
Kayden mengeraskan rahang, mencekram terali besi didepannya. Rasa panas yang membakar didalam dada membuat dia hampir saja hilang kendali, untunglah hal itu tidak terjadi sehingga dia tidak perlu mempermalukan diri didepan gadis itu.
"Lo sembuh jauh lebih cepat ternyata"
Tamu tidak diundang, Kayden selalu memprediksi saat ini yaitu saat dia akan berhadapan secara langsung dengan Eduard.
"Pasti karena banyak perawat yang merawat lo dengan baik"
Sambil mencoba mengontrol emosinya, Kayden berbalik menatap Eduard sama tajamnya dengan tatapan pria itu untuknya.
"Terus gimana dengan lo sendiri? Lo bahkan nggak butuh waktu lama untuk berpindah ke lain hati sehabis keputusan cerai" Kayden menyeringai sebelum melanjutkan ucapannya "atau sebenarnya hubungan itu sudah ada sejak lama, dan Elisa hanya lo jadiin tameng doang untuk nutupin hubungan busuk lo sama Eleasha?"
Kayden maju dengan susah payah berdiri tepat didepan Eduard, masih dengan tatapan tajam yang sama sejak tadi. "bisa-bisanya lo disini bersenang-senang tanpa mikirin perasaan Elisa sama sekali. Lo buta karena cinta? Atau memang cinta itu nggak pernah ada diantara lo sama Elisa?"
"Lo juga sama, memangnya lo pernah sekali aja mikirin perasaan El? Setelah semua yang lo lakuin ke dia?" balas Eduard tidak mau kalah.
"Nggak ada hubungannya sama dia"
"Ya kalo begitu, gue juga nggak ada hubungan lagi sama Elisa. Kita sudah bercerai, wajar kalau gue memulai hubungan baru sama siapapun termasuk sama El"
Kayden ingin sekali memukul wajah Eduard saat ini. Bisa-bisanya dia berkata begitu saat Elisa sedang mengandung anaknya.
"Lo sekarang terlihat begitu posesif, Kayden Abraham. Posesif dan kekanak-kanakan"
"Gue nggak posesif" bantah Kayden.
"Terus apa? egois? lo teritorial banget, En. lo tunjuk'in ke semua orang kalo El itu punya lo, terus pas di dekat dia lo terus dorong dia untuk menjauh." Eduard menggelengkan kepalanya "brengsek lo"
Kayden tidak bisa menemukan kata-kata untuk membela diri karena semua ucapan Eduard entah kenapa terasa seperti sebuah kebenaran, yang menyakiti egonya.
Pria itu memutuskan untuk pergi, pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir dengan baik. "lo pasti akan menyesal" ucap Kayden saat melewati Eduard.
"Justru lo yang akan lebih menyesal nanti" balas Eduard masih tidak mau kalah.
Kayden tidak menggubris ucapan Eduard, dia terus berjalan meninggalkan taman belakang. Akan jauh lebih baik bertemu mama Sonia ketimbang pria sialan ini.
"Lo perlu minum En, atau perlu disiram dengam air. Karena sepertinya lo bisa meledak sebentar lagi!!!"
Benar-benar sialan !!
Teriakan yang terselip ejekan itu masih bisa dia dengar.
...****************...
Eleasha menatap pantulan dirinya di cermin, wajah pucat dan tanpa polesan apapun entah karena bawaan bayi atau mungkin dia memang sedang malas mendandani diri, meski hanya sekedar memakai bedak bayi.
__ADS_1
Gadis itu berusaha meredakan degup jantungnya yang menggila karena kehadiran dan sentuhan pria itu yang datang secara tiba-tiba.
"Kalau kamu suka dia kenapa nggak bilang?"
Eleasha memutar tubuhnya, entah kenapa mulai merasa terbiasa dengan sosok sang mama yang akan muncul tiba-tiba disaat-saat tertentu.
El tahu ini hanya merupakan bentuk dari halusinasinya karena perasaan bersalah yang besar.Karena dia belum puas bersama sang mama.
"Mama tahu hal itu nggak mungkin"
"Kenapa? Apa karena Lana? Kamu tahu El itu sebuah kecelakaan yang nggak kamu sengaja. Marco memasukan obat tidur dalam minumanmu ditambah dengan provokasi dari anak itu, kalau bukan karena obat tidur hal itu nggak akan terjadi"
El menghembuskan nafas, dalam hati menyayangkan kenapa dia dan sang mama tidak punya waktu seperti ini dulu? Fakta kalau bayangan didepannya hanyalah imajinasi buatannya sendiri, membuat gadis itu sedih.
"Tapi kalau bukan karena obat itu dia pasti sudah menikah dengan Lana. Mereka akan hidup bahagia dengan anak-anak mereka, dan kami nggak akan pernah bertemu"
El menatap bayangan sang mama yang terlihat transparan dan tidak nyata, seperti sebuah hologram yang dirancang dari masa depan untuk memberinya kesan dan pesan di masa sekarang.
"Semua yang terjadi adalah sebuah kecelakaan, termasuk hubungan kami" ucap Eleasha pelan.
"El, terkadang kita bisa menemukan kebahagiaan dalam penderitaan. Lihat hubungan kamu dan mama, "
"Apa mama juga pernah berpikir kalau saja tidak ada aku, hidup mama akan lebih baik?"
"Untuk seorang Elizabeth yang saat mengandung kamu berusia 15 tahun tanpa sosok pendamping tentu saja hal itu pernah terpikir."
"Tapi kehadiran kamu justru membuat mama ingin terus berjuang. Kalau dulu kamu nggak hadir, mama nggak yakin bisa bertahan"
Bayangan sang mama mulai pudar membuat Eleasha maju untuk mendekat. "kamu harus ingat El, penderitaan adalah sebuah ujian dalam kehidupan. Kalau kamu berhasil melewatinya, pasti akan ada hadiah yang menanti di garis finish"
Eleasha mengangguk mencoba tersenyum meski matanya sudah basah dengan air mata karena mungkin setelah ini 'Hologram' sang mama tidak akan ada lagi.
...****************...
Kayden berhenti didekat gazebo saat dia sudah yakin cukup jauh dari si brengsek Eduard berada. Halaman belakang rumah Lana memang luas dan terkesan asri. Mama Sonia jelas mempertahankan kealamiannya dengan berbagai jenis tumbuhan.
Pria itu sedang merenungi semua perkataan Eduard tadi, saat lewat ekor mata dia bisa melihat sosok Eleasha keluar dari ruangan yang Kayden tahu itu sebuah toilet yang jarang di pakai karena letaknya ada di taman belakang.
---hanya dipakai saat ada acara di taman belakang untuk para tamu yang datang---
Eleasha terlihat tertarik dengan bunga mawar yang tumbuh didepan toilet, gadis itu membungkuk untuk menghindu aromanya dan berakhir mual yang parah membuatnya kembali masuk kedalam toilet.
Kayden mengedarkan pandangan, mengamati sekitar dan pria itu langsung bergerak secepat yang dia bisa, dengan bantuan tongkat siku yang menjadi topangan baru baginya untuk masuk kedalam ruangan tempat gadis itu berada.
...****************...
__ADS_1
Bunyi klik yang familiar membuat Eleasha mendongak dari aktifitasnya mencuci muka untuk kesekian kalinya.
Karena sekarang selain malas berdandan, gadis itu juga jadi begitu sensitif dengan bau tertentu.
Mata Eleasha membelalak saat menyadari siapa sosok yang sekarang sedang berjalan pelan ke arahnya, sosok yang menatapnya tajam tanpa berkedip sama sekali.
"Anda terlihat jauh lebih baik, saya senang melihatnya" ucap El sambil tersenyum saat pria itu sudah berada tepat didepannya. Sekali lagi bakat akting gadis ini menyelamatkannya.
Kayden menghembuskan nafas, masih fokus menatap wajah gadis itu. Merekam setiap detail dalam ingatannya.
"Apa yang terjadi sama mama kamu?"
El refleks mengepalkan tangan saat mendengar pertanyaan pria itu, sebuah hal yang sebenarnya tidak dia duga sebelumnya.
Setelah menelan ludah dengan susah payah gadis itu menjawab pelan, "mama menyelesaikan masalah saya"
Tatapan Kayden semakin lekat di wajah Eleasha, dia bisa menangkap kesedihan meski hanya sekilas dari mata itu.
"Dengan menyingkirkan papa tirimu, untukmu?"
Eleasha refleks menggigit bibirnya.
"Apa kamu membalas Marco untukku?"
Gadis itu mengerjab beberapa kali, ingin merebut kembali fokusnya yang sempat buyar karena pertanyaan Kayden Abraham barusan.
"Kalau saya bilang ya, apakah semuanya jadi seimbang?"
"Apa?"
"Kematian mama apakah membuat anda berpikir kalau kami sudah membayar anda dengan dengan cukup?"
Kayden terhenyak, jelas dia tidak siap dengan ucapan yang keluar dari mulut Eleasha.
"Bisakah kematian mama saya, menebus semua kesalahan untuk hidup Lana? Calon istri anda yang karena saya, dia pergi dari hidup anda selama-lamanya?"
Air mata gadis itu jatuh, dan Kayden merasa kesakitan saat melihatnya. Pria itu dia tahu betul rasa sakit itu bukan karena nama Lana yang gadis itu sebut. Kayden maju mencoba menyentuh Eleasha dan tanpa diduga gadis itu mundur, menghindari sentuhannya.
"Ly..."
"Saya mohon sama Anda, bisakah kita mengakhiri semuanya disini?"
...****************...
Gaiss..... Jujurly udah pengen brenti.
__ADS_1
tapi komen, like dari kalian yang menandakan kalo cerita ini masih ada peminatnya buat saya jadi bimbang.