
Jerome menatap Kayden, kemudian menatap brownis yang tidak hanya ada ditangannya tapi juga di dalam mobil box yang kali ini mereka bawa dan terakhir menatap sosok Eleasha dan Ed yang sedang berpelukan dalam jarak beberapa meter didepan mereka.
Rasanya Jerome ingin memberi Kayden pelukkan juga. Melihat mata sepupunya itu sangat jelas terpancar kesedihan tapi juga ada sedikit bara disana.
"Lo mau kemana, En?" tanya pria itu saat melihat Kayden memutar badan dan mulai berjalan pelan ke arah mereka datang.
"Balik"
Jerome menganga tidak percaya "lha terus brownis-brownisnya?"
"Terserah lo mau diapain"
"1 mobil lho ini, kenapa nggak lo samperin mereka aja sih?"
Kayden berhenti untuk kembali menatap Jerome "nanti pasti gue samperin, tapi bukan sekarang" baru beberapa langkah Kayden berhenti lagi, "bagiin buat orang-orang yang lo temuin di mana aja, terus kalo masih ada sisa kasiin juga ke karyawan"
"terus lo mau kemana?"
"Jalan-jalan. Kalo gue mau pulang gue akan hubungin pak Suryo buat jemput. Lo nggak usah khawatir, kerja aja yang benar"
Jerome berdecih "terus lo?"
"gue masih sakit, lo nggak lihat kaki gue ada 3 sekarang?"
"nggak lucu yah" Jerome jadi sewot dengan dark jokes Kayden.
"Gue juga nggak lagi ngelucu, tapi entah kenapa takdir malah nertawain gue sekarang"
So sad....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
Eleasha mengelus punggung pria yang ada dalam pelukannya, pria yang dia tahu kalau sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Lo boleh marah, nangis atau apapun yang lo mau Ed.Terkadang hal itu perlu untuk hidup"
Eduard menghembuskan nafas berat "Elisa bakalan pergi dari negara ini"
El sempat terperanjat kemudian segera menambah erat pelukannya.
"Gue benar-benar akan kehilangan dia kali ini"
"Terus kenapa lo nggak tahan dia?"
Eduard menggeleng lemah "karena ada kesalahan dia yang nggak bisa gue tolelir lagi"
El melepas pelukannya, "lo tinggal maafin kalo begitu"
"gue nggak bisa"
"Kenapa?"
Eduard menatap Eleasha, karena Elisa yang kasih tahu semua skandal fitnah lo sama opa dan buat dia kepikiran sampai kecelakaan. Pria ini hanya bisa membantin, tidak sanggup menceritakan hal yang selama ini mengganjal hati.
Eleasha menyipitkan mata, menyelidiki raut wajah pria didepannya dan dia bisa langsung tahu arti dari ekspresi itu, "pasti ada hubungannya sama gue kan?"
Eduard menghembuskan nafas berat "nggak"
"nggak usah repot-repot bohong karena gue tahu banget lo gimana, Ed"
Eduard menghindari tatapan El, sesuatu yang selalu dia lakukan saat dia berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
Gadis itu mendengus melihat tingkah Eduard sekarang, dia sudah terlalu mengenal Eduard sampai hal terkecil sekalipun, jadi akan percuma saja jika Eduard tetap diam karena dia akan membuat pria itu bicara bagaimanapun caranya.
"Lo pasti akan marah saat tahu, karena gue juga begitu" Eduard memperingatkan.
__ADS_1
Eleasha mengangguk, sudah pasti akan begitu adanya sampai sahabatnya ini bahkan memgambil keputusan berpisah dengan istri yang dia cintai "gue tetap ingin tahu"
Eduard menghembuskan nafas beratnya lagi "Elisa bekerja sama dengan Marco"
"Wajar aja, Marco orangnya manipulatif kan? Wajar kalo sampe istri lo khilaf juga dan...."
"Elisa yang kasih tahu opa tentang skandal fitnah lo" potong Eduard.
Eleasha mengerjab, berusaha mendapatkan fokusnya kembali.
"Secara nggak langsung, Elisa yang buat opa meninggal" Eduard mengigit bibirnya, perasaan frustasi itu kembali datang mengiris pelan hatinya. Opa dan oma adalah orang tua yang membesarkannya, merawatnya sedari lahir bahkan sampai melepasnya untuk berumah tangga. Jadi bagaimana mungkin Elisa yang adalah istrinya bisa melakukan hal itu?
Semantara Eleasha, gadis itu hanya bisa diam sama sekali tidak bisa berkata apapun. Gadis ini setengah berharap pendengarannya salah kali ini, ibarat luka yang hampir sembuh lalu kemudian datang luka baru yang lebih dalam dan lebih lebar, Eleasha tidak tahu lagi seperti apa bentuk hatinya sekarang.
"Kalo pun gue berlutut mohon ampun sama lo sekarang, gue nggak mampu El, karena ini juga sakit banget buat gue"
Eleasha mengusap wajahnya berkali-kali, dia ingin sekali meminjam hati tante Sonia untuk dia pakai saat ini.
"Tapi Elisa hamil anak lo, Ed" ucap Eleasha pada akhirnya.
"Nggak itu pasti hanya prank dari Lisa, dia suka gitu dia itu suka...." ucapan Eduard terhenti saat melihat gelengan kepala dari Eleasha.
"Gue nggak sengaja dengar obrolan tante Sonia dan Kayden tentang Elisa yang lagi ngidam yang kelewatan karena sudah termasuk membahayakan diri sendiri." gadis itu menatap Eduard "istri lo benaran hamil, Ed."
Eduard menelan ludah yabg terasa seperti batu "Lisa beneran hamil" itu jelas sebuah pernyataan bukan pertanyaan, hanya saja nada dalam setiap penggalan kata terasa tidak meyakinkan dari si pemilik suara.
"Kalo lo nggak percaya juga, gue lagi nunggu info dari Alena tentang ini"
"Tapi....Lisa udah bikin salah" pria itu sedang berperang dengan egonya yang besar.
Eleasha maju untuk menepuk pundak Eduard, kalau boleh jujur dia juga belum sepenuhnya bisa menerima hal ini, hanya saja dia harus cepat memutuskan.
Karena sebagai wanita yang sedang mengalami hal yang sama dengan Elisa dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kalo opa sama oma masih hidup, mereka akan suruh lo kejar Elisa lagi. Mereka akan suruh lo bertanggung jawab dan jadi papa yang baik"
"Kita perlu mengampuni Ed, dan juga move on dari semua ini"
Ting
Nada suara dari handphone yang sedang di genggam Eleasha membuat gadis itu fokus pada benda persegi itu.
"Kalo lo berangkat sekarang, gue rasa masih keburu."
Eduard mengernyit binggung.
"Elisa sedang menuju bandara sekarang dia mau keluar negeri. Eduard Erasmus Santoso tolong pertahankan cinta lo. Dan bayi kalian juga"
...****************...
Jl. Senopati
Jakarta selatan.
Kayden menatap lalu lintas didepannya memasrahkan punggungnya bersandar di sandaran tempat duduk yang tersedia di trotoar jalan. Kilasan Eleasha yang memeluk Eduard kembali memenuhi kepalanya.
Pria itu kesal, marah tapi Kayden tahu dia sama sekali tidak berhak. Tapi untuk sekarang Kayden sama sekali tidak ingin mundur apalagi pergi. Dia akan mencoba segala cara untuk bisa kembali mendekati Eleasha.
Dan sintingnya lagi, meski sudah tahu kalau gadis itu sedang mengandung bayi pria lain Kayden sama sekali tidak mau peduli karena baginya selama wanita itu Eleasha, dia tidak peduli dengan yang lainnya lagi.
Pria ini memang sampai sekarang masih terus dihantui dengan fakta kalau gadis itu adalah pembunuh Lana, karena pada akhirnya dia memiliki bukti dan juga saksi yang sudah berhasil dia dapatkan selama ini, kalau Eleasha yang sebenarnya pada
saat kecelakaan itu berada dibalik kemudi.
Hanya saja fakta terbaru yang di kuak pihak polisi tentang keterlibatan Marco dengan obat-obatan terlarang, membuat dia seakan harus merasa bersalah pada Eleasha karena ternyata jenis kandungan obat tidur pada tubuh gadis itu dari hasil pemeriksaan pada waktu kecelakaan memiliki kesamaan dengan koleksi terlarang yang dimiliki Marco, gadis itu secara otomatis bebas dari tuduhan pembunuhan.
__ADS_1
Seperti kata mama Sonia, gadis itu pasti tidak berniat sama sekali memisahkan Lana dari mereka.
"Selamanya aku akan merasa bersalah sama kamu. Tapi Lana, aku sama sekali nggak mau kehilangan dia, tidak untuk kali ini" bisik Kayden pelan.
...****************...
Eduard memakirkan mobilnya asal saat tiba di bandara. Matanya menelusuri segala arah, kakinya bergerak cepat menuju penerbangan luar negeri.
Hatinya mungkin belum sepenuhnya memaafkan, hanya saja dia tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi lagi.
Eduard mengerahkan seluruh fokusnya untuk menemukan Elisa, ia mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa mengelilingi tempat manapun asalkan bisa bertemu gadis itu.
Bruk
Sambil membungkuk dokter tampan itu meminta maaf, fokusnya masih ke segala arah sampai sebuah tangan meremas pundaknya kuat untuk merebut kembali fokusnya.
"Sedang apa kamu disini Eduard?"
"Papa? Aku mau cari Lisa, pa."
"Buat apa Eduard? Kamu sebaiknya fokus saja dengan bayi kamu"
Eduard mengangguk dengan nafas yang memburu "iya pa makanya aku mau cari Lisa"
"anak kamu dengan Eleasha!!!!" Morgan langsung berdehem saat pandangan orang-orang yang ada di dekat mereka tertuju padanya, dia tersenyum kemudian pura-pura menepuk pundak Eduard pelan.
"Anak dengan El? "Eduard menggeleng dengan tatapan tidak percaya "El tidak mengandung anak saya pa" bisik Eduard pelan, tapi dengan nada penuh ketegasan.
"lalu anak dengan siapa?"
"Papa sebaiknya tanya hal itu pada En, dia yang paling tahu bayi dalam kandungan El itu milik siapa"
Morgan terperangah mendengar ucapan mantan anak mantunya itu.
"Kalo papa sayang cucu papa, tolong kasih tahu aku dimana Elisa sekarang"
Dan Eduard langsung melesat pergi saat selesai mendengar jawaban dari mantan ayah mertuanya itu, dia tidak lupa memeluk sang ayah dan mengucapkan terima kasih sebelum menghilang diantara kerumunan orang.
Morgan menghembuskan nafas "Masih ada satu lagi yang harus ditangani"
...****************...
"Gue akan berhenti dari dunia enterteiment"
Alena menatap El, meski sudah mempersiapkan hati untuk kemungkinan itu tetap saja gadis mungil ini tidak pernah siap.
"Terus untuk kontrak yang sudah terlanjur kita terima?"
"Gue siap bayar uang pinaltynya"
Alena menghembuskan nafas, dia tidak seharusnya memaksa Eleasha jika memang gadis itu tidak ingin lagi bertahan di dunia yang sudah membesarkan namanya itu.
Lagipula setelah semua rentetan kejadian yang dia hadapi, istirahat adalah sesuatu yang pantas untuk El terima.
"Tapi lo masih punya satu pemotretan dengan ko Rio, dan setelah itu semuanya selesai"
Eleasha mengangguk setuju. "Makasih, Na. Makasih juga karena lo nggak menuntut gue untuk cerita"
Alena tersenyum "kamu pasti punya alasan untuk nggak cerita, dan aku maklumi itu El"
El mengingit bibirnya kuat, mungkin dia bisa berbagi rahasia ini pada Alena karena gadis itu adalah saksi hidup perjalanannya dari memulai karir sebagai aktris pemula yang tidak terkenal sampai dengan pada saat ini. Alena tidak pernah pergi darinya.
"Gue hamil"
Alena refleks menutup mulutnya "Kamu hamil?" Tanya Alena setengah berharap pendengarannya salah.
__ADS_1
...****************...