EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
No: 3091


__ADS_3

Eleasha refleks mengepalkan tangan saat suara yang begitu familiar di pendengarannya terdengar. Gadis ini mati-matian menahan segala sesuatu yang siap keluar saat dia berbalik menatap sosok yang sangat ingin dia hindari didunia ini.


"Makeup nggak mampu nutupin wajah lelah kamu Sha"


El mengeram dalam hati, benci saat namanya disebut pria itu tapi masih terdengar begitu manis ditelinganya. Benci karena sampai detik ini pun dia masih setengah berharap kalau kehilangan pria ini hanyalah sebuah mimpi buruknya, setelah apa yang dia lakukan pada El selama ini.


"Sha, please.... pulang bareng aku yah?"


"NGG....AK" El berucap walau dengan nada bergetar setelah sepersekian detik hampir kehilangan kewarasannya. Hatinya masih saja goyah setelah tahu apa yang pria itu lakukan padanya. Bodoh memang.


"Gue nggak bisa duduk satu mobil dengan tenang bersama pria yang seharusnya gue panggil papa kan?"El menarik satu sudut bibirnya, memantapkan hati untuk menatap pria yang dulu adalah pusat dunianya, yang sama sekali tidak pernah terpikir akan berbuat hal sekejam itu padanya.


"Tolonglah sekarang bukan waktunya untuk hal begini, yang terpenting itu keselamatan kamu."


El mendengus. "Keselamatan? Lo bicara keselamatan setelah bikin gue hampir mati, setelah hancurin semua yang pernah gue percaya, sekarang lo bicara keselamatan? Ini sama sekali nggak lucu, Marco"


Marco benci dengan cara bicara gadis itu sekarang, dimana panggilan sayang untuknya sudah berganti menjadi 'Lo' yang dulu selalu dia protes karena kebiasaan El dengan Eduard menggunakan Lo-gue terkadang sampai terbawa padanya juga.


"Sha plis, dibanding kamu naik taxi online 100x lebih baik naik mobil aku. Kese..."Marco menarik nafas dia menyadari kekeliruannya "kamu akan aman kalo sama aku, dibandingkan dengan orang baru" lanjutnya dengan nada lembut, kembali mencoba membuat gadis itu setidaknya menggunakan aku-kamu saat bicara dengannya.


El hampir saja lupa kalau pria ini mengenalnya dengan sangat baik. Dia sempat lupa kalo dulu dia hampir menyerahkan segalanya untuk pria yang malah menusuknya dari belakang saat dia memikirkan masa depannya adalah berakhir tepat di sisi pria itu.


"Itu dulu, waktu gue masih merasa aman saat didekat lo. Itu dulu sebelum gue dihancurin sampe berkeping-keping oleh orang yang nggak pernah sekalipun terpikir akan nyakitin gue. Dan orang itu lo, Marco"


Tangan Marco mengepal, saat mendengar gadis itu mengalami kecelakaan, dia berperang dengan dirinya sendiri antara keinginan untuk berlari menemui gadis ini secepatnya atau tetap diam demi hukuman untuk gadis itu.


Tapi nyatanya disinilah dia berakhir, selalu saja daya tarik gadis itu berhasil mengalahkan segalanya.


Andai dia bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis yang sampai sekarangpun masih amat sangat di cintainya ini. Andai dia bisa berkata jujur supaya bisa memohon agar gadis itu bisa menunggu sampai semua rencananya selesai. Tapi jika hal itu dia lakukan, maka akan menambah sayatan untuk Eleasha.


"Gue sekarang lebih nyaman sama orang baru dibandingkan sama orang yang udah lama kenal tapi ujung-ujungnya nusuk dari belakang" Setelah mengatakan kebohongan itu El melangkah pergi meninggalkan sang mantan kekasih yang sekarang sudah berubah status menjadi ayah tirinya.


"Aku begini juga demi kamu, Sha" gumam Marco pelan sambil lagi-lagi memandang punggung mungil itu yang berjalan menjauh.


...****************...


El menghentikan langkah kaki, mencoba mengatur kembali nafasnya yang masih memburu. Gadis itu mengangkat wajah menatap semburat jingga di langit.


"Lo keren El, lo keren" gumam gadis itu pelan. Setelah perjuangannya selama ini, gadis ini bisa berbangga diri karena dia tidak lagi lemah pada sosok itu, dia tidak lagi goyah seperti saat pria itu mengumumkan pernikahannya dengan orang yang tidak lain adalah mamanya sendiri.

__ADS_1


Saat itu El masih beberapa kali berlari menemui Marco, mencoba mengubah keputusan pria yang sudah bertahun-tahun bersamanya, mencoba membujuknya agar berhenti bersikap seperti anak kecil yang merajuk karena pertengkaran kecil mereka, mencoba merayu dengan segala macam cara tapi pada akhirnya pria itu tetap saja menikahi ibu kandungnya. Mengubah status yang awalnya sebagai Tunangan menjadi seorang ayah tiri.


Haruskah dia bersyukur karena insiden jatuh di jurang? Karena sejak kejadian itu caranya memandang Marco jelas menjadi berbeda.


Gadis itu berjongkok kali ini menatap sepatu converse miliknya. Tanpa sadar air mata sudah mengalir. Sial ternyata masih ada sisa. Rasa sesak, rasa sakit, rasa benci untuk sang mantan kekasih masih menggerogoti hati.


...****************...


"Gue nggak habis pikir sama orang-orang jaman sekarang, bisa-bisanya mereka merekam doang tanpa menolong. Habis itu diupload lagi ke medsos" Jerome menggerutu sambil mengutak-atik laptop didepannya "terus seakan masih kurang, mereka tulis komentar seolah-olah paling tau situasinya, lihat kan? Ada komen yang menyimpang kayak Eleasha menangis karena Eduardlah? Siapalah....susah yah nitijen"


Kayden menatap layar monitor didepannya, video gadis yang sedang menangis sambil berjongkok itu terputar berulang-ulang disana, sebenarnya tidak akan terlihat seperti orang yang sedang menangis karena punggung gadis itu tidak bergetar layaknya orang sedang menangis. Tapi gerakan tangan yang terus menerus menyeka bagian pipinya, cukup membuat orang tau kalau gadis itu sedang menangis.


Sebenarnya Kayden tidak perlu melihat video berdurasi 7 menit itu, karena saat kejadian itu ia ada disana melihat secara langsung semua hal yang media tidak tahu, media hanya mendapatkan sebagian kecil dari rangkaian peristiwa itu, dan seharusnya tidak ada yang pantas memberikan komentar karena mereka tidak tahu apapun.


"Basis fansnya si Eleasha ini juga besar di malaysia sama filipina, mereka yang banyak ngajuin protes ke pihak Agensi." Jerome berucap dengan perhatian yang masih fokus ke laptop. Pria itu entah kenapa bekerja ekstra akhir-akhir ini apalagi jika menyangkut tentang Eleasha.


"Kita pihak agensi akan buat pernyataan dulu, si Eleashanya biar sembunyi dulu sementara sampai hal ini mereda. Video itu lagi di take down sama pihak IT kita"


Kayden menatap Jerome yang asyik dengan laptop didepannya.


"Gue udah reschedule semua jadwalnya Eleasha tinggal......kenapa lo natapin gue begitu amat?"


Kayden semakin lekat menatap sepupunya itu "Lo lagi cosplay jadi Alena sekarang?" Tanyanya penasaran.


Kayden mengangguk-angguk sambil tersenyum "udah...udah gue paham sekarang, pantes aja elo kalo bagian yang melibatkan Alena gerakkan lo cepat, ternyata...." En menatap Jerome yang mulai gelisa dikursinya "sejak kapan?"


"Apaan sih? Lo kok mirip nitijen yah, suka ambil kesimpulan sendiri" bantah Jerome. Hubungan dia dan Alena memang belum ada kejelasan sama sekali, satu-satunya yang jelas hanyalah jantung pria ini yang selalu berdebar tidak wajar saat berada didekat gadis itu.


Kayden menyeringai "pokoknya lo nggak boleh lupa, dilarang pacaran di dalam perusahaan" ancamnya lagi.


"Bedalah orang dia karyawan Golden stars management"


"Just in case, itu masih bagian dari Kay Group."ucap En penuh kemenangan "Restu gue bakalan turun, asal......"


Jerome menatap pria itu sewot "asal apa?" Tanyanya dengan nada yang tidak kalah sewot, tapi juga penasaran dengan kelanjutan ucapan Kayden.


"Lo harus buat gimanapun caranya terserah lo, buat Eleasha stay disini, tetap di bawah naungan gue"


Hening...

__ADS_1


"Eleasha punya apart lain selain yang di kuningan, dan dia memang jarang pulang ke rumah yang di Kemang." Jerome buka suara, hal ini merupakan informasi yang amat sangat rahasia, dipastikan tidak ada yang tau selain orang-orang yang terlibat langsung.


"The Boulevard apartement, Tanah Abang. No: 3091. Kali aja lo mau berkunjung kan?"


...****************...


"Maaf Na, gue benar-benar khilaf kemarin"


El memelintir ujung gaun tidurnya, benar-benar merasa bersalah.


"Yang penting kamu baik-baik aja sekarang, El. Untuk urusan yang lain kamu nggak usah pikirin" suara Alena terdengar dari seberang telpon.


El mengangguk, dia sangat bersyukur punya Alena yang selalu ada untuk menyelesaikan segala kekacauan yang dia perbuat, disaat gadis itu bahkan masih dalam proses penyembuhan sekalipun. Apa jadinya seorang Eleasha Halim tanpa seorang Alena?


"Na, kayaknya ada tamu deh. Gue bukain pintu dulu" ucap El saat mendengar bunyi bel


"Ya udah, aku tutup telponnya yah? Kalo bukan dari orang yang nggak dikenal pintunya nggak usah dibuka"


"Nggak ada yang tau alamat apartemen ini kan? Di Profil gue semua alamat palsu kan? Lo tenang aja palingan itu makanan yang gue order" setelah memutuskan panggilan telpon El segera berlari ke arah pintu, pesanan makanannya pasti sudah datang.


Karena video viral itu, dia terpaksa harus mengurung diri dikamar menunda semua jadwal sampai pemberitaan sedikit mereda.


Karena sejak kemarin sore keadaan hatinya sedang tidak baik, dia melupakan pesan Alena tentang memeriksa terlebih dahulu siapa yang menunggu didepan pintu, perutnya perlu diisi sesegera mungkin, masa bodoh dengan layar monitor di pintu.


Tangan gadis itu memutar kenop pintu, dan matanya langsung membelalak saat melihat siapa yang berdiri didepan pintu rumahnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


...****************...


"Kok lo natap gue kayak gitu? Ketampanan gue nambah yah? Astaga padahal gue udah berusaha nggak ngeluarin daya tarik gue lho"


El memutar mata, ingin sekali menonjok muka yang dibilang tampan itu, walaupun memang seperti itu kenyataannya.


"Gue bawa makanan kesukaan loe. Gue tau pasti elo butuh kakak kan disaat-saat seperti ini. Tenang i'll be there for you."


El tidak lagi bisa menahan tinjunya untuk mendarat di bahu pria itu "kakak muke loe, kita berdua cuma beda 2 jam 30 menit tau"


"Tetap aja kakak Ed ini yang lahir kedunia duluan kan?" Ed berucap sambil meletakkan barang-barang bawaannya diatas meja makan, tubuhnya bergerak luwes mengambil peralatan makan tanpa perlu menanyakan tempatnya pada sang pemilik rumah, pria itu seperti ditakdirkan untuk tempat ini.


El menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja memperhatikan sosok itu yang sedang berceloteh panjang lebar tentang banyak hal. Ed sangat kontras dengan semua hal dalam hidup El, pria itu paling mengerti dirinya bahkan lebih dari dirinya sendiri. Terkadang El juga khilaf karena sempat terpikir apakah semuanya akan berbeda saat dia pada akhirnya bersama Ed? Karena jika bersama Ed gadis ini tidak perlu mengkhawatirkan apapun

__ADS_1


...****************...


Adakah yang masih menumpang di kapal El?


__ADS_2