EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Selamat tidur Ily


__ADS_3

"Dia hampir mati Jer, terlambat sedikit aja dia udah nggak ada. Dan hal itu bisa dihindari kalau aja lo kasih tau gue!!!"


Jerome tidak bisa berkata, dia memang bersalah.Ini jelas kesalahnya.


"Dan ini bukan baru sekali lo tahan info penting, mau sampe kapan begitu? Apa harus ada yang mati dulu?"


Jerome menggeleng "gue nggak bermaksud begitu, tadinya gue udah ada rencana ngasih tahu lo, gue juga udah koordinasi sama tim keamanan kita untuk tangkap anak itu diam-diam tapi keburu Eleasha yang kesana duluan"


Pria berkulit hitam manis itu menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan cepat "gue udah nggak sebebas dulu tentang kegiatan Eleasha, karena kontraknya tinggal menghitung hari lagi. Gue minta maaf untuk itu"


Tatapan mata Kayden yang awalnya tajam perlahan menjadi normal meski nafasnya masih saja memburu "korek semua informasi, cari segala cara. Gue mau si sialan Marco itu masuk penjara"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa minggu kemudian


"Kalian ini kompak banget yah, bisa-bisanya babak belur bersamaan"


Eduard menatap mantan istrinya, ya mulai hari ini status mereka sudah menjadi mantan. Palu hakim baru saja di ketok beberapa saat yang lalu. Hakim mengabulkan pengajuan cerai Eduard setelah beberapa kali melewati jadwal sidang dan mereka berdua selalu absen mulai dari mediasi sampai persidangan sebelum ini.


"Aku kira kamu nggak bakalan datang" Sindir Elisa sambil menyilangkan tangan didepan dada.


Eduard mencoba tersenyum walau berat dan juga menyakitkan karena bekas pukulan Kayden selain meninggalkan bekas tapi juga rasa sakit yang nggak main-main.


Pria itu kemudian mengulurkan tangan bermaksud menjabat tangan itu mungkin untuk terakhir kalinya.


Elisa mendengus, menatap tangan yang terulur didepannya. Selama rentang waktu perpisahan mereka Elisa sudah berusaha mati-matian membunuh rasa cintanya untuk pria ini dan hal itu jelas bukanlah hal yang mudah, dia begitu tersiksa disetiap prosesnya karena itu sekarang dia sama sekali tidak akan pernah mengijinkan lagi hatinya kembali memercikan bara cinta untuk Eduard, sekecil apapun itu.


"Aku tunggu kehancuran kamu" Ucap Elisa sinis kemudian berjalan melewati Eduard tanpa membalas uluran tangan mantan suaminya itu.


Eduard memutar tubuh menatap punggung mungil yang berjalan menjauh darinya. Pria itu menghembuskan nafas berat, sampai detik ini dia sama sekali tidak pernah menyesal bertemu, bahkan menikah dengan Elisa. Tidak pernah sekalipun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elisa merasakan sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhnya, sesuatu yang ingin sekali di keluarkan. Kepalanya mendadak pusing sehingga membuatnya harus berpegangan di badan mobil,


"uwek...." Gadis itu menutup mulut saat rasa mual semakin kuat menyerang, dunia disekitar seakan berputar, Elisa mengepalkan tangannya kuat. Sosok itu kembali hadir dalam pikiran alam bawah sadar, gadis ini ternyata masih menginginkan Eduard lebih dari apapun


Elisa menggeleng, mati-matian menepis hal itu. ia kemudian segera membuka pintu mobil dan segera mengokohkan dirinya disana. ia menyandarkan tubuh ke sandaran jok mobil, berusaha kembali normal. Mata gadis itu kemudian tertuju pada pantulan dirinya di spion tengah mobil, Elisa menyentuh wajahnya sendiri saat dia menyadari kalau saat ini dia terlihat begitu pucat dan juga berkeringat dingin.


"Kenapa sih? sebelumnya gue nggak....uwekkk....." Elisa merasa mual lagi sepertinya dia butuh seseorang untuk membawanya pulang karena entah kenapa tubuhnya berulah begini.


Elisa mengutak-atik handphonenya dia terpaksa harus pulang menggunakan taksi online.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kayden menatap wajah dengan bekas lebam yang mulai menghilang, hari ini sudah agak mendingan dibandingkan beberapa waktu yang lalu, dan untuk hari ini Kayden bisa sedikit bernafas lega.


Pria itu berjalan mendekat, berdiri tepat di samping ranjang tempat Eleasha tertidur pulas karena pengaruh obat tidur. Gadis itu terpaksa harus di berikan obat tidur karena sering terbangun di tengah malam dan mulai terserang rasa panik juga ketakutan, El sering berteriak meminta tolong bahkan menjerit sambil memeluk dirinya yang sudah menangis histeris.


Dokter Liam menganjurkan untuk melibatkan psikiater, karena biar bagaimanapun Eleasha pasti akan memiliki trauma akibat kejadian itu.


Kayden menyetujuinya dengan syarat kondisi fisik Eleasha harus pulih dulu, sesi konsultasi pasti bisa menguras tenaga baik secara fisik maupun mental bukan? Setidaknya kondisi gadis ini harus sehat secara fisik.


"Pelaku sepertinya tidak mengerahkan seluruh tenaga untuk memukul Eleasha, hanya saja memang bukan juga pukulan yang lembut"


Perkataan dokter Liam kembali terngiang di kepalanya, tanpa sadar pria itu sudah mengepalkan tangan merasa sangat marah saat membayangkan bagaimana El saat itu.


Setelah di pukul sampai babak belur, El dibiarkan pingsan dilantai selama semalaman. Membayangkan saja sudah membuat Kayden ingin sekali melakuakn hal yang sama pada bocah sialan itu, andai saja kasus ini belum diserahkan ke pihak berwajib.


Kasus ini memang langsung viral karena saat Leo menyelamatkan El, proses di bawa ke rumah sakit banyak di saksikan penghuni apartemen. Banyak yang merekam dan langsung menyebar hanya dalam hitungan menit.


Meski sudah berhasil di take down, tetap saja captur'an video maupun foto-foto tentang kejadian itu sudah tersimpan entah di gadget maupun pikiran orang-orang.


Kayden mengulurkan tangan menyetuh wajah yang meski penuh lebam tapi tetap tidak mengurangi kecantikan sang pemilik wajah, dan dia harus mengakui hal itu.


Caranya menyentuh wajah El begitu lembut, sangat berhati-hati takut sentuhannya akan melukai gadis yang sedang terlelap ini.


Dengan cara yang paling menyakitkan takdir telah memperkenalkan gadis itu padanya, membawa Lana pergi lalu gantinya menyerahkan Eleasha. Terus menerus menciptakan pertemuan, sehingga awalnya hanya ada perasaan benci dan amarah perlahan mulai bertambah dengan ribuan rasa yang sampai detik ini tidak bisa dia artikan.

__ADS_1


Kayden benci tapi juga tidak ingin pergi, dan meskipun kenyataan paling sakit itu dia ketahui, tetap saja langkah kaki ini membawanya kepada gadis itu.


"Selamat Tidur Ily,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Eleasha membuka matanya yang terasa sangat berat, kalau firasatnya benar seharusnya dia bisa melihat sosok yang dia rindukan sedang menatapnya tajam, akan mengomel selama berjam-jam dan tentu saja menggunakan kata yang paling menyakitkan yang ada di bumi.


Sosok itu akan menyentuh keningnya untuk memastikan apakah dia demam atau tidak. Sosok itu akan mengawasinya dalam keheningan berpura-pura sibuk dengan gadget atau majalah padahal seluruh indranya waspada akan segala sesuatu.


Tapi ruangan ini kosong hanya ada dirinya dan bunyi dari air Conditioning yang bekerja, suara air yang menetes dari keran di kamar mandi juga bisa sampai ketelinganya.


Keheningan begitu mendominasi, El duduk kemudian memeluk kakinya erat kejadian ini seperti sebuah deja vu.


Air mata dan perasaan kosong ini sama persis seperti waktu itu, seperti kejadian hampir dua tahun yang lalu dimana awal mula penderitaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Eduard menatap handle pintu didepannya, pikiran pria ini berkecamuk antara maju atau mundur. Ia membalikan badan, tidak jadi masuk keruangan itu tapi kakinya kemudian terhenti karena ternyata dia membatalkan niatnya untuk tidak melihat gadis itu.


Selain rindu dia juga khawatir, ini jelas bukan rasa untuk seorang wanita karena sejak pengakuannya tempo hari di apartemen gadis itu dia sudah menyelesaikan perasaan yang belum beres diantara mereka berdua.


Eduard membuka pintu dan mendorongnya pelan, pandangannya langsung tertuju pada mata bulat dengan iris cokelat yang juga sedang menatapnya.


Pria itu mengepalkan tangan hatinya nyeri saat melihat bekas lebam diwajah itu. Eduard menutup mata membalikan badan dan melampiaskan amarahnya pada dinding tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Eleasha yang melihat itu ingin sekali menghampiri Ed lalu menghentikannya tapi apa daya, tubuhnya masih belum bisa diajak bekerja sama. Selain karena masih merasa kesakitan di bagian-bagian tertentu, El juga kesulitan untuk berdiri lama dia akan gemetaran dan sulit menjaga keseimbangan sekarang.


"Ed stop it, please.... berhenti" El sudah berteriak dengan suara yang bergetar.


Ed langsung berhenti, dia menyeka matanya dengan tangan yang tidak dia gunakan meninju dinding tapi ia masih enggan berbalik.


"Gue baik-baik a..ja"


Dengan posisi yang membelakangi El, pria itu tersenyum miris dengan apa yang baru gadis itu ucapkan. Dia tahu semua yang El alami pasca kejadian itu, dia punya teman sesama dokter yang bekerja dirumah sakit ini tentu hal yang mudah untuknya mencari tahu keadaan El selama dia tidak kesini.


"Nggak sekarang Ed"


Eduard berbalik menatap El "terus kapan? Kamu mau nunggu lebih parah lagi? iya?"


"Gue hanya ngerasa belum siap"


Ed mendengus "lo selamanya nggak akan pernah siap, Eleasha. Lo yang harus membuatnya menjadi siap"


"Eleasha hanya akan mengikuti konsultasi dengan pihak psikiater jika kondisi tubuhnya sudah benar-benar pulih"


Eduard menatap sosok tinggi yang baru saja masuk kedalam ruangan rawat El diikuti Alena di belakangnya.


Mereka saling bertatapan sesaat sebelum sosok itu berjalan mengikuti Alena yang sudah berada di samping ranjang El.


"Lo siapa sok ngatur-ngatur? ingat El bukan bagian agensi lagi. Jadi nggak usah ikut campur"


"Ed bukannya gitu, hanya saja memang lebih baik kondisi fisik El pulih dulu, sesi konsultasi pasti akan memakan banyak tenaga baik itu fisik maupun mental" Alena bersuara dia merasa harus meluruskan.


"Perintah siapa Na? Si CEO brengsek itu? Tahu apa dia tentang dunia medis?"


"En itu pernah kuliah kedokteran asal lo tahu" sanggah Jerome kesal, dia sama sekali tidak terima jika sepupunya itu di rendahkan.


Ed masih ingin adu bacot, tapi suara El terdengar untuk menyuruh mereka berhenti.


Eduard kali ini menatap gadis yang sedang terbaring diatas ranjang "El kita pindah dari sini, balik lagi ke Medistra supaya gue bisa ngawasin lo. Lagipula lo bukan bagian dari mereka lagi"


Alena bersiap menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya tapi Jerome memberi gadis mungil itu isyarat untuk tetap diam "kami menanggung penuh semua biaya pengobatan Eleasha di semua prosesnya, sampai dia kembali pulih seperti sedia kala"


Eduard sudah membuka mulutnya untuk memprotes ucapan Jerome, tapi pria jangkung itu lebih cepat bersuara "Ini sebuah bentuk penghargaan kami pada mantan artis yang sudah menjalin kerja sama sejak lama dengan kami. Karena itu diharapkan untuk pihak yang tidak ada sangkut pautnya untuk tidak memperkeruh suasana lagi"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


El menatap pintu ruangan rawat presiden suit di rumah sakit swasta milik KayGroup ini, amat sangat berharap sosok yang dia nanti selama masa rawat inapnya itu datang.

__ADS_1


Meski beberapa kali merasakan kehadiran pria itu dalam tidurnya, tapi saat dia membuka mata kenyataan kalau dia hanya seorang diri diruangan ini langsung membuat dia tersadar pada kenyataan yang sebenarnya.


"Maaf tapi gue sama sekali nggak menyesal dengan tindakan gue"


"Gue udah kasih Tau Kayden apa yang terjadi sebenarnya, tentang kecelakaan hampir dua tahun yang lalu. Tentang lo yang sebenarnya di balik kemudi "


"Ini semua gue lakuin buat lo, gue harap lo tahu dan segera sadar kalau Kayden itu hanya mau lo hancur "


Wajah Eduard juga penuh lebam, sebelas- dua belas dengan dirinya. Dan meski pria itu tidak mengatakan apa yang menyebabkannya mendapatkan lebam itu, El sudah jelas tahu jawabannya.


Eleasha menghembuskan nafas berat saat perkataan Eduard kembali terngiang di kepalanya. Gadis ini seharusnya sudah mempersiapkan diri dengan keadaan ini karena dia tidak mungkin bisa menyembunyikan fakta itu seumur hidup.


Seperti pepatah yang bilang 'Sepintar apapun kita menyembunyikan sesuatu yang busuk, suatu saat pasti akan tercium juga '


begitu pun tentang fakta dibalik kecelakaan yang terjadi hampir dua tahun yang lalu.


Serapih apapun, serapat apapun hal itu di simpan, kenyataan kalau dialah yang berada di balik kemudi pada saat itu cepat atau lambat akan terkuak juga di permukaan.


Dia ingin marah pada Ed karena sudah membuka aib yang selama ini dia jaga, tapi disaat yang sama dia juga merasa tidak berhak bahkan hanya untuk sekedar merasa kesal.


Karena Kayden berhak tahu tentang kenyataan yang sebenarnya. Tentang siapa penjahat yang seharusnya menerima semua rasa benci dan marah pria itu. Walau memang selama ini hal itu sebenarnya sudah tepat sasaran, insting Kayden memang tidak salah sedari awal.


Tapi Eleasha juga kebingungan, berdasarkan perkataan Jerome tadi, Kayden memilih menunggu kondisi fisiknya pulih untuk tahap pengobatan yang selanjutnya. Sementara Eduard demi kebaikan El dia sama sekali tidak mau menunggu.


Lantas haruskah dia mengakhirinya sekarang, seperti yang diinginkan Eduard? Ataukah dia harus menunggu Kayden untuk mengatakan secara langsung?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elisa menatap nanar benda pipih ditangannya, tangan itu gemetar hebat sampai membuat benda yang sedang dia pegang jatuh kelantai kamar mandi.


Gadis itu perlahan merosot dilantai, mendadak kehilangan kekuatan mendadak banjir air mata.


Kenapa? Kenapa disaat dulu dia sangat menantikan kabar baik tidak pernah datang padanya dan kini disaat dia bahkan sudah di tinggalkan Tuhan malah memberinya hadiah? Kenapa Tuhan, kenapa harus saat ini, disaat dia sudah berstatus sebagai mantan istri pria itu?


Saat rasa yang dia miliki sudah tidak semenggebu dulu kenapa hal ini dihadirkan yang kembali mematik api cinta itu kembali berkobar.


Elisa terisak, merasa telah dipermainkan sekaligus dipermalukan oleh sang takdir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bebeberapa minggu kemudian


"Eleasha sudah diperbolehkan pulang, hasil medical check up akan keluar sore nanti. Semoga aja nggak ada yang fatal pada pemeriksaan ini"


Kayden menggangguk pelan, sama sekali tidak bersemangat.


"Lo nggak mau ketemu dia?"


Pria itu menggeleng, kemudian menyandarkan tubuh disandaran kursi kebesarannya. Matanya menatap kosong kearah dinding kaca yang menampilkan keindahan langit. Pemandangan yang biasanya selalu menghibur hati sekarang tidak lagi berdampak apapun.


Jujur saja dia sangat syok dengan kenyataan yang di katakan Eduard padahal seharusnya hal itu adalah sesuatu yang dia nantikan sejak awal.


Padahal pengakuan itu adalah keinginan terbesar dalam hidup, tapi kenapa setelah semua ternyata sesuai seperti yang dia harapkan justru hatinya menolak keras?


Secara diam-diam Kayden bahkan mengunjungi gadis itu setiap hari. Dia tahu semua perkembangan atau keresahan El ketika terbangun dan langsung terserang rasa takut.


Dia yang aka memanggil perawat untuk mengecek keadaan gadis itu karena dia tidak punya nyali untuk masuk dan menampakan diri didepan El.


Kayden juga selalu ada di saat El harus ditenangkan dengan menggunakan obat bius, karena kembali histeris tiba-tiba.


Dia juga merasa terkoyak habis di bagian dada melihat kondisi gadis itu sekarang.


Kini hatinya sedang berperang antara El atau keadilan untuk Lana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai.... ada yang mau titip salam buat


Eduard?

__ADS_1


__ADS_2