
...****************...
"Eheeeemmm....."
El mendongkak, dan refleks langsung menyeka air mata yang membasahi pipinya. Gadis itu dengan cepat memasang wajah datar. Walau mungkin akan percuma karena pria itu sudah memergokinya sedang menangis.
En menatap gadis dengan mata sembab dan wajah pucat yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. Terlambat jika gadis ini, ingin bersikap angkuh atau terlihat baik-baik saja, karena baginya, El adalah sebuah buku yang bisa dia baca.
"Apa menangis tanpa terisak begitu menyenangkan? Kau terlihat seperti kecanduan melakukannya." En berjalan masuk, kemudian berhenti beberapa meter dari ranjang rumah sakit. Pria itu meneliti kembali keadaan El dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan kesimpulannya adalah kondisi gadis itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali dia melihatnya.
Gadis itu masih setia dengan turtelneck yang menutup leher, walau memakai baju pasien. Perban di kedua kakinya yang terluka parah juga masih ada, pria ini ingat dengan pertemuan mereka yang terakhir dirumah yang katanya adalah milik dari ibu sang aktris, waktu itu El sama sekali tidak memakai alas kaki, gadis itu berjalan dengan perban tebal yang membungkus kakinya dan sama sekali tidak terlihat kesakitan selain air mata yang terus turun membasahi pipinya yang pucat.
Well tidak ada yang berubah. Pipi itu masih saja pucat, sehingga membuat tangan pria ini gatal ingin menyentuhnya untuk bisa membagi sedikit rona disana. Gadis itu pasti akan jauh terlihat lebih cantik jika wajah pucat itu sedikit memerah, En membatin.
"Saya akan segera check out dari rumah sakit ini, jadi anda tidak perlu repot-repot untuk mengajukan prosedur transfer pasien lagi"
En mendengus mendengar ucapan gadis itu. Pasti Alena sang manajer sudah menceritakan segala hal yang terjadi. Wajar saja bukan? Justru yang tidak wajar adalah jika gadis ini tidak tahu apa-apa.
"Dan... kontrak ekslusif saya yang akan berakhir 2 bulan lagi, tidak akan diperpanjang" El menatap pria itu penuh keseriusan.
"Kita sedang tidak membahas kontrak" En akhirnya bersuara setelah keheningan yang cukup panjang tercipta dari antara mereka.
Pria itu menghembuskan nafas, entah kenapa dadanya mendadak terasa sesak.
"Lantas? Hubungan kita bukan hubungan yang bisa membahas hal lain selain masalah pekerjaan" El mengatupkan bibirnya. Berusaha mengatur nafasnya kembali.
En tanpa sadar mengepalkan tangan, perkataan gadis itu memang benar. Sejak awal hubungan mereka bukanlah sebuah hubungan normal. Awal semuanya adalah luka dan sampai saat ini pun hanya tercipta luka.
"Kita bicara lain waktu, sepertinya kamu perlu lebih banyak waktu untuk istirahat. Sekarang kamu dipenuhi dengan emosi, sehingga nggak bisa berpikir lebih jernih" Pria itu memutar tubuh berniat beranjak pergi. Entah kenapa dia bisa menjadi begitu pengertian pada gadis ini. Sepertinya saat terjatuh di jurang waktu itu kepalanya atau mungkin sesuatu yang lain di hatinya telah terbentur keras, sehingga bergeser dari tempatnya semula.
__ADS_1
"Please...saya ingin menjauh dari anda, please...jangan berhenti membenci saya karena merasa kasihan. Saya tidak pantas menerima apapun dari anda selain rasa benci"
Langkah En terhenti. Pria itu mengatupkan rahangnya kuat, seketika amarah itu merangkak naik memenuhi seluruh aliran darah. Seperti bahan bakar yang hanya perlu pemetik api untuk terbakar, seperti itulah kondisi Seorang Kayden Abraham saat ini.
Pria itu memutar tubuhnya cepat, mengambil langkah-langkah panjang untuk mendekati gadis yang sedang duduk diatas ranjang rumah sakit ini, tangannya terulur memegang rahang gadis itu dan memaksa untuk menatapnya.
Mereka berdua saling bertatapan, En dengan amarah dan rasa benci yang kembali mendominasi, dan El dengan tatapan penuh kepasrahan juga rasa bersalah yang tidak pernah habis.
Jika dulu El akan mati-matian meronta untuk menyelamatkan diri dari amarah pria ini, sekarang dia sudah pasrah dengan keadaan. Sekarang dia sudah kehilangan alasan untuk tetap hidup.
En mendapati keputusasaan pada sepasang mata itu, sangat berbeda dengan saat pertama kali mereka saling bertatapan di acara penyambutannya sebagai CEO agensi gadis itu.
Atau pancaran ketakutan saat berada dirumah Lana dan pertemuan-pertemuan mereka setelah kejadian itu.
Sepasang mata milik El kali ini terlihat kosong, redup, dan kelam.
Kayden mundur, melepaskan cengkraman di rahang gadis itu. Entah kenapa dia ingin berteriak sekeras-kerasnya, tapi dia cukup waras saat ini untuk tidak melakukannya, sebagai gantinya pria itu memukul dinding yang berada tepat disampingnya berkali-kali dan baru berhenti saat pria tinggi berjas hitam masuk membawanya menjauh dari dinding.
Pria itu mengangguk kemudian berusaha membawa sang CEO menuju pintu keluar.
Saat hampir mencapai ambang pintu, En mendorong tubuh pria berjas itu menjauh darinya. Dia berbalik menatap El yang sedang menatapnya, untuk kali ini ada pancaran kekhawatiran dari mata itu. Membuat En menyeringai.
"Kamu seharusnya tau diri untuk tidak mencoba melarikan diri setelah apa yang sudah kamu lakukan. Kamu ingin saya tetap benci kamu? Ok, fine! saya akan tetap benci kamu dan akan buat kamu tetap dalam agensi, supaya kamu bisa puas menerima rasa benci ini"
Setelah mengatakan rentetan kata-kata itu Kayden melanjutkan langkahnya, di langkah yang ke 4 dia kembali berhenti, dia menatap pria tinggi berjas hitam yang sedang berada di belakangnya, mengekor langkahnya.
"Jordan. Tugas kamu untuk jadi bodyguard gadis ini berlaku sekarang. Keselamatan dia, semua kegiatan dia, kamu harus tau."
Pria tinggi itu mengangguk. Membuat En memasang senyum kemudian menepuk pundak pria itu dengan tangannya yang baik-baik saja.
__ADS_1
"Kasih saya perkembangan setiap 15 menit" bisiknya kemudian berjalan keluar ruangan. Meninggalkan El dan bodyguard bernama Jordan di ruangan VVIP rumah sakit ini.
"Nama saya Jordan, saya bertugas sebagai bodyguard anda mulai saat ini"
El mengangguk pelan, sama sekali tidak ingin mencoba bertanya, berpikir ataupun melawan apa yang sudah terlanjur terjadi.
...****************...
"Sinting!!!" En mengumpat saat dia menatap tangannya yang terluka, terlihat mengerikan karena darah yang hampir kering dan dagingnya yang sedikit terkelupas. Untung saja, Jordan datang tepat waktu sehingga bisa menghentikannya melakukan hal gila didepan pasien yang sedang dirawat.
Pria ini kemudian kembali teringat dengan sepasang mata itu, pancaran senduh sangat jelas terlihat. keputusasaan dan kekosongan terlalu jelas menguar dari tubuh gadis itu. En meraih handphonenya yang tergeletak diatas dasbor, pria ini meringis menahan sakit saat dia berusaha mengetik beberapa kata untuk dikirimkan pada seseorang.
📤 Bagaimana keadaannya?
En menghembuskan nafas, dengan perhatian yang masih tertuju pada layar handphonenya.
📥 Aman pak, saat ini nona El sedang tidur.
Pria itu merasa sedikit lega, saat menerima pesan balasan dari Jordan
📤 Tetap diawasi, ada kemungkinan dia melakukan hal bodoh. Mata kamu jangan sampai lepas dari dia.
Pria itu meletakkan handphonenya kembali di atas dasbor, kemudian segera menyandarkan tubuhnya kesandaran jok mobil.
"Please...saya ingin menjauh dari anda, please...jangan berhenti membenci saya karena merasa kasihan. Saya tidak pantas menerima apapun dari anda selain rasa benci"
En memukul setir didepannya "kamu kurang yakin dengan rasa benci ini? Ok mulai sekarang akan saya tunjukkan lebih jelas lagi" gumam pria itu dengan tatapan lurus kedepan.
...----------------...
__ADS_1
Mungkin akan sering Update cerita, terima kasih sudah menunggu