerome menyadarkannya. Lantas apa yang harus dia lakukan sekarang, demi keselamatan gadis itu?
"Gue akan hubungin Alena kali aja dia...."
"Jangan" cegah Kayden, "mamanya nyuruh untuk nggak melibatkan banyak orang, takutnya Alena juga bisa dalam bahaya"
"Tapi lo yakin ini bukan jebakan? Kayaknya mamanya Eleasha bukan tipe penyayang, lo tahu juga kan fakta itu?"
Kayden menghembuskan nafas, tapi kali ini mungkin berbeda. Dia bisa merasakannya, ada ketulusan dan kejujuran dalam setiap baris kata di surat ini.
"Bodyguard untuk Eleasha lo udah dapat kan?"
Jerome terlihat menimbang-nimbang "Ada beberapa yang sesuai standart lo sih, cuman mereka nggak bisa stand by 24 jam penuh. Tapi tenang ada satu yang kandidat yang bisa"
Jerome meletakan iphone di meja Kayden menunjukan foto seseorang di layar itu.
Sedetik kemudian pria itu menggeleng keras sambil mendorong telpon pintar milik Jerome menjauh.
"Jangan dia, Gue nggak suka"
"Kenapa sih? Dia ini yang paling memenuhi standart lo, kecuali bagian yang menikah. Karena dia ini seorang duda"
Kayden menggebrak meja "Ganti!! gue nggak mau yang duda atau single. Pokoknya cari yang cinta mati sama bininya"
"Lha dia cinta mati sama bininya lah, orang anaknya udah mau 7 tahun tapi dia nggak nikah-nikah juga"
Kayden melirik lagi foto yang ada di iphone Jerome yang kembali menyalah karena sang pemilik menekan layarnya lagi, sialan!! Kenapa sosok yang dibutuhkan untuk menjaga Eleasha sangat mirip dengan pria dalam drama K2? Dia tahu banyak drama korea karena dulu Lana juga punya kegemaran menonton drama maupun film dari negeri gingseng itu.
Dan karakter Kim Jae Ha dalam drama itu sangat dia hafal sampai mati karena rasa cemburu. Dulu Lana begitu mengagung-angungkannya. Makanya sekarang dia sama sekali tidak rela jika yang mirip Kim Jae Ha dalam dunia nyata juga akan dekat dengan Eleasha.
"Kalo memang isi surat itu benar, lo harusnya nggak usah sok-sok jual mahal lah. Si Eleasha butuh orang ini sekarang"
Kayden menghembuskan nafas berat sambil berdiri dari kursi kebesarannya. Kakinya tidak bisa diam untuk mondar-mandir dengan tangan yang sama aktifnya bergerak. Otaknya ikut bekerja keras untuk memutuskan apa yang harus dia lakukan sekarang.
__ADS_1
"Ok, lo buat dia kerja bareng Ily gimanapun caranya, terserah elo. Bisa pakai jalur Alena atau siapapun, tapi jangan sampai ketahuan dia bagian dari kita"
Jerome mengangguk paham.
"Dan untuk surat ini, tolong jangan kasih tau siapa-siapa dulu sampai kita tahu kebenaran yang sebenarnya"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Elizabeth sama sekali tidak bisa berakting biasa saja sedangkan dia tahu dengan sangat baik sosok apa yang ada dibalik topeng yang di pakai oleh pria yang saat ini sedang asyik menyantap sarapannya.
Tangannya terus saja gemetar sampai dia harus menyembunyikannya di bawah meja. Wanita itu sama sekali tidak lagi berselera saat berada di dekat pria yang didepannya tersenyum manis tapi dibalik punggung menyembunyikan pisau yang siap dipakai untuk menikamnya kapan pun dia lengah.
Beberapa hari yang lalu secara rahasia dan sangat berhati-hati, Elizabeth mengirimkan surat untuk Kayden Abraham. Baginya tidak ada yang bisa menolong dirinya dan Eleasha selain pria itu.
Kayden memiliki segalanya, power pewaris Kaygroup itu bukanlah main-main. Dan pria didepannya ini mungkin hanyalah seujung kuku saja, makanya wanita ini berani dan juga begitu yakin seorang Kayden akan bisa menyelamatkannya dan juga putrinya.
Mungkin sudah sedikit terlambat untuknya tersadar dari pengaruh cinta buta pria ini, karena setengah asetnya sudah di balik nama oleh Marco tanpa sepengetahuannya dan Elizabeth baru mengetahui hal itu baru-baru ini.
Rupanya hampir seluruh orang yang bekerja di kediaman maupun perusahaan yang ditinggalkan mantan suami terdahulunya sudah membelot, hal itu juga yang semakin membuat dia terbuai lama pada permainan Marco. Seluruh orang mengkhianatinya tanpa terkecuali. Membiarkan dia dibodohi oleh monster berhati iblis ini.
"Sayang? Kamu kenapa? Kok nggak makan?"
Elizabeth tersentak "Hah? aku lagi nggak berselera aja"
"Kamu sakit?" Marco mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Elizabeth tapi wanita itu mundur sehingga tangan Marco hanya menyentuh udara.
"Nggak apa-apa kok, cuma capek aja. Aku duluan yah? Ada yang mau dikerjain di atas," Elizabeth beranjak dari duduknya dan segera berjalan menuju lantai dua tempat ruangan kerjanya berada, untuk sementara cara yang paling aman baginya adalah menghindari pria itu sebisa mungkin.
Pria itu terlihat sedang berpikir keras, sedetik kemudian ia mengeluarkan telpon pintarnya dan segera menghubungi seseorang. Sepertinya rencana yang sudah dia susun harus segera di percepat tanggal eksekusinya, karena jika semakin di tunda maka akan banyak yang semakin curiga.
"Majuin tanggal eksekusinya, tetap pada rencana A. Nanti kalo gagal kita pindah ke rencana B"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Namanya Arya Satya, umur 34 tahun. Dia lulusan terbaik dari pelatihan bodyguard terbaik disini"
El melihat foto dan sedikit biodata dari laki-laki yang direkomendasikan Alena untuknya. Mengingat Alena belum bisa stand by 24 jam bersama El, karena masih terikat kontrak sebagai staff dengan Star golden Entertaiment.
Dan melihat semua kejadian yang gadis itu alami akhir-akhir ini membuat Alena tidak bisa menunda lebih lama untuk mencari seorang pengawal bagi El.
"Dan untuk sementara kamu harus tinggal di Kemang, karena Arya akan mengawal kamu selama 24 jam. Dia nggak bisa kalau kamu disini"
"Tapi Na....."
"Kamu mau kejadian tempo hari sama pak direktur terulang lagi? Kita nggak pernah tau apa yang dia rencanakan El"
Setelah diam dan merenung selama beberapa saat, Eleasha akhirnya mengangguk. Menyetujui saran Alena tentang tempat tinggalnya mulai sekarang.
"Disana ada pak Udin dan mpok Ratih yang akan jaga kamu juga, aku bisa tenang kalau ninggalin kamu lama-lama"
Eleasha mengangguk lagi walau dengan hati berat.
__ADS_1
...****************...
"So? ponakan Uncle mau makan apa hari ini?"
Elisa menatap kedua sepupunya yang sejak kejadian di apartemen rahasia Eleasha beberapa saat yang lalu, tidak pernah absen mengunjunginya walau hanya beberapa jam ditengah jadwal sibuk mereka.
Jerome mendekat dan mengulurkan tangan untuk mengelus lembut perut Elisa yang terlihat masih rata, belum begitu terlihat perubahan disana kecuali mood dari sang ibu yang sering kali berubah.
"Minta apa aja pasti uncle En akan kabulin, sayang" kata Jerome dengan senyuman lebar.
"Martabak spesial keju yang viral itu" seru Elisa senang. Membayangkan toping keju yang tumpah-tumpah membuatnya ngiler.
Kayden yang mendengar keinginan itu langsung merotasikan bola mata, kenapa dari sekian banyak makanan harus martabak yang diinginkan Elisa?
"Ok, uncle En pasti beliin sekaligus sama kedainya. Ponakan tenang aja yah, jangan bandel-bandel terus nyusain mommy yah?" Jerome sangat menikmati perannya sebagai juru bicara dari Kayden saat ini.
Sedangkan yang bersangkutan sedang sibuk dengan pikirannya. Masih tentang gadis yang menjadi pusat sakit kepalanya akhir-akhir ini, Eleasha Halim.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Alena memberanikan diri mengetuk pintu ruangan yang di khususkan untuk petinggi di kantor manajemen ini. Tadi saat dia bertanya pada sekertaris yang stand by didepan sana, Silvia mengkonfirmasi kehadiran dari seseorang yang ingin dia temui itu.
Sebenarnya kedatangan sosok itu di kantor agensi ini tidak setiap hari, jadwal berkunjung mereka begitu random bahkan dalam seminggu mereka pernah tidak berkunjung kesini.
Dan sebagai staff lapangan Alena juga jarang menghabiskan waktu di kantor, apalagi saat dia harus menangani seorang aktris dia tidak pèrlu ke kantor sama sekali.
Gadis itu menghembuskan nafas, apa bisa ini disebut sebagai takdir? atau mungkin hanya sebuah kebetulan?
Ah... apapun itu dia sebaiknya kembali pada rencana awal, yaitu mengucapkan terima kasih untuk bantuan yang kesekian kali.
Alena berniat mengetuk sekali lagi, tapi pintu itu keburu terbuka sehingga tangannya malah mengetuk dada pria jangkung dengan kulit eksotis didepannya.
Keduanya langsung salah tingkah. Alena berdehem dengan ragu mendongak, untuk menatap wajah pria itu.
"Aku kesini.... mau bilang makasih buat bantuannya"
Jerome mengangguk dengan gerakan patah-patah, dia menggaruk belakang lehernya yang sama sekali tidak gatal "Sama-sama, anggap aja itu bentuk permohonan maaf aku karena ulah En selama ini"
"Tapi ini nggak ada hubungan sama sekali dengan pak direktur kan?" tanya Alena penuh selidik.
Jerome menggeleng dengan gerakan terlalu cepat sampai Alena takut kepala pria itu bisa saja copot dari tempatnya.
"Nggaklah, ini murni dari aku. En sama sekali nggak ada hubungannya dengan ini" Bohongnya.
Gadis itu tersenyum, seketika menghentikan waktu di hati Jerome.
"Makasih banget Jerom, aku nggak tahu lagi gimana jadinya kami kalo tanpa bantuan kamu selama ini"
Pria itu tersenyum "Sama-sama. Aku nggak keberatan kok bantu kamu sampe kapanpun"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1