
Eduard menutup pintu ruang rawat Eleasha setelah memastikan gadis itu sudah tertidur lelap.
Pria itu kemudian menatap benda yang ada di genggamannya, obat yang diresepkan untuk Eleasha. Vitamin untuk ibu hamil.
Eduard kemudian berjalan menuju suatu tempat, dimana dia mungkin bisa menemukan jawaban.
Hanya perlu turun satu lantai dari tempat El dirawat, karena ruangan tempat Kayden di rawat berada di lantai yang sama dengan mama Eleasha.
Setelah keluar dari lift pria itu berjalan menyusuri lorong panjang, dan berhenti tepat di ujung koridor.
Eduard mengambil nafas beberapa kali sebelum membuka pintu ruangan yang ada didepannya.
Ruangan VVIP ini lumayan luas dan lumayan berbeda dengan ruangan tempat Eleasha di rawat selama ini.
Ok, Eduard menyadarkan dirinya untuk tidak salah fokus dengan hal lain, karena tujuan utamanya kesini yaitu untuk memberitahu pria yang sekarang sedang terbaring tidak sadarkan diri, dan sementara di bantu dengan alat untuk menopang kelangsungan hidup pria itu.
Kayden harus tahu kalau dia sudah melakukan kesalahan besar, dia harus bangun dan mempertanggung jawabkan semua. Karena masa depan Eleasha sedang berada di ujung tanduk sekarang.
Eduard mengingat kembali kejadian di apartemen Eleasha, saat dia memergoki kedua orang itu sedang berciuman.
Dan saat mengingat lagi betapa kekanakannya sikap Kayden pada waktu itu. Sejak menjadi bagian dari keluarga mereka, dan mengenal sosok Kayden selama itu.
Sifat kekanakan dan menyebalkan pria itu baru mulai terkuak padanya sekarang, terhitung saat Kayden mulai mengenal Eleasha.
"En, cepat bangun." Bisik Eduard pelan, untuk pertama kalinya dia mengharapkan keselamatan pria ini, setelah semua yang sudah dia lakukan pada Eleasha.
"Kalo tebakan gue benar, sebentar lagi lo akan jadi papa. Karena itu cepat bangun, jangan buat El harus mengahadapi ini sendiri"
Eduard berhenti bicara saat mendengar suara pintu di buka, pria itu berjalan menjauh dari Kayden dan berniat untuk keluar. Tapi langkah kakinya langsung terhenti saat melihat siapa yang datang.
Elisa yang baru masuk kedalam ruangan rawat Kayden, terlalu sibuk dengan barang bawaannya sampai tidak memperhatikan sosok menjulang yang berdiri kaku didepannya.
Gadis itu akhirnya sadar kalau di ruangan ini ada orang lain selain dirinya dan Kayden, dia mendongkak dan langsung tenggelam pada kedalaman mata cokelat pria didepannya.
Sedetik kemudian Elisa tidak sengaja melirik benda yang ada di tangan Eduard, dan dalam sekejab dia langsung tau karena benda itu sangat familiar untuknya.
Dengan mata berkaca-kaca Elisa kembali menatap Eduard yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gadis itu kemudian mengangguk paham dengan apa yang dia simpulkan sendiri.
__ADS_1
"Segera nikahi Eleasha secepatnya, karena kalau perutnya membesar bagaimana dia akan menghadapi orang-orang?"
Eduard terkejut dengan apa yang dipikirkan gadis didepannya itu "Apa...?"
"Sebaiknya kamu pergi dari sini" Ucap Elisa dengan nada final, dia kemudian berbalik memunggungi Eduard.
Melihat itu, Ed hanya bisa menghembuskan nafas berat dan segera berjalan keluar. Mungkin Eleasha benar, dia terlalu bodoh sampai tidak menemukan cara untuk setidaknya memulai percakapan yang baik dengan mantan istrinya.
Atau dia yang terlalu pendendam sampai tidak memberi kesempatan pada Elisa untuk menjelaskan semua, dan langsung bertindak sendiri dengan keputusan yang tidak memikirkan masa depan.
"Kamu jaga kesehatan" Ucap Eduard sebelum hilang di balik pintu yang tertutup.
...****************...
Pegangan gadis itu pada barang bawaannya terlepas, membuat buah dan beberapa benda yang lain didalam tas yang dia bawa berserakan di lantai.
Hanya mendengar satu kalimat sederhana dari pria itu, dan seluruh pertahanannya runtuh. Elisa menutup wajahnya dengan tangan, mulai menangis dengan isak yang coba dia tahan.
Baginya ini adalah yang paling amat sangat menyakitkan dari semua perlakuan Eduard padanya. Meski sudah tahu dengan baik kapada siapa Eduard menaruh hati, tapi Elisa tidak pernah menyangkah akan secepat ini, dan akan seperti ini akhit cerita diantara mereka.
Tangan gadis itu menyentuh perutnya yang sudah mulai membesar, sudah terasa keras jika dipegang. Sekarang usia kehamilan sudah memasuki minggu ke sembilan dan lucunya gadis yang menjadi duri dalam pernikahannya juga sedang hamil, entah sudah berapa lama.
Dia yakin benda yang ada ditangan Eduard adalah vitamin untuk kehamilan, dia mengkonsumsi itu sebelum menikah dan selama pernikahan. Karena asam folat juga membantu kesuburan selain memang bagus untuk penambah kesehatan tubuh.
"Bangun En, peluk gue. Gue sakit banget sekarang. Gue terluka, mereka nyakitin gue En"
Elisa kemudian memeluk tubuh Kayden yang terbaring belum sadarkan diri sejak selesai di operasi beberapa hari yang lalu.
Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu, dan Kayden belum juga bangun.
...****************...
Beredar rumor di masyarakat, dan pemberitaan yang simpang siur tentang kecelakaan yang dialami oleh ibu dari selebriti papan atas negeri ini.
Gosip tersebar luas seperti bola salju yang terus mengelinding, dan menjelma menjadi semakin besar.
Upaya pihak keluarga yang tutup mulut sejak kejadian, semakin membuat spekulasi masyarakat bertambah.
Eduard menatap Alena yang tampak sibuk menerima telpon yang seakan tidak pernah berhenti menderingkan handphonenya.
__ADS_1
Jerome juga terlihat sama sibuknya, dia pasti sedang menghandle semua pekerjaan yang ditinggalkan sang direktur, karena masih belum sadar sampai sekarang.
Sudah hampir dua minggu, Kayden maupun mama dari Eleasha belum ada yang bangun dari koma.
"Kan sudah saya bilang pemberitaan itu nggak benar. Mama El nggak selingkuh, apalagi dengan CEO mantan agensinya. Kalian dapat berita itu dari mana?"
"Jangan ngarang deh, kalian pikir ini novel? Mana ada cerita kayak gitu?...."
Eduard merebut handphone Alena, dan segera menekan tombol untuk menonaktifkan benda itu.
"Nggak usah diladenin, Na." Sarannya sambil mengembalikan lagi benda canggih itu kepada pemiliknya.
Alena terlihat menghembuskan nafas sebelum bersuara "Tapi kalo nggak segera di konfirmasi, beritanya akan lebih parah lagi"
"Ini pasti ulahnya si brengsek Marco" Desis Ed dengan kemarahan yang sangat jelas terlihat dari matanya.
Jerome yang baru selesai menelpon menatap Eduard "Dia nggak datang?" Tanya Jerome.
Ed menggeleng "Belum, dan mana mungkin dia berani datang."
"Si brengsek itu mainnya alus bener, sampe sulit di deteksi. Tapi dia salah kalo mikir gue bakalan nyerah begitu aja"
"Perkembangan kasusnya gimana?"
"Saksi mendadak hilang semua, ini polanya mirip banget sama kejadian Lana dulu."
Alena meremas Handphone di tangannya, cerita tentang kecelakaan yang merenggut nyawa Lana dulu membuat Alena kembali mengingat kalau dia juga terlibat dalam usaha menutupi kasus tersebut.
CEO mereka terdahulu --sebelum agensi di akusisi Kaygroup-- bekerja sama dengan Marco untuk menutupi fakta kalau Eleasha yang mengemudikan mobil pada saat itu.
Mereka memanfaatkan rasa cinta si fans fanatik untuk Eleasha, sehingga dia mau menukar tempat dengan El sebagai tersangka.
Marco sudah mempertimbangkan semua hal termasuk fakta kalau Armon akan mendapatkan keringanan hukuman karena masih di bawah umur. Dan dia bahkan sudah memperkirakan jumlah saksi mata saat itu yang harus mereka berikan uang tutup mulut.
Semuanya seperti sudah terkonsep dengan rapih, semua seperti sebuah cerita film dimana Marco adalah sutradara sekaligus penulis naskahnya.
"Gue akan cari sampe ke dasar-dasarnya. Akan gue masukin semua yang terlibat kedalam penjara. Biar mereka membusuk disana semuanya"
Alena menelan ludah dengan susah payah, dia menatap Eduard yang juga sedang menatapnya dengan kode yang coba pria itu kirimkan lewat tatapan.
__ADS_1
Silent is Gold, Na
...****************...