
Air mata El menetes, dia tahu ini adalah hal terbodoh yang dia lakukan.
Tapi dia hanya mengikuti keinginan pria itu meski dari hatinya yang paling dalam dia sangat berharap Kayden tidak akan lepas kendali.
Namun kenyataannya semua kata yang keluar dari mulut pria itu memprovikasinya untuk menantang Kayden, dia tidak ingin terluka dan terlihat menyedihkan sendirian, Kayden pun harus sama terluka seperti dirinya.
Bibir pria itu mulai bergerak mendekati leher, mengecup lembut dan berakhir pada gigitan yang membuat gadis itu menjerit.
Kayden menegakkan badannya, menatap gadis itu dengan mata yang mulai berkabut. Pria itu tidak bisa menahannya lagi seperti saat insiden obat perangsang, kali ini dia benar-benar ingin memakan gadis itu seutuhnya.
Dan membayangkan hal ini bukanlah sesuatu yang baru untuk El, membuat Kayden lebih tidak ingin berbaik hati untuk berlaku lembut sama sekali.
"Kenapa? Udahlah nggak usah bertingkah sok suci, bukannya kamu ahlinya? Kenapa cuma diam? buka kain yang tersisa, sekarang"
El membuang muka mengigit bibirnya kuat, harga dirinya benar-benar di injak-injak oleh pria itu. Gadis ini seakan merasa seluruh manusia di bumi sedang meludah padanya sekarang.
Sambil menahan tangis El meraih pengait bra yang terletak dibagian depan, dengan hati yang hancur dia pun melapaskan kain yang menutup *********** itu dan membuangnya begitu saja di lantai.
El menarik nafas saat dadanya mulai terasa sesak, ketika bersama Marco dia bahkan tidak pernah seterbuka ini. Kayden akan menjadi yang pertama baginya dan lucunya demi untuk keadilan gadis lain.
"Sisanya Anda buka sendiri"
"Kenapa? Bukannya kamu suka striptis di depan laki-laki, atau ini permainan baru? kamu merasa lebih bergairah kalo aku yang buka?" Kayden berjalan mendekat, pria itu menarikan jemarinya di paha mulus gadis itu sebelum ibu jarinya berhenti di pinggang dan diselipkan diantara karet panty. Hanya perlu satu sentakan sampai kain yang tersisa ditubuh El itu melorot ke lantai
Kayden meraih gadis itu dalam pelukan, dia tidak bisa lagi menahan lebih lama untuk mencumbu El secara membabi buta, menyentuh di semua bagian tubuh seakan ingin menghilangkan jejak-jekak pria lain yang yang pernah ada disana.
...****************...
Kayden menatap punggung yang bergetar, berbaring membelakanginya di sisi ranjang yang satunya. Rasa bersalah langsung memenuhi dada saat percintaan itu berakhir.
Karena di kuasai cemburu buta, pria ini bahkan tidak sadar dengan wajah kesakitan dan suara memohon Eleasha. Dia terus bermain kasar tanpa peduli apalagi menyadari fakta kalau apa yang terjadi semalam adalah kali pertama untuk gadis itu.
Si brengsek Marco menipunya, dan dengan bodohnya dia termakan omongan sampah itu.
Tangan Kayden sudah terulur untuk menyentuh punggung El, dia ingin meminta maaf atas perbuatannya tapi apakah itu cukup?
Bahkan setelah pelepasan yang pertama dia tidak juga berhenti dan terus melanjutkan aksi bejatnya lagi. Semalam dia benar-benar dimabuk kepayang oleh sensasi luar biasa saat menyentuh tubuh gadis itu.
Saat tangan Kayden hampir menyentuh punggung terbuka Eleasha, matanya malah salah fokus kearah bingkai foto diatas nakas yang berada di sisi yang lain, foto Lana yang sedang tersenyum kearah kamera bersama dia yang mencium pipi gadis itu.
Kayden mengeram berakhir dengan meninju udara saat menyadari betapa brengseknya dia pada dua gadis itu.
...****************...
Eleasha menahan rasa sakit luar biasa di sekujur tubuh. Bagian intinya terasa sangat nyeri tapi hatinya berkali-kali lipat jauh lebih sakit lagi.
Gadis itu menutup mulut untuk mencegah isak tangisnya terdengar, sungguh sangat miris saat dia bisa terisak untuk pertama kali sejak kemampuan itu lama menghilang, El malah harus menahan sekuat tenaga agar isakan itu tidak terdengar keluar.
Dengan pandangan yang kabur akibat air mata El tidak sengaja menatap foto diatas nakas, sebuah sayatan baru bertambah di hatinya. Lana seakan menertawakan apa yang baru saja dia alami, seakan dia memang pantas menerima apa yang sudah terjadi.
Tangisan El lepas, dia terisak hebat seorang diri di kamar besar ini. Dia ditinggalkan sendirian meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.
...****************...
Kayden meninju dinding berkali-kali saat mendengar isak tangis gadis itu.
Hatinya berperang antara rasa bersalah dan rasa puas karena keberhasilannya untuk menghancurkan gadis itu.
Pria itu bergumam berkali-kali meyakinkan diri kalau perbuatannya sudah benar, Eleasha memang pantas mendapatkannya karena sudah mengambil hidup Lana.
Tapi sekuat apapun dia meyakinkan hatinya, tetap saja ada lobang menganga di sana yang tidak bisa tertutup meski dia mencoba percaya dengan apa yang baru dia perbuat.
Raut wajah kesakitan gadis itu, tatapan terluka saat menatapnya dan isak tangis yang pertama kali dia dengar, entah kenapa juga menyakitinya. Kayden benci karena dia yang menyebabkan gadis itu menangis dan terluka parah dengan dalih
keadilan untuk Lana.
Pria itu menyeka air mata di pipi, entah sejak kapan dia juga mulai menangis tanpa suara.
...****************...
Elisa membuka mata dan mengeryit saat merasakan sakit dari kepalanya, rasa nyeri juga terasa dari punggung tangan yang saat disadari ternyata dia sedang di infus.
Ini juga bukan ruang kamarnya, ini jelas ruang VVIP rumah sakit swasta milik Kaygroup.
__ADS_1
"Sudah bangun, nak?"
Elisa menengok ke asal suara dan mendapati papanya sedang menatapnya khawatir.
"Kamu nggak mau makan, terus menerus muntah dan akhirnya pingsan. Papa langsung bawa kamu kesini biar bisa langsung ditangani"
Refleks gadis itu memegang perutnya.
"Dia baik-baik aja, karena itu kamu harus makan demi bayi di dalam perut kamu"
Elisa tersenyum miris, tanpa dia sadari dia sudah menyakiti calon bayinya yang tidak tahu apa-apa. Yang seharusnya tidak menerima luka dari perpisahan orang tuanya. dia kemudian menatap sang ayah, mulai detik ini dia akan memberikan semua yang terbaik untuk calon bayinya meski tanpa sosok ayah sekalipun.
"Aku mau makan pa"
Morgan tersenyum kemudian menuju pantry untuk menyiapkan makanan untuk sang putri kesayangan.
"Makan yang banyak, karena si bayi juga ikut makan"
Gadis itu mengangguk, mendapat kekuatan baru dari bayi yang sedang bertumbuh dan berbagi banyak hal dengannya.
...****************...
Eleasha memaksakan diri untuk bangun, memakai kembali pakaiannya yang entah sejak kapan berada di kamar ini, dia bahkan harus mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk memakai sebuah dress sederhana.
Setelah semuanya selesai, El bergegas turun ke lantai bawah untuk keluar dari rumah ini tanpa harus bertemu dengan laki-laki itu.
Saat berada di lantai bawah tempat insiden tadi malam itu dimulai El melihat tas dan barang bawaannya, ia menyempatkan diri untuk memungut barang-barang yang berhamburan karena di tendang pria itu.
Mulai dari Handphone, dompet, masker, topi, botol parfume yang sudah tumpah karena pecah, dan juga lipstik.
"Jangan tinggalin apapun, Saya nggak mau melihat satupun barang kamu disini" Suara Kayden terdengar.
El sempat membeku sesaat saat mendengar suara bass itu, pria itu mulai menggunakan kata saya sekarang, semakin menegaskan arah yang dia inginkan untuk mereka.
Sebuah amplop berwarna cokelat dilemparkan tepat disamping gadis itu.
"Itu semua bukti tentang kamu dan mantan kekasih yang sudah jadi ayah tirimu. Saya tidak akan menarik kata-kata saya untuk tidak memenjarakan kalian berdua"
El menatap amplop itu mengambilnya lalu segera berdiri saat dia sudah menyampirkan tali tasnya di bahu. Gadis itu ingin segera berjalan keluar karena dia sama sekali tidak ingin menghirup oksigen yang sama dengan pria itu.
Eleasha yang pertama kali tersadar, gadis itu kemudian mundur selangkah sebelum bersuara.
"Saya harap anda akan menepati janji anda dan tolong jangan pernah berpikir untuk meminta apa-apa lagi dari saya, karena saya sudah tidak punya apapun lagi untuk diberikan pada anda" El memilih berjalan sedikit menjauh dari Kayden untuk bisa mencapai pintu, tapi sekali lagi pria itu dengan cepat berdiri di depannya dengan sengaja menghadang.
"Saya sudah membayar anda sesuai dengan yang anda mau" gadis itu meremas amplop yang sedang dia pegang "mulai hari ini, detik ini kita sudah tidak lagi saling berhutang apapun"
Pria itu menyeringai maju semakin dekat dengan Eleasha, sedikit membungkuk untuk berbisik "kamu nggak usah khawatir, karena saya cukup jantan untuk menepati janji yang sudah dibuat. Lagipula saya bukanlah pria yang suka memakai sesuatu yang sama dua kali, saya tipe orang yang jika sudah memenangkan sesuatu, nggak akan pernah mengingatnya lagi"
El mengerjab, membasahi bibirnya yang pucat berusaha bertahan untuk tidak terlihat lebih menyedihkan di hadapan pria ini.
Gadis itu tersenyum tipis kemudian menatap Kayden "Saya harap anda bahagia dengan kemenangan anda ini, Pak direktur yang terhormat" ucapnya kemudian segera berjalan keluar dari rumah itu.
El terus berjalan walau kakinya sudah gemetar, dia berusaha untuk tidak menangis setidaknya tidak sekarang, tidak ditempat ini. Rasanya sudah cukup harga dirinya di injak-injak dirumah ini, dia sama sekali tidak ingin semakin terlihat menyedihkan disini.
Saat dia sudah berhasil keluar dari rumah besar itu, dan pintu utama sudah tertutup. Eleasha perlahan jatuh terduduk di lantai teras rumah milik pria yang sampai detik ini adalah yang paling menyakitinya. Gadis itu luruh disana, menangis terseduh dengan seluruh luka yang dia punya.
...****************...
Kayden menatap pintu utama yang tertutup, perasaan sesal itu langsung merayap disekujur tubuh membuat pria itu membenci dirinya atas semua yang dia lakukan pada gadis itu.
Semua yang dia katakan sama sekali bukan yang sebenarnya, hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuknya merendah, dia juga terlalu malu mengakui kebodohannya yang mempercayai omong kosong Marco dan tidak bisa memaafkan diri sendiri yang sampai ******* berkali-kali disaat gadis itu kesakitan karena merupakan kali yang pertama.
Kayden mengusap wajahnya kasar, seharusnya itu bukan malam pertama yang pantas untuk Eleasha.
Pria itu tidak sengaja mendapati sesuatu yang terlihat berkilau dari bawah sofa, Kayden berjalan mendekat membungkuk untuk meraih benda yang sedikit tersembunyi itu, dia langsung menahan nafas saat tahu apa yang sedang dalam genggamannya.
Kalung dengan liontin betuliskan nama panggilan gadis itu, yang diapit dua bunga lily. Kalung yang dulu pernah dia temukan di makam Lana dan sudah dia kembalikan saat di pemakanan opa dan oma Eleasha.
Kayden meremas pelan bandul itu, dia kembali menatap pintu dan kembali merasa bersalah lagi.
...****************...
"Dari mana saja kamu El? Semalam kamu tidur dimana?"
__ADS_1
El yang baru masuk kedalam apartemen debutnya ini menatap sang mama yang juga sedang menatapnya. Gadis itu menghembuskan nafas berat, sudah tidak ingin merasa heran apalagi bertanya tentang bagaimana bisa mamanya menemukan tempat ini.
"Eleasha!!!"
"Aku mau mandi, ma. Aku kotor" Jawab gadis itu sambil berjalan menuju kamarnya kemudian menutup pintu.
El masuk kedalam kamar mandi, masih dengan pakaian lengkap gadis itu masuk dalam bathup menyalahkan shower dan membiarkan tubuhnya basah. Berharap air ini bisa menghilangkan jejak-jejak yang tertinggal ditubuhnya.
Sedetik kemudian gadis itu sudah menangis lagi, memeluk diri sendiri karena sekarang hanya ada dia yang tersisa untuk dirinya sendiri.
...****************...
Kayden berjalan keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri juga merenungi segala perbuatan bejatnya pada gadis itu.
Ternyata saat emosi tidak lagi menguasainya semua yang terlewatkan kembali bisa dia ingat dengan baik. Saat El memohon untuk sedikit lembut tapi tidak dia hiraukan, atau saat gadis itu merintih kesakitan saat penyatuan pertama mereka.
"Brengsek!!!"
Dia berhenti didepan ranjang yang menjadi saksi bisu pergulatan mereka semalam dan kembali emosi saat melihat sprai dan selimut yang berantakan. Matanya menangkap bercak noda di atas sprai light grey miliknya yang semakin membuat pria ini tidak bisa memaafkan diri sendiri.
Dia memang bukanlah pria kolot yang menganggap noda darah adalah syarat mutlak sebuah keperawanan, selain karena pernah sekolah kedokteran edukasi seperti ini sudah bisa di akses di manapun dan kapanpun.
Tapi takdir seperti sedang berkonspirasi karena dengan adanya noda ini, dia jadi semakin terpaut dengan gadis itu suka atau tidak.
Sebuah ketukan dari pintu menyadarkannya, Kayden segera menarik sprai bernoda itu dan memasukannya kedalam lemari pakaian yang berada dalam walk in closet, ia tidak lupa mengunci lemari itu sebelum keluar dari ruangan lalu menyimpan kunci dalam laci di samping ranjang.
Bukan apa-apa dia tidak ingin bibi yang datang seminggu 3 kali untuk bersih-bersih rumahnya mencuci benda itu, dia tidak ingin noda itu hilang, karena noda tersebut akan dia jadikan pengingat atas kelakuan bejatnya pada Eleasha.
"Lo ganti parfume?" Jerome tiba-tiba masuk setelah Kayden mempersilahkan.
"Di lantai bawah wangi parfume tercium banget, wangi bunga lily. Lo ganti parfume yah?"
Kayden mengeryit lalu kemudian teringat tentang kejadian semalam, saat dia menendang tas gadis itu sehingga isi dalam tas berhamburan keluar, parfume itu membentur kaki meja besi dahulu sebelum jatuh kelantai. Kemungkinan botolnya pecah mencapai 1000%.
"Tolong beliin gue semua parfume yang baunya itu dominan wangi Lily" Titahnya sebelum menghilang di balik pintu.
Jerome hanya bisa melongo dengan permintaan absurd Kayden, "buat apaan woi?"
Terdengar suara Kayden yang tidak jelas dari ruanng walk in closetnya. Jerome hanya bisa mengangkat bahu tapi tetap membuka I-pad untuk mencari permintaan Kayden.
...****************...
Kayden masuk kedalam ruangan VVIP rumah sakit, mendapati sepupu kesayangannya sedang fokus menonton film di layar tv.
Elisa terlihat pucat, karena kata pamannya gadis itu terus menerus mual dan juga tidak mau menyentuh makanan sebelum di larikan ke sini karena jatuh pingsan. Untunglah bayi dan ibunya itu baik-baik saja.
"Nonton apa?" Kayden mengintip sedikit tontonan Elisa dan langsung mengangguk-angguk sambil meletakan buket bunga dan parcel buah di meja.
"Gantengan juga gue. El gue saranin sebaiknya lo harus sering lihat gue, biar ketampanan gue ini, menurun ke bayi lo"
Elisa mencibir, tetap fokus menonton acara musik di layar tv yang sedang menampilkan BTS yang sedang perform dengan single bahasa inggris mereka yang sangat candu saat di dengar.
"Gantengan juga bapaknya si baby"
Sedetik kemudian gadis itu seperti tersadar, dia langsung tersenyum tipis sambil mengusap perutnya.
Melihat hal itu, Kayden langsung berikhtiar ia pasti akan membawa Eduard kembali pada keluarganya, pada istri dan calon bayinya.
************
Hai
makasih banget buat kalian yang setia membaca cerita ini sampai di chapter ini.
Makasih buat waktunya.
Makasih juga sudah dukung karya saya dengan like dan komen dari kalian, yang jujur semakin menyulut semangat saya untuk membara dan menyelesaikan kisah ini sampai bertemu Ending.
Makasih banyak Lho kalian
**Bdw Chapter kali ini sudah saya upload sejak tanggal 10, kalau misalnya selesai di review tanggal sekian mohon maaf karena kategori chapter kali ini mengandung unsur yang perlu di review agak lamaan.
taulah lha ya.... (Pasang smirk evil Kayden)
__ADS_1
Kalo begitu bye-bye kita ketemu lagi di chapter selanjutnya💛🤗**