EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Jarak


__ADS_3

El manatap ke arah pintu yang tertutup. Pria itu baru saja pergi. Dan gadis ini seperti baru tersadar kalau sejak tadi dia sama sekali tidak memberi Kayden kesempatan untuk bicara atau untuk membela diri.


Gadis itu melangkah cepat menuju pintu, walau mungkin hanya sebuah kebohongan yang akan dia dapatkan lagi dari pria itu, tapi setidaknya dia ingin mendengar alasan kenapa? Mengapa? dan Apa?


Langkah kaki Eleasha terhenti. Sosok Eduard menjulang dihadapannya. Dengan sengaja menghadang.


"Jangan pergi..."


Gadis itu menatap nanar kearah Ed " Tapi gue....juga... harus dengar ....."


"El... Please"


"Dia nggak.....Gue harus....pasti ada alasan kan? Makanya gue harus tanya langsung"


Langkah kaki El terhenti, gadis itu mengeryit dan meringgis kesakitan di detik selanjutnya saat cekalan Ed di tangannya mulai terasa menyakitkan "Lo nyakitan gue, Ed " rintih El.


"Supaya lo sadar! Dia deketin lo buat balas dendam atas kematian Lana!!!! Cinta sejatinya itu cuma Lana, dan faktanya Lana meninggal karena tabrakan yang melibatkan lo!!!"


El langsung terdiam, segala gerakan yang dia ciptakan sejak tadi demi mencapai pintu terhenti. Kenyataan itu kenapa dia bisa lupa?


Eduard mengacak rambutnya frustasi dengan tangannya yang bebas. Dia terlalu mengenal Eleasha dan dia tahu kalau hati gadis ini sudah berhasil tersentuh. El sudah membuka hati dan sayangnya pada orang yang salah.


"Tolong sadar, El. Kayden Abraham hanya menginginkan dendamnya terbayar dan hal itu adalah dengan kehancuran lo"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Elisa terlibat atas semua yang terjadi dan satu pun nggak ada laporan yang masuk ke gue, Jer?"


Jerome menatap pria yang baru saja menerobos masuk kedalam ruangan kerjanya. Hanya berpakaian santai dan masih dalam masa cutinya.


Jerome menghembuskan nafas, sepertinya juga Kayden sudah tahu tentang hal yang coba dia tunda dulu untuk diberitahukan padanya.


"Sorry tadinya gue pikir El kita nggak akan bertindak berlebihan. Tapi ternyata makin kesini Elisa semakin nggak bisa di prediksi dan nggak bisa lagi di nasehati"


"Papa Morgan tau nggak perbuatan El?"


Jerome menghembuskan nafas, dia berdiri dari kursi kerjanya kemudian menatap Kayden dengan tatapan senduh "Papa Morgan tahu. Dan....lo juga tahu beliau nggak akan pernah bisa menolak apapun permintaan yang keluar dari mulut Elisa"


Kayden mengusap wajahnya. Ekspresi wajah Eleasha yang sangat syok terlintas lagi dikepalanya. Tadinya Kayden begitu percaya diri kalau dia tidak akan lagi melihat air mata di wajah gadis itu. Tapi pada kenyataannya dia juga menjadi salah satu yang menyebabkan Eleasha menangis.


"Sudah sejauh mana Elisa terlibat? Dan si Armon itu? dimana dia sekarang?"


Jerome mengepalkan tangan, meyakinkan hatinya lagi untuk apa yang akan keluar dari mulutnya apakah bisa diterima oleh Kayden yang sekarang?


Kayden yang sudah tidak lagi memakai cincin ditangannya, Kayden yang mulai pulih dari luka.


"Gue belum tahu dimana anak itu"


Bohong. Jerome memilih untuk tidak mengatakan kebenarannya. Karena kenyataannya dia tahu dimana anak itu berada.


"Cari dia, kerahin semua buat temuin dia. Selain dia berbahaya untuk El, dia juga hutang penjelasan sama gue"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


El dengan mata berkaca-kaca menatap selembar kertas putih di atas meja didepannya.


Eduard menatapnya tajam, sengaja memukul meja untuk membuat gadis itu sadar.


"Dia nggak akan perpanjang kontraknya, Na"


Alena menatap El, suasananya sudah berubah kelam sejak dia menginjakkan kaki ke dalam apartemen ini.


"Apa ada yang terjadi selama aku nggak kesini?" Alena berusaha mencari tahu.


Eduard mengambil surat kontrak yang tadi dibawah Alena, kemudian membuangnya di dalam tempat sampah didekat pantry.


Mulut Alena menganga melihat hal itu. Dia tahu El tidak seharusnya memperpanjang kontrak, karena dulu dia juga menghasut Eleasha untuk memutuskan kontrak dengan pihak Managent mereka. Tapi dia juga ingat El pernah bilang kalau gadis itu akan tetap memperpanjang kontraknya dengan pihak agensi. Lantas kenapa bisa berubah lagi sekarang?


El mendongak menatap Alena "Gue akan menyelesaikan sisa kerjaan gue, Na. Tolong siapkan jadwal gue. waktunya nggak banyak tinggal beberapa minggu"


"Tapi kan kamu lagi cuti sekarang? Yakin mau kerja saat ini juga?"


El mengangguk "Tolong, Na. Gue akan kerja sampe hari terakhir." gadis itu melirik Eduard yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya "Karena kalau diam aja, gue akan gila" ucapnya kemudian segera berjalan masuk kedalam kamar dan menutupnya dengan cukup keras.


Kini giliran Alena yang menatap Eduard, menatap dengan tatapan meminta penjelasan


"Lo juga, Na keluar dari Agensi itu. Jadi Manager El aja secara mandiri" Saran Ed langsung.


Membuat Alena semakin kebingungan "Kalian ini pada kenapa sih, hah?" tanyanya dengan nada frustasi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sudah sejauh mana lo terlibat Elisa?"


Elisa yang baru saja keluar dari mobilnya dan berjalan beberapa langkah menuju rumahnya terhenti.


Dia berbalik menatap sosok yang sudah dia duga sejak awal mendengar suaranya. Sebenarnya tanpa mendengar suara pun Aura pria itu sudah sangat terasa.


"Elisa? Sejak kapan lo manggil gue begitu? akh... apa nama panggilan gue juga sudah disabotase sama si aktris itu?"


"Gue lagi nggak bercanda"


Elisa membuka kacamata hitamnya, menatap kakak sepupunya itu seperti ucapannya, raut wajah Kayden memang sangat amat serius sekarang.


"Seharusnya lo berterima kasih sama gue, pembunuh Lana itu perlahan tapi pasti membayar harga atas perbuatannya"


Tanpa sadar Kayden mengepalkan tangan "Dia bukan pembunuh Lana, dia juga korban" Ralatnya


Elisa sedikit terkejut, tapi didetik berikutnya gadis itu mendengus lalu kemudian tertawa terbahak. Dalam hati ia bertanya sudah sejauh mana Kayden terjatuh pada jebakan gadis jahat itu? Jelas ini tidak bisa dibiarkan.


"Korban? Lo yakin dia korban? Mau gue kasih tahu kebenarannya? Kecelakaan di hari pernikahan lo hampir dua tahun yang lalu itu yang menewaskan Lana, yang berada di balik kemudi itu Eleasha Halim"


"Bohong...."


Elisa menggeleng, Kayden sudah terjatuh cukup dalam ternyata "Itu yang lo yakini dulu, En. Gimana bisa lo berubah secepat ini? Udah dikasih apa aja sama cewek gatel itu? Tubuhnya pasti, sampe lo lupa dengan cinta lo sama Lana"


Kayden terhenyak, dia menatap kedua tangannya yang kosong. Cincin pernikahan dan tunangannya sudah tidak ada lagi disana. Elisa benar, dia sudah mulai melupakan Lana. Sebenarnya tidak dengan sengaja, karena pada kenyataannya mama Sonia juga yang mendorongnya untuk punya kehidupan baru.


"Gue tahu ini akan terjadi, lo pasti akan terjebak sama guna-guna si gatel itu. Makanya gue nggak bisa diam aja seperti yang lo sarankan dulu. See? Gue benar kan? lo harusnya bersyukur karena gue sudah bertindak dengan benar"


Elisa maju menepuk pundak Kayden, menatap mata sang kakak sepupu yang sekarang kehilangan nyala yang tadi.


"Sadar En, Eleasha pembunuh Lana dan itu adalah kenyataannya"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kayden menatap dengan tatapan senduh kearah gadis yang sedang menjalani proses syuting beberapa meter dari tempat mobilnya di parkir. Seharusnya ini masih dalam masa cuti mereka, seharusnya mereka sedang berdua didalam apartemen debut gadis itu.


Membicarakan banyak hal, memasak beberapa menu atau hanya diam sambil berpura-pura sibuk dengan gadget atau majalah.


"Sadar En, Eleasha pembunuh Lana. Dan itu kenyataannya"


Perhatian El teralihkan pada bunyi klakson dari mobil Tesla yang di parkir tidak jauh dari tempatnya syuting.


Jantung gadis itu berdebar tapi disaat yang sama juga terasa nyeri. Perkataan Eduard beberapa saat yang lalu terngiang lagi di telinganya.


"Gue lakuin semua ini buat lo, karena mungkin sekarang En memang nggak tahu kenyataannya. Tapi suatu saat dia pasti akan tau, kalau saat itu terjadi apa lo siap menerima kebencian dari dia? Apa lo siap hancur?"


"Mumpung ini belum terlalu dalam, belum terlalu berkembang, tolong segera matiin perasaan itu, El. Demi hidup lo dan demi Kayden juga. Memangnya lo mau hidup dengan pria yang lo bohongi seumur hidup?"


Eleasha memutar tubuh, memutuskan untuk membelakangi mobil itu. Memutuskan untuk tidak lagi bermimpi tentang sesuatu yang tidak mungkin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eleasha memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya"


Ucapan Jerome membuat Kayden mendongak. Tanpa sadar dia sudah mengepalkan tangan.


"Tapi Please, Alena jangan lo masukin ke penjara. Gue kasih ide ini sama sekali nggak mikir kalau Eleasha berani menolak perpanjang kontrak kalau kita ancam dia dengan memakai Alena"


Kayden menghembuskan nafas "Alena apa kita putuskan kontrak juga?"


Jerome menarik kursi dan segera membawanya mendekat kearah meja kebesaran Kayden "Hah? maksudnya gimana? Alena mau di pecat dari perusahaan?"


Kayden menatap Jemari tangannya yang kosong "Gue rasa dia butuh Alena untuk tetap disampingnya kan? Dia nggak boleh sendirian setelah sudah kehilangan begitu banyak"


Jerome tidak bisa menahan mulutnya untuk menganga, pria ini bertanya dalam hati apakah ini benar seorang Kayden Abraham yang dia kenal sejak kecil? Sepupunya yang egois sejak lahir? Sejak kapan dia berubah?


"Tolong lo atur semuanya, Jer. Tolong usahakan yang terbaik untuk dia"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semangat El, tinggal sedikit lagi. Gadis itu menatap naskah ditangannya. Ini adalah Web-series terakhirnya sebagai aktris dalam naungan management yang sudah menaunginya dari sejak awal. Sebenarnya dia bisa saja keluar sejak lama, mengingat sekarang banyak aktris yang tidak terikat dengan management manapun. Tapi belasan tahun bukanlah waktu yang sebentar, dia sudah berdiri bersama dengan agensi ini sejak awal karirnya.


Gadis itu menghembuskan nafas, mengingat tentang agensi juga membuatnya teringat dengan seseorang.


seseorang yang tidak sepantasnyan dia rindukan.


"El, jadi lokasinya bakalan pindah yah? lo udah baca skripnya kan?"

__ADS_1


Lamunan panjang El buyar, dia menatap pak sutradara yang tadi bersuara.


Gadis itu mengangguk, dia bohong. Jelas sejak tadi dia sibuk dengan pikirannya dan bukan dengan naskah ditangannya.


"Lokasinya nggak jauh, jadi **scene**nya kamu naik mobil, dan......."


El hanya mengangguk-angguk, perkataan pak sutradara perlahan tidak lagi terdengar di pendengarannya. Mendadak dunia berubah menjadi hening, tanpa suara walau semuanya tetap bergerak sebagaimana mestinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu mau tuntut Marco? Kamu sadar tidak hal itu juga akan berdampak pada papa?"


Pria yang berusia diakhir 50 tahun itu bersuara sambil menatap pria diawal 30 tahun itu dengan tatapan tajam.


"El juga akan terbawa-bawa, kamu sadar tidak?"


"Dia hampir bunuh saya dan juga menculik aktris dibawah naungan saya bagaimana saya bisa diam saja?"


"Tapi En,....."


"Papa Morgan tenang saja, saya akan menjamin papa dan Elisa tidak akan terbawa-bawa dalam semua Move yang saya buat"


Kayden berjalan keluar dari ruangan tapi sebelum mencapai pintu suara pamannya itu kembali terdengar.


"El sudah kehilangan suami, tolong jangan buat dia juga harus kehilangan kebebasannya karena alasan dan karena orang yang sama"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nyonya, ini ada surat buat nyonya"


Elizabeth yang sedang membaca majalah fashion langsung mendongak, dalam hati wanita pertengahan 40 itu sedikit binggung karena dia memang tidak pernah menerima surat lagi semenjak teknologi dunia semakin canggih. Terlebih lagi dia punya tim yang mengatur semua hal termasuk menerima surat jika memang ada.


"Dari siapa?"


Asisten rumah tangga itu menunjuk bagian amplop kepada sang nyonya besar "Disini tertulis Kayden Abraham, nyonya. Saya juga kurang tahu jelasnya karena ini di titipkan oleh tukang kebun. Apa saya perlu mencari tahu detailnya ke pos satpam?"


Elizabeth memutar otak, dia sepertinya begitu familiar dengan nama itu, entah pernah dia dengar dimana. Wanita cantik itu menerima amplop coklat itu kemudian mempersilahkan asisten rumah tangganya itu pergi.


Dia dengan tidak sabar langsung membuka amplop itu ketika ingatnnya berhasil mengingat nama Kayden Abraham.


Elizabeth mencengkram kertas yang baru saja dia baca, wanita itu kemudian mengeluarkan kembali lembaran-lembaran yang lain dari dalam amplop cokelat itu, tangannya mengepal kuat saat melihat beberapa foto yang menampilkan Marco sedang menatap El, sedang berbicara dengan El dan semuanya sangat terlihat betapa besar pancaran cinta dimata suaminya itu untuk sang putri.


Sebuah catatan menarik perhatian Elizabeth


Dear mama, ini saya Kayden Abraham calon suami putri kesayangan mama. jadi langsung ke pointnya saja, tolong jauhkan suami mama dari calon istri saya. Ini sebuah peringatan. Jujur saya bisa saja langsung menjebloskannya ke penjara kalau tidak mengingat dia itu sekarang berstatus sebagai ayah dari Eleasha.


oh iya, dia menculik El seminggu yang lalu tapi mama bisa bernafas lega karena El berhasil saya selamatkan. Apakah mama tau? Ah sepertinya tidak yah? Mengingat mama masih anteng sampai detik ini, artinya mama tidak tahu apapun yang dilakukan si brengsek....ups maksud saya calon ayah mertua saya itu dibelakang mama.


dari calon anak mantu kesayanganmu


Kayden Abraham.


Elizabeth mencengkram semua yang ada didalam tangannya. Dia tidak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Wanita itu kemudian meraih handphone dari atas meja kecil di dekatnya. Menelpon seseorang untuk mencari tahu apa saja yang sudah dia lewatkan selama ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


@Jln. Thamrin


El's Apartemen


Eleasha melangkah dengan terburu-buru, kalau saja bukan karena berkas pribadinya dia sama sekali tidak akan mau menginjakan kaki ke apartemen ini.


Gadis ini sedang berusaha menjadi lebih mandiri dengan tidak banyak melibatkan Alena lagi dalam setiap aktiftasnya. Ia cukup tahu diri, karena biar bagaimana pun Alena bukanlah Karyawan pribadinya sendiri, manajernya itu adalah staff dari Management yang menaunginya. Dalam hal ini adalah Agensi.


Setelah berhasil masuk kedalam Apartemen yang 5 kali lebih luas dibadingkan apartemen debutnya, El langsung saja menuju kamar tanpa ada niat ke tempat lain, dia sudah mengultimatum otaknya untuk tetap fokus pada tujuannya yaitu berkas-berkas pribadinya yang disimpan dalam laci di kamarnya.


El masuk kedalam kamarnya, segera menuju walk in closet kemudian langsung bergegas pada tujuannya yaitu laci tempat dia biasa menyimpan berkas.


Gadis itu bernafas lega saat dia berhasil menemukan apa yang menjadi tujuannya kesini.


Tanpa banyak membuang waktu lagi, El segera berjalan keluar dari walk in closet, dia semakin mempercepat langkah menuju pintu kamar untuk segera keluar dari ruangan yang dulu menjadi tempat ternyamannya, tapi saat hampir mencapai pintu, sebuah sosok keluar dari dalam bed cover yang digelar diatas ranjang miliknya bergerak begitu cepat menuju pintu dan berhenti disana.


Jantung El seperti diremas, kakinya seakan berubah menjadi jely sehingga membuatnya langsung tersungkur jatuh terduduk dilantai. Ketakutan itu menjalar begitu cepat dalam aliran darah El saat dia bisa mengenali siapa sosok yang berdiri didepan pintu, dengan sengaja memblokir jalannya. Sosok yang tengah tersenyum yang mampu membuat seluruh bulu kuduk El berdiri.


Yang lebih mengerikan dari pada setan sekalipun.


"Hallo... kak El, apa kabar?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Haii kalian apa kabar?


__ADS_2