EL (EN)Dless Love

EL (EN)Dless Love
Rasa sakit yang tak seberapa


__ADS_3

Dengan hati yang hancur Eleasha melangkah pelan menuju pintu rahasia yang dikatakan sang mamah, gadis itu sempat berniat untuk kembali tapi luka diperutnya dan keselamatan bayi dalam kandungannya harus dia utamakan.


Dengan susah payah dan dengan langkah tertatih dia mencoba mencari pintu yang di maksudkan oleh sang mama, luka diperutnya mulai terasa nyeri dan gadis itu berusaha bertahan sampai setidaknya bisa mencapai pintu keluar.


Sekali lagi dia melarikan diri, kalau saja dia tidak diperhadapkan dengan pilihan antara tetap bertahan disini atau keselamatan bayi dalam kandungannya, mungkin dia dan sang mama akan menghadapi kejadian yang terjadi di tempat ini berdua.


Gadis itu mengeratkan kain robekan gaun dari sang mama pada luka yang tadi diciptakan Marco saat dia berhasil menemukan lemari yang akan menjadi jalan keluarnya. Eleasha masih berdiri lama didepan pintu rahasia, masih menimbang-nimbang dengan keputusan yang akan dia ambil saat rasa perih itu semakin terasa memaksanya untuk segera masuk ke dalam lemari, kemudian membuka pintu yang akan membawa gadis itu masuk kedalam pintu rahasia, yang adalah jalan keluar yang sang mama tunjukan padanya.


...****************...


Alena terlihat gelisah didalam mobil yang terparkir tepat di depan tempat yang di gambarkan oleh mama dari Eleasha.


Jujur saja dia tadi sempat syok saat menerima telpon dari tante Elizabeth. Mendengar suaranya yang meski bergetar hebat tapi tetap terdengar seperti dia yang biasa, jika orang yang tidak tahu dengan riwayat kecelakaan itu mendengar suara Elizabeth di telepon, orang itu pasti tidak akan percaya kalau pemilik suara itu baru saja melewati masa kritis dan operasi besar selama beberapa jam.


Gadis mungil itu menatap sekali lagi taman kecil yang dipenuhi banyak pepohonan, ya... tidak akan ada orang yang mengira kalau taman ini adalah tempat pintu rahasia yang tersembunyi.


Daerah tempat pintu keluar rahasia ini juga tidak padat masih tergolong sunyi untuk daerah yang terletak di kota besar, arsitek rumah ini benar-benar harus mendapat penghargaan atau semacamnya.


Perhatian Alena teralihkan dengan sosok Eleasha yang muncul dibalik pohon, gadis mungil itu menutup mulutnya sangat terkejut dengan penampilan aktris asuhannya itu.


Eleasha tampak berantakan dan penuh darah, Alena tanpa menunggu hitungan ketiga langsung keluar dari mobil dan segera menghampiri El yang langsung ambruk begitu dia sampai di dekat gadis itu.


"El? Apa yang terjadi? oh my gosh, Kamu berdarah? "Alena panik saat melihat kondisi Eleasha dari dekat, dengan tangan yang gemetar gadis mungil itu segera mengeluarkan handphone di saku celananya dan menelpon seseorang yang bisa menolong mereka sekarang.


"Lo harus bisa bertahan El" Alena mencoba mengangkat tubuh Eleasha dan membawa gadis itu masuk kedalam mobil.


"Eduard lagi kesini, aku harap kamu bisa tahan sampai Ed datang" lirih Alena sambil menatap Eleasha yang sudah tidak berdaya di jok mobil.


...****************...


Mereka memindahkan Eleasha di van yang di bawa Eduard, terlalu beresiko jika membawa Eleasha ke rumah sakit sekarang.

__ADS_1


Pemberitaan sudah dipenuhi dengan berita pembunuhan yang dilakukan Elizabeth Halim terhadap suaminya, dan para awak media sedang memburu keberadaan Eleasha sekarang untuk meminta gadis itu buka suara atas apa yang terjadi pada keluarganya.


"Luka tusuknya lumayan dalam, tapi syukurlah tidak terlalu dalam sampai membahayakan bayinya" Eduard berbisik pada El yang terbaring setengah sadar di atas jok.


"Selamatin bayi gue Ed" mohon El pelan.


Eduard mengigit bibir, menimbang kata demi kata yang akan dia ucapkan.


"Lakuin apa aja, asal dia bisa selamat Ed"


"Tapi lo juga harus selamat, dia nggak mungkin selamat sedangkan lo nggak!!!"


"Gue baik-baik aja, luka ini....." El berhenti bicara sejenak, dia kesakitan "ini nggak seberapa, dibanding kehidupan gue. Jadi please.... kalo gue nggak bisa memohon atas nama gue pribadi, gue mohon atas nama profesi lo. Tolong bayi gue, lakuin apapun agar dia tetap selamat"


Ed menahan semua emosi yang tercipta sejak pertama kali melihat gadis ini, dia ingin marah, ingin menangis atau kalau bisa ingin memutar waktu kembali saat mereka masih kanak-kanak.


"Gue harus bersihin lukanya, lukanya harus di jahit karena cukup dalam dan besar" Ed menggigit bibirnya "itu artinya lo harus di bius"


El sudah menangis sebelum Eduard menyelesaikan ucapannya. Gadis itu menggeleng lemah.


"Lo pasti tahu efek obat bius untuk ibu hamil kan? Apalagi usia kehamilan yang masih trismester pertama"


Eduard mendongak, untuk mencegah air matanya jatuh "Kalo luka ini nggak segera dia bersihkan dan di jahit itu juga berbahaya untuk kehamilan, dan untuk lo juga." pria itu menatap Eleasha yang sejak tadi terlihat tidak ingin menerima apa yang dia ucapkan.


"Lo harus lepasin dia El, itu satu-satunya jalan yang bisa kita pilih"


Eleasha menggeleng lemah "Gue tetap pilih bayi ini," El masih keras kepala.


"Tapi itu berbahaya buat lo berdua, jangan egois Eleasha. Please "


"Kita tetap bisa lakukan proses pengobatan tanpa obat bius kan?"

__ADS_1


Pupil mata Eduard melebar, hal ini jelas tidak pernah dia duga sama sekali. Tidak juga terpikirkan oleh dia yang adalah seorang dokter. Tapi Eleasha masih mencari cara untuk bayinya sampai akhir.


"Tapi itu artinya lo akan dijahit tanpa dibius, El"


"It's oke. Gue bisa tahan rasa sakitnya, asalkan dia juga bisa bertahan di rahim gue sampai waktunya dia lahir nanti " Ucap Eleasha dengan nada final.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Eduard melakukan tugasnya, membersihkan luka tusuk Eleasha, karena senjata yang dipakai adalah kaca, seperti dugaannya banyak sepihan kecil di luka itu yang jika tidak dikeluarkan bisa saja menyebabkan infeksi.


Mereka juga bisa saja menggunakan Zipstitch


tapi ini adalah tindakan darurat yang tanpa banyak persiapan.


"Lo yakin kita akan lanjutin ini El?"


El mengangguk sambil menutup wajahnya dengan tangan, Dia menggingit scraf milik Alena. Sedangkan sang manager sedang stand by diluar van, berjaga-jaga jika ada yang datang mendekat.


"Gue bisa tahan, lakuin aja yang terbaik Ed"


Eleasha sedikit berbohong, saat proses pembersihan luka beberapa saat yanga lalu sebenarnya gadis ini hampir menyerah. Tapi dia jelas lebih memikirkan keselamatan bayinya lebih dari rasa sakit itu sendiri.


it's ok El, ini semua akan segera berakhir. batinnya menguatkan diri sendiri.


Eduard menghembuskan nafas "ok, gue akan mulai menjahit. lo bisa minta berhenti kapan aja"


Eleasha mengangguk lagi, kali ini dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya.


gadis itu mengepalkan tangan kuat, saat jarum mulai menusuk permukaan kulit meninggalkan rasa sakit yang akan selalu dia ingat sampai mati.


...****************...

__ADS_1


Jadi gimana? Ada yang kangen sama Bang Kai nggak nih?


hahhahaha


__ADS_2